
Nia yang sudah berdiri agak jauh dari mereka berlima dan memegang Amel yang pingsan tak sadarkan diri, juga merasakan hal yang sama. Diantara mereka berempat, meskipun Nia adalah yang paling lemah secara kemampuan bertarung, Nia adalah yang paling cerdas.
Nia juga menjadi rebutan bagi mereka bertiga sebelum akhirnya Nia memberitahukan bahwa dia dan sang Guru adalah sepasang kekasih. Sejak saat itulah, sang Guru menjadi pemimpin kawanan kecil mereka dan Nia menjadi otaknya. Mastermind yang harus menelurkan ide-ide cerdas bagi rencana kawanan kecil mereka, seperti sang Sengkuni bagi bala Kurawa di cerita Mahabarata.
Nia melirik ke arah jam tangannya, kedatangan Munding dan semua yang terjadi setelah itu hingga saat ini membutuhkan waktu lebih dari 5 menit. Dan menurut perhitungan Nia sejak dia menelepon Broto untuk meminta tebusan tadi, mereka sudah menghabiskan waktu hampir sepuluh menit.
Dengan resources yang dimiliki oleh militer, dari gudang kosong yang menjadi tempat minivan yang dijadikan pengalih perhatian oleh Nia, Broto dan timnya paling tidak akan membutuhkan waktu 20 menitan untuk sampai kesini.
Itu artinya, Nia dan kelompoknya harus meninggalkan tempat ini dalam waktu sepuluh menit jika mereka tidak ingin tertangkap oleh Broto dan timnya. Karena Nia tahu, dengan munculnya satu lagi serigala terinisiasi seperti Munding di pihak Broto dan ditambah dengan keberadaan Umar, kawanan kecil mereka seperti sebuah bekicot yang mencoba untuk menahan laju mobil di jalan raya.
Mereka hanya akan terlindas hancur tanpa sisa.
Nia kemudian mengangkat tangannya dan memberikan kode kepada ketiga rekannya untuk ikut membantu sang Guru melumpuhkan Munding secepatnya. Setelah itu, Nia memberikan kode lima jari sebagai tanda kalau mereka hanya punya waktu lima menit saja untuk meninggalkan tempat ini.
Nomer Satu, Nomer Dua dan Nomer Tiga saling berpandangan mata untuk sesaat dan mereka menganggukkan kepalanya. Mereka harus turun tangan untuk membantu guru mereka. Dengan pelan-pelan, mereka bertiga bergerak mengelilingi Munding dan menyebar dalam tiga area yang berbeda.
Kini, empat orang bergerak memutari Munding, sang Guru dan ketiga orang muridnya. Yasin agak terkejut dengan kenekatan murid-muridnya untuk ikut bergabung dalam duel antar serigala petarung terinisiasi seperti dirinya dan Munding.
Yasin dengan cepat melirik ke arah Nia yang berdiri tak jauh dari mereka untuk meminta penjelasan, karena dia tahu, mereka bertiga tidak akan bergerak tanpa ada instruksi dari kekasihnya. Nia pun menggunakan tangannya untuk memberitahu Yasin kalau mereka hanya punya waktu lima menit untuk melumpuhkan Munding dan masih punya cukup waktu untuk melarikan diri dari tempat ini.
Yasin hanya tersenyum kecut, dari semuanya yang sudah mereka rencanakan dengan matang hanya bocah di depannya ini yang membuat semuanya menjadi kacau. Seharusnya saat ini, mereka sedang bersembunyi di tempat aman dan menunggu transferan uang tebusan untuk Amel.
Setelah itu, Yasin dan Nia akan membagi jatah untuk ketiga murid lainnya dan mereka berdua kemudian akan menghilangkan jejak mereka untuk sementara. Setelah beberapa tahun, mereka berlima akan berkumpul kembali dan membangun sebuah pondok pesantren kecil di antah berantah dan sedikit demi sedikit membangun pasukan serigala petarung mereka, hingga akhirnya mereka akan punya cukup kekuatan untuk mengumumkan kawanan mereka kepada dunia.
Tapi, semua mimpi kecil mereka sekarang terganjal oleh seorang pemuda yang merupakan serigala petarung terinisiasi yang entah datang dan muncul darimana. Yasin juga tahu dengan pasti kalau mereka berdua adalah hasil didikan dari metode yang sama.
__ADS_1
Konsentrasi Yasin yang sempat terpecah untuk sesaat tadi ketika berkomunikasi dengan Nia tiba-tiba dipaksa kembali ketika dia melihat salah satu muridnya yang berada tepat di bagian belakang Munding masuk ke mode tarung-nya. Dia murid sang Guru, si Nomer Dua.
Munding yang tadi sempat berniat melancarkan serangan ke arah Yasin yang terlihat sedikit terganggu konsentrasinya, urung melakukannya ketika dia merasakan ancaman bahaya datang dari arah punggungnya.
Munding melirik ke arah belakang dengan cepat dan melihat salah satu murid sang Guru memasuki mode tarung dan menyerangnya dari belakang. Munding kemudian menoleh ke arah sang Guru yang masih terlihat terkejut dengan tindakan gegabah muridnya dan Munding tersenyum.
Sang Guru tahu apa arti senyuman di bibir Munding, “jangan!!!” teriak Yasin ke arah Munding.
Nomer Satu yang ada di sebelah kiri Munding dan Nomer Tiga yang ada di sebelah kanan Munding juga tiba-tiba memasukki mode tarung mereka. Sang Guru tanpa berpikir panjang juga langsung mengaktifkan mode tarungnya juga.
\=\=\=\=\=
Keempat murid Yasin hanya pernah sekali saja merasakan mode tarung mereka. Yaitu pada saat mereka sudah berhasil melakukan awakening dan Yasin menerangkan kepada mereka tentang intent dan mode tarung.
Tapi.
Ada satu hal yang mungkin tidak disadari oleh Yasin, berbeda dengan Munding yang menjadi serigala petarung karena keterpaksaan, keempat muridnya adalah type orang-orang yang memilih dan bermimpi untuk menjadi pahlawan.
Dan ketika mereka berhasil menjadi serigala petarung dengan segala kemampuannya, itu sama artinya dengan mewujudkan mimpi mereka menjadi kenyataan. Betapa mereka sebenarnya sangat ingin berteriak kepada dunia dan menunjukkan kemampuan super mereka. Menangkap penjahat seorang diri dan kemudian menjadi pusat perhatian media.
Mereka tentu saja tidak sabar untuk menggunakan mode tarung mereka terhadap lawan yang sesungguhnya dan saat inilah kesempatan itu. Selama ini mereka hanya membayangkan seperti apa skenario yang akan terjadi ketika mereka masuk ke mode tarung dan bergerak super cepat melebihi manusia biasa.
Mereka memimpikan untuk melakukan hal itu.
Karena itu, ketika Nomer Dua merasa kalau dia berada dalam titik buta Munding, tanpa ragu dia langsung mengeksekusi mode tarungnya yang tak lama kemudian disusul oleh dua orang rekannya.
__ADS_1
Nomer Dua merasakan sensasi aneh seperti yang pernah dia rasakan dulu dan selalu dia bayangkan dalam waktu senggangnya. Sensasi rasa aneh ketika dia merasakan sedikit tekanan di seluruh permukaan tubuhnya dan semua panca inderanya menjadi lebih tajam.
Dia juga melihat daun-daun yang tadi bergerak ditiup angin menjadi seperti diam. Dengan senyuman di bibir, dia juga melihat Nomer Satu di sebelah kirinya juga memasukki mode tarung yang kemudian disusul oleh Nomer Tiga disisi kanannya.
Tapi,
Nomer Dua merasa aneh, Munding yang tadi berada di depannya dan membelakangi dirinya kini sudah tidak ada lagi disana. Sesaat kemudian, bahkan saat dia belum sadar apa yang sedang terjadi, Nomer Dua merasakan sebuah tangan melingkar di lehernya dari belakang tubuhnya dan tiba-tiba dia mendengar bunyi tulang lehernya yang patah, diikuti oleh rasa sakit luar biasa di lehernya, setelah itu semuanya menjadi gelap.
Nomer Satu yang menyusul Nomer Dua untuk menggunakan mode tarungnya melihat dengan jelas saat Munding mematahkan leher Nomor Dua dan matanya terbelalak tak percaya. Mereka bertiga memasukki mode tarung lebih dulu dibandingkan Munding, bagaimana bisa dia menghabisi nyawa Nomer Dua secepat itu?
Nomer Tiga yang masuk ke mode tarung bersamaan dengan Nomer Satu juga melihat pemandangan yang sama, kepanikan jelas terlihat di wajah mereka.
Munding yang baru saja menghabisi nyawa rekan mereka tiba-tiba menghilang dari pandangan mata mereka berdua dan setelah itu si Nomer Satu, yang terkuat dari keempat serigala petarung Tim Kelelawar, dengan reflek mengangkat tangan kanannya untuk melakukan tangkisan.
Krakkkkkkk.
Tangan kanan Nomer satu patah setelah terkena tendangan sabit Munding yang sudah berdiri di depan Nomer Satu. Nomer Satu dengan cepat meloncat mundur ke belakang. Menghindari serangan lanjutan dari Munding.
Munding menghilang dan ketika muncul kembali tiba-tiba dia sudah berdiri di depan Nomer Tiga yang masih terbengong dengan pemandangan yang barusan dia lihat. Dalam waktu sesingkat itu, Nomer Dua tewas dan Nomer Satu kehilangan tangan kanannya.
Nomer Tiga mengangkat dan menyilangkan kedua tangannya secara reflek untuk menangkis serangan Munding yang ada di depannya. Tapi dia tidak kunjung merasakan rasa sakit itu datang mendera, ketika dia menurunkan sedikit kedua tangannya untuk melirik ke arah Munding.
Dia melihat sebuah pemandangan yang belum pernah dia saksikan.
Dua buah bayangan saling bertukar serangan dengan cepat di depannya. Saat itulah Nomer Tiga tahu kalau dia baru saja diselamatkan oleh gurunya dari serangan Munding.
__ADS_1