Munding - Legenda Serigala Petarung

Munding - Legenda Serigala Petarung
Chapter 44 - Strike Back - part 2


__ADS_3

Preman Karto yang terakhir memegang clurit dengan tubuh yang gemetar di teras depan rumah Ayu. Meskipun dia sudah berhasil melukai punggung Munding, dia tahu kalau luka tadi tidak fatal bagi musuhnya. Luka tadi hanya menggores punggung Munding.


Munding yang masih berjongkok dan melihat gerak-gerik musuhnya dengan cepat meloncat ke arah anak buah terakhir si Karto.


Dengan panik, anak buah Karto menyabetkan cluritnya dari arah kanan atas ke kiri bawah, berusaha menebas Munding yang meloncat ke arahnya. Melihat serangan clurit yang diayunkan dengan membabi buta, Munding tidak ingin gegabah.


Pisau kecilnya masih menancap di dada anak buah Karto yang barusan dia tusuk. Sedangkan Munding sendiri tidak sempat merebut samurai yang ada di tangan musuhnya yang sudah terkapar itu. Praktis kini Munding harus melawan anak buah Karto yang bersenjatakan clurit sedangkan dia sendiri hanya bertangan kosong.


Munding meloncat mundur untuk mendapatkan jarak aman dan kembali mengatur napasnya yang terengah-engah. Di depan teras rumah Ayu, kedua orang itu saling berhadapan.


Kali ini, Preman si Karto mengambil inisiatif untuk menyerang. Dia menyabetkan cluritnya ke arah horizontal di depan Munding. Mencoba untuk mengoyak dada Munding dengan senjata tajamnya.


Munding yang sedari tadi waspada, memiringkan tubuhnya, mencoba menghindari sabetan itu. Tapi dengan jarak yang sedemikian dekat, tak ayal ujung clurit yang runcing itu sempat mengoyak bagian depan jumper hitam Munding dan menggores sedikit dada Munding.


Munding tidak memperdulikan luka yang baru saja dia terima, karena dia melihat celah yang bisa digunakan untuk melancarkan serangan balasan. Ketika tangan yang menyabetkan clurit itu sedang dalam posisi turun di bawah dan belum sempat diayunkan kembali ke atas, Munding bergerak maju dan masuk ke dalam area serangan Preman si Karto, dengan cepat tangannya melakukan tebasan tangan kanan ke leher musuhnya.


Prakkkkkkkkk.


Munding bisa merasakan tulang leher musuhnya remuk terkena pisau tangannya. Tubuh si Preman melayang ke arah jendela kaca ruang tamu yang ada di samping kiri Munding.


Pyarrrrrrr.


Tubuh anak buah Karto yang terakhir turun pelan-pelan dari kaca jendela ruang depan. Munding melihat ke arah dadanya yang barusan terkena sabetan clurit. Luka yang tidak begitu dalam dan layak untuk ditukar dengan selembar nyawa musuhnya.


Munding kemudian berjalan tertatih-tatih menuju ke pintu depan rumah Ayu. Seluruh tubuh Munding basah oleh darah dan keringat.


Darah musuh-musuhnya dan darahnya sendiri. Jumper hitam yang dikenakan oleh Munding pun sudah robek dan koyak di beberapa bagian. Terutama di bagian punggung dan dadanya.

__ADS_1


“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa,” terdengar jeritan suara perempuan ketika Munding berdiri di pintu ruang tamu.


Ayu yang tadi masih berdiri mondar-mandir dan dengan penuh kecemasan menunggu kedua orang anak buah suaminya. Tetapi ketika dia melihat salah satu kaca jendela ruang tamunya pecah, dengan cepat Ayu meloncat ke dalam pelukan Sutinah yang masih duduk di sofa.


Ketika Ayu melihat sosok Munding yang berlumuran darah dan berdiri di depan pintu rumahnya, Ayu spontan menjerit kencang. Itulah suara jeritan yang tadi terdengar.


Karto yang tadi duduk di sebelah Sutinah melompat berdiri ketika melihat Munding berdiri di depan pintu. Dia segera meraih sebuah parang yang diletakkannya di atas meja ruang tamu.


Karto Sentono, sang Kepala Desa Sukorejo, sudah memutuskan bahwa dia tidak akan menyerah tanpa memberikan perlawanan. Meskipun seluruh kakinya gemetar dan dia merasa ketakutan setelah melihat kondisi tubuh Munding.


“Kamu bukan manusia,” desis Karto pelan dengan suara bergetar, setelah memegang parang di tangannya.


Munding mengangkat kepalanya yang tadinya menunduk menatap lantai dan terengah-engah. Dia melihat sekilas ke arah Karto dan parangnya, Sutinah dan Ayu yang berpelukan di sofa ruang tamu dan amplop yang tergeletak di atas meja.


Amplop yang masih terbungkus plastik yang menjadi penyebab segalanya.


“Aku bukan seorang pembunuh keji sepertimu, berapa orang yang sudah kau bantai hari ini?” teriak Karto dengan suara yang meninggi, seolah-olah ingin membangkitkan keberaniannya yang sudah lama menghilang di hadapan Munding.


“Omong kosong,” Munding berhenti dan menarik napas, “kita sama-sama tahu kalau salah satu diantara kita harus mati malam ini. Kau membunuh Bapakku, aku membalasmu, kau yang memulai semua ini, aku yang akan mengakhirinya."


Munding berjalan pelan ke depan tapi tatapan matanya tidak pernah terlepas dari Karto. Karto menggenggam erat parangnya.


Karto bukanlah seorang amatiran. Sebagai seorang kepala desa selama puluhan tahun, dia sudah banyak melihat duel dan aksi berdarah lain di desanya ini.


Dan Karto tahu dengan pasti, untuk duel hidup dan mati, seringkali semuanya ditentukan hanya oleh satu tebasan parang atau satu kali pukulan telak ke ulu hati. Perkelahian yang memakan waktu berjam-jam dan sampai ratusan jurus hanyalah isapan jempol para pembuat film agar tontonannya laku.


Karto menggenggam erat parang di tangan kanannya dan dia melompati meja ruang tamu yang berada di depan sofa. Sekarang dia berada hanya dalam jarak 2 meter dari Munding.

__ADS_1


Meskipun Karto masih menyimpan rasa takut tapi dia mencoba untuk membuangnya. Dia harus berani melawan iblis di depannya ini atau dia mati.


Pilihannya yang sangat sederhana.


Munding berhenti mendekati Karto ketika dia melihat Karto berinisiatif untuk mendekatinya. Sekarang Munding sudah berada pada jarak serang parang Karto.


Dia harus mulai berhati-hati. Kalau Munding punya kesempatan seperti tadi saat melawan anak buah Karto, menukar luka goresan di tubuhnya dengan nyawa musuhnya, tentu dengan senang hati dia akan melakukannya.


Kedua orang itu saling diam dalam posisi siaga. Munding tidak memasang kuda-kudanya. Dia sudah kehabisan tenaga, bahkan untuk sekedar mengangkat dan mengencangkan otot lengannya untuk pelindung kepala.


Munding hanya mengandalkan kemampuan mata dan nalurinya untuk mendeteksi serangan Karto.


Tiba-tiba Munding merasakan bahaya yang datang dari arah Karto. Matanya dengan cepat melihat gerakan tubuh Karto. Kaki kiri diangkat pelan dan pinggang Karto memutar berlawanan arah jarum jam.


Munding tahu kalau itu artinya Karto akan melakukan serangan dari arah kanan menggunakan parang yang ada di tangan kanannya. Munding dengan cepat merangsek maju. Jarak mereka berdua semakin mengecil.


Munding menggunakan tangan kirinya untuk melakukan tangkisan atas ke arah tangan kanan Karto yang menyabetkan parang. Tapi tentu saja Munding tidak sebodoh itu untuk memposisikan tangkisan tangannya ke bagian parang yang dipegang Karto.


Munding memajukan sedikit badannya sehingga lengan kirinya yang membentuk tangkisan mengenai jari tangan kanan Karto yang memegang parang.


Krekkkk.


Terdengar bunyi tulang jari yang beradu dengan lengan Munding. Seketika itu juga parang yang digenggam oleh Karto terlepas dari tangannya. Munding tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.


Dengan cepat dia memutar tubuhnya ke kiri kemudian melancarkan sikutan dengan tangan kanan dengan arah lurus ke ulu hati Karto yang baru saja melepas parangnya.


Duakkkkkk. Uhukkkkkkkk.

__ADS_1


Karto terlempar kebelakang dan mengenai meja ruang tamu yang tadi dilompatinya. Ayu dan Sutinah yang duduk sambil berpelukan di sofa yang terletak di belakang meja tersebut, menjerit berbarengan ketika melihat tubuh Karto melayang ke arah mereka.


__ADS_2