Munding - Legenda Serigala Petarung

Munding - Legenda Serigala Petarung
Chapter 99 - Redemption


__ADS_3

“Bu Santi tadi ngapain?” tanya Amel kepo saat Munding dan Amel berada di mobil mereka saat sepulang sekolah.


Seperti biasa salah satu sopir Pak Broto akan menjemput Amel dan Munding setiap pulang sekolah dan akan mengantar mereka berangkat sekolah. Tapi karena kegiatan mereka berdua berbeda, sebenarnya sih, kegiatan Amel, karena Munding tidak mengikuti ekskul apapun sama sekali, akhirnya mereka harus saling menunggu setiap pulang sekolah. Baru nanti Amel akan menghubungi sopir Papanya.


Tapi, sudah sejak beberapa minggu lalu, Amel selalu duduk di kursi belakang bersama dengan Munding. Dulu saat pertama kali berangkat dan pulang sekolah, Amel akan memilih duduk di sebelah kiri kursi sopir dan Munding duduk sendirian di belakang.


“Nggak pa-pa kok,” jawab Munding pelan.


Amel cuma mendengus pelan dan melipat kedua tangannya di depan dada. Setelah itu Amel membuang mukanya ke arah jendela mobil dan melihat ke pemandangan tak indah di luar sana. Gimana mau indah? Isinya cuma jalan raya yang penuh sesak dengan pengendara bermotornya.


“Nama istrimu siapa?” tanya Amel tiba-tiba dengan suara yang pelan, mirip seperti suara nyamuk tercepit pintu.


“Hmmm?” Munding melirik ke arah Amel, dia sedikit kaget dan ragu mendengar pertanyaan Amel.


Amel mengira kalau pertanyaannya kurang keras dan tidak terdengar oleh Munding tadi, karena itu, Amel mengulanginya dengan suara yang lebih keras, “nama istrimu siapa?” setelah itu Amel membuang napas kesal, persis anak kecil.


Amel masih saja melihat ke arah luar jendela, mencoba mencari sesosok wajah kampung yang selalu memenuhi kepalanya dan susah sekali untuk ditenggelamkan itu. Siapa tahu dia bisa menemukan kembaran Munding yang sedang menunggu Amel di pinggir jalan sana.


Kan kalau Munding yang di sebelah Amel sudah ada yang punya.


Munding tersenyum, “namanya Nurul Islam, panggilannya Nurul.”


Amel kemudian memalingkan mukanya kearah Munding dan bertanya pelan, “gimana orangnya?”


Munding membuang mukanya untuk menghindari tatapan mata Amel. Munding memiliki naluri yang tajam, meskipun hanya sesaat, ketika mereka berdua bertatapan mata tadi, Munding kini tahu apa yang terjadi dengan Amel.

__ADS_1


Munding melihat tatapan mata yang sangat familiar di sana. Tatapan mata yang juga dimiliki oleh Asma dan Nurul saat melihat ke arah dirinya. Munding membuang muka karena dia tahu kalau dia tidak akan bisa membalas harapan gadis di sebelahnya ini.


Munding kemudian menarik napas dalam, “Pak Yai dan Nurul, mereka malaikat penyelamatku. Tanpa mereka, aku tidak akan tahu seperti apa hidupku sekarang.”


“Dulu waktu aku kecil....”


Munding dengan suara pelan menceritakan semua pengalaman hidupnya kepada Amel, gadis manis yang mendengarkan cerita Munding dengan penuh perhatian. Sesekali Amel akan menganggukkan kepalanya dan juga mengomentari cerita Munding.


Tapi Munding sama sekali tidak menceritakan sedikitpun tentang malam berdarah di Sukorejo itu. Mulai dari pertemuannya dengan Asma di lapangan pojok desa sampai ke pertarungannya yang membuat kedua tangannya berlumuran darah musuhnya, termasuk Ibu dan Kakak Kandungnya sendiri.


Amel terdiam untuk beberapa saat setelah mendengar cerita Munding. Dia kini tahu, seberapa pahit dan sakitnya masa kecil bocah kampung yang duduk disebelahnya ini. Amel juga kini tahu penyebab bekas luka kecil di pelipis kiri Munding yang ternyata akibat luka lemparan batu dari kawan-kawannya semasa SD dulu.


Amel juga kini tahu apa penyebab luka balur yang tipis dan tidak terlalu terlihat tapi memenuhi sekujur tubuh Munding. Luka itu diakibatkan oleh ‘siksaan’ dari Pak Yai saat melatih Munding. Latihan yang menurut Amel terlalu berlebihan untuk dilakukan di masa seperti sekarang ini.


Tapi masih ada dua buah luka yang menjadi misteri bagi Amel dan Munding sama sekali tidak menyinggungnya tadi. Luka tusukan di perut Munding dan luka sabetan melintang di punggungnya.


Munding memalingkan kepalanya yang sedari tadi melihat keluar jendela dan melihat ke arah Amel yang terlihat ragu-ragu, “kenapa?” tanya Munding.


Amel menundukkan wajahnya kemudian memberanikan diri untuk mengutarakan pertanyaannya, “kalau luka di perut dan punggung Munding itu karena apa?”


Munding tersenyum pahit, “aku tidak mau membahas kedua luka itu. Itu kudapatkan dari pertarungan di malam terkelam dalam hidupku. Malam dimana aku kehilangan Ibu kandung dan Kakak kandungku,” jawab Munding pelan sambil membuang napas panjang.


Mereka berdua kembali terdiam.


“Malam itu juga yang membuatku berada disini. Semua hal ini, dimana aku harus menjadi bodyguardmu dan aku juga harus melakukan keinginan Papamu, semuanya karena malam itu,” suara Munding terdengar lirih melanjutkan kalimatnya yang sedikit menggantung tadi.

__ADS_1


“Ya anggap saja semua ini merupakan penebusan dosa untuk perbuatanku malam itu. Malam dimana aku mendapatkan kedua luka ini,” lanjut si Bocah Kampung itu.


“Penebusan dosa? Redemption?” tanya Amel pelan.


“Bisa dibilang seperti itulah,” jawab Munding sambil menganggukkan kepalanya.


Setelah itu, mereka berdua terdiam di dalam mobil mereka. Sebentar lagi mereka akan sampai di rumah Amel. Amel menundukkan kepalanya dan memandang karpet mobil yang ada di bawah kakinya. Munding kembali memandang keluar jendela, kearah pemandangan yang kini mulai berganti, bukan lagi suasana hiruk pikuk jalan kota Semarang.


Tak lama kemudian suara Amel memecah keheningan diantara mereka berdua, “setelah misi ‘penebusan dosa’ ini selesai, apa rencanamu?” tanya Amel lirih.


Munding tersenyum cerah, “aku akan kembali ke Sumber Rejo, menemui Nurul dan kami akan hidup bersama disana. Menanam padi disawah. Membesarkan anak-anak kami. Aku akan mengajari anak kami mencangkul dan menanam padi. Nurul akan mengajari mereka mengaji.”


“Kami juga akan berjalan di pematang sawah di tengah hamparan padi yang mulai menguning, sambil menunggu saat panen tiba dengan bercanda dan tertawa,” lanjut Munding tanpa ragu dan jeda sama sekali.


Amel tertunduk diam.


Impian cowok kampung di sebelahnya ini sungguh sangat sederhana. Dia tidak ingin hidup di kota dengan segala kemewahannya. Atau bermimpi untuk punya mobil sport milliaran bermerk seperti Lamborghini. Atau memakai sepatu sneakers yang harganya puluhan juta yang hanya untuk dipakai berjalan-jalan di mall selama beberapa menit kemudian kembali dimasukkan ke pajangan kotak kaca saat di rumah.


Tapi ketika Amel membayangkan dirinya sendiri sedang berpegangan tangan dengan Munding sambil merasakan semilir angin di pematang tengah sawah dengan butiran padi yang mulai menguning tanpa ada apapun yang mengganggu mereka, Amel menyunggingkan senyum di bibirnya, “nggak terlalu buruk juga sih,” gumam Amel pelan sekali.


Setelah itu mereka berdua kembali diam.


“Munding,” panggil Amel pelan.


Munding menolehkan kepalanya ke arah Amel, “ya?”

__ADS_1


“Aku ingin sekali ketemu sama Nurul,” kata Amel sambil tersenyum manis, “aku ingin melihat seperti apa gadis yang berhasil menawan hati laki-laki yang aku cintai,” lanjut Amel dalam hati.


Munding hanya terdiam tanpa memberikan jawaban.


__ADS_2