Munding - Legenda Serigala Petarung

Munding - Legenda Serigala Petarung
Chapter 93 - Supersonic


__ADS_3

Hanya ada satu hal yang layak dilakukan kepada seseorang sebejat Bram, meskipun itu berarti Munding akan melanggar pantangan yang diberikan oleh Pak Broto saat memberikan misinya dulu.


Menghabisi nyawa Bram.


Munding bergerak mendekati Rey dalam kondisi mode tarung dan berdiri di belakang Rey yang masih membeku dalam posisinya memegang hp untuk merekam aksi mereka.


Krakkkkkkkkkkk.


Aaaahhhhhhhhhhhhhhhh.


Suara sesuatu yang patah atau remuk terdengar dan sesaat kemudian jeritan keras kesakitan menyusulnya. Handphone yang dipegang oleh Rey terjatuh ke lantai karena pergelangan tangannya sudah diremas oleh Munding sekuat tenaga dan patah. Telapak tangan Rey juga terlihat terkulai lemah ke bawah.


Munding keluar dari mode tarungnya setelah mematahkan pergelangan tangan Rey.


Citra membuka matanya yang terpejam dari tadi ketika mendengar suara teriakan keras itu. Dia sangat terkejut ketika melihat sesosok tubuh yang terlihat lusuh dengan jumper yang compang-camping. Darah juga terlihat mengalir dari perut Munding yang terluka karena sabetan clurit tadi.


Citra menutup mulutnya ketika melihat luka merah menganga di perut Munding itu.


Amel yang sudah berniat untuk menggigit adek kecil Bram sampe putus dan menyerahkan nasib selanjutnya kepada takdir, menolehkan kepalanya kearah manusia menjijikkan yang dulu pernah dia kejar-kejar itu, si Rey.


Tapi ketika dia melihat sesosok pemuda sedang memegangi tangan Rey dan meremukkannya, semua rasa cemas, takut, kuatir dan tidak menentu menghilang dari dada Amel. Karena Amel melihat sosok laki-laki dengan wajah kampungannya yang sudah memiliki tempat khusus dalam dirinya.


Munding.


Bram yang baru saja merasakan hembusan nafas hangat dari hidung dan bibir Amel di area selangkangannya, memutar tubuhnya ketika mendengar teriakan Rey. Padahal sedikit lagi, dia akan merasakan ******* bibir mungil si Amel.


Dengan cepat, Bram langsung mengacungkan pistolnya ke arah laki-laki yang barusan datang tadi. Tapi belum sempat dia mengarahkan pistol di tangannya, laki-laki itu sudah mengayunkan pisau tangan ke tengkuk Rey dan membuat cowok tanpa nyali itu rubuh ke lantai tak sadarkan diri.


Bram kemudian mengenggam pistol dengan kedua tangannya dan mengarahkannya ke Munding.


Sebuah pemandangan yang sedikit lucu, seorang laki-laki dengan adek kecilnya yang terlihat bergelayutan di ************ dan celana yang melorot sampai keatas dengkulnya sedang mengacungkan pistol dengan kedua tangan dan menodongkannya ke Munding.


Munding yang baru saja meremukkan tulang pergelangan tangan Rey mengambil handphone yang tadi digunakan untuk merekam perbuatan bejat si Bram. Munding kemudian memasukkan handphone itu ke saku jumpernya, jadi satu dengan handphone si pemakai clurit tadi.


Setelah itu, Munding mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Bram.


Ketika Bram bertatapan mata dengan Munding, seluruh bulu kuduknya berdiri. Mata Munding sama dengan tatapan mata orang yang paling dihormati Bram di seluruh permukaan Bumi.

__ADS_1


Tatapan mata sang Guru yang telah mengajari semua yang dia tahu tentang beladiri dan bertahan hidup sampai saat ini.


Sebuah tatapan mata yang melihat seluruh dunia dan seisinya adalah sesuatu yang sama sekali tidak berharga. Tatapan mata yang menganggap manusia lain di sekitarnya sama harganya dengan batu kerikil di pinggir jalan atau semut yang berbaris di pepohonan.


Seolah-olah tidak ada satupun di dunia ini yang layak untuk menjadi lawan bicaranya.


Dan Bram sangat kenal dengan tatapan mata itu karena betapa dia juga ingin sekali seperti Guru-nya dan melihat seluruh isi dunia ini dengan sikap apathy, seolah-olah bahwa semua yang ada di dunia ini tak berharga sama sekali.


Sang Guru juga pernah berpesan satu hal kepada Bram, yang masih dia ingat sampai saat ini tentang itu, “jika suatu saat kamu bertemu dengan seseorang yang mempunyai tatapan mata yang sama seperti aku. Larilah dan jangan pernah menoleh ke belakang. Paham?”


“Mereka itu siapa Guru?” tanya Bram waktu itu.


Gurunya hanya menoleh sekilas ke arah Bram dan menjawab pelan, “mereka itu, para serigala, dan bagi mereka, kamu itu cuma seekor anak domba.”


Tapi, siapa yang menyangka kalau kali ini Bram akan melihatnya lagi. Bukan dari seorang kakek-kakek seusia Gurunya atau setidaknya seorang laki-laki dewasa yang sudah mengecap asam garam dunia. Bram melihatnya dari kawan yang seumuran dengannya. Bocah SMA yang masih bau kencur sepertinya.


“Kamu?” suara Bram terdengar bergetar saat mengucapkan kata-kata itu, “siapa kamu? Kamu bukan murid SMA kan? Kamu? Tidak mungkin, kamu pasti bukan Serigala. Ini cuma imajinasiku,” racau Bram semakin kalut dipenuhi rasa ketakutan yang tiba-tiba datang menyelimuti tubuhnya.


Dan tanpa terkontrol dia menarik picu pistol di tangannya yang mengarah ke Munding.


Tiga kali tembakan melayang ke arah Munding tanpa sasaran yang jelas. Kelihatan sekali kalau ini kali pertama Bram menggunakan sepucuk pistol. Tapi dengan jarak sedekat ini tentu saja peluang untuk meleset kecil sekali.


Citra yang melihat Bram melepaskan tembakan berteriak keras dan menutup matanya karena tidak tega melihat Munding terkena peluru si Bram. Amel yang sedari awal ketika Munding tiba-tiba muncul ke ruangan ini tetap membuka mata dan tak pernah melepaskan pandangan matanya dari Munding.


Pun ketika Bram menembakkan pistolnya.


Amel justru dengan cepat berdiri dan menubruk ke arah Bram dari belakang untuk merebut pistol itu dari tangan Bram. Tapi sebelum Amel berdiri dengan sempurna, dia melihat sebuah pemandangan yang tidak akan Amel lupakan seumur hidupnya.


\=\=\=\=\=


Munding yang melihat Bram menembakkan pistolnya dengan panik tiga kali, masuk ke mode tarung secara instinct. Ancaman bahaya yang dia rasakan dari ketiga pistol ini mengancam nyawanya dan membuat seluruh tubuhnya menjerit memberikan peringatan.


Ketika Munding merasakan sensasi tekanan ke seluruh permukaan tubuhnya kembali, dia melihat tiga buah peluru yang mengarah ke dirinya. Tidak seperti semua benda yang terlihat diam dan tak bergerak. Atau mereka bergerak tetapi dalam keadaan slow motion. Ketiga buah peluru ini bergerak dengan kecepatan yang luar biasa.


Satu peluru mengarah ke kepala Munding, satu lagi ke dada dan peluru terakhir ke perut. Di mata Munding yang masih dalam keadaan mode tarung, peluru itu seperti sebuah motor yang melaju pada kecepatan 15 m/s. Pelan kah? Sama sekali tidak, 15 m/s itu sama artinya dengan 54 km/jam.


Tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat meskipun mata Munding masih bisa melihat dengan jelas trajektori atau lintasan dari peluru itu. Meskipun ketiga tembakan tadi terlihat ditembakan berurutan. Tapi kenyataannya, mereka datang dengan selisih jarak yang lumayan.

__ADS_1


Munding menghindari peluru pertama yang mengarah ke kepalanya dengan merebahkan tubuhnya ke samping kiri dari posisinya berdiri. Sama sekali nggak keren, bukan seperti dalam film The Matrix yang dibintangi Keanu Reeves dengan gerakan iconic-nya saat menghindari peluru yang terlihat keren.


Munding tidak butuh keren atau tidak, karena nggak keren bukan suatu dosa. Yang terpenting baginya adalah nyawanya selamat. Ototnya menjerit karena dipaksa untuk bergerak sangat cepat.


Ini kali pertama Munding mencoba memaksa tubuhnya bergerak secepat mungkin dalam mode tarungnya. Sama cepatnya ketika seseorang ingin menghindari motor yang nyasar ke arahnya dengan kecepatan 50 km/jam gegara emak-emak yang suka sign kanan belok kiri.


Srettttttttt.


Peluru itu tetap berhasil menggores telinga kanan Munding, tapi dia tidak mempedulikannya. Darah terlihat muncrat dan mengambang di dekat telinga Munding. Tapi Munding sudah kembali fokus ke peluru kedua yang mengarah ke perutnya.


Kepala Munding yang tadi sudah miring ke arah kiri kini diikuti oleh seluruh tubuh Munding yang jatuh rebah ke sebelah kirinya. Ketika peluru kedua sampai ke perut Munding, peluru itu cuma menyerempet ke tepi kanan badannya sedikit.


Peluru ketiga sama sekali bukan ancaman bagi Munding. Karena dia sudah rebah di lantai saat menjatuhkan diri tadi untuk menghindari peluru pertama dan kedua.


Setelah itu, Munding meloncat berdiri dari posisi rebahnya dan meloncat ke arah Bram. Munding dapat melihat ekspresi Amel dan Bram yang masih menatap ke arah tempatnya berdiri tadi. Amel juga terlihat setengah berdiri dan berusaha merebut pistol Bram dari belakang.


Buammmmmmmmm.


Ketika Munding sampai di depan Bram, dia melakukan tendangan samping dengan kaki kiri ke arah kepala Bram yang masih memegangi pistol dengan kedua tangannya dan asap mesiu yang sedikit keluar dari ujung pistolnya. Munding dapat melihat Bram sama sekali tidak bereaksi apa-apa.


Bahkan ketika kaki Munding sudah mendarat di tulang rahang Bram sekalipun. Bram sama sekali tidak menyadari kalau dia sudah terkena tendangan. Munding bisa melihat sedikit demi sedikit tulang rahang Bram yang mulai remuk dan bergerak searah dengan tendangan Munding.


Pecahan tulang rahang dan gigi itu terlihat melesak ke dalam rongga mulut sebelah kiri milik Bram. Tubuh Bram terlempar dan melayang dengan sangat perlahan ke arah kanan Munding dan seolah seperti sebuah layangan putus yang terbawa angin.


Buakkkkkkkk.


Tubuh Bram menabrak tembok dinding ruang tengah rumah Citra dan pelan-pelan melorot ke lantai. Hanya warna putih terlihat di bola mata Bram yang menandakan kalau dia tak sadarkan diri. Tapi melihat rahang dan sebagian tengkorak yang hancur terkena tendangannya tadi, Munding ragu kalau nyawa Bram masih terselamatkan.


Sekalipun terselamatkan, setidaknya Bram akan mengalami cidera otak yang parah jika melihat seberapa besar efek tendangan Munding tadi.


Seluruh tubuh Munding menjerit kesakitan dan terasa panas seperti ingin terbakar. Munding tahu kalau kali ini dia sudah menggunakan mode tarung-nya melebihi batas yang seharusnya. Apalagi saat menghindari peluru tadi. Dia memaksa tubuhnya bergerak melebihi batas kecepatan yang masuk akal bagi seorang manusia.


Sekalipun bagi Munding, peluru tadi terlihat seperti berkecepatan 15 m/s, tapi Munding tahu kalau peluru tersebut sebenarnya terbang dengan kecepatan lebih dari 370 m/s, lebih cepat daripada kecepatan suara. Itu artinya, mode tarung Munding memperlambat semua pergerakan benda sampai 25 kali lebih lambat.


Dan untuk bergerak menghindari peluru tadi, meskipun terlihat sepele dengan hanya menjatuhkan tubuhnya, tapi Munding merasakan seluruh otot tubuhnya terasa kaku dan kencang sekali.


Berapa lama aku di mode tarung? batin Munding dalam hati sebelum akhirnya dia kehilangan kesadaran diri.

__ADS_1


__ADS_2