
Munding duduk bersila di teras depan rumah menemani Bapak mertuanya. Sejak Munding berhasil melakukan inisiasi, Munding sebenarnya diperbolehkan Bapak untuk meminum minuman selain air putih, tapi Munding sudah terlanjur terbiasa dengan itu. Jadi di depan Munding hanya segelas air putih hangat dan tempe goreng saja yang tersedia.
“Kamu serius Le soal ini?” tanya Pak Yai ke Munding.
“Serius Pak. Nurul istri Munding dan Munding merasa berhutang budi atas meninggalnya Jumali. Jadi Munding merasa kalau ini adalah hal yang benar untuk dilakukan,” jawab Munding.
“Untuk keluarga Jumali, Bapak bisa pahami, tapi untuk Nurul, kamu ini kan suaminya. Apa bedanya kalau sawah ini tetep atas namamu? Nggak perlu diganti nama juga ke si Nurul to?” tanya Pak Yai.
Ya. Munding memang meminta Pak Yai untuk mengurus pemecahan sekaligus balik nama sawah Bapaknya menjadi dua. Separuh untuk istrinya dan separuhnya lagi untuk Asma. Tapi Munding sama sekali tidak mempunyai niat apa-apa kepada Asma. Dia melakukan itu semata-mata karena merasa berhutang budi kepada keluarga Jumali.
Sahabat Wage yang merelakan nyawanya demi amanah yang dititipkan kepadanya.
“Bapak, Munding kan sudah cerita semua kejadian yang Munding alami malam itu di Sukorejo. Munding merasa kalau mereka suatu saat akan datang dan menahan Munding,” kata Munding pelan.
“Tidak akan ada yang berani membawamu selama Bapak masih ada disini,” kata Pak Yai, kata-kata yang terdengar arogan tapi sebenarnya berasal dari rasa percaya diri yang dia miliki.
Munding terdiam. Dia tahu seberapa kuat Bapak Mertua dan guru silatnya ini. Dulu waktu dia belum tahu apa-apa, waktu dia masih belajar silat awal-awal, Munding merasa kalau Pak Yai hanyalah seorang guru ngaji biasa yang mungkin pernah berlatih silat di pondoknya.
Tapi sekarang, ketika Munding sepenuhnya menjadi serigala petarung yang sudah terinisiasi, petarung yang bahkan pernah merasakan duel hidup dan mati, Munding tetap merasa kalau dia tidak akan bisa mengalahkan orang tua di depannya ini. Sekalipun Munding masuk ke mode tarungnya, nalurinya berkata kalau Pak Yai bisa menghabisinya dengan sedikit usaha.
“Ya sudah gini saja, Bapak menghargai keinginanmu. Untuk gadis Sukorejo itu, aku akan membantumu mengurusnya segera. Dia sekarang yatim karena Jumali sudah tiada. Kalau dibiarkan lama-lama tanpa pemberi nafkah. Nanti banyak orang memanfaatkan kondisi ekonomi keluarga itu,” kata Pak Yai.
“Untuk Nurul, kamu memang suaminya, tapi kalau memang suatu saat kamu pergi, aku akan menjaganya. Untuk punya Nurul, biarkan saja menggunakan namamu. Bapak yang akan menyimpannya,” kata Pak Yai.
“Iya Pak Yai.” jawab Munding.
\=\=\=\=\=
Sekitar 2 bulan setelah kasus di Sukorejo. Malam hari.
Sekelompok pasukan menggunakan baju taktis berwarna hitam. Masing-masing anggota menggunakan alat komunikasi yang dipasang di telinga mereka. Mereka juga menggunakan baff hitam yang menutupi wajah mereka sampai sebatas hidung. Mereka berada dalam suatu kendaran tempur atau yang lazim disingkat ranpur buatan dalam negeri.
Dua buah kendaraan tempur buatan PINDAD yang memiliki nama Komodo tersebut terlihat berhenti di tepian jalan raya desa Sumber Rejo.
Agak jauh dari rumah Pak Yai.
Dari masing-masing Komodo turun sepuluh orang personel dengan penampilan yang sama dan senjata laras panjang tersandang di pundak mereka.
Mereka bukan Densus 88, mereka adalah team elite dari Sat 81 Gultor. Bagian terelit dari komando pasukan khusus milik Angkatan Darat yang memang dilatih dan ditujukan untuk menanggulangi serangan terorisme berat.
__ADS_1
Ketika dua puluh orang anggota pasukan elite itu turun dari ranpur, mereka langsung membentuk lingkaran dan mengelilingi salah satu personel yang berdiri dan memberikan sinyal dengan tangan kanannya. Orang ini adalah pemimpin untuk operasi kali ini dan dia bertugas untuk memberikan briefing singkat sebelum operasi dilakukan.
“Sasaran kali ini adalah seorang serigala petarung yang sudah terinisiasi. Dia berusia sekitar 15-16 tahun. Proses inisiasi berhasil dia lakukan 2 bulan lalu. Kita mendapat penugasan untuk menahannya dalam kondisi HIDUP. Saya ulangi dalam kondisi HIDUP,” kata sang Komandan yang memimpin briefing tadi.
“Interupsi Pak,” kata salah seorang personel sambil mengangkat tangannya.
“Ya. Silahkan,” kata si komandan.
“Untuk menangani satu orang serigala petarung terinisiasi, seharusnya satu tim dari kita sudah cukup. Tapi pusat komando menurunkan dua tim. Tolong diperjelas apakah ada ancaman potensi bahaya yang lain. Terima kasih,” kata personel tadi.
“Bagus. Oke, saya akan masuk ke masalah itu. Sasaran kita adalah serigala petarung berusia 15 tahun. Kalian bisa bayangkan itu. Ini adalah suatu hal yang gila dan hampir mustahil dilakukan. Dan untuk melatih petarung seperti itu, tentu membutuhkan mentor yang gila juga. Dan mentor itu sekarang ada bersama sasaran kita,” jelas sang Komandan.
Semua anggota personel terdiam dan mendengarkan dengan seksama. Mereka tahu bahwa mungkin saja malam ini adalah malam terakhir mereka, tapi mereka tidak akan membiarkan diri mereka tewas hanya karena mereka kurang konsentrasi saat briefing dan melewatkan detail penting dari misi mereka.
“Mentor dari sasaran kita bernama Ahmad Hanbali. Bekas komandan rezimen Zulfiqar dari afiliasi Jihad Fi Sabilillah yang kita kenal dengan nama Kawanan JFS. Kalian pasti tahu sepak terjangnya waktu kerusuhan Ambon belasan tahun lalu,” jelas sang Komandan.
Semua anggota personel yang ada disana menarik nafas panjang.
Mereka kenal dengan nama itu. Serigala petarung dari Kawanan JFS yang terkenal dengan sebutan ‘Izrail’. Waktu itu, dibutuhkan setidaknya 3 orang serigala petarung yang sudah terinisiasi untuk bisa menahan pergerakan Izrail seorang diri, dan itu hanya untuk menahan pergerakan Izrail saja, itu artinya untuk menangkap atau menghabisi Izrail entah berapa banyak serigala petarung akan dibutuhkan. Dengan tambahan catatan, Izrail tidak dibantu oleh anggota kawanannya dan dia terjebak seorang diri.
Tetapi ketika Izrail bertarung bersama kawanannya, satu-satunya tindakan yang disarankan oleh pusat komando militer adalah ‘run for your life’. Sebegitu mengerikannya sepak terjang Pak Yai di mata militer pada masa itu. Itulah yang membuat semua personel pasukan elit ini menarik napas panjang. Kalau pertarungan benar-benar terjadi malam ini, mereka tidak tahu apakah salah satu diantara mereka akan bisa kembali pulang ke keluarga mereka esok pagi.
“Semua jelas?” tanya sang Komandan.
“Jelas Pak!!” jawab serentak semua personel.
“Move!!” perintah sang Komandan.
Mengikuti aba-aba dari komandan operasi mereka, kedua puluh orang itu menyebar dan membentuk sebuah lingkaran yang mengelilingi rumah Pak Yai dan mushola dari sekelilingnya. Ketika perimeter dari semua sudut sudah tertutup. Sang Komandan memberi aba-aba untuk mengecilkan radius dari kepungan mereka dan berjalan pelan-pelan ke arah rumah Pak Yai dengan tetap menjaga perimeter mereka.
\=\=\=\=\=
Munding yang sedang tertidur dalam pelukan Nurul, tiba-tiba merasakan firasat bahaya yang datang dari sekelilingnya. Bukan hanya dari satu arah, tapi dari semua arah. Dan dia tahu kalau waktunya perpisahan sudah tiba.
Munding melirik sebentar ke arah Nurul yang masih tertidur pulas di sampingnya dan sedang tersenyum bahagia dalam mimpinya. Senyum termanis yang Munding pernah lihat.
Munding mengecup kening Nurul perlahan dan berbisik lirih, “Mas pergi dulu, Nurul jaga diri baik-baik ya.”
Munding kemudian memakai pakaian yang membuatnya paling nyaman. Celana dan kaos hitam yang sering dipakainya untuk latihan silat. Dia sama sekali tidak membawa apa-apa, baik itu dokumen, uang atau surat apapun.
__ADS_1
Munding kemudian berjalan dan membuka pintu kamar Nurul perlahan-lahan. Nurul yang tadi tertidur pulas, tiba-tiba terbangun ketika mendengar suara pintu dibuka. Nurul melihat Munding melangkahkan kakinya keluar kamar dan raut muka kebingungan terlihat jelas di sana.
“Mas?” tanya Nurul sambil berdiri bangun dari tidurnya.
Ketika Munding sampai di teras rumah, dia melihat Pak Yai sudah berdiri di depan rumah dengan tongkat rotannya dan berhadapan dengan seseorang berpakaian taktis hitam dan menggunakan penutup wajah mirip seperti anggota Densus 88 yang sering muncul di tivi.
Tapi Munding tahu kalau itu bukan mereka. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah Pak Yai dan tahu kalau setiap anggota pasukan elite yang ada di depannya adalah serigala petarung dalam tahap awakening.
Kecuali si Komandan yang sekarang berhadapan dengan Pak Yai. Dia sudah terinisiasi.
Ketika Munding keluar dari pintu rumah, semua mata melirik ke arah Munding. Termasuk sang Komandan dan semua anak buahnya yang mengelilingi mereka berdua. Mereka menodongkan ujung laras panjang senapan buru mereka ke arah Munding yang baru saja keluar. Meskipun sebenarnya mereka tahu, untuk serigala petarung yang sudah terinisiasi, peluru bukan lagi masalah.
“Izrail, kami mohon pengertianmu. Kami diperintahkan untuk membawa anak didikmu secara baik-baik oleh pusat komando. Kami berjanji akan menjaga keselamatannya,” kata sang Komandan, “lagipula, kau sekarang sudah berkeluarga. Ingat juga anak dan istrimu,” lanjut sang Komandan.
“Apa maksudmu dengan kata-kata itu? Kau mengancamku dengan menggunakan anak istriku?” kata Pak Yai dengan nada yang mulai meninggi.
“Bukan. Bukan,” balas sang Komandan sambil mengutuk dalam hati. Keringat dingin keluar dari punggungnya.
“Anak didikmu, Munding, telah melakukan inisisasi tanpa izin dan menimbulkan kecemasan untuk masyarakat umum. Kami diperintahkan untuk menahannya, tidak untuk mengeksekusinya,” jelas sang Komandan.
“Berapa lama?” tanya Pak Yai setelah terdiam sebentar.
“Tak lebih dari 3 tahun. Kita menggunakan peraturan militer untuknya. Bukan sipil,” jelas sang Komandan sambil menarik napas lega.
Pak Yai melirik ke arah Munding. Munding menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
“Tapi kalian harus tahu. Munding bukan anak didikku. Dia menantuku. Suami dari anakku. Kalau kalian membuat anakku menjadi janda. Aku pertaruhkan nyawaku untuk membantai kalian sebanyak-banyaknya, menemani Munding ke liang kubur,” ancam Pak Yai.
Sang Komandan dan beberapa anggotanya merasakan bulu kuduk mereka berdiri ketika mendengar ancaman dari Izrail. Mereka tahu kalau ancaman itu bukan main-main. Antar sesama serigala petarung, mereka bisa membedakan kebohongan dengan mudah. Dan kali ini Izrail tidak mengeluarkan ancaman kosong, dia benar-benar serius dengan kata-katanya barusan.
Munding maju mendekat kearah sang Komandan. Sang Komandan memberikan aba-aba ke anak buahnya. Mereka kemudian mendekat dan mengelilingi Munding sambil memasangkan borgol kaki dan tangan ke Munding.
Nurul yang sebenarnya sudah berada di teras dan menyaksikan semuanya, menangis dan berlari ingin menyusul Munding. Tapi Bapaknya menangkap tubuhnya dan memberikan anaknya ke istrinya yang sudah sedari tadi berada di samping Pak Yai.
Nurul menangis sejadi-jadinya di pelukan Bu Nyai.
Munding kemudian digiring oleh puluhan anggota personel Satgultor tersebut, setelah beberapa langkah, Munding membalikkan tubuhnya dan berteriak ke Nurul sembari tersenyum.
“Tunggu aku pulang!”
__ADS_1
Nurul mengusap air matanya dan menganggukkan kepalanya ke arah Munding sambil berbisik lirih, “Nurul nungguin Mas Munding. Sampai kapanpun.”