
Beberapa hari berikutnya Pak Yai sudah diijinkan pulang dari rumah sakit. Kehidupan Munding dan Nurul pun kembali seperti semula. Nurul juga terlihat uring-uringan.
Sejak mereka melakukannya untuk yang pertama kali, mereka tidak pernah punya kesempatan untuk mengulanginya lagi.
Bu Nyai dengan ketat memperhatikan Nurul dan tidak memberikan Nurul kesempatan untuk berduaan saja dengan Munding. Dan itulah yang membuat Nurul uring-uringan.
Sama seperti biasanya, Munding menunggu Nurul pulang di depan gerbang sekolah Nurul. Tak lama kemudian gadis manis berjilbab itu dengan cepat berlari meninggalkan kawan-kawannya dan menuju kearah Munding.
“Mas ...” panggil Nurul mesra.
“Yuk,” kata Munding sambil memberikan helm yang diterima oleh Nurul dengan senyuman manis.
“Eh, bentar lagi kan Nurul mau lulus SMP, Nurul mau nerusin kemana?” tanya Munding sambil menyalakan motor.
“Kok pake nanya sih Mas? Ya jelas nyusul Mas Munding to,” jawab Nurul, “Mas nggak mau satu sekolahan sama Nurul ya? Takut ketahuan kalau punya cewek?”
“Ya Allah dek. Kapan sih Mas punya waktu nyari cewek, Nurul kan tahu banget jadwal Mas kaya mana. Mungkin kalau bisa, Bapak maunya Mas nggak usah sekolah aja, latihan terus,” sungut Munding yang disambut tertawa kecil oleh Nurul.
Memang benar kata Munding, entah kenapa, setelah Pak Yai pulang dari RSUD, menu latihan Munding hampir 2x lipat dari sebelumnya. Yang sebelumnya menggerus lengan dan kaki dengan bambu sebanyak 100x sekarang dijadiin 150x apalagi kata Pak Yai, nanti kalau sakitnya dah berkurang, bakalan dinaikkin lagi.
Belum lagi latihan fisiknya, jumlah push up, sit up dan lain lain dinaikkin juga sama Pak Yai. Yang biasanya ngisi air cuma di Mushola sama rumah Nurul doang, sekarang punya tetangganya juga harus diisiin.
Padahal sudah sejak dua tahun lalu rumah Pak Yai dan tetangga-tetangganya dipasangi aliran PDAM. Lha buat apa juga masih nyuruh Munding nimba air buat ngisiin baknya?
Munding kemudian menyalakan motornya dan bersiap-siap untuk pulang. Nurul masih duduk biasa diatas boncengan jok motor. Nanti kalau sudah agak jauh dari sekolahan, barulah Nurul nemplok kayak perangko ke punggung Munding.
Malu sama temen-temen, kata Nurul waktu ditanya Munding.
Tiba-tiba Munding melihat sesosok gadis cantik berdiri di sebelah mobil merah di pinggir jalan. Gadis itu berkulit putih dan berambut lurus. Kalau dilihat secara sekilas mirip dengan gadis-gadis berdarah chinese, tapi matanya tidak sesipit itu.
Gadis itu juga terlihat jauh lebih dewasa dibandingkan Munding maupun Nurul, meskipun dia masih memakai seragam abu-abu tetapi area kewanitaannya benar-benar sudah tumbuh sempurna. Payudara yang sekal dan menantang, pinggang yang ramping dan pantat yang enak dipandang.
Dan entah kenapa, Munding merasa agak familiar dengan wajah itu.
Ketika Munding melihat ke arahnya, si gadis cantik itu tersenyum dan melambaikan tangan ke arah Munding. Munding kaget, sejak kapan aku punya kenalan cewek cantik dan kaya seperti itu? batin Munding dalam hati.
Nurul yang penasaran kenapa motor mereka tidak bergerak meskipun mesin sudah dinyalakan dari tadi, melihat ke arah Munding. Nurul mengikuti arah pandangan mata Munding dan melihat seorang gadis cantik sedang melambai ke arah Munding.
__ADS_1
Tiba-tiba dada Nurul terasa sesak dan ada sesuatu yang terasa mengiris iris di sana.
“Mas!!” teriak Nurul, air mata terlihat hampir jatuh dari matanya.
Munding kaget mendengar teriakan Nurul dari belakangnya. Kemudian dia menoleh dan melihat kekasihnya hampir menangis sambil melihat kearahnya.
“Apaah sih dek?” tanya Munding.
“Mas ni ya, ada Nurul di belakang Mas, tapi masih bisa-bisanya kaya gitu ..” bisik Nurul pelan, sambil mulai terisak-isak.
“Mas nggak gitu Dek, Mas tadi merhatiin karena Mas heran, kok wajahnya kayak Mas kenal. Nggak ada maksud lain,” kata Munding sambil melirik ke belakang ke arah Nurul.
“Tapi cewek itu melambai ke arah Mas,” protes Nurul.
“Mas nggak tahu maksud dia apa,” jawab Munding, “udah ah, pulang, cewek nggak jelas gitu diurusin, malah pacar cantik Mas jadi tambah ngambek lagi nanti,” lanjut Munding sambil tersenyum menggoda Nurul.
Nurul pun akhirnya tersenyum juga setelah mengusap sedikit air mata dengan punggung tangannya.
Munding menjalankan motornya, pulang ke arah rumah mereka, Nurul pun tersenyum sambil memegang pinggang Munding. Tapi, ketika motor mereka berdua melewati mobil merah dan si cewek cantik itu, dia tiba-tiba berteriak memanggil nama Munding.
Munding pura-pura nggak mendengar dan melaju, tapi Nurul yang di belakangnya mendengar dengan jelas cewek cantik itu memanggil nama kakak angkatnya.
Kalau nggak kenal, kok cewek itu bisa tahu nama Mas sih?
“Berhenti Mas!!” kata Nurul.
Munding pun berhenti di pinggiran jalan.
“Tadi katanya nggak kenal? Kok cewek itu tahu nama Mas?” tanya Nurul penuh curiga.
Munding cuma mengangkat bahunya dengan wajah bingung. Nurul terlihat geram.
Apaan sih? Barusan juga mereka jadian, naik level dari kakak-adik angkat menjadi sepasang kekasih, udah ada aja cewek laen mau gangguin pacar dia, batin Nurul dalam hati.
“Balik lagi Mas, Nurul mau tahu maksudnya tu cewek apa? Pake manggil-manggil nama cowok Nurul di pinggir jalan,” kata Nurul.
“Udah lah Dek,” kata Munding memegangi tangan Nurul.
__ADS_1
Tak disangka justru cewek tadi yang berlari ke arah Nurul dan Munding. Sesampainya di dekat Munding, dia terlihat terengah-engah kehabisan napas dan itu membuat payudaranya bergoncang-goncang dengan gerakan yang mengundang.
Nurul tiba-tiba menutupkan telapak tangannya ke mata Munding.
“Kamu ngapain panggil-panggil Mas Munding?” kata Nurul galak tanpa basa-basi.
“Emmmmm, maaf kamu siapa ya?” tanya cewek itu ragu-ragu, “Munding, Mbak kangen kamu lho Dek, udah 4 tahun kita nggak ketemu,” kata cewek itu setelah mengalihkan pandangannya ke arah Munding.
Dan tiba-tiba saja sebuah lampu seperti dinyalakan di dalam otak Munding. Pantas saja, tadi dia merasa agak kenal dengan cewek itu, ternyata dia kakak kandungnya. Sri Rahayu.
Munding menurunkan tangan Nurul yang menutupi matanya dan memegangnya, “Kirain siapa tadi Mbak, habis Mbak Sri sekarang berubah banget, Munding sampe nggak kenal gitu.”
“Ayu, Munding panggil aja gitu, nggak usah pake Mbak juga. Nggak enak dengernya,” kata Ayu sambil tersenyum manis ke arah Munding.
“Oiya Mbak, ini pacar Munding, namanya Nurul,” kata Munding yang kemudian melihat kearah Nurul, “Dek, ini kakak kandungku, Sri Rahayu.”
Nurul merasa malu, kirain tadi penggemarnya Munding, ternyata kakak kandungnya, kalau gitu calon kakak ipar Nurul dong, batin Nurul dan mukanya mulai memerah.
Nurul mengulurkan tangannya ke arah Ayu yang tertegun setelah mendengar Munding dengan santainya mengenalkan gadis berjilbab di sebelahnya sebagai pacarnya.
Ayu sama sekali tidak mengulurkan tangan untuk menyambut tangan Nurul, dia hanya melipatnya di dada.
Nurul dengan muka memerah karena salaman tangannya tidak mendapat sambutan dari cewek yang dianggapnya calon kakak ipar, menarik tangannya kembali.
Munding melihat kelakuan kakaknya merasa agak marah dan kaget juga, kok kaya gini sekarang kakakku? Dulu perasaan dia baik dan lembut.
“Dek, Ayu mau ngomong nih sama Munding sebentar, Munding ada waktu kan?” tanya Ayu ke arah Munding.
“Maaf, kami sibuk, sudah ditunggu di rumah,” jawab Munding pendek, “ayok Dek,” lanjut Munding mengajak Nurul naik ke motornya.
Nurul yang mungkin masih setengah kaget dan marah karena uluran tangannya tidak disambut oleh calon kakak iparnya, mengikuti ajakan Munding tanpa pikir panjang.
Ayu berdiri di depan motor Munding, “kamu ni apa-apaan sih Dek? Ayu tu udah nunggu dari tadi, bela-belain kesini buat ketemu kamu, kamu kok nggak bisa sih ngasih waktu sebentar ke Ayu.”
“Munding nggak pernah minta Mbak untuk kesini dan Munding nggak suka cara Mbak perlakuin Nurul,” jawab Munding pendek.
Munding kemudian menghindari Ayu yang berdiri di depan motornya dan melaju bersama Nurul di belakangnya. Nurul tersenyum bahagia ketika tadi mendengar kata-kata terakhir Munding ke kakak kandungnya.
__ADS_1