Munding - Legenda Serigala Petarung

Munding - Legenda Serigala Petarung
Chapter 167 - Komandan


__ADS_3

Semua anggota tim Merah Putih sedang berkumpul di sebuah lapangan yang ada di sebuah tempat terpencil yang jauh dari markas mereka. Pagi tadi, setelah menghabiskan sarapan mereka, kesepuluh anggota Tim pergi ke tempat ini dengan menggunakan dua buah mobil operasional yang disediakan untuk keperluan Tim.


Munding, Afza, Rony, dan Mia berada dalam satu mobil. Sunarya, Anggie, Ardian, Dewi, Ridwan, dan Eiren berada pada mobil yang lainnya. Mereka datang ke tempat ini karena Sunarya memberitahukan kalau Komandan tim akan menunggu mereka disana.


Komandan yang telah memerintahkan Sunarya dan Anggie untuk menyergap Munding di malam pertamanya bergabung dengan Tim ini.


Meskipun dia dipanggil dengan sebutan ‘Komandan’ tapi dia tidak termasuk dalam anggota Tim, dia juga tidak akan ikut campur dengan urusan tugas tim Merah Putih saat memburu Chaos secara langsung. Sebenarnya dia lebih mirip seperti seorang penasihat atau pengamat saja. Dan dia adalah salah satu petinggi dari Kepolisian yang bernama Jaelani.


Inisiator dari proyek kerja sama lintas kesatuan ini dan juga orang yang pertama kali mengumpulkan para petinggi militer untuk bersedia memberikan support mereka kepada program kerjasama untuk memburu tim Chaos.


Jaelani adalah seseorang yang memiliki pangkat yang sangat tinggi dalam lembaganya. Ada tiga bintang tersemat di pundaknya yang menunjukkan kalau pangkatnya adalah seorang Komisaris Jenderal Polisi atau Komjen Pol.


Laki-laki paruh baya yang hampir mendekati masa pensiunnya ini adalah sosok yang terlihat berusia lanjut tetapi masih sangat energetik dan bersemangat. Ketika rombongan anggota tim Merah Putih sampai ke lapangan tempat dia menunggu, dengan antusias langsung menyambut kedatangan mereka.


“Kalian sudah datang ya? Aku dengar ada satu tambahan lagi dari AD? Mana dia?” tanya Komandan Jae kepada anggota tim yang paling dekat dengannya.


Sesaat kemudian, Jaelani dan Munding saling bertatapan mata. Jaelani tahu kalau Munding lah orang baru itu. Dilihat dari segi dandanan dan tampilan, Jaelani tidak mungkin salah. Para prajurit elite dari TNI dan Polri setidaknya akan selalu memelihara rambut cepak dan rapi mereka, kecuali Rony yang bisa Jaelani pahami karena dia sering diperbantukan ke unit intel dan melakukan tugas penyamaran.

__ADS_1


“Kamu pasti Munding ya?” tanya Jaelani sambil tersenyum ramah dan mengulurkan tangannya ke arah Munding.


Munding dengan perlahan melihat tangan Jaelani yang terulur dan tak lama kemudian, Munding menyalami Jaelani dengan cepat dan melepaskannya. Entah kenapa, Munding merasa jijik dengan laki-laki berusia lanjut di hadapannya ini. Munding merasa kalau laki-laki yang dipanggil komandan oleh rekan-rekannya ini adalah seseorang yang bermuka dua yang bisa dengan mudah menyembunyikan niat busuknya dibalik senyum ramah yang ditunjukkannya.


“Siapa yang melatihmu?” tanya Komandan Jaelani.


Munding terlihat sama sekali tak berniat untuk menjawab pertanyaan Jaelani dan meninggalkan laki-laki itu. Wajah Jaelani terlihat sedikit tersulut emosinya saat melihat tingkah Munding.


“Hei!! Aku Komandan Tim ini! Kau harus menjawab pertanyaanku dan jangan pernah mendiamkan aku!” teriak Jaelani, dia benar-benar merasakan emosinya meluap.


Seorang perwira tinggi sepertinya sama sekali tidak digubris oleh pemuda yang entah datang darimana. Tentu saja Jaelani naik pitam. Sedangkan, anggota tim lainnya yang justru mempunyai pangkat militer dan lebih istimewa daripada Munding, semua mendengarkan perintahnya dengan seksama.


“Munding!” panggil Afza ke arah Munding dengan nada mengingatkan.


Munding hanya tersenyum kecil kearah Afza. Munding lalu mengedarkan pandangan matanya ke arah rekan-rekan timnya yang lain dan melihat ekspresi mereka satu persatu. Ketika Munding melihat rasa ketidaksukaan muncul di wajah mereka akibat tindakan pembangkangan yang dilakukannya, Munding hanya bisa menarik napas dalam-dalam.


“Semuanya adalah serigala Beta ya?” gumam Munding pelan dalam hati.

__ADS_1


Munding tadi dengan sengaja melawan Jaelani dengan satu tujuan, melihat apakah ada yang menjadi Alpha dalam tim Merah Putih. Seorang serigala petarung yang dengan bebas memutuskan sendiri ingin berbuat apa tanpa terbelenggu oleh hierarchy. Dan Munding sedikit kecewa saat dia menemukan bahwa semua rekannya hanyalah prajurit saja.


Munding tahu seberapa mengerikannya anggota tim Chaos yang mereka buru. Munding menduga kalau mereka bukanlah kawanan serigala dengan seorang Alpha, tapi lebih mirip dengan segerombolan Alpha yang berkumpul dengan satu tujuan. Tapi sejak mengalami insight yang mengerikan tempo hari, Munding sadar, karena mereka adalah sekumpulan individual yang berpendirian, mereka tidak solid. Mereka menunggu dan memperhatikan rekannya sendiri dengan seksama, bersiap-siap menerkam saat kawannya sendiri sedang lengah. Dan sejak dulu, Munding ingin sekali memanfaatkan kelemahan mereka itu.


Ketika membandingkan antara tim Chaos yang dilihatnya waktu itu dengan tim Merah Putih, Munding hanya bisa tersenyum kecut. Mereka bagaikan segerombolan serigala dewasa lapar dengan sekumpulan anak serigala yang sedang lucu-lucunya bersenda gurau dan berpura-pura saling bertarung dengan kawannya.


Kawanan anak serigala yang menjadi setengah dewasa karena disuapi oleh induknya sedang berencana untuk mengejar dan membantai gerombolan serigala lapar yang cakar dan taringnya sudah bersimbah darah para mangsanya yang tak terhitung lagi.


“Hei!!” teriak Jaelani ke arah Munding.


“Maaf Pak,” jawab Munding sambil meringis kecil dan kembali berjalan ke arah mereka semua.


Jaelani menarik napas dalam dan mencoba menekan amarahnya. Betapa ingin sekali dia menampar atau menghajar anak muda di depannya itu yang tadi dengan sengaja membangkang dan sama sekali tidak memberikan rasa hormat kepada dirinya. Sekalipun baru saja dia mengucapkan maaf, tapi Jaelani dan semua orang juga tahu kalau kata maaf yang diucapkan oleh Munding barusan bahkan sama sekali tidak tulus dan setengah hati.


Tapi, Jaelani hanya bisa menggertakkan gigi dan menahan emosinya. Dia paham benar dengan sekumpulan pemuda dan pemudi yang ada di depannya saat ini. Mereka adalah para petarung elite dengan kemampuan melebihi manusia biasa.


Jaelani, meskipun dengan pangkatnya yang setinggi langit, pada akhirnya hanyalah seorang manusia biasa. Dibandingkan dengan para prajurit yang menyebut diri mereka sebagai serigala petarung di hadapannya saat ini, Jaelani adalah mahluk yang sangat lemah. Jaelani sadar sepenuhnya kalau dia tidak akan sempat untuk berteriak minta tolong sebelum salah satu diantara mereka bisa dengan mudah menghabisi nyawanya. Jaelani tahu dan paham itu. Termasuk kenyataan bahwa pemuda sipil yang barusan membangkangnya juga termasuk diantara mereka. Dengan kemampuan yang sama dengan mereka semua.

__ADS_1


Jadi, kata maaf tanpa ketulusan hati yang didapatkannya dari Munding mungkin menjadi satu-satunya penyelamat harga dirinya sebagai seorang ‘komandan’ di depan tim Merah Putih yang menjadi tanggung jawabnya ini.


__ADS_2