Munding - Legenda Serigala Petarung

Munding - Legenda Serigala Petarung
Chapter 243 - Mereka datang part 1


__ADS_3

“Vidyut, kuakui kalau idemu sangat cemerlang. Mungkin serum ini akan memudahkan kita untuk menjalankan misi kita,” puji Geoffrey kepada si Keling.


Mereka bertiga telah menerima serum yang mereka inginkan dari tangan Clown dan telah melakukan pembayaran kepada si Badut. Meskipun si Badut sebenarnya tak mau menjualnya, tapi apa yang bisa dia lakukan?


Vidyut yang barusan dipuji oleh Geoffrey justru memperlihatkan wajah kebingungan.


“Misi? Serum? Geoffrey, kamu tak berpikir kalau aku akan menggunakan serum ini untuk misi kita kan?” tanya Vidyut.


Semua orang terpana mendengar kata-kata si Keling, lalu untuk apa kau bertanya-tanya soal serum ini dan membelinya dari si Clown?


“Aku ingin menggunakannya untuk melumpuhkan si ****** itu, lalu aku akan... Hehehehehehehe... Kalian tahu kan apa yang akan kulakukan ke dia?” tanya si Keling dengan muka super mesumnya.


Clown dan Bae menjatuhkan benda yang dia pegang. Clown yang paling parah tentunya. Salah satu hasil penelitiannya yang dia kerjakan di sela-sela misinya bersama Chaos, yang menghabiskan uang pribadinya sebagai biaya, kini hanya akan dijadikan alat untuk memperlancar urusan ************ si Keling.


Clown merasa terdzolimi dan membutuhkan udara segar. Dia langsung berlari ke balkoni dan menarik napas sekuat-kuatnya untuk melapangkan dadanya yang tadi tiba-tiba saja terasa sesak.


Bae dan Geoffrey hanya melihat ke arah Vidyut dengan tatapan tak suka dan sedikit jijik. Tapi Vidyut tak peduli. Dia punya dendam lama dengan si Denise. Dendam yang dimulai jauh sebelum misi mereka kali ini. Vidyut tidak mau mengingatnya kembali. Dia hanya ingin membalas kelakuan si Denise.


“Apapun yang kamu lakukan, jika sudah mencapai tahap membahayakan misi, aku yang akan menghentikannya,” ancam Geoffrey.


Malam itu, Geoffrey dan Bae menghilang di tengah kegelapan malam karena terganggu oleh aktifitas yang dilakukan Vidyut dan Denise. Memang mereka semua tak sekamar. Tapi dengan pendengaran setajam mereka, dinding pembatas soundproof di hotel mereka tak dapat mencegah bunyi kegaduhan yang terjadi malam itu.


\=\=\=\=\=


“Ini target kita,” kata Clown sambil menunjukkan sebuah photo di layar laptop yang dibawanya kepada empat orang itu.

__ADS_1


Di depan Clown sekarang terdapat sebuah pemandangan aneh.


Vidyut yang terlihat babak belur karena habis dihajar seseorang. Denise yang mukanya masih penuh emosi dan tak berhenti melirik tajam ke arah Vidyut, yang terakhir, Bae dan Geoffrey yang seperti kekurangan tidur.


Tapi Clown tak peduli dan tak ingin ikut campur urusan mereka. Dia hanya petarung inisiasi yang kecil dan tak berarti di hadapan empat orang petarung manifestasi ini.


Sebuah photo yang menunjukkan wajah seorang wanita yang manis dan mengenakan sebuah hijab terlihat di layar laptop Clown.


“Wanita?” tanya Vidyut sambil menyeringai mesum.


“Fokus!!” teriak Geoffrey mengingatkan si Keling untuk kembali ke tujuan utama misi ini.


“Semuda itu sudah menjadi petarung manifestasi?” gumam Bae sambil menganggukkan kepalanya dan menunjukkan ekspresi kagum.


“Kalian salah paham,” kata Clown “wanita ini manusia normal, bukan serigala petarung, apalagi seorang petarung manifestasi,” lanjutnya kemudian.


Kali ini keempat petarung manifestasi itu kaget bersamaan. Mereka tak menyangka kalau target mereka yang bahkan bukan seorang serigala petarung. Tapi kenapa headquarter menurunkan empat orang petarung untuk misi kali ini?


Tak mungkin headquarter melakukan kesalahan analisa sefatal ini kan? Apalagi biaya untuk mobilisasi mereka berempat bukanlah sesuatu yang murah, dan itu belum termasuk dengan pembayaran honor yang harus dibayarkan oleh organisasi kepada mereka jika misi sukses dilaksanakan.


“Tak mungkin sesimple ini” gumam Bae.


“Memang tak mungkin, Bae-Nim,” jawab Clown sambil membungkukkan badan.


“Nama gadis ini adalah Nurul Islam, kalau ada yang tertarik dengan biodata dirinya, bisa dilihat di kertas yang kuletakkan di dekat kalian,” lanjut Clown.

__ADS_1


Clown lalu menunjukkan sebuah photo lain.


“Ini suami Nurul yang bernama Munding, dia adalah seorang petarung inisiasi. Informanku yang berada dalam lingkaran komunitas serigala petarung di negeri ini telah memberitahukan bahwa Munding adalah salah satu rising star untuk petarung era baru. Dia menjadi petarung inisiasi termuda dalam waktu sepuluh tahun terakhir di negara ini. Jadi, Munding cukup punya nama di negeri ini.”


“Cuma seorang petarung inisiasi,” cibir Vidyut tapi tidak ditanggapi oleh rekan-rekannya.


Clown kembali mengganti photo yang dia tunjukkan di layar laptopnya dengan photo yang lain.


“Ini ayah Nurul yang bernama Ahmad Hambali, dia adalah seorang petarung half-step manifestasi. Dikenal dengan julukan Pencabut Nyawa di masa mudanya. Sama seperti Munding, Ahmad menjadi petarung terbaik di eranya dulu.”


“Oooooo. Jadi bukan karena targetnya, tapi lebih karena orang-orang di sekitarnya. Wanita ini dikelilingi oleh orang-orang kuat ya?” kata Denise yang kali ini berkomentar sambil mencibir ke arah photo Nurul.


Denise benci cerita Puteri Cantik yang bertemu dengan Pangeran Tampan. Denise juga benci saat melihat seorang gadis yang tumbuh dikelilingi orang-orang yang menyayangi dan melindunginya.


Karena Denise tak pernah merasakan itu semua saat dia beranjak dewasa.


Denise tumbuh dengan kehidupan yang menyedihkan dan kelam. Pelecehan seksual, kekerasan, penganiayaan, dan banyak hal busuk lainnya menemani Denise saat dia beranjak dewasa. Saat itu, dia menganggap kalau jalan hidup yang ditempuhnya adalah wajar. Saat itu, Denise juga menganggap semua wanita akan mengalami nasib yang sama dengan dirinya.


Setelah dia dewasa, Denise baru mengetahui kalau jalan hidupnya adalah jalan terkelam yang pernah ada. Denise melihat banyak gadis-gadis lain tertawa dengan riang disamping ayah dan ibu mereka yang menyayangi putrinya.


Denise melihat juga para gadis-gadis itu diperlakukan layaknya seorang putri kecil dan dikelilingi oleh orang-orang yang selalu memberikan perhatian dan kasih sayangnya. Denise tumbuh dewasa tanpa pernah merasakan itu sama sekali. Kenapa mereka bisa mendapatkannya sedangkan aku tidak? Dan itu membuat dia menumbuhkan rasa iri dan benci saat melihat gadis-gadis lain yang bahagia.


“Bukan hanya mereka berdua,” kata Clown memecahkan khayalan Denise.


“Nurul punya Paman yang bernama Sulaiman, seorang petarung manifestasi dan juga seorang Tante bernama Aisah, seorang petarung manifestasi juga,” lanjut Clown.

__ADS_1


Clown mengganti photo Pak Yai di layar laptopnya dengan photo yang diambil dari kejauhan. Photo itu menunjukkan sosok Leman dan Aisah dari jarak jauh.


Terdengar suara tawa kecil dari Bae-Nim, mukanya yang selalu tersenyum dan riang itu menghilang digantikan sebuah wajah sinis dan bengis, “kalau begini, misi ini baru menarik.”


__ADS_2