
“Selain mereka berempat, keluarga Nurul juga berhubungan dekat dengan beberapa pihak yang mempunyai kekuatan cukup signifikan. Mereka dekat dengan militer yang memiliki 2 petarung manifestasi. Mereka juga dekat dengan keluarga Hong yang memiliki 1 orang petarung manifestasi. Dan jangan lupa kalau di belakang kakak beradik Ahmad Hambali ada faksi militan yang sampai sekarang kita belum pernah memperoleh informasi akurat tentang mereka,” kata Clown.
“Jadi, maksudmu, selain militan, setidaknya ada 3 petarung manifestasi lagi yang bersedia untuk membantu target?” tanya Geoffrey.
“Tak sesederhana itu. Hong dan Militer mungkin akan membantu tanpa berpikir panjang dan tanpa syarat. Kalau mereka turun tangan, satu-satunya hal yang bisa kita lakukan adalah mundur dan meninggalkan misi ini,” jawab Clown.
“Tapi, Leader sudah berpesan agar kita melakukan serangan ini dengan tiba-tiba, cepat, dan fatal. Mirip serangan seekor ular berbisa,” kata Clown mengakhiri penjelasannya.
Keempat petarung manifestasi itu menganggukkan kepalanya tanda mengerti dengan maksud ucapan terakhir Clown yang merupakan pesan dari Leader mereka.
Memang secara di atas kertas, target mereka memiliki koneksi yang luar biasa. Mereka memiliki beberapa petarung manifestasi yang siap sedia untuk membantu di saat membutuhkan. Kalau mereka semua berkumpul, setidaknya akan ada 5 orang petarung manifestasi yang akan berada di sekeliling target mereka yang bernama Nurul itu.
Tapi, ketika keempat orang itu menyerang dengan tiba-tiba dan disaat mereka lengah, sekalipun target dan pelindungnya meminta bantuan, tapi bantuan itu tetap akan memerlukan waktu untuk datang.
Dan mereka akan menggunakan jeda waktu itu untuk mengeksekusi misi mereka.
Tiba-tiba, cepat, dan fatal.
Itulah maksud dari pesan Leader mereka.
“Misi dimengerti. Clown, kamu awasi target dan pergerakan para petarung di sekelilingnya. Kamu juga yang akan menentukan kapan dan dimana kami harus menyerang target,” kata Geoffrey.
“Mengerti,” jawab Clown sambil menganggukkan kepalanya.
\=\=\=\=\=
__ADS_1
“Mas nggak kasihan sama Mbak Amel?” tanya Nurul sambil menimang-nimang Alit yang ada di tangannya dan duduk di sebuah kursi roda.
Munding duduk bersila di atas rumput dan melihat ke kejauhan.
Mereka berdua, eh salah, mereka bertiga sedang menikmati temaram senja di taman yang ada di bagian belakang rumah sakit pribadi milik keluarga Hong.
Munding tak menjawab pertanyaan istrinya dan hanya menghela napas.
Nurul baru saja meminta Munding untuk menikahi Amel. Nurul juga memberitahu Munding betapa selama ini, meskipun Munding dalam keadaan koma, Amel tetap saja bersikukuh untuk membantu Nurul merawatnya.
Nurul tak ragu akan perasaan yang Amel miliki kepada suaminya.
“Mas nggak bisa Dek,” jawab Munding setelah terdiam beberapa saat.
“Mungkin Mas nggak ngerti gimana rasanya. Tapi Nurul seorang wanita Mas, Nurul tahu gimana rasanya jadi Mbak Amel. Nurul nggak tega, seandainya Nurul yang diposisi Mbak Amel, belum tentu juga Nurul sanggup melakukan apa yang Mbak Amel lakukan untuk Mas Munding,” jawab Nurul pelan.
Muka Nurul bersemu merah mendengar kata-kata suaminya, tapi sesaat kemudian dia kembali mencoba memasang muka sedih, “Mas nggak kasihan ya sama Mbak Amel?” tanya Nurul lagi mengulangi pertanyaannya yang tadi dia tanyakan untuk yang kesekian kali.
\=\=\=\=\=
Seorang laki-laki berpakaian biasa dengan celana jeans yang robek-robek di bagian lutut dan kaos oblong yang terlihat lusuh sedang berjalan di pingir jalan dengan gaya congkak. Sesekali dia akan menghisap rokoknya dan menghembuskannya sambil menengadahkan kepalanya ke langit.
Laki-laki itu lalu mendekati seorang badut yang sedang mengamen di jalan. Ketika si laki-laki congkak yang berdandan ala preman itu berada di dekat sang badut, dengan cepat dia melemparkan uang kertas yang dilipat-lipat ke arah si Badut yang sedang mengamen.
Si Badut membungkukkan badannya sebagai tanda terima kasih kepada si Preman yang masih dengan sok gaya berjalan kesana kemari dengan tingkah sombong dan petantang petentengnya.
__ADS_1
Ada beberapa siswa SMU yang menyaksikan kejadian itu sambil ngobrol dengan temannya, “lihat tu!! Don’t judge the book by the cover! Tingkah dan dandanannya preman, tapi doi baik hati. Dia ngelempar uang kertas warna biru ke si Badut yang sedang mengamen. Apa kubilang? Jangan suka melihat orang dari penampilan luarnya saja kan?” kata salah seorang dari siswa-siswa SMU yang masih labil dan gokil itu kepada rekan-rekannya yang manggut-manggut saja seperti ayam yang sedang mematuk beras di tanah.
Si bocah labil sok dewasa itu lalu tersenyum bangga dan mengangkat dagunya, seakan-akan dialah yang telah berbuat mulia, padahal dia hanya berkata-kata saja dengan modal congornya.
Seperti itulah potret kehidupan.
Seseorang mengaku mengerti semuanya dan menganggap dirinya dewa setelah melihat sekelumit saja dari sebuah masalah yang sebenarnya jauh lebih besar dan komplek dari yang dia bayangkan.
Si Badut membuka uang kertas yang dilempar si Preman lalu tersenyum dari balik topengnya. Dia menemukan secarik kertas yang tersembunyi dengan rapi di dalam uang yang dilipat itu. Si Badut pun lalu membaca tulisan di kertas itu selama beberapa saat lalu dia membakarnya.
Si Preman tadi adalah informan Clown yang bekerja di dalam rumah sakit milik keluarga Hong. Cara komunikasi yang mereka lakukan mungkin terkesan kuno dan seperti cerita-cerita di film-film tahun jadul, tapi itu adalah yang terbaik.
Cynthia masih memberlakukan perintah locked down untuk rumah sakitnya. Ini rumah sakit pribadi, bukan rumah sakit umum atau pemerintah. Semua keputusan menjadi hak mutlak keluarga Hong tanpa ada pihak lain yang bisa mencampuri selama hal itu tidak melanggar hukum yang berlaku.
Karena itu, setelah Clown berusaha mati-matian untuk mencari orang yang bisa menjadi informannya, dia bertemu dengan si Preman tadi. Pria yang sebenarnya bekerja sebagai personel sekuriti di rumah sakit tersebut.
Dan sejak itulah, si Preman itu setiap hari rutin memberitahukan perkembangan tentang apa yang terjadi di dalam rumah sakit yang selalu dalam kondisi tertutup dan dijaga ketat itu.
Cuma satu kalimat yang tertulis dalam kertas kecil yang dibawa oleh si Preman tadi.
‘Guru pergi dua hari lagi, Gempal tetap tinggal di sini.’
Clown tersenyum cerah saat mengingat kembali kalimat itu. Sebuah pesan yang jelas, padat dan dia tunggu-tunggu.
“Aisah pergi dan hanya tinggal Sulaiman saja yang menjaga target. Hmmmm. Kalau aku mengambil kesempatan ini, misi pasti sukes,” gumam Clown.
__ADS_1
Dan akhirnya, hari penyerangan pun telah diputuskan oleh Clown. Sesuai kesepakatan dirinya dengan tim Geoffrey, Clown yang akan menentukan waktu terbaik untuk menyerang.
Dan hari itu adalah dua hari dari sekarang.