Munding - Legenda Serigala Petarung

Munding - Legenda Serigala Petarung
Chapter 90 - Trio Kwek Kwek


__ADS_3

“Aku ini hanyalah pion, sama seperti Bram. Tugasku hanya mengawasi keseharian Bram dan melaporkannya ke bossku, orang yang mengendalikan Bram.”


Munding terdiam, dia kini tahu kalau ‘dalang’ di balik Bram dan MinMaks ternyata benar-benar ada sesuai dugaannya. Dan sang Dalang tersebut pastilah seseorang yang mempunyai pengaruh sangat kuat, karena bisa mengendalikan Bram dari belakang layar atau bahkan sang Dalang lah yang menciptakan Bram dan MinMaks sejak awal?


“Sudahlah. Kau ini masih bocah kelas 2 SMA. Jalanmu masih panjang, kenapa kau tidak nikmati saja masa mudamu?” kata si pemakai clurit pelan, “tak usah ikut campur urusan kami-kami ini, orang dewasa.”


“Orang dewasa ya? Aku ingin tahu, seberapa kuatnya ‘orang dewasa’ yang kau maksud,” jawab Munding, “dan aku ingin berterima kasih terlebih dahulu karena telah memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kami.”


Musuh ketiga Munding terlihat agak bingung dengan kalimat terakhir barusan. Dia terlihat masih mencoba mencerna maksud dari kata-kata Munding itu ketika bocah yang tadi dalam posisi setengah jongkok di depannya tiba-tiba menghilang.


Tak sampai satu detik kemudian, si Pemakai Clurit ini merasakan pukulan keras di bagian tengkuknya dan dengan cepat dia kehilangan kesadaran dan rubuh ke tanah. Munding kemudian membuang clurit di tangannya dan memeriksa semua isi kantongnya.


Munding juga mengambil hp dan semua alat elektronik yang dia temukan di tubuh musuh ketiganya ini. Munding tersenyum tipis, pria ini adalah kunci bagi dirinya untuk menyelesaikan misi yang diberikan oleh Pak Broto.


Dari dialah Munding berharap militer dapat memperoleh keterangan yang mereka butuhkan.


Karena itu, tanpa berpikir panjang, Munding memutuskan untuk masuk ke mode tarung tadi dan hanya menghabiskan waktu kurang dari satu detik untuk melumpuhkan si Pemakai Clurit. Munding juga benar-benar tulus saat mengatakan kalimat terakhirnya, karena setelah ini, Munding akan menyerahkan orang ini kepada Ambar untuk diinterogasi.


Si pemakai clurit sekaligus orang yang punya hubungan dengan ‘Dalang’ yang dia cari menjadi musuh ketiga yang tumbang di tangan Munding.


Semua rentetan perkelahian tadi hanya membutuhkan waktu kurang dari 3 menit. Dimulai saat Munding menyongsong kedatangan musuh pertamanya si Pemakai Katana Imitasi, sampai saat dia melumpuhkan musuh ketiganya dan mengambil semua barang-barangnya.


Munding menarik napas kemudian mengangkat wajah dan melihat ke sekelilingnya.

__ADS_1


Seperti dugaannya, tiap satu orang kawan Munding akan berhadapan dengan tiga orang musuh. Karena itu, setelah Munding berhasil melumpuhkan musuh ketiganya tadi, tidak ada musuh baru yang menyerangnya secara tiba-tiba, karena mereka semua sudah punya lawannya masing-masing. Bahkan satu diantara mereka hanya mendapatkan jatah dua orang lawan.


Fariz bertarung dengan Karate-nya. Dia bagaikan sebuah batu karang yang tertancap kuat di dasar lautan. Meskipun serangan musuhnya datang bertubi-tubi bagaikan hempasan ombak yang datang tanpa henti, Fariz dengan tenang, ritmik dan teratur, tetap berdiri di posisinya tanpa bergeser sedikit pun dan mementahkan semua serangan lawannya.


Gerakan Fariz mungkin terlihat kaku tapi Munding tahu seberapa besar kekuatan yang tersimpan di sana. Seandainya baju Fariz di buka, Munding yakin kalau dia akan melihat otot tubuh Fariz yang bekerja dan berkoordinasi secara maksimal hanya untuk melakukan sebuah ayunan pukulan yang terlihat sederhana.


Rin bertarung dengan Taekwondo-nya. Berkebalikan dengan Fariz, Rin seperti angin ****** beliung atau tornado yang bergerak kesana kemari tak tentu arah tapi selalu membawa kerusakan kemanapun dia melangkah.


Tubuhnya meliuk dan berputar lincah kesana kemari dan selalu mengeluarkan tendangan yang cepat dan akurat kearah musuhnya. Melihat gerakan Rin yang sedang melakukan tendangan, mungkin sama indahnya dengan melihat seorang gadis ballerina sedang melakukan tariannya.


Suatu tipuan mata yang akan membuat seseorang tersadar ketika tendangan itu sudah bersarang di tubuhnya.


A Long bertarung dengan Wushu-nya. Munding tidak tahu aliran apa yang A Long pelajari dan gunakan. Tapi satu hal yang pasti, saat Munding melihat gaya bertarung A Long, dia seperti sedang melihat seekor harimau yang sedang mengaum, mengancam dan menyerang musuhnya.


Sang Harimau yang akan berjalan pelan dan penuh kewaspadaan sambil melihat ke arah musuhnya dengan langkah kaki yang mantap dan kuda-kuda yang kuat. Dan ketika sang Harimau melihat kesempatannya datang, dengan cepat dia akan menyarangkan cakarnya ke tubuh buruannya. Tidak dapat diprediksi, kuat dan penuh perhitungan.


Ketika Munding melihat kawan terakhirnya, si Wowo Gundul, Munding cuma bisa tersenyum pahit. Wowo sama sekali tidak punya basic beladiri. Tapi apakah itu membuat Wowo menjadi seseorang yang lemah? Tidak.


Dan Munding pernah merasakannya sendiri.


Wowo berkelahi ala jalanan. Tanpa aturan, tanpa teknik dan tanpa perhitungan yang bermacam-macam. Dia memukul saat ingin memukul, menendang saat ingin menendang dan menggunakan berbagai macam serangan lain yang dia inginkan, sesuka hatinya, sesuai caranya sendiri.


Tapi Wowo tidak pernah memejamkan matanya sekalipun saat menerima serangan musuhnya. Dia tidak akan mengeluh atau merintih saat tubuhnya terluka. Dia juga tidak pernah berkedip ataupun melangkah mundur karena gertakan musuhnya. Dia akan terus maju, maju dan maju.

__ADS_1


Di mata Munding, Wowo adalah sosok pemberani, jantan dan bodoh tentunya.


Munding sedikit menarik napas lega saat melihat keempat kawannya bisa bertahan dan terlihat tidak sedang kewalahan dalam menghadapi musuh-musuhnya. Tapi perasaan tidak enak yang sedari tadi terasa di dalam dada Munding tak juga kunjung reda.


Perasaan yang sangat lemah, tapi Munding tahu kalau perasaan itu berasal dari nalurinya. Menyerupai bisikan-bisikan lirih yang kadang terdengar dan kadang tidak seperti tertiup angin di telinganya.


Karena kondisi sudah terkendali di sini, Munding mencoba untuk merasakan apa yang nalurinya ingin sampaikan sedari tadi. Munding kemudian memejamkan matanya dan berusaha untuk menggapai rasa tidak enak dalam dadanya.


Munding berusaha memahaminya.


Dan ketika Munding berhasil melakukannya, firasat tidak enak yang tadi terasa lemah itu, tiba-tiba menguat seketika dalam tubuhnya. Sesuatu yang buruk sedang terjadi. Dan sebuah nama terlintas dalam dadanya saat itu.


Amel.


Munding dengan cepat mengedarkan pandangan matanya kembali ke sekelilingnya. Sama seperti tadi, dia masih melihat kawan-kawannya sedang asyik menikmati pertarungan mereka. Munding juga melihat beberapa kawan Citra yang bersembunyi sambil merekam semuanya dengan hp mereka.


Munding juga melihat, beberapa anggota MinMaks yang sudah terkapar di aspal jalan raya sambil merintih kesakitan atau bahkan tidak sadarkan diri.


Tapi.


Munding sama sekali tidak menemukan Trio Kwek Kwek yang paling bertanggung jawab untuk semua kekacauan ini, Bram, Ardi dan Rey. Munding dengan cepat mengalihkan pandangannya ke arah rumah Citra dan tanpa berpikir dua kali, Munding langsung memasuki mode tarung tanpa mengeluarkan intent-nya.


Munding sudah mulai panik, karena apapun ceritanya, Amel adalah tugas utama yang diberikan oleh Broto. Karena rasa senang sesaatnya tadi saat berhasil menemukan petunjuk tentang Dalang di belakang MinMaks, Munding kehilangan fokus dan memberikan kesempatan kepada Bram cs untuk masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Dan kini, Munding baru tersadar, kalau sebenarnya, semua rencana busuk ini bukan ditujukan untuk dirinya.


Tapi ditujukan untuk Amel. Orang yang seharusnya dia lindungi.


__ADS_2