
Munding lalu teringat kata-kata Bapaknya beberapa menit lalu, Munding lalu menghentikan khayalan yang semakin berkembang liar dalam kepalanya dan menarik napas dalam.
“Mas?” bisik lirih Nurul yang terbangun karena usapan Munding di perutnya.
Munding tersenyum melihat wajah manis istrinya, “Mas kangen Dek,” bisik Munding lirih sambil menunduk dan mencium kening istrinya pelan.
Nurul tersenyum jahil, “Tapi kan Dek Nurul lagi hamil Mas, kasihan Dedek bayinya,” jawabnya pelan.
Munding tertawa kecil, “Nggak pa-pa kok, Mas nanti pelan-pelan aja.”
Muka Nurul memerah, maksud hati mau tetep kekeuh nolak permintaan sang Suami, tapi takut dosa juga. Akhirnya dia hanya pasrah dan memejamkan matanya.
Melihat sikap pasrah sang Istri, tentu saja Munding tidak menyia-nyiakannya, Munding memejamkan mata sejenak untuk berdoa lalu dengan perlahan dia mengecup pelan kening istrinya sembari membuka bajunya sendiri.
Setelah itu Munding membuka gaun tidur yang dipakai Nurul, ketika dia melihat perut membuncit milik istrinya, cuma satu kata yang terlintas dalam kepala Munding ‘seksi’.
Munding juga baru kini menyadari kalau istrinya terlihat jauh lebih menarik dan menawan dengan perut yang membuncit karena kehamilannya. Dengan tangan bergetar, Munding lalu memegang paha istrinya dan membukanya agar dia bisa melihat mahkota milik sang Istri.
Skip skip skip. *Keterusan nanti.
“Tadi katanya pelan,” protes Nurul sambil memeluk suaminya dengan raut muka kelelahan.
“Kan Mas udah pelan tadi?” jawab Munding dengan raut muka kebingungan.
“Pelan apanya, kek gitu kok pelan, Dek Nurul aja sampe ...” kalimat Nurul terhenti lalu dia membenamkan wajahnya ke dada Munding.
Munding cuma tertawa kecil melihat tingkah istrinya. Seperti inilah sebenarnya kehidupan yang aku inginkan, kata Munding dalam hati. Sesaat kemudian, Munding merasakan kantuk mulai menyerangnya, tapi ketika dia hampir terlelap terdengar suara Nurul.
__ADS_1
“Enak aja mau tidur!”
Munding kembali terjaga dan melirik ke arah istrinya.
“Badan Dek Nurul pegel semua ni gara-gara Mas. Pijitin ya?” rengek Nurul manja.
Munding hanya tersenyum kecut mendengar permintaan istrinya, tapi dengan sigap dia bangun dan mulai melaksanakan tugas negara yang diinstruksikan oleh sang Istri.
\=\=\=\=\=
“Calon keponakanku cowok apa cewek?” tanya seorang gadis cantik sambil mengelus perut Nurul dan melihatnya dengan tatapan iri.
“Kami nggak nanya ke dokternya Mbak, biar aja jadi surprise,” jawab Nurul.
Amel lalu berdiri dan mengecup pipi Nurul. Lalu dia menggandeng Nurul dan berjalan berdua menyusuri pematang sawah tak jauh dari rumah Munding. Dua orang wanita berjilbab itu terlihat asyik bercanda dan tertawa di pagi yang cerah dan Matahari belum menunjukkan kegarangannya itu.
Broto, Umar, Pak Yai, Munding dan Afza terlihat sedang duduk bersantai di teras rumah Munding dan melihat ke arah dua wanita yang berada tak jauh dari mereka.
“Tidak ada,” jawab Pak Yai, “Aku juga tidak tahu apakah mereka akan kembali menyerang kesini lagi. Tapi kurasa mereka tidak akan melakukannya lagi.”
Tanda tanya terlihat di wajah Broto.
Pak Yai hanya tertawa melihatnya, “Yang punya dendam sama si Munding kan Yasin, selain dia, kurasa tidak ada lagi yang punya masalah personal dengan Munding. Dan Yasin sekarang mungkin sedang sibuk menghindari kejaran Chaos. Jadi, kemungkinan mereka menyerang kesini sangatlah kecil,” kata Pak Yai.
Broto hanya menganggukkan kepalanya mendengar penjelasan Pak Yai tapi sesaat kemudian dia tersadar, bukankah Munding mempunyai masalah dengan Yasin gara-gara dirinya? Dan tiba-tiba saja Broto merasa sedikit bersalah telah melibatkan keluarga Munding dalam urusan yang membahayakan seperti ini. Bukankah mereka sebenarnya hanya keluarga petani biasa?
Sebuah pikiran lalu terlintas di kepala Broto untuk menebus rasa bersalahnya kepada Munding dan Pak Yai, “Afza, coba kamu temani dulu Amel dan Nurul disana. Takut kalau ada apa-apa,” kata Broto kearah Afza.
__ADS_1
Afza terlihat sedikit kebingungan dengan perintah bernada permintaan dari atasannya. Bukankah aku juga serigala petarung seperti kalian? Kenapa aku harus diusir dari diskusi ini? protes Afza dalam hati.
Tapi tetap saja gadis itu berdiri dan berpamitan kepada senior-seniornya di teras ini lalu berjalan kearah Amel dan Nurul di sawah.
Setelah melihat Afza berlalu, Broto menarik napas dalam, “Ahmad, aku minta maaf telah melibatkan keluargamu dalam semua ini. Aku sungguh-sungguh. Aku tidak pernah berniat untuk mencelakakan keluargamu,” kata Broto pelan.
Pak Yai hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya ke arah Broto.
“Ummmmm. Aku ingin memberi tahu sedikit informasi, tapi kuharap ini tetap jadi rahasia, karena sebenarnya aku tak boleh mmberitahukan ini kepada orang luar,” kata Broto yang disambut diam oleh Pak Yai.
Setelah mereka diam selama beberapa saat, Broto menarik napas panjang lalu berkata, “Chaos dipimpin oleh adik angkatmu,” kata Broto sambil menatap lekat Pak Yai untuk melihat reaksi orang tua itu.
Pak Yai tertegun selama beberapa detik lalu dengan cepat raut mukanya kembali seperti semula. Pak Yai lalu menoleh ke arah Munding yang duduk di sampingnya.
“Munding, kamu lihat ulah Om-mu. Dia tanpa sengaja hampir saja mencelakai keluarga Abang dan keponakannya,” kata Pak Yai setengah bergurau.
Munding terdiam dan masih mencerna kata-kata Broto dan Pak Yai.
“Chaos dipimpin oleh adek angkat Bapak? Adek angkat Bapak yang kutahu cuma satu, Om Leman? Apakah dia pemimpin Chaos? Tapi, kenapa dia membiarkan anggota Chaos menyerang keluargaku? Om Leman, apa maksud semua ini?” pertanyaan demi pertanyaan terngiang di kepala Munding dan membuatnya merasa kebingungan.
Bletakkkk.
“Aduhhhhh,” rintih Munding sambil memegangi kepalanya yang baru saja dijitak oleh Pak Yai, “Sakit bener,” keluh Munding dalam hati sambil melihat Pak Yai dengan pandangan memelas.
“Kamu lama tak kupukul pakai rotan ya? Jadi bikin kepala dan jalan pikirmu semudah itu terombang ambing?” kata Pak Yai sambil melotot ke arah Munding.
Munding hanya bisa mengelus-elus kepalanya sambil menundukkan kepalanya kebawah. Entah kapan terakhir kali Pak Yai melakukan kekerasan fisik pada dirinya. Ini kali pertama setelah sekian lama, lalu sebuah pikiran terbersit dalam kepala Munding, “nanti kalau anakku sudah lahir, masa iya sih Bapak tega mukul aku di depan cucunya?”
__ADS_1
“Munding, dengar ini. Leman itu saudaraku. Dia itu pamanmu. Kita keluarga. Keluarga tidak saling menyakiti satu sama lain. Camkan itu!!” kata Pak Yai tegas dan kembali melayangkan pandangannya ke arah sawah di seberang jalan rumah Munding.
Semua orang lalu terdiam setelah mendengar kalimat terakhir Pak Yai.