
Tak sampai lima menit kemudian, terdengar suara tertawa di taman belakang tempat tadi Munding dan istrinya duduk menikmati mentari pagi.
“Seorang petarung manifestasi dan dua orang petarung inisiasi. Kami bisa menghabisi kalian dengan satu mata terpejam,” terdengar suara seseorang dengan menggunakan bahasa Inggris yang fasih dan cepat.
Pak Yai dan Munding saling berpandang-pandangan, “Ngerti Le?” tanya Pak Yai ke arah Munding.
“Nggak Pak,” jawab Munding sambil menggelengkan kepalanya.
“Kamu tahu Man?” tanya Pak Yai ke Om Leman.
“Sedikit-sedikit Bang,” jawab Leman ngibul, nggak enak ati dia mau jujur bahwa dirinya paham sama kata-kata musuh mereka, kan Chaos sudah malang melintang di luar negeri bertahun-tahun, nggak mungkin kan Leman nggak bisa Bahasa Inggris.
Muka Vidyut memerah karena marah.
Sudah capek-capek tampil sok sangar dan menggunakan dialog agar terlihat keren, tapi yang dia dapatkan adalah muka-muka kebingungan yang jelas terlihat kalau mereka sama sekali tak mengerti kata-katanya barusan.
“Kita ada communication gap, kelihatannya mereka tak paham dengan Bahasa Inggris,” gumam Bae pelan.
Geoffrey dan Denise hanya menganggukkan kepalanya.
“Kita kesini bukan mau ‘say hello’ atau kenalan sama mereka. Tak penting mereka paham omongan kita atau tidak,” sungut Vidyut yang masih merasa marah karena usahanya untuk terlihat keren tadi sia-sia saja.
Munding, Pak Yai dan Leman melihat ke arah empat orang yang berdiri di depan meraka. Seorang laki-laki bule dengan badan tinggi besar, seorang wanita bule dengan tubuh yang dibalut pakaian ketat, seorang pria berkulit hitam keling dan seorang kakek tua dengan karakter wajah mirip dengan orang cina.
Leman maju ke depan dan memposisikan badannya berada di depan Pak Yai dan Munding. Dia tahu kalau mereka sedang berhadapan dengan empat orang manifestasi, setidaknya konsep yang Leman miliki bisa memberikan sedikit waktu bagi orang yang ada di belakangnya untuk melarikan diri.
__ADS_1
Geoffrey tersenyum.
Dia sudah mendapatkan detail lengkap tentang musuh-musuhnya dan semua petarung manifestasi yang teridentifikasi di Indonesia. Karena itu, mereka berempat tahu siapa sosok laki-laki berbadan pendek dan gempal di depan mereka ini.
“Sulaiman, kami tahu siapa dirimu, konsepmu ‘hardness’ bukan?” tanya Geoffrey kepada Leman.
Sulaiman memperlihatkan wajah terkejut untuk sesaat lalu raut mukanya berubah netral lagi. Musuhnya tahu siapa dirinya dan konsep apa yang dia miliki, sedangkan dirinya sendiri sama sekali buta dengan identitas musuh-musuhnya ini dan cara bertarung serta konsep mereka.
Ini era informasi, dengan informasi di tangan, strategi bisa dengan mudah dan tepat dirancang. Leman dan pihaknya, telah kalah selangkah dalam hal informasi ini.
“Denise, kau hadapi Leman,” perintah Geoffrey pelan.
“Vidyut, kau hadapi dua orang petarung inisiasi itu!” lanjutnya lagi.
Tapi, pihak Munding juga bukan gedebok pisang yang akan diam saja saat ditendang dan dipukuli. Begitu mereka menyadari bahwa musuh adalah empat orang petarung manifestasi, yang pertama kali mereka putuskan adalah menghubungi Aisah, Hong dan Militer secepat mungkin. Hal kedua yang mereka lakukan adalah mengulur waktu.
Mengulur waktu selama mungkin hingga bantuan datang.
Itulah rencana Munding dan keluarganya. Mereka tak menemukan kemungkinan untuk menang sama sekali saat melawan keempat petarung manifestasi ini.
Tak hanya Munding, Amel juga dengan cepat menghubungi Papanya memberitahukan semua yang dia lihat disini, jelas saja Broto sangat kuatir. Amel hanya memberitahukan ciri-ciri musuh yang sekarang ada disini dan tidak menyebutkan sekali tentang serigala petarung, tapi Broto menebak kalau mereka berempat adalah petarung Manifestasi. Karena petarung inisiasi yang berani melakukan kejahatan lintas negara hanya akan menjadi korban pembantaian saja.
Denise berjalan pelan dengan pantat yang bergoyang-goyang menantang tapi Leman sama sekali tak memperhatikannya.
“Sulaiman, namaku Denise Walker, aku suka pria kuat sepertimu, daripada kita bertarung disini, lebih baik kita pindah arena saja,” kata Denise menggoda sambil tertawa kecil.
__ADS_1
Leman sama sekali tak menanggapi kata-kata Denise, dia sedang berpikir keras bagaimana caranya mengulur waktu. Awalnya dia berharap kalau mereka akan menyerang bersama-sama, dengan begitu, Leman akan memanfaatkan defense-nya untuk mengulur waktu. Leman percaya kalau dia bisa menahan serangan mereka berempat untuk sementara waktu.
Tapi, Geoffrey yang menjadi pimpinan tim ini sangat cerdas, jika mereka berempat menyerang Leman, mereka tak akan bisa merubuhkan Leman dengan cepat. Lagipula, target mereka bukan Leman, untuk apa mereka semua melawan Leman? Cukup gunakan saja satu petarung untuk membuat Leman sibuk dan sisanya akan dihandle oleh petarung yang lain.
Dan itulah yang terjadi sekarang.
Di lain pihak, Vidyut sedikit tak suka dengan instruksi yang dia terima dari Geoffrey. Dari awal dia ingin dirinyalah yang mendapatkan bagian untuk mengeksekusi target. Karena target adalah seorang wanita. Dia ingin memanfaatkan kesempatan untuk menikmati tubuh target terlebih dahulu, toh nanti ujungnya tetap akan dieksekusi juga kan? Apa salahnya dia bersenang-senang dulu.
Tapi justru si Kakek Tua itu yang mendapatkan bagian sebagai eksekutor dan Vidyut harus melawan dua cecunguk inisiasi yang ada di depannya sekarang.
Vidyut mengangkat tangannya dan berpura-pura menguap. Dia tahu kalau dua orang di depannya tak pandai berbahasa Inggris, karena itu dia menggunakan isyarat tubuh untuk menyampaikan maksudnya.
Munding dan Pak Yai jelas tahu maksud isyarat tubuh si Keling ini. Dia merasa pertarungan ini adalah sesuatu yang tak penting dan sama sekali tak serius melakukannya.
Pak Yai tersenyum sinis, dia menggenggam kuat kedua tangannya lalu melompat dengan cepat ke arah si Keling yang masih saja terlihat santai. Vidyut melirik sekilas ke arah Pak Yai yang melompat ke arahnya, kemudian tiba-tiba ketika Pak Yai sudah dekat dengan tubuhnya dan mengayunkan kepalan tangannya, tiba-tiba sebuah tendangan melayang dari kaki kanan Vidyut.
Sebuah tendangan tanpa awalan dan tanpa kuda-kuda di lakukan dari kondisi berdiri dan seolah-olah hanya main-main saja.
Duakkkkkkkk.
Pak Yai menyilangkan kedua tangannya di depan kepala untuk melindunginya dari tendangan Vidyut. Dia melayang ke belakang sejauh satu meter. Asap tipis terlihat di bagian tangan Pak Yai yang tadi terkena tendangan Vidyut.
“Bukan power, bukan speed, apa konsep orang ini?” gumam Pak Yai dalam hati.
Vidyut tersenyum tipis, “kenapa? Kau bertanya-tanya apa konsepku?” kata Vidyut dalam bahasa Inggris yang tentu tidak dimengerti oleh Pak Yai.
__ADS_1