
Munding dan Ardian tak melihat apa yang terjadi dengan Ridwan. Mereka bertiga lari ke arah yang berbeda. Mereka juga tidak tahu kalau disaat yang hampir bersamaan, Mia sudah tewas di tangan Titis, sedangkan Arya sedang disiksa oleh sang Jenderal.
Ardian menggunakan seluruh kemampuannya untuk berlari secepat kilat. Mungkin ini adalah kali pertama dia memaksakan kemampuannya yang diatas manusia biasa untuk tujuan berlari.
Hikari dengan tenang mengibaskan katananya ke samping untuk membuang bekas darah yang ada di bilah pedang itu. Setelah itu, sama seperti tadi, dia meletakkannya di atas pundak lalu melihat ke arah Ardian dan Munding.
“Sisakan yang terbaik untuk dinikmati paling terakhir,” gumam Hikari sambil tersenyum.
Tak lama kemudian, bayangan si Samurai kembali menghilang, melesat menuju ke arah buruannya.
Ardian tiba-tiba saja merasakan kalau sesuatu yang sangat berbahaya mendekatinya dengan kecepatan luar biasa. Ardian lalu dengan cepat melompat kesamping karena mengikuti nalurinya.
Sebuah goresan bekas sabetan pedang tiba-tiba saja muncul di atas tanah tempat dia barusan berdiri. Keringat dingin keluar dari punggung Ardian.
“Sial! Hampir saja aku kena tadi,” keluhnya dalam hati dengan dada berdebar-debar.
Ardian melihat ke sekelilingnya. Dia berada di sebuah lahan kosong yang tak terawat dan berada beberapa ratus meter dari jalan Pantura tempat mereka tadi menyergap Yasin dan Nia. Lahan kosong ini berisi rerumputan tinggi yang tak pernah dipotong dan hanya dua buah rumpun pohon pisang terlihat di dekat Ardian.
Lalu, Ardian melihatnya.
Si Samurai yang berjalan pelan dan sudah menyarungkan pedangnya kembali. Dia memegang pedang itu dengan tangan kiri lalu menggunakan tangan kanannya untuk menyalakan rokok yang ada di bibirnya.
Dengan santai si Samurai menghembuskan asap rokok itu ke udara dengan ekspresi damai. Seolah-olah dia sedang menikmati pemandangan di sebuah tempat wisata.
“Kenapa dia justru mengejarku?” tanya Ardian dalam hati.
Si Samurai yang kini hanya berjarak beberapa meter dari Ardian menghentikan langkahnya. Dia melihat ke arah Ardian dan tersenyum.
“Maafkan aku, aku sama sekali tidak punya dendam ataupun masalah denganmu. Ini semua hanya pekerjaan,” kata Hikari pelan ke arah Ardian.
Tanda tanya bermunculan di wajah Ardian, dia bingung dengan maksud kata-kata yang berlogat asing dari mulut si Samurai yang ada di depannya ini. Tapi, Ardian kembali merasakan sensasi bahaya yang kuat dan mengarah ke lehernya. Sensasi bahaya yang juga dia rasakan saat melarikan diri tadi.
__ADS_1
Dengan cepat Ardian menundukkan kepalanya ke depan.
Craassssssss.
Beberapa helai rambut Ardian beterbangan karena tebasan katana Hikari yang sangat cepat itu. Bahkan Ardian tak dapat melihat sama sekali kapan si Samurai menarik pedangnya keluar dan mengayunkannya. Ardian juga masih melihat kalau di jemari kanan musuhnya itu, bukan sebuah pedang melainkan sebatang rokok yang tergenggam disana.
“Mustahil! Dengan kemampuan seperti ini, apakah mereka masih manusia?” keluh Ardian.
“Hohohohohoho. Instinct-mu bagus sekali. Siapa namamu?” tanya Hikari.
“Ardian,” jawab Ardian pendek.
“Ardian-kun, namaku Hikari Makoto. Aku bangga bertemu seorang pejuang sepertimu,” kata Hikari sambil membungkukkan badannya ke arah Ardian.
“Kenapa seorang petarung manifestasi sepertimu memburu kami? Kami ini tak lebih dari seekor serangga di mata kalian,” balas Ardian dengan nafas terengah-engah.
“Seperti yang sudah aku katakan tadi Ardian-kun. Ini pekerjaan, bukan sesuatu yang personal. Dan kita semua bekerja karena uang atau benefit tertentu yang kita terima,” jawab Hikari.
Ardian hanya bisa memaki-maki dalam hati. Dia tak bisa membalas perkataan Hikari, bukankah dirinya juga melakukan ini semua karena pekerjaan? Mungkin hanya si militan bodoh itu yang bergabung dengan tim Merah Putih tanpa bayaran.
“Kalau kamu bisa menghindar dari serangan pedangku sebanyak tiga kali, aku akan melepaskanmu,” kata Hikari sambil menghembuskan asap rokok dari mulutnya.
Ardian terdiam.
Dia tahu seberapa sulinya melakukan itu. Hikari adalah seorang petarung manifestasi, kecepatan gerakannya luar biasa. Tadi bahkan dia bisa melayangkan serangan dan Ardian tak melihat sama sekali gerakan tangan atau tubuhnya. Ardian tak yakin kalau dia akan sanggup menghindari serangan Hikari tiga kali berturut-turut.
“Aku tak akan survive. Aku tahu itu,” jawab Ardian setelah berpikir selama beberapa saat.
“Hmmmmm,” Hikari terlihat berpikir dan memegang rokoknya di antara jari-jari tangan kanannya.
Dia membuka topi jeraminya lalu mengibas-ngibaskan topi itu, membuat si topi menjadi kipas angin alakadarnya untuk mengurangi terik panas menyengat di jalur pantura ini.
__ADS_1
Setelah terdiam dan berpikir selama beberapa saat, Hikari akhirnya menganggukkan kepala dan tersenyum ke arah Ardian, “oke, dua kali. Kamu coba sebanyak dua kali,” kata Hikari.
Ardian menghela napas, “meskipun kecil sekali. Tapi setidaknya aku punya peluang untuk menyelamatkan diri,” gumam Ardian.
“Bagaimana Ardian-kun?” tanya Hikari.
“Aku menerimanya,” jawab Ardian.
“Bagus!! Lakukan yang terbaik!” kata Hikari dan dia pun tersenyum lebar.
Hikari lalu menghisap rokoknya dan membiarkan benda itu di bibirnya. Dia menundukkan badannya pelan-pelan dan memajukan kaki kanannya kedepan lalu menarik kaki kiri ke belakang.
Hikari menurunkan tangan kanannya perlahan lalu membuka telapak tangannya. Tangannya bergerak pelan sekali dengan penuh konsentrasi dan bergerak ke arah gagang pedang katana yang dia pegang dengan tangan kirinya.
Hikari adalah seorang pewaris dari sebuah aliran kendo yang lebih memfokuskan dalam seni quick-draw atau iaijutsu. Iaijutsu atau sering disebut dengan battojutsu adalah suatu gerakan menarik katana dengan cepat dari sarungnya dan langsung menggunakannya untuk mengeksekusi musuh.
Jadi, pertarungan akan berakhir hanya dalam satu kali gerakan. Menarik pedang dari sarung sekaligus melayangkan serangan ke arah musuh. Semua gerakan itu dilakukan dengan cepat dan akurat. Hasil latihan selama bertahun-tahun dari alirannya.
Ardian yang awam dengan seni beladiri kendo tidak tahu kalau dia baru saja memberikan kesempatan kepada Hikari untuk menggunakan serangan terkuatnya.
Ardian memasang kuda-kuda dan menyiapkan seluruh ototnya untuk bergerak dengan cepat sesuai dengan bisikan nalurinya. Dia memejamkan mata dan tidak ingin melihat ke arah musuhnya. Ardian benar-benar ingin mengandalkan nalurinya untuk bertahan hidup kali ini.
Hikari tersenyum saat melihat Ardian memejamkan mata. Untuk petarung yang mengandalkan instinct, terkadang indera penglihatan memang justru akan mengganggu. Apa yang dilakukan oleh Ardian memang keputusan yang tepat.
Dan tiba-tiba.
Crassssss.
Arghhhhhhhhhh.
Ardian berguling di atas tanah sambil memegangi kaki kirinya yang baru saja terkena luka sabetan katana Hikari. Dia berteriak kesakitan karena luka itu. Luka menganga yang lebar dan mengucurkan darah dengan kencang.
__ADS_1
Untuk sesaat tadi, Ardian memang merasakan sinyal bahaya datang dan bergerak ke kanan untuk menghindarinya, dan dia berusaha melakukan itu tanpa berpikir sama sekali. Tapi tetap saja dia masih terlambat untuk menghindari sabetan katana Hikari sepenuhnya.
\=\=\=\=\=