Munding - Legenda Serigala Petarung

Munding - Legenda Serigala Petarung
Chapter 102 - Rencana Berubah


__ADS_3

Tak lama kemudian si A Long sudah balik ke meja mereka dan bersungut-sungut saat menemukan kursinya sudah ditempati oleh Rin. Dengan terpaksa dia duduk di kursi Rin.


“Habis ini rencana kita apaan Boss?” tanya si A Long kearah Munding.


“Rencana apa? Aku nggak ada rencana apa-apa. Terserah kalian sih mau ngapain. Kalau kalian butuh bantuanku, ngomong aja. Aku dengan senang hati nanti ngebantu kalian,” kata Munding.


A Long menggulung tissue yang ada ditangannya dan tiba-tiba melemparkannya ke arah botak berkilau yang ada di sebelah kanannya. Bola tissue itu mengenai kepala si Wowo yang sedari tadi asyik sendiri bareng Citra. Dunia milik mereka berdua deh kayaknya.


“Kalian ini mau ngumpul apa mau mojok berdua? Dah tahu rame gini, bisa-bisanya kalian tu mesra-mesraan terus sih?” tegur A Long.


Wowo cuma nyengir aja setelah terkena lemparan A Long. Citra cuma menundukkan kepalanya dengan wajah yang memerah karena malu, “semua salah Mas Wowo, kalau udah berdua gini nggak berhenti mesrain Citra,” protes Citra dalam hati.


Munding geleng-geleng kepala melihat tingkah si Botak yang baru saja melepas gelar jonesnya itu, “Long, kalau bisa aku mau minta tolong satu hal. Cariin informasi tentang narkoba di Harsa ya?” kata Munding pelan.


Semua orang di meja mereka terdiam mendengar kata-kata Munding.


“Lu mae make Boss?” tanya A Long agak ragu-ragu, bukan apa-apa, sebusuk-busuknya A Long, dia pernah diberi peringatan keras oleh Papanya, jangan sampai nyentuh yang satu itu. Selain narkoba, yang lainnya boleh-boleh saja.


Belum sempat Munding menjawab, Amel duluan menjawab pertanyaan A Long, “Munding nggak mungkin pake begituan. Yang bener dikit dong Long kalau ngomong.”


“Bener kata Amel, bukan mau kupake,” kata Munding.


“Aku mau bersihkan Harsa dari jeratan narkoba,” lanjut Munding dengan tegas dan pelan yang disambut oleh diam dari semua kawan-kawannya yang ada di sekitarnya.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


Di sebuah ruangan dalam gedung bertingkat.


“Ini footage terbaru dari perkelahian yang kita dapat dari kejadian saat ultah salah satu murid Harsa beberapa waktu lalu. Ultah ini dihadiri oleh target kita, si “A” dan bodyguardnya, si “M”. Kebetulan ada penyerangan yang dilakukan oleh gerombolan geng motor MinMaks pimpinan Bram,” si Perlente yang memberikan briefing kali ini melirik sebentar ke arah sang Guru yang duduk mendengarkan dari kursi yang terletak di pojokan.


Tak lama kemudian, sebuah video perkelahian yang lebih mirip disebut tawuran, diputar dalam ruangan itu. Semua anggota tim Kelelawar bisa melihat hanya ada lima orang yang berkelahi melawan 14 orang penyerangnya yang menggunakan berbagai macam senjata.


Dan tidak seperti dugaan mereka, kelima orang tersebut berhasil mengalahkan para penyerang itu meskipun mereka semua mengalami luka-luka di tubuhnya.


“Apakah anak SMA sekarang ini sedemikian jagonya berkelahi?” celetuk ‘Satu’ yang duduk di barisan depan bersama ‘Dua’, ‘Tiga’ dan satu-satunya wanita yang berhasil melewati tahap awakening, ‘Empat’.


“Profil ‘M’ pernah kalian terima, sedangkan profil keempat orang lainnya bisa kalian lihat disini,” kata Perlente sambil menyebarkan kertas berisi keterangan dan biodata dari keempat kawan Munding.


Perlente tersenyum mendengarkan pertanyaan anak buahnya, “planning yang baik itu harus flexible dan adaptable. Kita tetap proceed dengan rencana awal, tapi ada perubahan sedikit.”


“Awal rencana kita adalah, kita menculik ‘A’ dan membuat seolah-olah itu dilakukan oleh A Xiong, dengan tujuan memicu reaksi dari militer. Tapi kini kita mengubahnya, A Long juga akan menjadi target kita, mulai sekarang kita sebut dia sebagai ‘L’. Jadi kita akan menculik ‘A’ dan ‘L’. Kemudian kita akan menghubungi kedua belah pihak, A Xiong dan Broto untuk meminta tebusan.”


“Saat kita menghubungi A Xiong, kita akan mengaku dari militer, saat kita menghubungi Broto, kita akan mengaku dari mafia.”


“Dan ingat, kita akan menyimpan uang tebusan yang kita dapat dari mereka berdua,” kata Perlente sambil tersenyum lebar.


“Tentu saja kelompok mafia A Xiong yang akan hancur oleh kekuatan tempur Militer. Setelah itu, tim kita akan masuk dan menyapu bersih mereka. Dengan begitu, kita bisa menciptakan kota yang bersih dari kejahatan terorganisir yang selama ini merajalela.”

__ADS_1


Semua anggota tim Kelelawar menatap komandan mereka dengan mata berbinar-binar dan semangat yang membara. Mereka tahu kalau apa yang mereka lakukan mungkin melanggar hukum. Tapi demi tujuan mulia yang lebih besar, mereka akan melakukan tugas ini sebaik-baiknya.


“Rencana ini akan dieksekusi dalam waktu tiga hari. Di hari H dan 15 menit sebelum operasi dilakukan akan ada briefing lagi untuk mengetahui detail dari rencana kita untuk mencegah kebocoran informasi.”


“Briefing selesai. Bubar,” kata si Perlente mengakhiri briefingnya hari itu.


Semua anggota tim Kelelawar dengan penuh semangat keluar dari dalam ruangan dan saling berdiskusi dengan rekan mereka. Mereka sangat mengantisipasi sekali misi pertama mereka ini. Misi untuk membuat dunia selangkah menjadi lebih baik.


\=\=\=\=\=


“Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan kepada dirimu,” kata Sang Guru.


“Sebuah perbuatan busuk demi kepentingan pribadi, bisa kau poles sedemikian rupa menjadi tujuan mulia di hadapan bocah-bocah polos itu,” lanjutnya.


Si Perlente cuma tersenyum tipis tanpa menanggapi kata-kata sang Guru. Sejak kejadian hari itu, dimana dia ketakutan sampai terkencing di celananya sendiri, si Perlente sudah berpikir berkali-kali bagaimana caranya dia bisa terlepas dari jeratan jaring laba-laba sang Guru. Tapi sampai saat ini dia belum juga bisa menemukan solusinya.


Sampai ketika dia menerima video perkelahian Munding yang terakhir. Ketika dia tanpa sengaja melihat dimana Munding tiba-tiba menghilang dan langsung berdiri di belakang musuhnya dan mengayunkan tangannya dan membuat musuhnya tak sadarkan diri.


Dan yang paling membuat Perlente sangat terkejut adalah apa yang dilakukan Munding setelah itu, dia mengambil semua barang-barang yang ada di dalam kantong musuhnya. Seperti seorang pencopet atau perampok yang menjarah korbannya.


Munding tidak pernah melakukan itu. Si Perlente tahu itu. Dengan cepat dia memutar balik video itu dan melihat dengan seksama wajah musuh yang sedang dihadapi Munding dan dia kenal dengan wajah itu. Dia adalah Bambang, seorang polisi yang menyamar dan bekerja di bawahnya.


Perlente menempatkan dia untuk mengawasi sepak terjang Bram tanpa sepengetahuan sang Guru. Bram hanya berkomunikasi dengan sang Guru. Sedangkan jumlah perputaran uang hasil penjualan narkoba yang ditangani Bram cukup fantastis. Si Perlente tidak bisa begitu saja membiarkan salah satu ladang uangnya bergerak tanpa kontrol.

__ADS_1


Karena itu dia menempatkan Bambang disana untuk mengawasi semua gerak-gerik Bram dan melaporkannya kepada dirinya.


__ADS_2