
“Pa.”
Citra memanggil Papanya setelah masuk ke dalam rumah. Dia melihat Papanya terlihat panik dan sedang menghubungi seseorang dengan HP-nya. Sesekali Papa akan berkata keras dan mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti.
Papa Citra adalah seorang pebisnis yang handal dengan relasi yang luas. Dia juga selama ini sering menggunakan jasa preman untuk memperlancar usahanya dan tentu saja terkadang pihak berwenang juga, jika memang dibutuhkan.
Tapi, dia sendiri tidak pernah secara langsung menghadapi situasi kekerasan seperti ini seumur hidupnya. Karena itulah Papa terlihat pucat dan panik.
“Lima belas menit lagi, Polisi akan datang ke rumah kita untuk menangkap gerombolan perusuh yang diluar sana,” kata Papa berusaha menenangkan Citra dan istrinya.
Amel yang berdiri di sebelah Citra terlihat tenang dan mengeluarkan handphonenya. Amel menjadi sedikit tidak sabar dan uring-uringan setelah beberapa detik panggilannya tidak diangkat oleh orang yang ditelponnya.
Tak lama kemudian terdengar suara laki-laki dari seberang sana, “Sayang, tumben kamu telpon Papa ke nomor ini.”
“Papa kok lama sih angkatnya?” jawab Amel ketus.
“Papa lagi sibuk tadi,” kata Pak Broto dari seberang telepon.
“Sibuk apaan malam-malam gini?” potong Amel, tapi Citra yang berada di sebelahnya menggunakan dagunya untuk menunjuk ke arah gerbang depan dan Amel pun tersadar. Mereka punya masalah yang sedang dihadapi sekarang ini.
“Pa, kami ada masalah, ada segerombolan anak geng motor yang nyerang tempat ultah sahabat Amel. Pokoknya Amel nggak mau tahu, kirim orang kesini dalam waktu lima menit,” kata Amel cepat.
Pak Broto yang ada di seberang telpon terdiam, “apaan sih ini? Orang lagi enak-enak sama si Reni juga,” protes Pak Broto dalam hati kepada anak semata wayangnya.
Tapi tentu saja dia tidak akan berbicara seperti itu kepada anak gadis tunggalnya.
“Alamatnya dimana?” jawab Pak Broto sambil menggerutu, “kan ada Munding di situ, mau puluhan orang anak geng motor juga pasti dilibas sama dia,” sambungnya dalam hati.
__ADS_1
“Di Gombel, Perumahan Bukit Permai. Cepet ya, lima menit,” kata Amel sambil menutup telponnya.
Amel melirik ke arah Citra sambil tersenyum bangga, persis kelakuan anak kecil yang minta dijitak, eh salah, dipuji. Citra membalasnya dengan mengacungkan jempol. Cuma Papa dan Mama Citra yang kebingungan dengan teman anaknya. Siapa yang ditelponnya tadi?
Bruaaakkkkkkkkk.
Suasana yang tadi sudah mulai terasa aman, rusak kembali dengan suara tendangan ke arah pintu ruang tamu yang ditutup Citra tadi. Tiga orang pemuda masuk ke dalam rumah dari arah halaman depan.
Seorang pemuda berwajah ganteng dan hanya memakai kaos lengan pendek berwarna hitam dengan lambang tengkorak dan dua botol menyilang. Tattoo terlihat memenuhi seluruh lengannya. Mungkin, sekujur tubuhnya juga dipenuhi dengan tattoo tapi tidak terlihat karena tertutupi kaos.
Bocah kedua memakai jaket hitam dengan lambang yang sama dengan pemuda pertama tadi. Wajahnya tidak terlalu ganteng tapi badannya kekar dan tinggi. Terlihat sekali kalau dia adalah tipe jongos dan hanya menjadi suruhan si bocah pertama.
Bocah ketiga mengenakan kemeja lengan panjang yang dimasukkan dengan rapi ke dalam celananya. Rambutnya disisir rapi, kulitnya putih dan bibirnya terlihat seperti menggunakan lip gloss. Dia yang paling ganteng diantara mereka bertiga, tapi seandainya rambutnya panjang dan suasana agak temaram, pasti tidak ada yang bisa membedakan kalau dia adalah seorang pria.
Mereka adalah Bram, Ardy dan Rey. Si Trio Kwek Kwek.
Seisi ruangan kaget saat melihat ketiga orang pemuda tersebut memasuki rumah keluarga Citra, selain Citra, Amel dan keluarga Citra, banyak kawan-kawan Citra yang datang ke acara ultah ini juga ikut bersembunyi dan mengamankan diri disini.
“Diammmmm!!!” teriak Bram keras.
Semua jeritan dan teriakan pun menghilang. Beberapa cewek teman Citra mulai terisak-isak menahan tangis.
“Urusanku sama Amel, yang lain, pergi dari rumah ini!” kata Bram yang dengan cepat disambut oleh semua orang yang ada dalam rumah ini dengan mengambil jurus langkah seribu ke luar rumah dan ke arah kendaraan mereka.
Amel terlihat tenang dan berdiri tegak tanpa terlihat gentar sama sekali. Dia anak seorang Jenderal, tentu tidak akan takut kepada Bram dan dua kroconya.
Citra terlihat ketakutan tapi dia memutuskan untuk tetap bertahan di samping Amel. Amel yang menjadi sahabatnya tak lebih dari enam jam yang lalu. Tapi Citra tidak ingin meninggalkannya sendirian.
__ADS_1
Papa dan Mama Citra melirik ke arah kedua gadis yang berdiri saling bersebelahan itu dan tersenyum, “anak muda, apa maksudmu melakukan ini di rumahku?” bentak Papa Citra ke Bram.
“Diam kau!!! Sudah kubilang ini bukan urusanmu. Kau pikir aku tak berani untuk menembak kepalamu?” kata Bram sambil merogoh sesuatu yang dari tadi tersembunyi di balik kaosnya.
Sebuah pistol rakitan.
Amel yang tadi terlihat tenang mulai sedikit cemas. Dia dapat melihat sekilas dari bentuk dan bagaimana cara Bram mengangkatnya, Amel tahu kalau pistol di tangan Bram adalah senjata sungguhan, bukan replika dan bukan juga air soft gun yang sering digunakan untuk menakut-nakuti orang.
Citra menjerit kecil dan berdiri di belakang Amel sambil memegangi gaun gadis itu. Lutut kedua orang tua Amel juga mulai gemetar ketika melihat sepucuk pistol ditangan pemuda nekat di depan mereka.
“Ardy,” panggil Bram, “ikat kedua orang tua Citra, masukkan mereka ke ruangan terpisah, biar mereka tidak bisa saling bersekongkol dan merencanakan sesuatu.”
“Rey, kau ikut aku,” kata Bram, “kita lakukan apa yang sudah kita rencanakan, kau siap kan?” tanya Bram kearah Rey yang dibalas Rey dengan menundukkan kepala.
Bram kemudian maju dan mengacungkan pistolnya ke arah Papa dan Mama Citra dan mengancam akan menembak anak mereka jika mereka tidak mau bekerja sama. Kedua orang itu pun menuruti permintaan Bram dan membiarkan Ardy mengikat mereka.
Ardy kemudian memasukkan Papa Citra ke dalam kamar tamu di belakang ruang tamu dan kembali ke ruang tengah tempat Bram dan Rey menunggu. Tak lama kemudian, dia membawa Mamanya Citra ke kamar tamu satunya lagi.
Melihat kedua orang tua Citra sudah diamankan, Bram mendekati Amel dan menodongkan pistol ke kepala Amel, “aku sekarang akan menikmati perawanmu, gadis Jalang.”
“Kau pikir, kau yang terhebat ya kan? Selalu angkuh dan memandang rendah kami kan? Mentang-mentang Papamu punya pengaruh luar biasa di militer?”
“Sekarang kau bisa apa ha?” tanya Bram dengan mata melotot dan wajah yang hampir menempel dengan wajah Amel.
Plakkkkkkkkk.
Dengan cepat Amel menampar muka Bram dan membuat tubuh Bram terhuyung ke belakang, “hentikan sebelum terlambat! Mungkin bukan hanya dirimu yang akan menanggung akibatnya jika semua ini sudah terlanjur terjadi,” kata Amel dengan suara bergetar.
__ADS_1
“Terlanjur? Apalagi yang tersisa untukku? Aku tidak punya apa-apa lagi sekarang, semua gara-gara kekasihmu!! Si anak baru, bocah gila, keparat itu,” racau Bram dengan napas terengah-engah dan bibir yang pecah di bagian ujung karena tamparan keras Amel barusan.
Dengan cepat Bram melihat ke arah Rey yang ada di belakangnya, “kau kenapa diam saja Tolol? Siapkan handphonemu untuk merekam!!”