
Munding melirik ke arah Kusnandar yang masih dengan santai menikmati minumannya.
Apa yang dikatakan Husein memang benar. Dia mungkin bisa mengalahkan Kusnandar dan kelima anak buahnya yang ada disini. Tapi, setelah itu?
Satu-satunya harapan tentu saja janji Amel untuk membantunya. Tapi Munding tak tahu arrangement apa yang sudah dilakukan Amel untuk Kusnandar. Amel belum memberinya kabar lagi sore ini. Untuk sementara dia tidak ingin gegabah melawan militer.
Munding kembali teringat tujuan awalnya ke sini. Dia datang ke sini bukan untuk berkelahi atau ingin menghajar orang. Dia ingin menyelesaikan permasalahan Asma. Tak mungkin Munding membiarkan Asma dan Ibunya hidup dengan dicekam rasa was-was dan takut selama hidupnya di kampungnya sendiri.
Munding lalu melihat ke arah Puji, "Puji, aku kesini karena urusan Asma. Kamu yang memerintahkan orang untuk menyerangnya ya?" tanya Munding.
Puji hanya tersenyum kecil, setelah melihat arah diskusi dan kata-kata Husein, Puji sadar kalau dia kini tak perlu takut lagi dengan pemuda di depannya. Meskipun ada sedikit ganjalan di hati Puji karena perlakuan Sucipto sebelum Kusnandar datang tadi. Tapi, jika Puji mengalami kemungkinan terburuk, dia akan melemparkan dirinya ke dalam pelukan Kusnandar sepenuhnya dan meminta perlindungan laki-laki itu. Puji ingin tahu apa yang Sucipto bisa lakukan saat dia melakukannya.
"Dari dulu aku tak suka Asma. Kenapa? Sekarang aku punya cukup kemampuan untuk melakukan apa yang kumau. Kalau kamu merasa hebat, silakan coba hentikan," jawab Puji dengan penuh rasa percaya diri.
Munding terdiam. Kini sudah jelas kalau Puji lah yang bertanggung jawab sepenuhnya atas penyerangan terhadap Asma.
Motif? Tak penting bagi Munding, dia tak tahu dan tak mau tahu.
"Kamu lupa apa kata-kataku beberapa tahun lalu? Siapapun yang menyentuh Asma atau Nurul, aku akan menghajarnya. Dan itu termasuk kamu," kata Munding sambil menahan amarah yang kini mulai muncul dalam dadanya.
Keluarga dan orang terdekatnya adalah yang hal terpenting bagi Munding, karena dia cuma sebatang kara di dunia. Siapapun yang menyentuh mereka, dia akan melawannya.
Apa yang dikatakan Husein mungkin benar, tapi kalau berurusan dengan orang terdekatnya, dia akan melupakan semua logika dan berjuang sampai akhir.
"Munding, relakan Asma. Aku tak berniat bermusuhan denganmu. Tapi, Asma, kamu tidak tahu seberapa besar rasa benciku ke dia," kata Puji, meskipun sebenarnya bukan rasa benci tapi iri yang membuat dia melakukan semua ini.
Uhukkkkkkk.
Tiba-tiba terdengar suara seseorang yang tersedak saat mendengar kata-kata Puji barusan.
"Namamu Munding?" tanya Kusnandar sembari mengusap minuman yang tadi keluar saat tersedak dari bibirnya.
Semua orang melihat ke arah Kusnandar dengan tatapan aneh. Tak perlu sampai tersedak seperti itu kan?
\=\=\=\=\=
Kusnandar sedang bersiap-siap pulang ke rumah dari kantornya saat salah satu anggotanya masuk ke dalam ruangannya dan memberikan hormat.
"Ndan, ada telpon dari Semarang," kata anggota Kusnandar.
__ADS_1
"Semarang? Dari siapa?" tanya Kusnandar dengan raut muka penasaran.
"Dari Kodam Ndan," jawab anggota Kusnandar.
"Kodam?" gumam Kusnandar, "sambungkan ke sini," perintah Kusnandar kepada anggotanya.
"Siap Ndan!" jawab anggotanya sambil keluar dari kantor Kusnandar.
Tak lama kemudian, Kusnandar sudah memegang telepon itu di tangannya.
"Ini Broto," terdengar suara berat dan berwibawa dari seberang telepon kantor yang dipegang Kusnandar.
"Broto?" Kusnandar tanpa sadar bergumam sambil mengingat-ingat kenalannya yang bernama Broto dan bertugas di Kodam.
Tapi setelah berusaha selama beberapa lama, dia tak berhasil melakukannya.
"Broto Suseno, Kodam IV Diponegoro," lanjut si penelepon.
Tiba-tiba tubuh Kusnandar seperti tersengat listrik. Secara reflek Kusnandar langsung mengambil sikap siap dan berdiri tegak dengan telepon di tangannya.
"Siap Jenderal," jawab Kusnandar dengan nada tegas.
"Tenang, ini urusan pribadi. Bukan urusan pekerjaan," kata Broto.
"Ini Koramil Sukolilo?" tanya Broto.
"Iya Pak. Ini Kapten Kusnandar, Danramil Sukolilo," jawab Kusnandar.
"Kamu yang bertanggungjawab di Sukolilo kan?" tanya Broto.
"Iya, Pak," jawab Kusnandar, sama seperti sebelumnya, pendek dan tegas, dia juga memasang telinganya untuk mendengarkan instruksi Broto dengan baik.
"Ada seorang pemuda di tempatmu. Dia bernama Munding. Aku titip dia ya? Dia calon menantuku," kata Broto.
"Iya Pak. Siap laksanakan," jawab Kusnandar.
Setelah itu mereka berdua berbasa basi sebentar dan Broto mengakhiri panggilan telponnya.
Kusnandar kemudian menyuruh anak buahnya mencari tahu tentang pemuda yang bernama Munding. Kusnandar pulang agak telat sore tadi karenanya. Dan saat dia pulang ke rumah, dia belum juga berhasil mendapatkan informasi tentang pemuda yang dicarinya.
__ADS_1
Kusnandar baru bertugas di Sukolilo tak lebih dari 2 tahun. Saat kejadian di Sukorejo, dia belum ada disini. Jadi, dia sama sekali tidak tahu menahu soal itu. Tentunya dia juga tak tahu tentang perintah militer untuk mengamankan Munding setelah kejadian tersebut. Beberapa personil yang terlibat insiden itu juga sudah mengalami rotasi ke wilayah lain.
Semua kebetulan yang membuat Kusnandar uring-uringan saat sampai di rumah, ditambah lagi dengan panggilan telepon dari Puji malam harinya.
\=\=\=\=\=
Kusnandar berdiri dan langsung menyalami Munding yang juga terlihat sedikit bingung.
"Calon mertuamu titip salam, beliau bilang, masalah sepele tak usah dibikin rumit," kata Kusnandar sambil tersenyum ramah.
"Calon mertua?" Munding sedikit bingung dalam hatinya.
Tapi, sesaat kemudian, Munding tersenyum kecut, sebuah nama muncul di kepalanya. Amel.
"Ngomong apa dia sama Pak Broto?" keluh Munding dalam hati.
Kusnandar melihat penuh selidik ke arah Munding, "apakah aku salah orang?" batinnya.
Meskipun 'Munding' bukan nama pasaran, tapi mungkin saja dia salah orang kan?
"Maksud Bapak, Pak Broto?" tanya Munding.
Wajah Kusnandar langsung cerah seketika. Dia tak lagi ragu, nama boleh sama, tapi tak mungkin dua orang yang bernama sama punya kesempatan untuk mengenal seorang petinggi militer seperti Broto Suseno.
"Hahahahahahaha, betul sekali," jawab Kusnandar sambil menepuk-nepuk pundak Munding.
"Kami tidak akan ikut campur urusan ini lagi. Tapi kalau masih ada yang cari masalah dengan Munding, berarti cari masalah juga dengan Koramil," kata Kusnandar ke arah Sucipto dan Puji.
Sucipto dan Puji saling bertatapan mata dengan wajah terkejut. Apa-apaan ini? Kenapa endingnya bisa seperti ini?
Yang namanya tak ikut campur, setidaknya biarkan mereka membereskan masalah ini sendiri, tapi kalimat lanjutan dari Kusnandar jelas menunjukkan kalau militer ada di pihak Munding.
Ini come back yang sangat menohok bagi Sucipto dan timnya. Apalagi Husein, wajahnya seperti baru saja menelan kecoa hidup-hidup.
Husein baru saja mengajari Munding betapa mengerikannya kalau berani melawan sebuah institusi negara seperti militer. Tapi, sekarang justru militer memback up Munding dan justru mereka sendirilah yang sekarang sedang melawan militer.
Dari semua orang yang ada di ruangan ini, Puji yang paling shock setelah kejadian singkat barusan.
"Mertua? Militer? Bukankah mertua Munding seorang guru ngaji dari Sumber Rejo," batin Puji dalam hati.
__ADS_1
Apalagi saat melihat betapa ramahnya Kusnandar memperlakukan Munding, seolah-olah dia anak kandungnya yang lama hilang dan baru berjumpa lagi.
Saat itulah Puji tersadar, semuanya tidak akan berakhir seperti yang dia bayangkan setengah jam yang lalu.