Munding - Legenda Serigala Petarung

Munding - Legenda Serigala Petarung
Chapter 168 - Tangkap Dia!! (part 1)


__ADS_3

"Sudah berapa yang terkumpul?" tanya seorang laki-laki kepada wanita yang ada dalam pelukannya.


"Sudah lebih dari cukup Mas. Kenapa? Mas ingin berhenti?" tanya wanita cantik itu sambil tersenyum manis ke arah kekasihnya.


"Semua uang kan disimpan dalam rekeningmu. Kamu bawa uang itu dan pergi ke tempat yang kamu suka untuk menetap disana. Bangun rumah yang indah dan megah untuk keluarga kita. Lalu, tunggu aku disana. Masih ada sesuatu yang ingin kulakukan," gumam si laki-laki yang terlihat sudah berumur tetapi masih memiliki tubuh yang cukup kekar, tak sesuai dengan rambutnya yang sudah dipenuhi uban dan kerutan di wajah yang tak bisa lagi menutupi usianya.


Si gadis cantik berambut panjang itu segera berdiri dan melepaskan diri dari pelukan kekasihnya dan menatap wajah si laki-laki dengan tatapan penuh tanya.


"Mas mau ngapain?" tanya Nia dengan raut muka kawatir.


Yasin hanya menundukkan kepalanya dan melirik ke arah tangan kirinya yang terkulai lemas di samping tubuhnya. Tangan kiri yang ototnya semakin lama semakin mengecil karena tak pernah digunakan lagi itu, lebih tepatnya tak bisa digunakan lagi. Tangan kiri yang tulangnya patah dan remuk saat bertarung melawan Munding di halaman rumah Yusuf waktu itu.


"Bocah itu? Munding?" tanya Nia, "Mas sendiri yang bilang kan kalau kita harus melupakan dia. Bocah itu anak didik senior Mas yang punya sebutan Izrail kan? Entah sudah berapa kali Nia mendengar Mas bercerita tentang kehebatan Izrail saat jaman konflik dulu. Tapi sekarang justru Mas yang mau mencari gara-gara dengan mereka," cerocos Nia.


Yasin tersenyum dan menarik napas panjang, "laki-laki harus punya tujuan. Aku sudah menemukan tujuanku, menghabiskan sisa hidupku denganmu. Tapi aku butuh sesuatu untuk kelulusanku. Sebelum aku sepenuhnya berhenti dari dunia kelam ini, aku ingin membuat perhitungan dengan bocah yang membuatku cacat dan tidak sempurna lagi," gumam Yasin.


"Mas mungkin sekarang bisa mengalahkan bocah itu. Lalu? Saat Izrail datang, Mas mau ngapain? Mas mau ninggalin Nia sendirian? Semua uang yang susah payah kita kumpulkan tak akan ada artinya kalau Mas nggak ada," jawab Nia.


"Nia, aku juga tak mau itu terjadi. Aku sudah memikirkan semuanya dengan masak. Chaos penuh dengan orang-orang culas yang menyembunyikan kemampuan mereka yang sebenarnya. Semakin dalam dan lama kita bergabung dengan mereka, mungkin nyawa dan uang kita juga akan menjadi taruhannya. Aku tahu itu," kata Yasin pelan.

__ADS_1


"Aku ingin menggunakan kekuatan Chaos untuk menahan Izrail sementara aku membalaskan dendamku kepada anak didiknya. Izrail memang kuat. Sampai detik ini, aku tahu kalau aku sama sekali bukan lawannya. Tapi dengan bantuan Chaos, setidaknya aku akan punya cukup waktu untuk menuntaskan urusanku dengan bocah itu. Sebagai balasan atas bantuan mereka, aku akan melakukan tiga tugas tanpa bayaran, jika mereka bisa membantu menahan Izrail dan memberikan aku kesempatan untuk menghabisi anak didiknya dan pergi dengan nyawa masih menempel di tubuhku," lanjut Yasin dengan suara yang masih pelan tapi tegas.


"Kalau memang menurut Mas memang aman dan tidak akan terjadi masalah, aku ingin ikut juga," kata Nia sambil memeluk Yasin.


"Tidak! Aku akan menemanimu mencari tempat untuk menetap di desa terpencil, lalu aku akan pergi selama beberapa hari untuk upacara kelulusanku," bantah Yasin.


Nia hanya terdiam dan tetap memeluk tubuh Yasin semakin erat.


\=\=\=\=\=


Sebuah mobil melaju kencang dengan kecepatan sedang di atas jalan berbatu yang tidak rata. Di kiri kanan jalanan yang belum diaspal ini, terlihat sebuah kebun teh yang terhampar rapi dengan beberapa ibu-ibu yang menggunakan caping sedang memetik pucuk daun teh dan memasukkannya ke dalam keranjang yang ada di punggungnya.


Seorang informan dari kepolisian memberikan info bahwa seorang gadis muda dan cantik tiba-tiba membeli sebuah rumah dan tinggal di sebuah desa kecil yang terletak di tengah pegunungan yang selama ini menjadi desa penghasil daun teh. Desa tersebut memang terletak di dekat obyek wisata pemandian air panas yang dipenuhi oleh hotel-hotel melati yang sering dipakai untuk transaksi kenikmatan. Tapi, jarang sekali ada gadis penjaja kenikmatan yang bersedia untuk tinggal di desa terpencil mereka.


Sebuah informasi sepele yang mungkin buah dari keisengan informan bejat yang sering keluyuran ke daerah-daerah dingin di pegunungan. Tapi, saat foto sang gadis masuk ke meja tim Merah Putih, Munding langsung mengenali wajah gadis itu. Gadis cantik yang di kemudian hari Munding ketahui bernama Virginia Lofiani dan merupakan saudara kandung dari Santi Lofiani, kekasih Yasin, Sang Guru yang menjadi mastermind dari tragedi di sekolah Harapan Bangsa.


Informan lain yang lebih professional lalu diterjunkan dengan segera untuk memantau situasi dan kondisi di daerah tersebut untuk mengetahui kondisi detail Nia. Dengan siapa dia tinggal, apakah Yasin sering berkunjung, apakah rumah yang ditempatinya sekarang adalah sebuah rumah biasa atau menjadi markas bagi Chaos.


Hanya dalam waktu 3 jam setelah informasi itu didapatkan, Munding, Afza, Rony, dan Mia langsung diterjunkan ke lokasi untuk mengeksekusi penangkapan paksa Nia. Hanya empat orang yang diturunkan, karena Tim sudah mengkonfirmasi kalau Nia hanya tinggal sendirian di tempat ini.

__ADS_1


Munding menarik napas panjang saat dia melirik ke arah wanita-wanita yang dengan damai dan bersenda gurau itu sedang memetik pucuk daun teh ditemani udara hangat mentari pagi dan dinginnya hawa pegunungan di tempat ini. Tak ada pertarungan, tak ada konflik, hidup mengalir bagaikan air di sungai. Gaya hidup yang selama ini dia impikan.


"Kenapa? Ada yang cantik ya? Dari tadi kok melotot aja ke arah mereka?" tegur Afza ke arah Munding yang masih asyik melihat ke arah wanita-wanita pedesaan itu dengan tatapan iri.


Munding hanya tersenyum kecut menanggapi kata-kata Afza. Tak lama kemudian mobil mereka berhenti di sebuah halaman rumah dan mereka berempat turun dari mobil dengan cepat. Mereka lalu masuk ke dalam rumah dan di dalam rumah sudah terdapat 3 orang berpakaian taktis sedang menunggu mereka.


"Kami dari tim Gegana, sesuai permintaan Tim Merah Putih, ada tiga unit dengan kekuatan tiga puluh personnel siap membantu dalam misi ini," kata salah satu dari tiga orang itu, kelihatannya tiga orang ini adalah komandan dari masing-masing unit.


"Bawa peta desa ini dan intelijen terakhir yang kita punya!" perintah Mia dengan tegas.


"Siap Bu!" jawab mereka lalu bergerak dengan cepat memenuhi perintah Mia.


Mia dan Rony adalah petarung elite dari Brimob. Mereka dipilih untuk misi kali ini karena target mereka adalah polisi juga. Sedangkan Munding dan Afza dipilih karena Munding pernah berduel melawan pasangan Yasin dan Nia.


Tak lama kemudian, sebuah peta coretan tangan sederhana tapi cukup menggambarkan kondisi desa kecil ini sudah diletakkan di atas meja oleh salah satu dari tiga orang komandan unit yang tadi ada dalam ruangan.


"Intelijen!" perintah Mia, saat seperti ini, Mia memang lebih dominan daripada rekannya Rony yang sama-sama dari Brimob.


"Menurut data terakhir yang kita dapatkan, target tinggal di rumah ini ..."

__ADS_1


Lalu, ceritanya bersambung lagi esok hari. Wkwkwkwk.


__ADS_2