Munding - Legenda Serigala Petarung

Munding - Legenda Serigala Petarung
Chapter 169 - Tangkap Dia!! (part 2)


__ADS_3

"Intelijen!" perintah Mia, saat seperti ini, Mia memang lebih dominan daripada rekannya Rony yang sama-sama dari Brimob.


"Menurut data terakhir yang kita dapatkan, target tinggal di rumah yang terletak disini. Di bagian sebelah barat dan utara ada rumah warga yang lain sedangkan di bagian selatan dan timur, langsung berbatasan dengan kebun teh dan jalan berbatu. Sampai lima menit yang lalu, target masih dikonfirmasi berada di dalam rumah. Tak ada seorang tamu pun yang datang mengunjunginya," jelas sang komandan unit.


Mia dan Rony terlihat berpikir sebentar, tapi sebelum sempat mereka mengeluarkan kata-kata, Munding terlebih dahulu membuka suara, "apakah anggotamu mengepung rumah itu sekarang?"


Sang komandan terlihat ragu untuk menjawab pertanyaan Munding, dia melirik ke arah Mia dan setelah Mia menganggukkan kepalanya, sang Komandan menjawab pertanyaan Munding, "Iya, anggota kami telah mengepung rumah itu sejak subuh tadi dengan jarak radius pengepungan 150m dari posisi rumah target."


"Tarik mundur!" kata Munding pelan tapi tegas.


Sang Komandan jelas kaget mendengar kata-kata Munding yang bernada memerintahnya, dia terlihat ingin membantah dan mempertanyakan kata-kata pemuda yang dia tahu bukan dari militer ataupun kepolisian ini, tapi suara Mia sudah mendahuluinya terlebih dulu.


"Kenapa?" tanya Mia.


"Karena target kita adalah seorang serigala petarung juga. Terakhir aku bertemu dengannya, dia masih tahap awakening. Aku tidak tahu sekuat apa naluri yang dimilikinya, sebagai perbandingan, saat aku masih remaja dan dalam tahap inisiasi awal. Aku tahu kalau ada 20 orang anggota SatGultor bersenjata lengkap mengepungku dari jarak 200an meter," kata Munding memberikan penjelasan ke arah Mia, "dan saat itu aku sedang tertidur."


Semua orang terdiam mendengar kata-kata Munding. Ada beberapa kata yang membuat mereka tercengang, remaja, inisiasi, SatGultor, dan pengepungan.


"Remaja seperti apa yang sudah melakukan inisiasi sebagai serigala petarung dan membutuhkan dua unit Satuan Penanggulangan Teror untuk menangkapnya?" teriak mereka semua dalam hati masing-masing.


"Tarik!" perintah Mia tanpa berpikir panjang.

__ADS_1


"Siap Bu!" jawab sang Komandan lalu segera memberikan perintahnya melalui alat komunikasinya.


"Apa idemu?" tanya Mia lagi ke arah Munding, kali ini, dia sangat tertarik untuk mendengar usulan laki-laki sipil yang susah ditebaknya ini.


"Kita semua manusia dewasa, yang berpikiran dewasa dan tentu saja tahu mana pilihan yang harus dibuat. Saranku sederhana, kita berempat datang ke rumah itu secara terbuka sebagai tamu dan memintanya baik-baik untuk ikut bersama kita," kata Munding.


"Dia seorang polisi, tentunya dia tahu prosedur kalian saat melakukan penangkapan seorang tersangka. Dia pasti sudah tahu kalau ada puluhan polisi yang mengepungnya. Sekalipun dia mungkin punya peluang untuk melarikan diri kalau berusaha melewati perimeter yang dibentuk oleh Brimob. Tapi itu akan memberikan cukup waktu bagi kita untuk mengejar dan membekuknya," lanjut Munding.


"Aku setuju, kita lakukan dengan caramu," jawab Mia pendek, dia tidak terlihat sama sekali meminta pendapat Rony.


Sedangkan Afza? Sedari tadi dia hanya berdiri diam di samping Munding dan tak melepaskan perhatiannya dari Munding, seolah-olah sedang mencermati semua perkataan Munding dan mengikuti diskusi mereka dengan seksama. Padahal, hanya Tuhan yang tahu apa yang ada di kepala gadis manis itu.


Akhirnya mereka berempat sepakat untuk mengikuti saran Munding dan berjalan ke arah rumah Nia yang menjadi target mereka. Perimeter yang dibentuk oleh tim Brimob pun ditarik mundur sejauh 300m dari rumah yang dijadikan target mereka untuk area terbuka seperti perkebunan teh. Untuk area yang berupa pemukiman, mereka tetap dalam posisi awal mereka.


"Assalamualaikum," salam Munding dengan suara keras.


Tak terdengar suara apapun dari dalam rumah. Ketiga rekan Munding diam-diam mengambil posisi siaga dan melayangkan pandangan mereka ke arah rumah sambil mencari tanda-tanda pergerakan apapun yang ada di dalam rumah.


"Assalamualaikum," Munding mengucapkan salam untuk yang kedua kali dengan suara yang lebih keras.


Rony, Mia, Afza memperhatikan semuanya dengan tegang. Mereka sama sekali tidak takut dengan serigala petarung tahap awakening yang menjadi target mereka. Mereka hanya takut kalau semua ini adalah jebakan yang sengaja dibuat oleh Chaos untuk menggiring mereka ke sini. Tentu saja mereka tegang sekali saat ini.

__ADS_1


Munding tersenyum kecil.


Cklek.


"Waalaikumussalam," sebuah suara lirih seorang wanita terdengar dari celah pintu yang dibuka sedikit.


"Bu Nia, Ibu pasti tahu siapa aku. Ibu juga pasti tahu siapa yang datang bersamaku dan telah mengepung tempat ini," kata Munding pelan sambil menjelaskan situasinya secara gamblang.


"Munding, kupikir urusan kita sudah berakhir saat itu. Kenapa kamu datang kemari mencariku bersama segerombolan anggota Brimob bersenjata lengkap ke rumahku?" tanya Nia dengan nada datar.


"Virginia Lofiani, kamu telah resmi menjadi tersangka karena keterlibatan dirimu dengan kelompok ******* yang menamakan dirinya Chaos. Kami mempunyai surat penugasan tertulis untuk membawamu ke kantor untuk diperiksa. Baik secara sukarela ataupun paksa," potong Mia sambil berdiri di sebelah Munding dan membusungkan dadanya yang sebenarnya sudah menggunung secara alami.


"Gadis kecil, aku dulu juga seorang polisi sepertimu. Tak usah sok menggunakan authoritative psychology kepadaku," cibir Nia ke arah Mia, "aku sudah melihat jauh lebih banyak dari apa yang bisa kau bayangkan," lanjutnya sambil menatap tajam ke arah Mia.


Tak ada intent ataupun sesuatu yang spesial dalam tatapan mata Nia, tapi Mia merasakan kalau bulu kuduknya sendiri berdiri karena tatapan mata wanita itu.


"Kalian," kata Nia sambil menunjuk ke arah Mia, Romy, dan Afza, "hanyalah serigala yang dibesarkan dalam kebun binatang. Sekalipun kalian tahap Inisiasi, intent kalian tak akan sanggup untuk membuatku yang hanya tahap awakening gemetar dan merasa takut," lanjutnya sambil mencibir.


"Bu Nia, Ibu tahu kan kalau Ibu sudah tidak mungkin melarikan diri lagi. Sebaiknya Ibu bekerja sama dengan kami dan ikut tanpa paksaan," bujuk Munding.


"Bocah, kenapa kau dari tadi selalu memanggilku dengan sebutan Ibu? Ha?" geram Nia ke arah Munding.

__ADS_1


Sebenarnya bukan hanya Nia yang penasaran, rekan-rekan Munding pun juga mempunyai pertanyaan yang sama dengan yang dilontarkan oleh Nia barusan.


Munding terdiam agak lama lalu bergumam pelan, "kamu mengingatkanku kepada wali kelasku. Dia bernama Santi, Santi Lofiani. Kamu kenal dia?" tanya Munding dengan pandangan sedih.


__ADS_2