Munding - Legenda Serigala Petarung

Munding - Legenda Serigala Petarung
Chapter 196 - Titis


__ADS_3

Leman mengenal Aisah pertama kali saat dia menyerah dan menjadi ‘tawanan’ rezimen Zulfiqar yang dipimpin oleh Ahmad Hambali waktu itu. Dia kaget saat melihat ada sesosok wanita yang dibiarkan ikut dalam sebuah rezimen serigala petarung seperti ini.


Dari situlah akhirnya mereka bertiga menjadi akrab sedikit demi sedikit kemudian akhirnya menjadi kakak dan adik angkat. Ahmad Hambali menjadi kakak yang tertua, Sulaiman menjadi kakak yang kedua dan Aisah menjadi adik bungsu dari mereka bertiga.


Karena kedekatan mereka, Aisah juga akhirnya menceritakan tentang asal usul dirinya kepada Leman, dan bahkan juga tentang perasaan dia yang sesungguhnya untuk Ahmad. Tapi kala itu, Izrail sudah mempunyai seorang istri sebelum berangkat ke Sulawesi. Aisah tak ingin mengganggu kebahagiaan Ahmad dan keluarganya, jadi dia memilih tetap memendam rasa yang dia miliki sejak kecil dulu dan hanya memberitahukan kepada orang yang sudah dianggapnya sebagai kakak sendiri, Leman.


Ketika semua drama yang dialami Izrail terjadi saat dia pulang ke Jawa Timur, Aisah mengetahui semuanya di saat sudah terlambat karena dia masih aktif memimpin rezimen Zulfiqar yang dulu sepeninggal Izrail. Setelah Aisah marah dan mencari Sayid untuk mengutarakan semua isi hatinya, hanya satu tempat yang bisa dia tuju saat itu. Ke tempat kakak keduanya, Leman.


Ahmad, Leman, dan Aisah, mereka bertiga semua adalah yatim piatu. Takdir yang mempertemukan mereka dan hanya mereka bertiga sendiri yang tahu seperti apa kuatnya ikatan yang mereka miliki.


Mereka bertiga bahkan pernah bertengkar saat mereka sedang bercanda dan berandai-andai. Seandainya mereka bertiga sedang dikepung oleh ratusan musuh, siapakah yang harus maju pertama kali untuk menjemput ajal?


Masing-masing berkeras bahwa merekalah yang harus maju pertama kali dan melawan musuh, memberikan sedikit waktu untuk kedua saudaranya. Tapi urutan itu tak pernah dapat ditentukan. Karena mereka bertiga masing-masing sadar, siapapun yang berada di urutan kedua dan ketiga pasti akan merasakan kesedihan luar biasa saat harus menyaksikan kematian saudaranya. Jadi mereka bertiga selalu memilih untuk menjadi yang pertama maju.


Tokkk tokkkk tokkkkkk


Ketukan pintu sebanyak tiga kali membangunkan Leman dari lamunannya saat mengenang masa lalu yang indah bersama abang dan adeknya. Leman menarik napas panjang dan memutar kursinya ke arah pintu ruangan kantornya.


“Ya? Masuk!!” kata Leman.


“Maaf Pak Sulaiman, barusan ada telepon masuk. Pelanggan ingin membeli mobil Isuzu Panther warna hitam yang Bapak pakai,” kata karyawan wanita yang terlihat cantik dan berdandan modis itu.

__ADS_1


Leman bisa melihat sedikit kerlingan genit dan tatapan mengundang dari karyawannya, tapi dia sama sekali tak tertarik. Dia juga tak mempedulikannya.


“Oooohhhhh,” jawab Leman dengan muka sedikit kaget, “makasih Ning, tolong sambungkan panggilan itu ke mejaku ya?” lanjutnya sambil tersenyum ke arah si Ningsih, karyawan yang masih berdiri di pintu ruangan kantornya.


Ningsih menganggukkan kepalanya dan tersenyum manis, sedikit tatapan kecewa terlihat disana. Entah sudah berapa kali dia berusaha untuk menggoda bossnya itu. Boss yang sedikit aneh dan tidak lazim bagi Ningsih dan karyawan lainnya di perusahaan ini.


Si Pak Boss tak pernah terlihat sekali pun membawa anggota keluarganya ke sini. Dia juga terlihat tak memiliki pasangan. Dia tak suka kalau diajak menghabiskan waktu berpesta di kafe atau diskotik oleh sales-salesnya. Dia juga terlihat rajin menjalankan ibadah shalat lima waktu dengan tepat waktu.


Sesuatu yang sangat kontras dengan tattoo yang ada di badannya.


Belum ada satu karyawan pun yang pernah melihat Boss mereka telanjang, tapi mereka berani bertaruh kalau seluruh tubuh si Boss yang berkulit putih bersih itu ditutupi oleh tattoo tribal yang bentuknya abstrak. Mereka tak pernah melihat tattoo seperti yang ada di tubuh Boss mereka, yang tidak sengaja terlihat sekilas saat Pak Boss menggulung lengan baju atau celananya saat berwudhu.


“Ya?” nada suara Leman berubah ketika mengangkat telpon itu.


“Humph!!” dengus Leman sebagai jawaban, dia bisa menebak siapa yang meneleponnya.


Petarung tahap manifestasi yang ada di bumi nusantara ini bisa dihitung dengan jari. Yang dengan sengaja diperlihatkan, di pihak pemerintah, setidaknya ada lima orang yang Leman tahu. Satu orang dari kepolisian, dua orang dari militer, satu orang lagi selalu berada di dekat Presiden dan yang terakhir adalah satu-satunya petarung manifestasi dari kelompok beladiri yang memilih untuk berafiliasi dengan pemerintah. Dia juga ditunjuk untuk menjadi pelatih beladiri berbagai kesatuan.


Sedangkan dari pihak militan, ada empat orang petarung manifestasi dari kelompok agama yang berbeda. Sedangkan Leman dan Aisah sendiri, mereka termasuk ke dalam kategori petarung manifestasi tak berafiliasi karena mereka mendirikan organisasi Chaos yang sebelumnya beroperasi di berbagai belahan dunia, bukan di Indonesia.


Itu adalah para petarung yang dengan sengaja diperlihatkan oleh masing-masing pihak. Jumlah yang sesungguhnya? Tak ada yang tahu.

__ADS_1


Karena itu, Leman dapat dengan mudah menebak siapa yang meneleponnya. Satu-satunya serigala petarung manifestasi dari kepolisian. Seorang perwira tanpa pangkat yang jelas tapi memiliki kewenangan luar biasa dan hanya menggunakan satu kata sebagai nama pengenalnya.


Titis.


“Kenapa? Kamu tak suka?” tanya Titis kepada Leman dengan nada yang masih sama.


“Titis, itu hanya permainan anak-anak, semua tahu itu! Bahkan militer pun cuma diam dan memperhatikan, kenapa kelihatannya kalian yang paling merasa terganggu?” jawab Leman.


“Kalian merusak jaringan kami!!!” bentak Titis dari seberang sana.


“Jelas saja militer diam saja! Yang kalian rusak selama ini adalah jaringan kami!” lanjut Titis dengan suara yang makin meninggi.


Leman hanya tertawa saja mendengar suara Titis yang makin melengking tinggi dan terdengar sangat marah itu, “Terus? Kenapa?” kata Leman di sela-sela tawanya.


“Kami bosan seperti ini. Katakan apa maumu?” tanya Titis, meskipun kata-katanya lebih mirip suatu kepasrahan, tapi nada angkuh itu tetap ada disana.


“Aku tidak mau apa-apa. Aku hanya ingin meluruskan apa yang selama ini tidak bisa kalian luruskan,” jawab Leman tegas sambil mematikan teleponnya.


Leman tak tahu kalau di seberang sana, seorang pria yang tidak mengenakan seragam kepolisian terlihat marah besar dan membanting telepon yang ada di tangannya.


Di sekeliling pria itu terdapat banyak polisi berseragam dan dilihat dari pangkatnya, mereka semua adalah perwira. Tapi tidak ada satupun yang berani bersuara saat si Pria yang dipanggil Leman dengan sebutan Titis sedang melampiaskan amarahnya kepada telepon yang sekarang dinjak-injaknya.

__ADS_1


“Leman keparat!! Aku tahu darimana engkau lahir dan berasal!! Aku dulu ikut menjagamu saat kau masih anak elang yang belum bisa terbang. Sekarang?? Berani kau bertingkah seperti ini kepadaku??”


Teriakan menggelegar terdengar dalam ruangan itu yang disambut hening oleh semua orang yang ada disana.


__ADS_2