Munding - Legenda Serigala Petarung

Munding - Legenda Serigala Petarung
Chapter 157 - The 'D'


__ADS_3

Mobil yang ditumpangi Munding membawa mereka ke sebuah fasilitas militer yang dijaga ketat dan mempunyai pagar tinggi di sekelilingnya. Sepanjang perjalanan tadi, Afza sama sekali juga tak berkata apa-apa kepada Munding.


Dalam hati kecilnya, Afza sebenarnya masih tak bisa menerima keputusan Pak Broto untuk memilih Munding mewakili Angkatan Darat bersama dirinya.


Afza mengakui kalau Munding mungkin lebih kuat dibandingkan dirinya. Munding bisa mengimbangi Umar yang menjadi mentornya selama ini. Dan Afza sendiri belum bisa dengan percaya diri mengatakan kalau dia bisa mengalahkan Umar. Itu artinya, Munding bisa mengalahkan Afza.


Tapi, Munding bukan personel militer. Dia warga sipil dan dia militan. Norma yang berlaku untuk Munding, jauh berbeda dengan norma yang dijunjung tinggi oleh petarung elite lainnya yang tergabung dalam tim ini.


Munding tidak menganggap NKRI sebagai hal terpenting dalam hidupnya. Afza ragu kalau Munding akan mengeluarkan kemampuannya dengan sepenuh hati saat dibutuhkan nanti.


Afza juga tahu kalau Munding nanti bakalan menjadi sasaran konflik dalam timnya, karena dia satu-satunya anggota yang murni sipil.


"Kita sampai," kata gadis manis itu pendek ke arah Munding yang duduk di bangku belakang.


Afza lalu turun dan mengajak Munding berjalan ke sebuah bangunan yang ada di komplek militer ini. Bangunan tersebut terlihat sudah tua dan menggunakan arsitektur Belanda. Mungkin sisa-sisa peninggalan masa kolonial sebelum kemerdekaan.


Meskipun tempat ini merupakan komplek militer, tapi suasananya terlihat sepi. Selain pos jaga di gerbang depan tadi, Munding belum melihat orang lain. Hanya suara langkah kakinya dan Afza yang terdengar.


Setelah itu mereka memasukki rumah tua khas Belanda tersebut.


Saat di dalamnya, Munding sedikit kaget, tak seperti tampilan tembok dan bangunannya, isi di dalam gedung itu sangat lah modern. Sofa yang nyaman, televisi LCD layar besar, telepon dan berbagai perangkat elektronik lainnya ada disini.


"Ini ruang tamu. Akomodasi dan tempat tinggal masing-masing anggota tim ada di lantai dua. Tapi, aku akan mengajakmu bertemu dengan anggota tim yang lain. Mereka sekarang ada di pusat komando yang ada di bawah tanah," kata Afza sambil terus berjalan memasukki rumah.


Tak lama kemudian, mereka berdua sampai di bekas gudang bawah tanah yang disulap memjadi command center atau pusat komando oleh Tim Merah Putih.


Sebuah ruangan luas yang disekat menjadi dua dengan partisi yang hanya setinggi dada. Bagian pertama terlihat lebih ramai dengan sekitar 15 meja dan komputer yang semuanya menyala dan ditunggui oleh pria dan wanita yang dengan cekatan bekerja di depannya.


Bagian kedua adalah sebuah ruangan yang terlihat seperti ruang meeting dengan sebuah meja oval memanjang dan 12 kursi yang mengitarinya. Di tempat itu, sekarang sedang duduk empat orang yang asyik dengan hpnya masing-masing.


Afza mengajak Munding masuk ke ruangan kedua. Kedatangan mereka berdua jelas mengagetkan keempat orang yang sedang sibuk sendiri-sendiri di sana.

__ADS_1


"Za, siapa ini? Kau tahu kan kalau tempat ini bukan untuk sembarang orang?" tegur salah satu wanita yang duduk di ruangan itu dengan nada ketus.


"Dewi!" tegur pria yang duduk di sebelahnya.


Mereka adalah Ardian dan Dewi, pasangan petarung dari Angkatan Udara. Afza cuma tersenyum ketika mendengar kata-kata Dewi.


Mereka semua serigala petarung, tentu saja mereka bisa merasakan intent yang terpancar dari masing-masing lawan bicaranya. Dan Dewi, adalah typical prajurit yang kompetitif dan terlihat skeptis. Tapi sebenarnya, dia sama sekali tak membenci Afza atau siapapun.


"Ini bukan sembarang orang, dia kandidat dari Angkatan Darat. Namanya Munding," kata Afza pelan.


Keempat orang yang ada di ruangan itu langsung terdiam. Jadi rumor yang beredar di markas ini benar adanya?


Sejak saat tim mereka dikumpulkan, hanya AD yang mengirim satu orang kandidat mereka. Sebuah rumor lalu beredar di markas ini, bahwa pasangan Afza adalah seorang petarung eksternal, bukan hasil didikan AD.


Semua anggota tim yang lain menganggap itu hanya gurauan dan melupakan saja rumor itu. Mereka semua tahu, AD merupakan lembaga militer yang mencetak serigala petarung terbanyak diantara lembaga yang lain.


Mereka punya banyak calon kandidat. Kenapa harus mengambil dari eksternal?


Dewi dengan cepat berdiri dan berjalan mendekati Munding, tapi tentu saja bukan untuk meminta maaf karena kata-kata ketusnya tadi.


"Namaku Dewi," kata Dewi pelan sambil mengulurkan tangannya ke arah Munding.


Munding tak menyambut uluran tangan Dewi.


Sebuah pemandangan sedikit aneh terjadi. Dewi yang mengulurkan tangannya ke arah Munding dan Munding yang melihat ke arah telapak tangan Dewi dengan tatapan mata seolah-olah melihat sesuatu yang menakutkan dan tak sedikitpun ingin menyalami Dewi. Pose aneh itu berlangsung selama setengah menit sebelum akhirnya semua orang tertawa keras, terkecuali Dewi tentunya.


"Hei Udik! Ini namanya salaman," kata Dewi dengan nada kesal dan menggoyang-goyangkan tangannya yang terulur.


"Aku tahu salaman itu apa," jawab Munding.


"Lalu kenapa kamu tak menyambutnya?" tanya Dewi bertambah geram, "jangan-jangan si Udik ini sengaja bikin aku marah ya?" kata Dewi dalam hati.

__ADS_1


"Kita bukan mahram. Tak boleh bersentuhan," jawab Munding pelan.


Semua orang kembali terdiam. Dewi melihat bingung ke arah Afza dan Afza cuma mengangkat bahunya sebagai jawaban.


Secepat kilat Dewi meraih tangan Munding dan meremasnya sambil tersenyum jahil, "aku tak tahu apa maksudmu tadi, tapi tak ada tempat bagi orang lemah di tim kami," kata Dewi.


Munding berusaha melepaskan telapak tangannya yang diremas kuat oleh Dewi, "orang-orang ini," keluh Munding dalam hati.


Selain Ardian dan Dewi, ada dua orang lagi yang tadinya duduk di kursi yang agak jauh dari mereka berdua, tapi sejak kedatangan Afza dan orang baru yang dibawanya, mereka mendekat dan bergabung bersama kedua rekannya. Mereka adalah Rony dan Mia, petarung elite dari Brimob.


Saat Dewi maju dan berdiri mendekati Munding, mereka tersenyum pahit dalam hati. Dewi, adalah salah satu petarung unik dalam tim. Dia sangat kompetitif dan tak pernah mau kalah dengan rekannya yang lain. Semua anggota Tim pernah ditantangnya duel dan karena Dewi lah, semua anggota Tim bisa memperkirakan kekuatan masing-masing individu anggota Tim.


Dewi menjadi semacam benchmark bagi kemampuan rekan-rekan lainnya. Tanpa sepengetahuan Dewi, rekan-rekannya menggunakan istilah D+, D0, dan D- untuk mengelompokkan kemampuan anggota tim Merah Putih.


D+, untuk anggota Tim yang bisa mengalahkan Dewi dalam duel. D0, untuk anggota Tim yang imbang saat berduel dengan Dewi. Dan D- untuk anggota Tim yang kalah dari si Dewi.


Itulah alasannya, saat Munding datang, dan Dewi mendekatinya, Mia dan Rony langsung bergerak mendekati mereka juga.


Sebuah pertanyaan besar muncul di kepala semua orang, masuk ke kategori manakah Munding?


\=\=\=\=\=


Author note:


**Maaf jika ada keterlambatan update. Saya sedang mempertimbangkan jadwal up untuk tulisan ini. Dan setelah mengingat dan menimbang, akhirnya saya memutuskan jadwal up seperti dibawah.


Untuk saat ini, akan ada 4 chapter per hari s/d chapter 200.


2 chapter pagi jam 08.00 dan 2 chapter lagi sore, jam 16.00.


Dan sekali lagi saya ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya untuk kawan-kawan yang sudah me-like dan mem-vote tulisan ini. Saya sangat menghargainya, karena itu artinya kalian mengapresiasi tulisan nggak mutu ini.

__ADS_1


Untuk kalian silent readers yang hanya baca di pojokan. Seberat itukah jempol kalian hanya untuk nekan tombol like**?


__ADS_2