
Karto terbatuk-batuk dengan tubuh telentang di atas meja ruang tamu yang hancur setelah tertabrak badannya tadi. Dia mencoba untuk berdiri kembali dengan susah payah. Kedua wanita yang ada di belakangnya menangis terisak isak melihat kondisi Karto yang mengenaskan.
Munding berjalan dengan tubuh yang agak limbung. Dia sudah mencapai limit staminanya malam ini. Tapi dengan hanya bermodalkan tekad, dia tetap maju bergerak ke arah Karto.
Semuanya harus berakhir malam ini.
Setelah beberapa menit, Munding berdiri di depan Karto yang masih telentang dan terengah-engah di atas pecahan meja ruang tamu. Dari mulut Karto, sedikit darah tampak merembes keluar. Mungkin sebagian organ dalamnya terluka gara-gara sikuan Munding tadi.
Munding kemudian duduk bertumpu ke dua lututnya dan mengangkangi tubuh Karto yang telentang. Kedua tangan Munding maju mencengkeram leher Karto yang masih terengah-engah dan sesekali terbatuk mengeluarkan darah.
“Hahahahahahaha,” suara Karto yang tertawa terdengar pelan dan kesusahan, “aku tak pernah menyangka kalau nasibku, Karto Sentono, akan berakhir di tangan seorang bocah sepertimu.”
Munding mulai menekan keras ke arah leher Karto, berusaha untuk menghentikan aliran udara masuk ke paru-paru Karto.
“Uhukkk, Uhukkkkk.”
Karto terbatuk-batuk dan megap-megap kehabisan napas. Kedua tangannya memegangi tangan Munding yang mencekik lehernya. Kaki Karto juga mencoba untuk menendang punggung Munding. Karto benar-benar berusaha untuk mempertahankan napas terakhirnya.
Kemudian pegangan tangan Karto tidak sekuat yang tadi. Tapi keliatannya dia mengumpulkan tenaga bukan untuk melawan nasibnya. Dia terlihat ingin mengatakan sesuatu kepada Munding.
Munding yang melihat isyarat mata Karto dan mulutnya yang seolah-olah ingin mengucapkan sesuatu itu mengurangi tekanan di kedua tangannya yang mencekik Karto. Dia ingin tahu apa yang mau disampaikan oleh Karto dengan napas terakhirnya.
“Munding, kau tahu...” Karto berhenti sebentar dan berusaha mengatur napasnya yang tersengal-sengal, “waktu aku menghabisi Bapakmu dulu, dia menangis kepadaku, dia memohon kepadaku.”
Deg.
__ADS_1
Munding merasakan sesuatu menggeliat di dadanya. Kali ini Munding merasakan rasa amarah ketika mendengar kata-kata Karto barusan. Tanpa sadar, genggaman tangannya mengeras.
Karto kembali meronta karena cekikan Munding. Munding kemudian berusaha untuk mengendalikan emosinya kembali. Tapi rasa amarah itu masih ada dan berkumpul di dadanya.
Karto kembali berusaha menghirup udara sebanyak-banyaknya. Baru kali ini Karto merasa bahwa tiap detik dari hidupnya itu sangatlah berharga.
“Tapi dia tidak memohon kepadaku untuk mengampuni nyawanya. Dia minta agar aku tidak menghabisimu saat itu. Kau bocah kecil yang kehilangan ayahnya,” kata Karto.
“Ayahmu tersenyum dan berterima kasih kepadaku waktu itu dan keliatannya dia sudah rela meninggalkan dunia ini,” kata Karto yang tiba-tiba tertawa histeris, “tapi kau tahu apa yang dibilang Sutinah waktu itu? ‘Karto tidak akan membunuh Munding, tapi aku yang akan membunuhnya’ hahahahahahahahaha.”
“Saat itu, aku melihat ekspresi Bapakmu yang paling membuatku bahagia, ekspresi penuh kebencian kepada Ibumu, ekspresi penuh kekuatiran karenamu dan juga ekspresi yang belum bisa menerima kalau ajalnya datang. Hahahahahahahahaa. Sekalipun saat ini kau menghabisiku, aku puas. Setidaknya anak-anakku bernasib lebih baik daripada dirimu saat itu Munding!!!” kata Karto sambil memejamkan matanya dan bersiap menerima ajalnya.
Amarah Munding kembali menggelegak mendengar kata-kata Karto. Munding melirik sebentar ke arah Sutinah yang berpelukan dengan Ayu di atas sofa dengan tubuh gemetaran. Kemudian Munding mendekatkan bibirnya ke arah telinga Karto yang matanya masih terpejam.
“Sebelum aku kesini, aku bertemu Joko, putramu, aku tak suka tingkahnya. Jadi aku menghancurkan kemaluannya. Coba tebak, kira-kira berapa lama dia akan bertahan hidup sebelum akhirnya memutuskan untuk bunuh diri karena dia sudah tidak bisa menjadi laki-laki?” bisik Munding ke telinga Karto.
Munding tersenyum dan menekan kedua tangannya kuat ke leher Karto. Tak lama kemudian Karto menghembuskan napas terakhirnya.
Munding berdiri dan menutup matanya sebentar. Meskipun dia sudah menghabisi nyawa Karto, tapi entah kenapa masih ada sedikit rasa mengganjal di hatinya. Munding tahu kalau itu adalah nalurinya yang mencoba memberitahu bahwa semuanya belum berakhir.
Munding melirik ke arah Sutinah dan Ayu. Dan saat itu juga dia tahu. Untuk mengakhiri semuanya, dia harus mengambil nyawa dua orang terdekat yang memiliki hubungan darah dengannya.
Munding mendekat kearah mereka berdua.
Sutinah yang melihat Karto meregang nyawa menjadi histeris dan berteriak-teriak sambil menunjuk-nunjuk ke arah Munding, “kau anak Iblis, kau Setan, kau lebih biadab daripada binatang..”
__ADS_1
Munding berkata pelan, “aku tahu Ibu. Bukankah aku ini anakmu?”
Ayu cuma tertunduk dan menangis terisak-isak. Dia cuma tidak ingin hidup miskin dan sengsara dan dia juga tahu kalau Ibunya mempunyai cita-cita yang sama. Dia tidak pernah merasa bersalah atas apa yang dilakukannya selama ini.
Bukankah semua orang berhak untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik?
Ayu mengangkat wajahnya dan melihat ke arah adik kandungnya. Adik kandung satu ibu lain ayah yang dimilikinya. Adik kandung yang ditusuknya sendiri dengan kedua tangannya. Karena milyaran rupiah di tabungan dan sawah yang dimiliki oleh Bapaknya.
Ayu tersenyum, mungkin begini lebih baik. Mungkin kematian adalah jalan keluar dari semuanya.
Munding kemudian memeluk Ibu dan Kakaknya. Tangis Sutinah makin menjadi di dalam pelukan Munding. Ayu hanya menangis terisak-isak sambil tersenyum.
Munding melepas pelukan ke keduanya. Tangan kanannya terulur ke arah leher Sutinah dan tangan kirinya terulur ke arah leher Ayu.
Leher kedua wanita itu tidaklah sama dengan leher laki-laki macam Karto. Leher mereka lemas dan halus bagaikan beludru.
Munding meneteskan air mata dan melihat ke arah Ayu, Sutinah meronta-ronta sekuat tenaga berusaha untuk melepaskan diri dari cekikan Munding.
Ayu cuma menangis terisak dan tersenyum kembali ke arah Munding.
“Mbak,” Munding menarik napas dalam, “kalau Mbak ketemu Bapak nanti, tolong kasih tahu Bapak, ‘Munding baik-baik saja’, biar Bapak nggak kuatir lagi.”
Ayu tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Munding pun menekan kedua tangannya dengan kuat. Selama beberapa detik, Sutinah meronta-ronta sekuat tenaga, sedangkan Ayu melihat ke arah Munding sambil tetap tersenyum.
Ketika napas terakhirnya datang, Ayu cuma membelalakkan matanya dan kemudian kepalanya terkulai ke samping.
__ADS_1
Munding tetap dalam posisi itu selama beberapa menit. Ketika dia merasakan kalau tidak ada lagi kehangatan terasa dari kedua leher yang dipegangnya, Munding melepas pegangan tangannya dan dia pun menangis sejadi-jadinya.
Munding menangis sambil memeluk kedua tubuh wanita yang seharusnya menjadi orang terdekatnya itu.