
Setelah Munding melihat Hikari mengambil kuda-kudanya, dia mundur beberapa langkah dan mengambil kuda-kuda favoritnya. Tujuan dia cuma satu, berusaha menghindar dari serangan Hikari dan mencari celah untuk menyerang balik. Meskipun dia tahu kalau itu adalah impian kosong saja.
Saat insightnya waktu itu, Munding menggunakan strategi yang sama. Di saat Munding merasa sudah berhasil melayangkan serangan ke tubuh Hikari, tiba-tiba saja sebuah lapisan tipis yang merupakan manifestasi intent muncul dan melindungi tubuh Samurai itu pada detik-detik terakhir.
Munding tak punya pilihan lain.
Mungkin dia masih punya kesempatan jika dia berusaha melarikan diri dari Hikari. Tapi Samurai itu pasti akan melakukan trik yang sama dengan tadi. Menyerang orang-orang tak bersalah dan membuat mereka menjadi sasaran.
Munding tak akan sanggup memikirkan beban moral yang akan dia tanggung jika itu terjadi.
Dia memilih untuk mengorbankan dirinya sendiri disini daripada membiarkan para pengguna jalan yang tak tahu apa-apa itu menjadi sasaran Hikari.
“Anakku, mungkin kamu akan lahir dan tumbuh tanpa pernah bisa merasakan belaian tangan Bapakmu,” bisik lirih Munding dalam hati.
Hanya itu satu-satunya penyesalan yang Munding punya saat ini. Di saat dihadapkan pada kemungkin untuk kehilangan nyawa. Sosok wajah bayi kecil yang raut mukanya agak kabur justru muncul di kepalanya. Calon anaknya yang dia tak akan pernah bertemu dengannya.
“Hmmm,” gumam Hikari pelan.
Sreeeetttttt.
Munding meraskan naluri bahaya itu datang dengan tiba-tiba. Tubuh Munding bergerak bahkan sebelum otaknya memerintahkan atau mencerna informasi yang diberikan oleh nalurinya.
Craaaaasssss.
Beberapa helai rambut Munding yang terkena sabetan pedang dari Hikari terbang tertiup angin. Munding tadi hanya menelengkan kepalanya kesamping kiri dan pedang tak kasat mata itu lewat dekat sekali dengan bagian samping kanan kepala Munding.
Hikari tersenyum dan masih tetap dalam posisi Iai-nya sama seperti tadi. Tak terlihat kalau dia baru saja melakukan serangan kepada Munding.
Hikari lalu meludahkan rokoknya ke tanah dan tidak mematikannya seperti tadi. Asap tipis masih mengepul dari bekas rokok yang jatuh di tanah itu. Hikari menghapus senyuman dari bibirnya dan dia terlihat berkonsentrasi.
Hikari merendahkan badannya lagi dan menggeser kaki kanan yang menjadi tumpuan bagian depan perlahan-lahan. Mencari pijakan yang sesuai dengan nalurinya untuk melancarkan serangan keduanya ke arah Munding.
__ADS_1
Munding menarik napas dalam dan meningkatkan kewaspadaannya. Sekalipun dia tahu kalau nalurinya sangatlah kuat. Tapi Munding tahu sepenuhnya kalau mengetahui bahaya itu datang dan mengambil tindakan untuk menghindarinya adalah dua buah aksi yang berbeda.
Naluri Munding mungkin tahu kalau bahaya akan datang. Sekalipun nalurinya mampu untuk memerintahkan tubuhnya untuk bergerak menghindari bahaya itu tanpa melalui otak Munding dan semuanya menjadi proses gerak reflek yang cepat tapi ‘cepat’ sendiri adalah sebuah konsep yang relatif.
Seseorang yang naik sepeda mungkin dianggap ‘cepat’ oleh seorang pejalan kaki. Tapi bagi pengendara sepeda motor, dia terhitung ‘lambat’. Sama halnya dengan si pengendara motor yang mungkin sudah sangat ‘cepat’ bagi seorang pengguna sepeda, dia hanya akan jadi bahan tertawaan oleh para pengendara mobil sport yang melaju di jalanan lengang.
Munding tahu kalau gerak refleknya sangat cepat bagi orang biasa atau bahkan bagi sesama serigala petarung tahap awakening dan inisiasi. Tapi bagi seorang petarung manifestasi seperti Hikari, kecepatan gerak reflek Munding mungkin hanyalah sebuah gurauan.
Tapi Munding membuang jauh-jauh semua pikiran itu. Yang dia tahu, dia akan berusaha semaksimal mungkin untuk bertahan hidup, karena dia masih ingin bertemu dengan keluarganya. Karena dia ingin menggendong bayinya. Karena dia kini sadar, di hadapan kematian, hidup adalah sebuah karunia terindah yang dianugerahkan oleh Yang Maha Kuasa, seberapapun pahitnya kehidupan itu.
Sreetttttttttt.
Suara Katana yang ditarik dari Saya terdengar di telinga Munding tapi anehnya dia tak mendengar suara lain selain itu. Hiruk pikuk orang ramai di belakangnya karena kecelakaan barusan dan rintihan para korban juga tak terdengar olehnya lagi.
Dunia terasa seolah seperti sebuah tempat yang sunyi tanpa suara.
Hembusan angin tak terasa di kulitnya. Udara berubah menjadi stagnan. Panas mentari tak lagi menyengat seperti tadi. Dan dia bisa melihat Hikari yang pelan-pelan bergerak mencabut pedang itu dan melangkah ke arahnya.
Seperti saat dia mengalami mode tarung pertama kali tapi sensasi kali ini jauh berbeda. Ini bukan mode tarung karena dia tahu sekali kalau Hikari bergerak lebih cepat dari dirinya sendiri tapi justru sekarang Hikari terlihat seolah-olah seperti sebuah film slow motion.
Munding lalu berusaha menggerakkan badannya untuk menghindari serangan yang datang dari Hikari, tapi sama seperti yang dialami oleh Ardian, udara di sekitar Munding seolah membeku dan memenjarakan dia di tempatnya.
Saat itulah Munding tersadar, betapa hebatnya seorang petarung manifestasi seperti Hikari. Sekalipun dia bergerak sangat lambat, tapi dia setidaknya mampu untuk bergerak dan menyerang dalam dunia aneh ini. Sedangkan Munding sendiri? Bahkan untuk menggerakkan satu ruas jaripun dia tak mampu.
Munding melihat serangan itu datang dan tersenyum pahit dalam hati. Dia tahu kalau ajal datang menjemputnya saat ini.
“Anakku...” gumam Munding lirih dalam hatinya.
Tapi tiba-tiba, ketika bayangan itu kembali hadir, Munding berteriak keras dalam hati, “Kenapa aku menyerah?”
“Kalau aku menyerah saat ini, mampukah aku bertemu dan berkata dengan bangga kepada anakku kalau aku sudah berusaha sekeras tenaga untuk bertemu dengannya?”
__ADS_1
“Sanggupkah aku melihat sorot matanya yang polos dan memberi jawaban saat dia bertanya kenapa aku tak ada disisinya saat dia lahir dan tumbuh?”
“Tidak!! Aku belum berusaha maksimal. Aku tak akan punya keberanian untuk bertemu dengannya kelak jika aku menyerah saat ini.”
Munding membulatkan tekadnya lalu mengumpulkan semua intent dalam tubuhnya dan berusaha sekuat tenaga untuk menggerakan tubuhnya.
Awalnya, tubuh Munding tetap tak bergeming di bawah tekanan penjara tak kasat mata yang menahan semua permukaan tubuhnya. Tapi Munding tak berhenti menyerah dan terus berusaha sekuat tenaga untuk mengalahkan belenggu itu.
Belenggu dalam dunia aneh yang asing ini.
Tiba-tiba, sebuah retakan muncul di kulit jari tangan Munding. Lalu retakan itu menjalar ke seluruh permukaan tubuh Munding dengan sangat cepat dan tak terkendali. Munding seolah-olah merasa kalau dia seperti seekor ulat yang sedang bermetamorfosis menjadi seekor kupu-kupu dan sedang menghancurkan kepompong yang membelenggunya.
Seluruh permukaan tubuh Munding kini ditutupi retakan tipis berwarna transparan yang hancur berkeping-keping. Sekalipun Munding masih merasakan tekanan yang luar biasa dan belenggu di seluruh tubuhnya, tapi setelah dia melihat pecahan lapisan tipis itu, Munding sadar sepenuhnya kalau dia mampu bergerak dalam dunia aneh ini.
Munding pun berusaha sekuat tenaga untuk kembali menggerakkan tubuhnya seperti tadi dengan menggunakan seluruh intent dan konsentrasinya.
“Bakatmu memang luar biasa,”
Sebuah pujian terdengar di telinga Munding dan membuat dia kaget.
Munding melihat kearah depan dan melihat Hikari sudah berada di depannya. Sesaat kemudian, Munding melihat katana itu bergerak lurus menusuk ke arah jantungnya yang ada di dada sebelah kiri.
Melihat ujung katana itu yang semakin cepat mendekati sasarannya, Munding berusaha makin keras lagi dengan segenap kekuatannya.
Akhirnya, Munding berhasil menggerakkan tubuhnya ke samping kanan untuk menghindari ujung katana Hikari, tapi pergerakan tubuh Munding yang telah berusaha sekuat tenaga hanya bisa membuatnya bergeser tak lebih dari beberapa cm dari posisinya sebelumnya.
Dan katana itu akhirnya menusuk dada kiri Munding tanpa halangan berarti. Bagaikan sebuah pisau yang sedang digunakan untuk mengiris tahu.
Munding tak merasakan sakit sama sekali, tapi dia tahu kalau sekarang katana itu telah tertancap di dadanya. Mirip seperti saat kematiannya di tangan Hikari yang sama saat dulu mengalami insight waktu itu.
“Anakku, maafkan Bapak tak bisa menemanimu. Tapi Bapak sudah melakukan semuanya dengan maksimal. Setidaknya Bapak tak akan malu saat nanti bertemu denganmu. Ini takdir Gusti Allah. Jaga Ibumu baik-baik,” gumam Munding lirih dalam hatinya dan semuanya terasa gelap setelah itu.
__ADS_1