Munding - Legenda Serigala Petarung

Munding - Legenda Serigala Petarung
Chapter 113 - Penculikan Amel part 2


__ADS_3

“Sudah dimulai,” kata Broto pendek setelah menerima pesan chat disertai photo dari putri semata wayangnya.


Di dalam ruangan yang sedikit ramai dan penuh dengan komputer dengan beberapa prajurit yang sedang sibuk di depannya itu, Broto, Umar, Ambar, Laras dan Munding berdiri menyaksikan semua orang itu bekerja dengan cepat.


Di sebuah layar monitor yang paling besar dan terpasang di dinding depan mereka semua, sebuah peta tampak di layar dengan sebuah titik berwarna merah dan sebuah titik berwarna hijau bergerak pelan.


“Masukkan juga koordinat dari dua sepeda motor yang tadi menyerang Amel,” perintah Ambar kepada anak buahnya.


Tak lama kemudian, ada dua buah titik tambahan yang bergerak dengan arah berlawanan dan terlihat lebih cepat dari kedua titik merah dan hijau tadi. Broto terlihat terdiam sebentar dan berpikir keras.


Dia sudah mendapatkan informasi dari A Xiong tentang detil rencana penculikan anaknya. Sampai saat ini, semuanya sesuai seperti informasi yang didapatkan A Xiong dari anak asuhnya yang menyusup ke Tim Kelelawar.


Menurut A Xiong, mobil Amel akan diserang oleh dua buah sepeda motor dengan pengendara yang menggunakan attribut mafia milik A Xiong, yaitu jaket hitam bergambar naga di punggungnya. Tujuannya tentu saja agar seolah-olah A Xiong lah yang merencanakan penculikan ini.


Setelah itu, mobil Amel akan dibawa ke titik pertemuan yang sudah ditentukan dengan mobil pengangkut Amel yang sudah disediakan dan berisi hampir semua personil Tim Kelelawar. Amel akan dipindahkan ke mobil itu dan akan dibawa ketempat persembunyian mereka.


Mobil Amel yang asli akan terus bergerak ke jalur biasanya dan menuju ke rumah Broto, tanpa Amel tentunya. Broto dengan sengaja menaruh pelacak mikro di HP Amel untuk memastikan posisi Amel, selain itu, dia juga menaruh pelacak yang sama di mobil miliknya.


Meskipun di HP Amel ataupun mobilnya sudah terdapat fasilitas GPS yang memungkinkan alat tracker bekerja, Broto dan timnya tidak mau gegabah mengandalkan alat yang dengan mudah bisa dirusak itu.


Karena itulah, mereka yakin kalau posisi titik merah yang menunjukkan posisi Amel adalah sesuai fakta atau setidaknya sesuai dengan posisi dimana HP Amel sekarang berada. Sedangkan titik hijau menunjukkan posisi mobil Amel yang dikendarai oleh pak Sopir.


Kecuali fakta baru bahwa si Sopir Amel termasuk dalam komplotan mereka, sampai detik ini, semua informasi yang diperoleh oleh Broto dari A Xiong sudah terbukti, meskipun Broto merasa ada sesuatu yang salah, tapi logikanya memutuskan untuk mengambil tindakan sesuai yang mereka rencanakan sebelumnya.

__ADS_1


Umar dan Munding hanya terdiam, mereka berdua adalah serigala petarung terinisiasi yang tentunya mempunyai naluri lebih tajam dibanding Broto ataupun Laras. Jika Broto saja merasa ada sesuatu yang salah, apatah lagi mereka berdua?


Di saat Umar dan Munding sedang berpikir keras dan mencoba untuk mengerti apa yang salah dari semua rentetan kejadian barusan, suara Broto terdengar dalam ruangan yang dipenuhi oleh suara keyboard terpencet oleh jemari itu.


“Kita tetap lanjutkan sesuai counter plan yang kita buat. Aku, Umar, Munding dan Laras, kita akan bergerak mengejar titik merah yang membawa Amel dan Ambar akan mengerahkan dua unit pasukan gerak cepat untuk mengejar kedua motor itu.”


“Mereka punya 1 orang terinisiasi dan 4 orang awakening, ditambah dengan 8 orang petarung di atas rata-rata, aku merasa kalau dengan kita berempat, kemungkinan menang akan jauh lebih besar, tentunya aku juga akan mengerahkan pasukanku untuk membantu.”


“Semoga sesuai dengan harapan kita dengan memberikan peluang ini kepada Tim Kelelawar, kita juga bisa menangkap Yusuf si Dalang di tempat mereka nanti akan menyekap Amel. Dengan begitu tujuan awal kita semua tercapai,” kata Broto.


Memang Broto memutuskan untuk memberi kesempatan kepada Tim Kelelawar untuk melaksanakan aksinya lebih cepat dengan tujuan bisa memberi mereka alasan untuk menangkap Yusuf sang Dalang.


Umar menganggukkan kepalanya tanda setuju, apapun ceritanya, bagi dia, Broto adalah yang harus dilindunginya. Ambar juga memberikan tanda hormat dengan tangannya sebagai tanda siap melaksanakan instruksi Broto.


“Pak Broto, aku ingin mengikuti si Sopir itu. Aku merasa ada yang janggal dengan dia. Dia seharusnya tahu kalau penyamarannya sudah terbongkar, seharusnya dia tidak perlu kembali ke rumah dan langsung melarikan diri, tapi kenapa justru dia tetap menuju ke rumah?” kata Munding.


Pak Broto terdiam sebentar, alasan yang diberikan Munding cukup tepat, tapi itu artinya tim mereka yang akan menghadapi tim Kelelawar akan melemah drastis. Karena nanti berarti hanya ada Umar, Laras dan dirinya melawan mereka.


Umar mengerti penyebab keragu-raguan Broto, “tak usah ragu, aku yakin kalau aku masih bisa menahan pergerakan musuh yang disebut sang Guru itu, sisanya hanya ada empat orang ‘awakening’ yang masih baru berusia beberapa bulan? Kau tidak sanggup melawan mereka?” tanya Umar kearah Broto.


Broto tersenyum lebar, apapun dirinya dan jabatannya, dia masih tetap seorang petarung, kata-kata Umar barusan mengingatkan lagi betapa dia sudah terlalu lama untuk kembali merasakan sensasi pertarungan hidup mati seperti dulu.


“Humph, siapa yang tidak sanggup?” jawab Broto sambil tersenyum.

__ADS_1


Umar pun tertawa mendengar jawaban Broto, “kalau begitu tunggu apalagi, kita harus segera menyelamatkan putrimu,” kata Umar sambil membalikkan badannya meninggalkan ruangan diikuti oleh Laras dan Broto.


Munding masih berdiri di dalam ruangan dan tatapan matanya tidak berhenti menatap ke arah titik hijau di layar monitor besar itu.


Seolah-olah titik hijau itu menatapnya balik dan berteriak, “Munding, selamatkan aku!”


Dan Munding pun langsung terperanjat kaget, suara teriakan tadi terdengar pelan namun jelas ditelinganya, nalurinya juga berbisik hal yang sama, saat itu, Munding yakin kalau Amel masih berada dalam mobilnya sendiri.


Dengan cepat Munding mendekati Ambar yang tadi sudah bergerak ke arah telpon untuk menginstruksikan anak buahnya supaya mengejar dua buah sepeda motor itu, sesuai dengan tugas yang diberikan oleh Broto.


“Bu Ambar,” panggil Munding ke arah Ambar.


Ambar menutup mic di teleponnya dan melihat kearah Munding dengan pandangan penuh tanya.


“Aku minta alat komunikasi dengan anggota tim yang lain dan juga alat untuk melihat posisi titik hijau itu secara real time,” kata Munding.


Ambar menganggukkan kepalanya dan memanggil seorang prajurit yang segera bergerak dengan cepat menyiapkan alat yang diminta oleh Munding. Munding kemudian juga meminta prajurit itu untuk menyiapkan sebuah motor bebek matic untuknya.


Si Prajurit terlihat sedikit terkejut dengan permintaan terakhir Munding. Mereka punya motor gede ataupun motor off road/trial untuk keperluan seperti ini, tapi bebek matic? Belum pernah ada orang yang meminta bebek matic untuk melakukan misi pengejaran.


Setelah berusaha susah payah, si prajurit tadi akhirnya mendapatkan sepeda motor yang diinginkan Munding dari seorang staff wanita yang ada dalam ruangan itu. Motor Honda Scoopy warna pink-putih dengan helm unik ala anak-anak Vespa.


Si Mbak yang mengantar Munding ke parkiran motor dan meminjamkan motornya juga tersenyum-senyum aneh saat Munding memakai helmnya dan mencoba mengendarai motor matic miliknya.

__ADS_1


Munding menganggukkan kepalanya dan langsung menghilang di jalan raya. Mengejar Amel yang dibawa kabur oleh calon suaminya, eh salah, penculiknya.


__ADS_2