
Gelap.
Itulah yang Munding rasakan saat ini.
Tak ada cahaya, tak ada rasa, tak ada suara.
Munding bahkan tak bisa merasakan tubuhnya sendiri. Tangannya, kakinya, kepalanya, badannya, semuanya tak dapat dirasakan oleh Munding.
Hanya ada kesadaran.
Kesadaran diri bahwa dirinya adalah Munding.
Sensasi arah menghilang, tak ada atas, tak ada bawah, tak ada samping kiri ataupun kanan.
Dia seperti mengambang, tapi mengambang tanpa mengetahui apakah dia sedang telentang, tengkurap, terbalik, atau bahkan sama sekali tidak melayang.
Apakah dia sedang meringkuk?
Ataukah dia sedang berdiri?
Atau mungkinkah dia sedang terbaring?
Munding tidak tahu.
Konsep ruang juga menghilang.
Tak ada jauh, dekat, tinggi, rendah, dimana dirinya berada sekarang.
Semuanya hanya terisi kegelapan tanpa ruang.
Konsep waktu ikut menghilang.
Sudah berapa lamakah dia disini? Sedetik, semenit, satu jam, satu hari, satu minggu, satu tahun? Munding tak punya petunjuk apa pun untuk mengetahuinya.
Hanya ada kegelapan dan kesadaran dirinya sendiri.
Apakah dia sudah mati?
Inikah alam kubur?
Ataukah ini proses kematian?
Dimana Malaikat Maut? Izrail?
Apakah dia masih hidup?
Lumpuhkah dia?
Tapi kenapa dia tak merasakan apa-apa? Tidak ada rasa sakit, nyeri, ataupun ngilu.
Bagaimana mungkin Munding bisa merasakan itu semua kalau dia bahkan tak bisa merasakan tubuhnya sendiri?
Munding bahkan tak memiliki sensasi rasa lagi?
__ADS_1
Apakah dia masih manusia?
Ataukah ini yang namanya ruh?
Seribu satu pertanyaan memenuhi kesadaran Munding. Satu-satunya hal yang masih membuatnya mengingat siapa dirinya sendiri.
Tapi, setelah waktu yang terasa lama sekali bagi Munding, sebuah pertanyaan yang membuatnya risau muncul.
Sampai kapan dia akan menjadi Munding? Apakah saat dia tak lagi memiliki kesadaran diri, dia hanya akan menjadi bagian dari kegelapan tak bertepi ini? Sebuah titik hitam dari samudera luas kegelapan yang tak berarti?
\=\=\=\=\=
“Gimana Dok?” tanya Cynthia ke arah Dokter yang melakukan tindakan medis kepada Munding.
“Kondisinya sudah melewati masa kritis, tapi dia sekarang dalam kondisi koma. Kami menyebutnya vegetative state,” jawab sang Dokter.
“Vegetative state?” tanya Aisah.
“Itu semacam kondisi kesehatan dimana tubuh masih ‘hidup’ secara biologis, tapi tidak dapat merespon rangsangan dari sekitarnya Bu. Biasanya terjadi karena trauma pada otak si Pasien. Tapi kasus kali ini aneh. Pasien mengalami luka tusuk di bagian paru-paru yang dekat dengan jantung sedangkan otaknya sama sekali tidak mengalami gangguan. Tapi entah kenapa tubuh si Pasien memasuki kondisi permanent vegetative state seperti ini,” jelas sang Dokter.
“Bisa disembuhkan Dok atau kembali sehat seperti semula?” tanya Cynthia.
“Kondisi ini termasuk dalam kategori kronis. Bisa berlangsung selama bertahun-tahun bahkan seumur hidup,” jawab si Dokter dengan muka yang menunjukkan simpati kepada Cynthia dan Aisah.
“Maaf Bu, karena prosedur penanganan pasien sudah selesai, kami tinggal dulu ya? Ada pasien lain yang harus kami tangani,” pamit sang Dokter dan timnya.
Aisah terduduk lemas di kursinya, sedangkan Cynthia hanya melihat dengan tatapan sedih ke arah Gurunya.
Aisah menarik napas dalam dan menggunakan handphone-nya, dia mencari sebuah nama yang tersimpan dalam kontaknya tapi tak pernah sekalipun dia hubungi sejak dia dapatkan.
Ahmad Hambali.
Aisah kembali menarik napas panjang yang kedua kalinya lalu memantapkan hati untuk memencet nomor itu. Dia butuh keberanian yang jauh lebih besar untuk melakukan panggilan telepon ini dibandingkan menghadapi sesama serigala petarung tahap manifestasi seperti Hikari.
“Assalamualaikum,” terdengar suara seorang laki-laki yang asing sekaligus familiar di telinga Aisah.
Aisah memejamkan matanya dan menempelkan erat telepon itu ke telinganya. Cinta memang tidak mengenal usia.
Betapa dia sangat merindukan suara itu.
“Assalamualaikum,” salam kedua kembali terdengar dari seberang telepon, kali ini dengan nada mulai meninggi dan jengkel.
Aisah langsung tersadar dari khayalannya dan menjawab salam itu.
“Waalaikumussalam,” kata Aisah pelan dan lembut.
Cynthia menjatuhkan roti bakar yang ada di tangannya. Tak lama kemudian roti bakar yang ada di mulutnya dan belum sempat dia kunyah juga jatuh ke tanah. Bagaimana tidak? Ini kali pertama dia melihat sosok Gurunya yang sefeminim itu.
Tak pernah sekalipun Cynthia melihat atau mendengar Aisah berbicara dengan nada selembut barusan. Tak urung, Cynthia jadi penasaran dengan sosok yang sekarang sedang menjawab telepon Gurunya dan bisa membuat Gurunya berubah seperti tadi.
“Aisah?” tanya Pak Yai dari seberang telepon.
“Iya Mas,” jawab Aisah.
__ADS_1
“Alhamdulillah. Sudah berapa tahun aku tidak mendengar kabar darimu. Sehat kan?” kata Pak Yai.
“Alhamdulillah sehat Mas,” jawab Aisah.
“Kamu dimana sekarang?” tanya Pak Yai.
“Aisah ikut Bang Leman, Mas,” jawab Aisah.
“Ikut Leman? Organisasi yang namanya kayak sambel tomat itu? Apa namanya Saos? Iya Saos?” tanya Pak Yai.
“Chaos Mas, namanya Chaos,” jawab Aisah sambil tertawa kecil.
Satu-satunya orang yang keheranan dan kebingungan tentu saja Cynthia. Ini namanya telepon ke teman lama, bukan mau ngasih tahu kondisi darurat bocah yang lagi berbaring di ranjang pasien di sebelah mereka.
Guru oh Guru, keluh Cynthia dalam hati, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Ehm,” Cynthia pura-pura batuk dan membuat Aisah melihat kearahnya.
Cynthia lalu menunjuk dengan dagunya ke arah si Munding dan Aisah pun langsung teringat tujuan awal dia menelepon kakak angkat tertuanya itu.
“Mas, ada berita buruk,” kata Aisah.
“Hmmm. Berita apa?” tanya Pak Yai.
“Mas punya menantu laki-laki kan? Yang namanya Munding?” tanya Aisah.
“Iya, suami Nurul tu,” jawab Pak Yai.
Aisah menarik napas dalam sebelum mencoba untuk memberitahukan kabar tentang keponakannya.
“Munding terluka Mas,” kata Aisah.
“Parah?” tak sesuai dugaan Aisah, tak ada sama sekali nada panik atau kaget dari suara Pak Yai.
“Iya,” jawab Aisah pendek.
“Tapi nggak mati kan?” tanya Pak Yai.
“Susah ngejelasinnya Mas. Lebih baik Mas lihat sendiri kondisinya,” jawab Aisah.
“Dirawat dimana dia sekarang?” tanya Pak Yai.
Aisah melirik ke arah Cynthia dan bertanya di rumah sakit mana mereka sekarang. Cynthia menjawab, “Nanti Cynthia share loc lokasi RS-nya.”
“Nanti biar di share loc sama Cynthia ke HP Mas aja ya?” kata Aisah ke Pak Yai.
“Sherlock? Yang detektif itu?” tanya Pak Yai kebingungan.
Aisah hanya tertawa kecil, “Udah deh, nanti biar anak Mas aja yang buka, Nurul kan namanya?”
“Iya. Jangan lama-lama,” kata Pak Yai.
“Iya Mas. Udah dulu ya. Assalamualaikum,” pamit Aisah.
__ADS_1
“Waalaikumussalam,” jawab Pak Yai lalu mematikan teleponnya.
Aisah menghembuskan napas panjang dan langsung rebah ke kursi yang didudukinya. Tak lama kemudian dia tersenyum bahagia lalu dengan cepat berubah menjadi sedih. Cynthia hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Gurunya.