Munding - Legenda Serigala Petarung

Munding - Legenda Serigala Petarung
Chapter 226 - Struggle


__ADS_3

“Mas, anak Mas sekarang mulai nakal. Sudah mulai berulah dan suka menendang perut Ibunya, geli lho Mas rasanya,” bisik Nurul ke telinga Munding sambil mengelus mesra rambut suaminya.


Meskipun Nurul tak pernah mendapatkan jawaban ataupun reaksi apapun dari suaminya yang masih terbaring tak sadarkan diri itu, tapi dia tetap menemani suaminya sepanjang waktu.


Nurul juga selalu bercerita tentang kesehariannya.


Tentang kandungannya yang mulai membesar.


Tentang ulah si bayi kecil yang mulai semakin sering berontak dalam rahimnya.


Tentang Amel yang masih tetap setia menemani Nurul menunggui Munding.


Tentang Asma yang mulai melanjutkan kehidupannya dan mengejar kebahagiaannya.


Tentang semuanya.


...


“Mbak Asma sekarang sudah mulai berhubungan dengan seorang pemuda di kampung kita Mas. Pemuda itu baik. Nurul ikut senang. Setidaknya, dia berhak mendapatkan kebahagiaannya. Ya kan Mas?”


...


“Nurul sedih Mas. Nurul sudah berkali-kali bilang ke Mbak Amel supaya dia tetap fokus ke kuliahnya. Kan tinggal berapa semester lagi dia lulus. Tapi tetep aja dia pengen nemenin Nurul disini.”


...


“Sawah kita sebentar lagi panen Mas. Lumayan untuk persiapan biaya persalinan anak kita. Tapi Mbak Cynthia sudah nawari untuk ngelahirin disini. Biar dekat sama Mas, katanya. Tapi Nurul sampai sekarang belum terbiasa disini Mas. Soalnya Nurul beda sendiri.”


...


“Tadi waktu USG, Bu Dokter nanya ke Nurul, Mas. Pengen tahu dedek bayinya cewek atau cowok nggak, gitu katanya. Tapi Nurul tolak. Biar surprise aja. Cewek atau cowok sama saja, ya kan Mas?”


...


“Mas Munding nggak capek ya bobo terus? Mas nggak pengen lihat dedek bayi kita ya? Cepetan bangun ya Mas? Kasihan lho si Dedek Bayi,"


...


Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan terus berjalan. Nurul masih tetap menemani Munding tanpa henti. Sampai akhirnya, waktunya mendekati persalinan bayinya tiba. Dokter dan keluarga Nurul mulai melarang Nurul terus menerus di samping Munding demi kesehatan calon bayinya yang segera lahir.


Sebuah kehidupan baru yang akan segera terlahir dan menorehkan takdirnya di dunia.


\=\=\=\=\=


Munding tak tahu sudah berapa lama dia ada di tempat ini.


Kegelapan tanpa ruang dan tanpa waktu.


Munding mencoba semua cara yang dia tahu dan yakini bisa membuatnya terbebas dari kegelapan ini tapi semuanya tanpa hasil.

__ADS_1


Munding juga mencoba untuk menjalani kehidupannya kembali dari awal dengan mengenang semua kenangan yang dia ingat sejak kecil sampai detik dimana dia terkena serangan Hikari.


Satu persatu.


Peristiwa demi peristiwa.


Kenangan demi kenangan.


Pahit maupun manis.


Semuanya.


Karena Munding tahu, saat ini, dirinya hanyalah sebuah kesadaran diri tanpa wujud materi.


Munding tak ingin kehilangan satu-satunya yang tersisa dari dirinya ikut menghilang ditelan kegelapan tanpa batas ini.


Kesadaran dirinya.


Munding mengulang semua kenangan dalam hidupnya itu berkali-kali, hingga dia sendiri lupa sudah berapa kali dia menjalani kembali kehidupannya itu.


Berkali-kali merasakan kemarahan yang sama saat dia melihat ulah Ibunya. Berkali-kali merasakan kesedihan yang sama saat kehilangan Bapaknya. Berkali-kali juga merasakan hal yang sama saat dia menjalani hidupnya yang bahagia bersama istrinya.


Ketika Munding merasa kalau kesadaran dirinya mulai memudar dan timbul setitik keinginan untuk menyerah dan membiarkan dirinya menghilang ditelan kegelapan, Munding mengulangi kembali kehidupannya.


Sampai saat ini, setelah melewati waktu yang tak terkira lamanya. Munding masih belum tahu dimana dia berada.


Seorang diri, tanpa bisa merasakan apa pun, tanpa bisa mendengarkan apa pun, tanpa bisa melihat apa pun. Dalam waktu yang tak terkira lamanya.


Hingga suatu ketika, Munding bertanya-tanya kepada dirinya sendiri.


Kenapa aku harus terjebak dalam kegelapan ini?


Apa sebenarnya kegelapan yang menyelimutinya ini?


Apakah sebenarnya kegelapan itu sendiri?


Apakah gelap itu malam?


Apakah gelap itu tanpa cahaya?


Apakah kegelapan simbol kejahatan sedangkan cahaya adalah simbol kebenaran?


Kalaulah kegelapan adalah simbol kejahatan, maka seluruh alam semesta ini selalu diselimuti kejahatan setiap saat. Karena alam semesta itu sendiri dipenuhi oleh ruang gelap tanpa batas.


Sumber cahaya hanya berasal dari titik-titik bintang yang sangat tidak signifikan dibandingkan kegelapan yang menyelimuti seluruh alam semesta.


Munding juga mulai tersadar.


Kenapa dia harus takut pada kegelapan?

__ADS_1


Kehidupan setiap manusia dimulai saat ruh ditiupkan ke dalam janin yang berada dalam kandungan dan diselimuti kegelapan.


Ketika kehidupan berakhir, semua juga akan dikembalikan ke dalam lubang di tanah yang akan ditimbun lagi dan hanya gelap yang tersisa. Selain siksa kubur yang telah menanti tentunya.


Kenapa dia harus merasa kalau tempat ini adalah tempat yang asing baginya?


Apa bedanya kegelapan ini dengan kegelapan yang dia rasakan tapi telah terlupakan saat berada dalam rahim ibunya? Seburuk apapun Ibu kandungnya itu.


Kegelapan bukanlah musuh.


Kegelapan bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti.


Kegelapan bukanlah kejahatan.


Kita sendirilah yang akan menentukan kegelapan itu akan menjadi apa.


Menjadi kawan?


Menjadi musuh?


Menjadi momok menakutkan?


Menjadi teman seperjuangan?


Ketika Munding sampai pada kesadaran bahwa selama ini dia salah telah menganggap dunia gelap ini adalah sesuatu yang berbahaya baginya, Munding merasakan sesuatu untuk pertama kalinya setelah sekian lama dia berada dalam dunia yang hanya berisi dipenuhi kegelapan ini.


Sebuah rasa bahwa dia tak lagi sesuatu yang asing dalam dunia gelap ini.


Sebuah rasa nyaman yang memberikan ketenangan dalam kesadaran dirinya.


Sebuah rasa hangat yang tidak terasa di kulit tapi langsung ke dalam diri. Membuat Munding merasa kalau dia berada di tempat yang seharusnya.


Mungkin seperti inilah perasaan sang Janin saat berada dalam rahim Ibunya, gumam Munding saat ini.


Munding masih tetap tak memiliki sensasi rasa saat ini.


Munding juga masih tidak bisa merasakan konsep ruang dan waktu di tempat ini.


Tapi kini dia tak lagi merasa asing dan terancam berada dalam kegelapan tak bertepi ini.


Karena Munding tahu bahwa tak seharusnya dia menganggap kegelapan tanpa batas yang mengelilinginya ini adalah sesuatu yang membahayakan kesadaran dirinya.


Karena Munding juga tahu bahwa kegelapan ini tak akan pernah menelan kesadaran dirinya dan membuatnya hilang seperti sebuah noktah hitam diantara genangan tinta.


Semakin Munding menyadari tentang kegelapan yang berada di sekelilingnya, Munding makin tertarik untuk mengetahui dan mendalaminya lebih jauh.


Karena Munding juga menyimpan sebuah harapan, “mungkin suatu saat nanti, ketika aku memahami kegelapan yang sekarang mengelilingiku ini, aku bisa terlepas dari sini dan kembali bertemu keluargaku.”


Setelah berkali-kali dan sekian lama mencoba segala usaha untuk terlepas dari dunia gelap tanpa batas ini. Munding memutuskan untuk menggunakan cara ini agar bisa kembali pulang.

__ADS_1


Mungkin akan butuh perjuangan panjang dan waktu yang sangat lama, tapi Munding berjanji kepada dirinya sendiri akan terus mencoba dan mencoba.


__ADS_2