
Broto dan Afza langsung terpana ketika mendengar pertanyaan Munding. Mereka sama sekali belum memberikan informasi tentang anggota Chaos kepada Munding, bagaimana mungkin dia tahu soal tiga orang itu?
"Darimana kamu tahu?" tanya Broto.
"Aku tak tahu apakah mereka nyata atau ilusi. Karena itu, aku bertanya," jawab Munding.
Broto terlihat berpikir untuk sesaat dan menarik napas panjang.
"Samurai itu bernama Hikari Makoto, dia seorang petarung tahap inisiasi yang menggunakan kendo sebagai jalannya. Si karateka bernama Hirokazu Kanazawa, sama seperti Hikari, dia juga tahap inisiasi. Yang terakhir, seorang petarung Muay Thai yang bernama Saenchai. Sama seperti Hikari dan Hiro, dia juga petarung tahap inisiasi," kata Broto, "mereka bertiga adalah anggota inti Chaos dari luar negeri yang datang ke tempat kita."
"Hikari bukan petarung tahap inisiasi. Dia manifestasi," kata Munding pelan.
Semua orang terpana ketika mendengar kata-kata Munding barusan.
"Darimana kamu tahu?" tanya Broto.
"Aku mati ditangannya," jawab Munding dengan suara bergumam.
"Kamu mati ditangannya?" tanya Afza dengan suara bergetar, "apa yang kamu lihat tadi?" lanjutnya.
"Itu tak penting lagi. Aku tahu apa yang harus kulakukan sekarang. Aku akan bergabung dengan kalian," kata Munding tegas dan sedikit nada amarah terlihat disana.
Broto langsung tersenyum cerah saat mendengar kata-kata Munding. Baginya tak penting apa yang Munding alami barusan. Yang terpenting, Munding bersedia bergabung dengan timnya.
Munding sendiri mengambil keputusan itu tanpa keraguan lagi. Dia tak ingin kejadian apa yang dia lihat tadi berubah menjadi kenyataan.
Munding tahu kalau setiap manusia pasti akan menemui ajal bila waktunya telah tiba. Tapi, dia tak ingin Nurul mengalami nasib tragis seperti yang dia lihat tadi.
Bayangan Nurul yang bersimbah darah dan memeluk anak mereka yang menangis keras sangat menghantui Munding. Itu adalah pemandangan terburuk yang pernah Munding alami. Jauh lebih buruk dibandingkan saat dia kehilangan Bapaknya atau menyadari pengkhianatan Ibu dan Kakak Kandungnya sendiri dulu sewaktu kecil.
__ADS_1
Tadi, untuk sesaat Munding sempat berpikir kalau apa yang dia lihat hanyalah bayangan atau ilusi semata. Tapi, ada sebuah tanda tanya besar dalam kepalanya.
Kalaulah semuanya hanya ilusinya sendiri, kenapa ada tiga sosok asing yang muncul disana?
Dua orang Jepang dan satu orang Thailand. Dan mereka bertiga adalah serigala petarung. Bahkan si Samurai, yang menurut Broto bernama Hikari, adalah seorah petarung level manifestasi.
Tak mungkin sosok mereka bertiga hasil khayalan Munding sendiri. Karena itu, dia ingin memastikannya dengan menanyakan tentang mereka kepada Broto. Dan jawaban Broto membuatnya tersadar. Apa yang dilihatnya bukanlah ilusi. Ketiga petarung asing itu nyata.
Munding sempat berpikir untuk tetap disini dan meminta bantuan Pak Yai untuk menjaga keselamatan mereka semua. Tapi si Hikari adalah petarung level manifestasi. Ditambah dengan modus kerja gerombolan Chaos yang selalu menyerang dengan sebuah tim yang terdiri dari beberapa petarung, sanggupkah dia dan Pak Yai melawan mereka.
Atau, haruskah Munding meminta Pak Yai agar kawanan JFS membantu melindungi keluarga mereka?
Tapi, sekalipun Munding yakin Pak Yai bisa melakukan itu, kapan mereka akan datang menyerang?
Munding tak tahu kapan peristiwa yang tadi dilihatnya akan terjadi. Satu-satunya petunjuk adalah sosok bayinya yang menangis di pelukan Nurul. Itu menunjukkan kalau mereka akan menyerang setelah anaknya lahir.
Tapi kapan waktu tepatnya?
Munding tadi tiba-tiba teringat, pertahanan terbaik adalah dengan menyerang. Dibandingkan dengan hanya diam menunggu musibah itu datang mengahampirinya, Munding memutuskan untuk memburu kawanan Chaos.
Dibantu dengan beberapa petarung inisiasi dalam tim gabungan yang terbentuk dari berbagai kesatuan, Munding merasa kalau peluangnya lebih besar untuk menghancurkan musuh mereka.
Sekalipun ada salah satu atau mungkin lebih, anggota Tim Chaos merupakan serigala petarung tahap manisfestasi, tapi itu adalah pilihan terbaik Munding.
Munding tadi juga sadar kalau si Samurai dengan sengaja menutupi kemampuan petarungnya. Sampai detik terakhir ketika Munding berhasil melukai dan membunuh rekannya sendiri, si Samurai dengan sengaja hanya menunjukkan kemampuannya sebagai serigala petarung tahap inisiasi saja, bahkan dia membiarkan Munding melukainya dengan sengaja di awal-awal pertarungan.
Hingga akhirnya, si Samurai menunjukkan taringnya saat hanya dia yang tersisa diantara rekan satu timnya. Munding tahu kalau si Samurai pasti melakukan itu dengan sengaja dan memiliki tujuan jahat sejak awal.
Tujuan jahat dan tipuan yang bagi Munding justru menjadi sebuah titik lemah dari tim Chaos. Tak ada solidaritas sejati antara mereka sendiri. Mereka berkumpul untuk mencari keuntungan sendiri-sendiri. Dan Munding akan memanfaatkan itu untuk menghancurkan mereka.
__ADS_1
"Mas, makan siang dulu. Dah siap tu."
Nurul tiba-tiba keluar dari pintu rumah dan berdiri di sebelah Munding. Munding reflek memeluk istrinya tanpa mempedulikan semua orang. Bayangan Nurul yang bersimbah darah dan meregang nyawa masih jelas di kepalanya. Munding ingin menghapus itu.
Nurul jelas kaget untuk sesaat. Tapi, setelah itu dia balas memeluk suaminya, "napa sih Mas? Nurul nggak akan kemana-mana kok."
"Mas tahu. Mas juga akan memastikan itu," bisik Munding pelan dan berjanji dalam hati untuk mencegah apa yang dia lihat tadi menjadi kenyataan dengan sepenuh hati.
\=\=\=\=\=
"Hati-hati Mas," kata Nurul pelan dan dengan enggan menggenggam erat tangan suaminya.
Munding menganggukkan kepalanya. Hari ini, dua minggu setelah kunjungan Broto, Munding memutuskan untuk bergabung dengan tim Merah Putih dan akan meninggalkan keluarganya untuk waktu yang belum pasti.
Pak Yai dan Bu Nyai berdiri di sebelah mereka. Asma juga ada disini dan berdiri di belakang Nurul sambil melihat sedih ke arah Munding.
"Le, ingat! Dimana ada keinginan disitu pasti ada jalan. Gusti Allah tidak akan memberikan cobaan melebihi kemampuan hambaNya. Tenangkan pikiranmu! Fokus! Bapak yang akan menjaga keluargamu disini," kata Pak Yai.
Munding menganggukkan kepalanya ke arah Pak Yai tanda mengerti maksud ucapan Bapak Mertuanya.
Munding lalu mencium kening istrinya pelan, "sabar ya? Mas pasti akan berusaha pulang secepatnya. Nurul harus janji untuk menjaga calon anak kita," bisiknya pelan.
"Nurul janji Mas. Nurul sayang Mas Munding," balas istrinya pelan sambil mulai menangis terisak-isak.
Munding mengusap air mata istrinya dan tersenyum. Dia lalu menyalami dan mencium tangan Pak Yai dan Bu Nyai. Munding lalu melihat ke arah Asma dan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
Munding lalu mengangkat tasnya dan berjalan ke arah Afza yang menunggu dia di sebelah mobil dinas berplat hijau. Seorang prajurit berseragam lengkap berdiri di sebelahnya dan dengan sigap menerima tas Munding dan memasukkannya ke bagasi belakang.
Afza lalu duduk di kursi sebelah sopir dan Munding duduk di kursi belakang. Munding membuka kaca jendela mobil dan melambaikan tangannya ke arah keluarganya ketika mobil itu melaju meninggalkan halaman rumah Munding.
__ADS_1
Nurul langsung lari ke pelukan Ibunya setelah bayangan mobil yang ditumpangi Munding menghilang di kejauhan.
Episode baru dalam kehidupan mereka kini dimulai.