
“Kebetulan saya kenal akrab dan dekat dengan murid sekaligus menantu dari Ahmad Hambali yang bernama Munding. Jadi dialah yang saya ajukan untuk menjadi kandidat dari Angkatan Darat,” kata Broto mengakhiri penjelasannya.
“Itu belum menjelaskan tujuanmu, Bodat!!” teriak Nasution ke arah Broto tiba-tiba dengan suaranya yang khas menggelegar.
“Lae ...” tegur Dirman kepada sahabatnya.
Nasution hanya tertawa kecil lalu kembali asyik fokus ke joran pancingnya. Dirman hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah sahabatnya yang tak pernah berubah dari dulu. Broto hanya menundukkan kepalanya dengan muka memerah. Broto juga manusia, tentu malu dimaki-maki seperti itu, apalagi ada beberapa anak buahnya yang memperhatikan di dalam kabin sana.
“Terus apa tujuanmu?” tanya Dirman pelan ke arah Broto.
“Kandidat yang kita kirimkan bukanlah kandidat terkuat yang militer miliki melainkan kandidat dengan potensi terbaik. Kandidat yang kita harapkan akan mempunyai kesempatan untuk melangkah ke arah manifestasi. Saya berharap, apapun kelebihan yang dimiliki oleh Munding karena metode latihan ala militan yang dia miliki sedikit banyak dapat diserap oleh kandidat kita.”
“Saya ingin, calon-calon petarung elite kita membuka wawasan mereka bahwa diluar sana, ada banyak jalan menuju Roma, bahwa ada cara lain untuk mencapai tujuan, dan bahwa sampai detik ini, tidak ada yang tahu jalan mana yang benar-benar membawa kita ke Roma atau menyesatkan kita ke antah berantah,” lanjut Broto.
“Jadi, kamu sendiri tidak yakin dengan metode yang selama ini kita gunakan untuk mendidik petarung kita?” tanya Dirman dengan nada datar.
“Bukan begitu Pak. Saya hanya mencoba untuk berpikiran terbuka dan melihat semuanya dari sudut pandang yang lain. Sampai detik ini, kita belum melahirkan seorang pun petarung manifestasi baru dengan cara kita. Tapi mereka sudah. Saya tidak ingin kita terlalu terkungkung dengan apa yang kita percayai dan sama sekali tidak mencoba semua kesempatan yang ada,” bantah Broto.
Dirman menarik napas dalam lalu tersenyum kecil, “Tapi tentu saja kamu punya alasan lain kan?”
Broto terdiam dan menundukkan kepalanya.
“Broto, kami sudah melatihmu sejak masa pendidikanmu dulu. Sejak kamu masih berkepala plontos dan menjadi kacung di akademi. Kamu yang paling cerdas diantara rekan-rekanmu meskipun prestasimu tidak ditunjang dengan kemampuan beladiri dan level petarungmu. Tapi kami percaya kemampuan otakmu. Kamu pikir kami tak tahu kalau kamu selalu menyiapkan rencana cadangan untuk hal apapun?” lanjut Dirman.
__ADS_1
“Jika semuanya gagal, setidaknya, saya ingin agar kita menjalin hubungan baik dengan kawanan militan. Setidaknya dengan kawanan dengan kekuatan terbesar yang ada di negeri ini,” kata Broto pelan.
Dirman tertawa lebar setelah mendengar kata-kata Broto, meskipun tak terbersit dalam kepalanya apa yang dimaksud dengan ‘menjalin hubungan baik’ oleh Broto. Tapi setidaknya, keputusan yang diambil oleh Broto memberikan sebuah kesempatan baik bagi militer secara keseluruhan.
Di saat Dirman dan Broto sedang asyik larut dalam pikirannya masing-masing sebuah teriakan keras mengagetkan mereka berdua.
“Strike!!!” teriak Nasution.
Lalu dengan sigap orang tua itu menggulung dan mengayun joran dan reel yang dipegangnya. Angkat jorannya, lalu turunkan sambil menggulung reel, angkat lagi, lalu turunkan sambil menggulung reel lagi. Di saat ikan memberontak dan melawan tarikan joran Nasution, dia hanya tertawa lalu menahan ujung joran ke perutnya dan memegang joran dengan tangan kanannya.
Suara reel yang menderit keras memecah kesunyian diatas kapal itu. Si Ikan lari menjauh sekuat tenaga untuk menyelamatkan nyawanya. Nasution terus membiarkan reelnya berderit dan berteriak kencang, ketika dia merasa tarikan ikan makin lemah, Nasution mulai lagi ritualnya tadi. Angkat joran, turunkan, gulung, ulangi lagi, terus menerus hingga akhirnya bayangan ikan itu terlihat di tepi kapal mereka.
Seekor ikan kerapu merah berukuran lumayan besar terlihat mengambang dan berenang kesana kemari disamping perahu tapi dengan kail menancap di bibirnya. Nasution terlihat senang sekali lalu berteriak.
Anak buah Broto dengan sigap keluar dari kabin dan membawa jaring yang digunakan untuk menyerok ke arah geladak depan kapal dan berjongkok di sebelah Nasution untuk bersiap-siap menyelamatkan ikan kerapu yang tenggelam itu.
Tak lama kemudian, mereka bertiga sudah duduk sambil menikmati makan siang mereka di atas kapal dengan masakan asam pedas kerapu hasil pancingan Nasution tadi.
“Broto, Broto. Kalau kamu memang berniat menjalin hubungan baik dengan mereka. Ada cara yang lebih mudah lagi. Kenapa kau tak nikahkan anak gadismu dengan murid si Izrail sekalian?” kata Dirman pelan di sela-sela kesibukannya mengunyah makanan.
Broto hanya terdiam, bukan karena dia tak mau, dia tahu kalau anak gadisnya pasti setuju sekali, tapi tak mungkin kan dia memaksa Munding?
\=\=\=\=\=
__ADS_1
Munding terdiam ketika mendengar cerita Bapaknya tentang serangan satu tim kecil Chaos yang dialami oleh Bapaknya beberapa waktu lalu di Sukorejo. Untuk sesaat, dia tertegun dan tidak tahu harus berkata apa.
Munding memutuskan untuk bergabung dengan Merah Putih karena tidak ingin apa yang dia lihat dalam insightnya terjadi. Tapi ternyata? Penyerangan itu tetap saja terjadi, meskipun tak sepenuhnya sesuai bayangan yang pernah dia lihat.
Munding juga membayangkan seandainya Bapak tidak ada disini?
Bukankah itu artinya dia akan kehilangan istri sekaligus anaknya yang bahkan belum lahir?
Munding merasakan bulu kuduknya merinding ketika membayangkan semua itu.
“Jangan berandai-andai dan tak usah terlalu dipikirkan,” kata Pak Yai pelan ketika melihat raut muka menantunya berubah sedikit cemas dan ketakutan.
Munding terdiam mendengarkan kata-kata Pak Yai.
“Kalau memang sudah waktunya, apapun yang kita lakukan tak ada gunanya. Kita berusaha melakukan yang terbaik, tapi Gusti Allah yang menentukan semuanya,” lanjut Pak Yai.
Munding sedikit merasa lega ketika mendengarkan nasihat Pak Yai. Dia kembali tersadar, semuanya sudah digariskan. Dia hanya bisa berusaha yang terbaik, tapi hasilnya akan mengikuti apa yang sudah menjadi takdirNya.
“Munding ke dalam dulu Pak,” pamit Munding kepada Bapak mertuanya.
Pak Yai hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Orang tua itu tetap duduk di teras rumah Munding dan terlihat sedang memikirkan sesuatu. Sedangkan Munding masuk ke dalam rumah dan menuju ke kamarnya. Menemui istrinya yang membuatnya rindu karena tak bertemu selama beberapa bulan ini.
Munding melihat Nurul sedang berbaring di atas ranjang dan mendengkur halus. Lalu dia mendekat dan melirik ke arah perut Nurul yang sekarang terlihat mulai menggembung karena kandungannya yang sudah berusia 6 bulan.
__ADS_1
Dengan pelan-pelan dan mesra Munding mengelus perut istrinya, ada sedikit ketakutan kembali muncul di kepala Munding, “Seandainya saja aku bisa hidup layaknya orang biasa, aku bisa menunggui anakku lahir dengan bahagia, lalu aku akan mengajaknya bermain ke sawah, mengenal alam, mengajarinya berenang,” dan Munding larut dalam khayalannya tentang masa depan yang akan dia lakukan bersama calon anaknya.