
Kelima pemuda itu juga mengalihkan perhatian mereka kearah Citra dan Amel.
Si Bocah Gundul yang tentunya si Wowo dari Sriwijaya melihat kedua gadis cantik itu dengan mata yang berbinar-binar. Salah satu alasan dia tidak berhenti tersenyum dari tadi adalah baru kali ini dia diundang ke acara ulang tahun seorang gadis SMA yang tentunya banyak gadis-gadis cantik yang datang.
Anak-anak Sriwijaya juga merayakan ulang tahunnya, tapi caranya berbeda. Mereka akan mabuk bersama kemudian membuat sebuah gelanggang dan saling baku hantam sampai terkapar di dalam arena tersebut.
Mana bisa dibandingin dengan acara ultah bertabur gadis manis seperti yang dia hadiri sekarang.
“Si Wowo ni yang ngajari aku,” jawab Munding setengah bercanda.
Wowo yang dijadikan kambing hitam oleh Munding langsung mendelik ke arah Munding dan mengacungkan tangannya ke arah Munding, “eh, setan. Ente kalau ngomong kira-kira ya? Mana pernah ane ngajari ente ngerokok. Yang ada, ente dulu malak rokok ane. Ngaku? Kampret bener sih ente,” jawab Wowo sok suci dan jaim di depan para gadis dengan ekspresi muka yang berapi-api.
Citra dan Amel langsung tertawa melihat gaya bicara dan ekspresi wajah Wowo. Si Wowo memang aneh banget, dia kalau ngomong memang ekspresif. Masih ingat kan kejadian dia mau membanting hp, cuma gara-gara dikatain jomblo ngenes sama A Long lewat grup whatsapp?
Melihat dirinya diketawain oleh dua orang gadis, Wowo cuman tersenyum kecut dan mengelus-elus kepalanya yang gundul itu. Keempat pemuda lainnya cuma tertawa melihat tingkah Wowo.
“Kamu tu lucu ya?” tiba-tiba terdengar suara celetukan Citra memecah ketawa mereka berempat.
Ngingggggggggg. Krik krik krik krik.
Semua orang tiba-tiba terdiam.
Wowo Gundul, komandan perang dari SMK Sriwijaya, yang selalu teriak paling keras dan berdiri paling depan saat tawuran. Yang bukan sekali dua masuk kantor polisi dan disuruh menghormat bendera seharian, yang namanya saja bisa bikin gemetar semua sekolah di sekitar mereka, dibilang lucu?
Citra melirik kearah mereka semua yang tiba-tiba terdiam dan sedikit kebingungan.
“Citra, lu masih jomblo kan?” tanya A Long, “dah gih, si Wowo untuk lu aja. Gue jamin dia itu masih perjaka ting ting, belum pernah pacaran soalnya,” lanjut A Long sambil tertawa.
Dan anehnya, entah kenapa si Citra sama sekali tidak membantah dan menolak godaan A Long. Setelah itu, Wowo dan Citra saling melirik satu sama lain. Kelima orang lainnya cuma tertawa-tawa dan mulai membully mereka berdua.
__ADS_1
Entah sejak kapan, Amel sudah berdiri di sebelah Munding dan memegang ujung jumper baju cowok itu. Teman-teman mereka yang lain cuma melirik sekilas ke arah mereka berdua dan melihat tingkah Amel, tapi mereka sama sekali tidak mengomentarinya. Mereka masih asyik membully pasangan baru yang sedang berusaha mereka satukan.
Wowo dan Citra.
Meskipun mereka tidak tahu apakah Citra tahu tentang identitas si cowok lucu-nya itu.
\=\=\=\=\=
Saat acara potong kue tengah berlangsung tiba-tiba terdengar suara raungan motor bersahut-sahutan dari depan rumah Citra. Semua anak-anak yang sedang asyik mengikuti jalannya rentetan acara ulang tahun Citra juga kaget mendengar suara itu.
“Munding *******!!! Keluar sini kau!!” terdengar sebuah teriakan dari luar gerbang.
Munding yang sedari tadi mulai merasa bosan dengan acara ala anak kota ini tersenyum, “akhirnya datang juga,” gumam Munding.
Keempat kawan Munding, A Long, Wowo, Fariz dan Rin saling bertatapan mata dan menganggukkan kepalanya. Mereka berlima kemudian berdiri dan berjalan ke arah gerbang depan.
Amel berdiri dan mengikuti Munding berjalan ke depan. Citra yang baru saja memberikan potongan kuenya ke Mamanya terlihat sedikit cemas. Papa Citra juga berlari ke dalam untuk menghubungi pihak keamanan komplek perumahan mereka.
Dalam gelapnya malam dan hanya diterangi oleh lampu penerangan jalan seadanya, ada 5 buah sepeda motor dan satu buah mobil berhenti di depan mereka. Setiap motor itu dinaiki oleh tiga orang pemuda dengan dandanan sangar dan mereka semua menggunakan jaket hitam yang terlihat sama.
Ada gambar tengkorak dan dua botol minuman menyilang sebagai lambang di punggung mereka.
MinMaks.
Sebuah nama muncul di kepala semua orang yang menyaksikan gerombolan geng motor yang sedang beraksi dan membuat suara bising di depan mereka itu.
Dari dalam satu-satunya mobil yang datang bersama rombongan motor itu, keluar tiga orang pemuda. Rey, Ardi dan Bram. Citra menutup mulutnya sendiri ketika melihat Rey bersama Bram dan membuat onar di acara ultahnya.
"Kok kamu tega gitu sih Rey?" keluh Citra dalam hati.
__ADS_1
Ketiga pemuda tersebut terkejut ketika melihat lima orang pemuda berdiri di depan gerbang rumah Citra. Munding memang target mereka, tapi kenapa bisa ada A Long, Fariz, Rin dan bahkan si gundul? Bukankah dia Wowo dari Sriwijaya? Ngapain dia disini?
Dari kelima orang ini, Bram paling tidak mau berurusan dengan si Gundul, karena kalau sampai terjadi apa-apa sama Wowo, itu artinya dia sudah mengobarkan bendera perang sampai titik darah penghabisan dengan tak kurang dari 360 orang siswa SMK Sriwijaya.
Pasukan yang bahkan saat MinMaks masih jaya tetap membuat Bram berpikir 10 kali sebelum berani memutuskan all out war dengan mereka.
“Wo, kau ngapain disini? Ini urusan Harsa, nggak ada sangkut pautnya sama kau,” teriak Bram.
“Enak aje ente bilang nggak ada urusan sama ane. Ini ultah cewek ane, kalian bikin onar disini, masih berani bilang ini bukan urusan ane?” balas Wowo dengan teriakan yang tak kalah keras.
Semua orang melihat ke arah si Gundul itu, Munding dan kawan-kawannya melihat Wowo dengan pandangan mata yang agak aneh, “kamu kenal sama Citra juga baru berapa jam yang lalu, sudah ngaku-ngaku pula jadi cowoknya,” begitulah kira-kira isi hati mereka.
Dan yang lebih aneh lagi, Citra justru tersipu malu sambil menundukkan mukanya ketika mendengar teriakan Wowo. Amel cuma tersenyum dan memegang tangan Citra yang berdiri di sebelahnya.
“Biarlah, daripada cowok brengsek seperti Rey, mungkin lebih baik Citra jalan sama cowok sarap seperti Wowo. Lagian, dia kan temen Munding, dia pasti cowok baek-baek,” batin Amel dalam hati.
Bram melirik kearah Rey dengan tatapan penuh tanya dan menyalahkan. Rey juga terlihat kebingungan, bukankah si Citra itu naksir dirinya? Kok bisa sih ada si Wowo Gundul disini? Rencana mereka yang sebelumnya terlihat sempurna mulai tertutupi oleh kabut tipis yang membuat mereka menjadi agak ragu.
“Bram, kupikir lu udah mati di selokan mana gitu, ternyata lu masih idup ya?” kata A Long pelan.
“Jangan banyak omong kau Long! Kalian pikir dengan adanya kalian berlima, kalian bisa melawan kami,” jawab Bram yang mulai kalap dan berpikiran nekat.
Dan tiba-tiba saja, Bram mengangkat tangannya dan mengeluarkan perintahnya, “serang!!!!”
Anggota geng MinMaks turun dari motornya masing-masing dan menyerbu ke arah lima orang pemuda yang berdiri di depan gerbang rumah Citra.
“Mel, sembunyi di dalam, cari tempat aman,” kata Munding pelan ke arah Amel yang berdiri di belakangnya dan di sebelah Citra.
“Iya,” jawab Amel sambil menganggukkan kepalanya dan tersenyum manis ke arah Munding.
__ADS_1
Wowo yang menyaksikan adegan itu merasa iri sekali, dengan nekat dia juga melihat kearah Citra, “Ayang ikut sembunyi sama Amel ya, biar Mas Wowo bisa konsentrasi melindungi Ayang,” kata Wowo kearah Citra.
Muka Citra memerah tapi tidak menjawab kata-kata Wowo, dia justru menjulurkan lidahnya kearah si Gundul itu dan masuk ke rumahnya bersama Amel.