
Munding hanya terdiam setelah mendengar cerita Afza, “Kamu tahu kan kalau suara yang kamu dengar itu adalah nalurimu?” tanya Munding tak lama kemudian.
“Aku tahu. Aku sudah berkomunikasi dengannya sejak proses awakening,” jawab Afza cepat.
“Saat itu, jika nalurimu tidak menyuruhmu untuk menembak orang itu, apakah kamu tetap akan menembaknya?” tanya Munding.
“Aku mungkin akan tetap menembaknya. Kami prajurit dididik untuk menjalankan perintah atasan tanpa memberikan pertanyaan. Aku butuh waktu berjam-jam dalam kebimbangan karena saat itulah pertama kalinya dalam hidupku aku menghabisi nyawa orang lain,” jawab Afza.
“Jika saat itu, nalurimu menyuruhmu untuk untuk tidak menembak dan kamu tetap memilih untuk menembaknya, apakah menurutmu kamu akan berhasil dalam proses inisiasi?” tanya Munding penasaran.
“Aku rasa iya. Ada beberapa rekan kita dalam Tim Merah Putih yang kudengar mengalami hal seperti itu dalam proses inisiasinya,” jawab Afza pelan dengan muka kebingungan, “bukankah itulah inti proses inisiasi? Kita harus menghabisi nyawa seseorang dan melepaskan naluri buas predator kita?”
Duarrrrrr.
Munding seperti mendengar sambaran petir di telinganya ketika mendengarkan kata-kata Afza barusan. Munding lalu mencoba menenangkan diri dan mengatur napasnya. Apa yang dikatakan oleh Afza barusan bisa dengan mudah memporakporandakan keyakinan Munding akan pemahamannya tentang jatidiri serigala petarung yang dimilikinya.
Selama ini, Munding yakin kalau tahap awakening adalah proses seseorang mengakui keberadaan naluri predator dalam dirinya dan menerimanya secara utuh sebagai bagian dari dirinya. Tidak ada perbedaan konsep disini antara apa yang dia pahami dan apa yang dilakukan oleh pihak militer.
__ADS_1
Dalam proses Inisiasi, Munding menyadari bahwa meyakini dan menerima keberadaan sisi buas dirinya tidaklah cukup. Dia juga harus mempercayai nalurinya sendiri, bahkan menempatkan posisinya diatas logika yang dia miliki. Saat terjadi pertentangan antara logika dan naluri, serigala petarung harus mengikuti nalurinya untuk bertahan hidup. Seorang serigala petarung harus hidup dengan mengandalkan nalurinya sebagai panduan. Naluri yang terbentuk dari berbagai pecahan jatidiri seseorang seperti keyakinan, masa lalu, perasaaan, keluarga dan berbagai hal lainnya.
Sampai detik ini, Munding merasa bahwa itulah jalan satu-satunya yang harus dilewati untuk menjalani proses sebagai seorang serigala petarung, dan kata-kata Afza barusan membuktikan kalau anggapan yang Munding yakini selama ini ternyata salah.
Munding harus bisa menemukan jawaban dari semua ini, jika tidak, ini akan menjadi sebuah retakan kecil dalam fondasinya sebagai serigala petarung yang selama ini dia yakini. Dan tentu saja retakan ini akan menjadi cacat yang mencegah Munding berkembang lebih jauh dalam perjalanannya sebagai serigala petarung.
Munding menundukkan kepalanya dan tidak menggubris tatapan aneh Afza yang kebingungan melihat tingkah laki-laki di depannya. Dia mencoba untuk menelaah informasi yang baru saja dia terima dari Afza dan berusaha untuk mengetahui dimana letak cacat dari apa yang dia percayai selama ini.
“Menurut Afza, sekalipun dia tidak mengikuti kata hatinya, mereka tetap akan terinisiasi,” gumam Munding dalam hati.
“Bagaimana bisa seekor binatang buas lebih memilih menggunakan logikanya dibandingkan instinct-nya?”
Pikiran Munding melayang makin jauh dan bekerja semakin keras untuk menemukan jawaban dari pertanyaannya sendiri. Munding menarik napas panjang dan berusaha memusatkan pikirannya dan berdoa memohon petunjuk sesuai dengan keyakinannya.
Munding merasakan sensasi melayang yang sama dengan saat dia mengalami insight saat itu. Dia melayang dalam ruang gelap tapi memberikan kedamaian itu tanpa arah selama beberapa saat hingga tiba-tiba Munding merasakan dirinya melewati sebuah membran tipis tanpa sengaja dan menemukan dirinya berada di suatu tempat yang asing dan bukan berada di puncak bukit bersama Afza.
Munding menarik napas dalam. Pak Yai sudah memperingatkannya dengan tegas untuk tidak berusaha menggunakan lagi kemampuan ini, karena bisa menyebabkan kematian bagi dirinya sendiri. Tapi entah kenapa, saat ini Munding yakin kalau dia tidak akan mengalami efek apa-apa. Nalurinya mengatakan kalau jawaban yang dia cari, bukanlah sesuatu yang membuatnya melihat jauh ke masa depan. Dia hanya membutuhkan jawaban sederhana untuk menghilangkan keraguan dalam dirinya.
__ADS_1
Munding melihat ke arah sekelilingnya dan mencoba mengenali tempat ini, tapi semuanya terasa asing dan aneh baginya. Permukaan tanah di tempat ini tertutupi oleh salju berwarna putih, kontur tanahnya berbukit dan beberapa batu terlihat membelah permukaan salju yang menutupinya.
Pohon-pohon kehilangan daunnya dan hanya tinggal ranting yang juga tertutupi oleh salju di bagian atasnya. Angin bertiup dengan suara berdesau kencang di sela-sela pepohonan dan membuat beberapa salju jatuh berguguran ke bawah. Munding bisa membayangkan betapa dinginnya tempat ini meskipun dia sama sekali tidak merasakan rasa dingin itu menyergap tubuhnya.
Munding sadar sepenuhnya kalau dia tidak pernah datang ataupun melihat tempat ini sebelumnya. Tapi, Munding percaya kalau di suatu tempat, di suatu waktu, tempat yang sekarang dilihat Munding ini adalah nyata dan ada. Munding juga sadar sepenuhnya kalau jawaban yang dia cari ada di tempat ini. Kalau tidak, kenapa nalurinya membawa dia kesini dan menunjukkan insight ini?
Tiba-tiba, di sela-sela pepohonan yang memutih karena tertutup salju, seekor serigala berjalan pelan dengan penuh kewaspadaan tapi sekaligus percaya diri. Munding bisa merasakan aura yang kuat dari sang Serigala yang baru saja dilihatnya itu.
Setelah diam di tempatnya dan melihat ke sekelilingnya selama beberapa saat dan tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan, sang Serigala mengangkat kepalanya ke atas dan melolong kencang. Tak lama kemudian, suara lolongan serigala terdengar datang bersahutan menjawab lolongan Serigala yang ada di depan Munding saat ini.
Tempat yang sebelumnya sepi dan hanya didominasi warna putih salju dan terlihat dingin mencekam ini tiba-tiba saja sudah dipenuhi oleh gerombolan serigala yang muncul dari sela-sela pepohonan. Munding bisa melihat dengan jelas kabut putih yang keluar dari depan mulut dan hidung para serigala itu yang sedikit tersengal-sengal dalam dinginnya salju pegunungan ini.
Ada lebih dari 12 ekor serigala yang kini berdiri di hadapan Munding dan berada di lembah bukit yang tertutupi salju ini. Serigala yang pertama kali dilihat oleh Munding itu terlihat melolong perlahan dan beberapa serigala lainnya menuruni lereng yang dipenuhi salju menuju ke bawah lembah tempat Munding melihat mereka semua. Tapi tentu saja Munding tidak merasa panik, karena Munding tahu, sama seperti pengalamannya dulu, dia tak akan bisa menyentuh apapun yang sekarang ada di depannya.
Munding mengamati gerombolan serigala itu menuruni lembah dengan teratur. Untuk sesaat Munding lupa akan tujuan yang membawanya kesini dan dengan rasa penasaran memperhatikan para serigala itu. Si Serigala pertama yang dilihatnya tadi terlihat tetap berdiri di tempatnya dan mengawasi semuanya dari tempatnya berdiri.
Beberapa ekor serigala yang terlihat lemah menuruni lembah terlebih dahulu dan diikuti oleh beberapa serigala yang terlihat lebih ganas. Tak lama kemudian, ketika semua kawanan serigala sudah menuruni lembah. Serigala pertama tadi menuruni lembah di belakang mereka.
__ADS_1