
“Ughhhhhhh,” Nurul memegangi perutnya yang terasa sakit sekali.
Bu Nyai dengan sabar mengelus-elus kepala anaknya dan menenangkan dia. Ini memang sudah mendekati waktunya bagi masa-masa yang diprediksi oleh dokter untuk kelahiran bayi Nurul. Cynthia dan Amel menemani mereka berdua, sedangkan Pak Yai sedang bernostalgia bersama adik-adik angkatnya.
“Bu Cynthia, seperti yang kami pernah sampaikan kepada pasien. Kondisi fisiknya tidak memungkinkan untuk melahirkan secara normal, jadi harus dilakukan operasi bedah untuk proses kelahirannya. Jadi kami harus mempersiapkan dulu fasilitasnya,” jawab seorang Dokter senior saat ditanya oleh Cynthia kenapa Nurul tak segera ditangani.
“Sabar ya Dek,” bisik Amel sambil menenangkan Nurul yang terbaring di atas ranjangnya.
Tak sampai sepuluh menit kemudian, sang Dokter memberi tahu kalau fasilitas operasi sudah siap. Nurul sebenarnya dijadwalkan untuk operasi dua hari lagi, tapi entah kenapa dia merasakan gejala bukaan lebih dini. Karena itu, pihak rumah sakit sedikit sibuk untuk mempersiapkan fasilitas operasi secara dadakan.
“Mbak Amel tungguin Mas Munding aja disini. Biar Ibu sama Mbak Cynthia yang nemenin Nurul,” kata Nurul dengan muka menahan sakit nyeri di bagian perutnya.
“Tapi...”
“Nggak pa-pa Mbak, sebentar lagi Mbak Amel bakalan punya keponakan,” jawab Nurul sambil memaksakan diri untuk tersenyum.
Amel terdiam di tempatnya sambil melihat Nurul di bawa ke ruang operasi ditemani oleh Cynthia dan Bu Nyai.
“Munding, bangun!! Anakmu segera lahir! Kamu tak ingin mengucapkan adzan di telinganya?” bisik Amel lirih di telinga Munding.
Dan sama seperti ratusan atau bahkan ribuan kali usaha yang sama sebelumnya, tak ada reaksi sedikitpun dari Munding. Amel menitikkan air mata tanpa dia sadari. Baru kini Amel sadar kalau cinta itu bisa begitu menuntut dan membelenggu.
Di ruang operasi.
Sekumpulan tim medis dengan sibuk menyiapkan alat-alatnya. Cynthia melihat dari luar ruangan operasi yang dibatasi oleh kaca, sedangkan Bu Nyai berada dalam ruangan operasi sambil mengenakan baju steril karena dia tak ingin anaknya sendirian saat ini.
Sebenarnya tim dokter menolaknya, tapi Cynthia meminta mereka membuat pengecualian.
Setelah semua orang selesai dengan persiapannya. Sang dokter bedah yang menjadi pemimpin operasi kali ini melihat kearah Cynthia dan meminta ijin untuk memulai operasi. Cynthia menganggukkan kepalanya dan sang Dokter lalu mendekat ke arah Nurul.
__ADS_1
“Maaf Bu, agar lebih nyaman bagi Ibu, kami akan melakukan bius total. Ketika Ibu nanti terbangun proses operasi sudah selesai,” kata si Dokter ke Nurul.
Bu Nyai melihat dengan tatapan cemas ke arah anak perempuannya.
Nurul tersenyum ke arah Ibunya untuk menenangkan dia lalu dia menganggukkan kepalanya ke arah Dokter yang barusan berbicara dengannya. Sang dokter lalu memberikan isyarat kepada salah satu perawat yang kemudian datang dengan membawa sebuah suntikan ke samping meja operasi.
Satu-satunya yang dilihat Nurul setelah dia merasakan sebuah suntikan di bagian lengannya adalah tatapan kuatir dari Ibunya yang mengenakan masker dan berdiri tak jauh dari dirinya.
\=\=\=\=\=
Nurul membuka matanya dan merasakan sesuatu yang aneh dengan tubuhnya. Dia merasa ringan sekali. Sekelilingnya terasa gelap, padahal seingatnya tadi, dia masih berada di ruang operasi dan mempersiapkan kelahiran anaknya.
Dan tiba-tiba Nurul melihatnya.
Sekumpulan dokter yang dengan panik sedang memberikan shock jantung ke tubuh seorang wanita yang terbaring di sebuah meja operasi. Dan tubuh itu adalah tubuh Nurul sendiri.
Nurul juga melihat Ibu menangis meraung-raung dan dipegangi oleh Bapak. Sedangkan Mbak Amel terduduk lemas di lantai dengan air mata yang berlinang di pipinya. Dia terlihat shock dan tak percaya dengan kenyataan yang ada di depannya.
Nurul menangis.
Menangis terisak tanpa suara.
Nurul sadar apa yang baru saja terjadi.
Entah apa alasannya dan bagaimana caranya, tapi dirinya meninggal saat sedang dioperasi tadi.
Nurul sedih, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Nurul lalu mendekati orang-orang yang dikasihinya satu persatu lalu mencium mereka. Sekalipun dia tak bisa menyentuh mereka, tapi dia ingin mengucapkan pamitnya. Karena Nurul tahu kalau inilah perpisahan yang sesungguhnya.
Nurul masih tetap menangis ketika dia berjalan keluar dari ruangan operasi, banyak sekali orang-orang yang dikenalnya disana. Hari yang seharusnya menjadi hari bahagia karena kelahiran anaknya, kini berubah penuh dengan tangisan karena kematian dirinya.
__ADS_1
Saat itulah Nurul melihatnya, sesosok bayi yang berada di tengah ruangan kaca sendirian. Bayi yang bersinar dan masih memejamkan matanya. Dia terlihat sedang tertidur lelap dan tanpa dosa.
Tanpa Nurul sadari, dia sudah berada di samping bayi mungil itu. Buah hatinya dan Munding. Nurul memegang pipinya dan tersenyum bahagia. Dia rela melakukan apa saja asalkan bisa merasakan sehari lebih lama bersama bayi mungil miliknya itu.
Nurul berlinang air mata saat mencium bayi mungilnya itu tapi Nurul tahu dia harus pergi.
Nurul lalu melangkah menuju ke tempat terakhir yang ditujunya. Tempat dimana suaminya selama ini berbaring tak sadarkan diri. Nurul ingin mengucapkan pamitnya kepada sang terkasih.
Ketika Nurul sampai di dekat suaminya yang masih terbaring lemah. Tiba-tiba tubuh suaminya bergetar hebat. Seolah-olah seperti seseorang yang sedang bermimpi buruk dan ingin segera terbangun tapi tak bisa.
Nurul tersenyum sedih, dia mengelus kepala suaminya dan mencium keningnya, di saat Nurul ingin mengucapkan perpisahan terakhirnya, tiba-tiba sekelilingnya berubah.
Nurul berada dalam sebuah tempat yang sangat gelap.
Nurul tak bisa merasakan apa-apa dan tak bisa melihat apa-apa. Tapi dia punya firasat yang kuat kalau suaminya terjebak disini.
Nurul melayang ke arah kemana nalurinya membawa.
Nurul tak tahu berapa lama dia berada di tempat ini karena waktu tak terasa sama sekali. Tapi dia tahu kalau dia telah melayang jauh, jauh sekali. Bahkan dia tak ingat seberapa jauh dan dari mana dia tadi berasal.
Tapi Nurul tak peduli.
Dia hanya ingin bertemu dengan kekasihnya. Dimanapun dia berada.
Nurul tak peduli seandainya nanti dia tak dapat kembali. Dia memilih tersesat berdua di dunia gelap ini asalkan bersama Munding.
Dan akhirnya, setelah perjalanan yang sangat panjang dan entah berapa lama, Nurul melihatnya. Sosok hitam yang tak berbentuk dan terlihat seperti awan hitam bergumpal dan berukuran luar biasa besar.
Tapi Nurul tahu dengan sepenuh hati kalau itu adalah suaminya.
__ADS_1
Tanpa rasa takut, Nurul mendekat ke arah gumpalan kegelapan yang sangat pekat dan terlihat berdenyut seperti sebuah jantung itu.
“Mas Munding...” panggilnya pelan.