Munding - Legenda Serigala Petarung

Munding - Legenda Serigala Petarung
Chapter 46 - Pulang


__ADS_3

Dua jam kemudian Munding yang berjalan tertatih-tatih dan dengan darah yang memenuhi seluruh tubuhnya sampai ke dekat jembatan penghubung desa. Dan di sana Munding melihat dua orang laki-laki berbadan tegap yang berdiri sambil memegang rokok di tangannya.


Melihat Munding yang berjalan pelan-pelan mendekati ke arah mereka, kedua prajurit itu sama sekali tidak bereaksi apa-apa. Mereka tetap asyik menikmati rokoknya dan melihat ke arah Munding yang penuh luka.


“Kami sudah menunggumu lebih dari 4 jam disini. Apa yang membuatmu lama sekali?” kata salah seorang dari prajurit itu.


Munding cuma terdiam sambil menatap ke arah mereka. Munding sebenarnya sudah pasrah, dia sudah tidak lagi punya cukup tenaga untuk melakukan pertarungan dengan siapapun.


Apalagi melawan dua orang prajurit terlatih di depannya. Belum kalau memikirkan mereka dilengkapi dengan senjata api. Cuma satu hasil akhirnya.


Munding tewas tanpa perlawanan.


Melihat Munding tidak memberikan reaksi apa-apa terhadap pertanyaannya, prajurit yang bertanya tadi kemudian melemparkan rokok yang dipegangnya ke arah kakinya dan menggunakan kakinya untuk menginjak dan mematikan bara dari puntung rokok itu.


“Karto??” tanya Prajurit itu lagi.


Munding cuma melambaikan amplop yang ada ditangannya dan prajurit itu paham maksudnya.


“Kami disini bukan untuk menahanmu atau menghentikanmu. Silahkan lewat,” kata Prajurit yang dari tadi menanyai Munding.


“Kami bisa memastikan kalau kasus ini tidak akan ditangani oleh pihak kepolisian tapi akan ditangani oleh militer. Tapi kami tidak bisa berjanji apa-apa untuk tindakan yang akan diambil oleh atasan kami. Bersiap-siaplah!” kata Prajurit satunya yang dari tadi terdiam saja.


Kedua prajurit itu kemudian berjalan melewati Munding menuju arah desa Sukorejo. Sesekali mereka bercanda dan tertawa.


Munding terdiam di tempatnya dan menarik napas dalam. Dia sudah pasrah akan nasibnya, tapi mungkin takdir berkata lain. Munding tahu sejak awal dari nalurinya kalau kedua prajurit tadi tidak memberikan rasa permusuhan sama sekali kepada dirinya.


Munding kemudian berjalan kembali menyeberangi jembatan. Ke desa Sumber Rejo. Pulang ke rumahnya.


Tapi ketika dia sampai di ujung jembatan, langkah kaki Munding tiba-tiba berhenti. Dia menoleh kearah belakang ke desa Sukorejo, tempat kelahirannya.


Munding pun tersenyum, karena sekarang sudah tidak ada lagi yang membuatnya terikat dengan desa ini. Dan Munding tidak tahu kapan dia akan menyeberangi jembatan ini lagi.


Semburat merah mulai terlihat di ufuk timur. Munding tahu kalau fajar akan segera menyingsing. Cuma satu yang ada di pikirannya sekarang, siapa yang adzan subuh di mushola pagi ini?


\=\=\=\=\=

__ADS_1


Munding melihat ke ruangan yang didominasi warna putih di sekelilingnya. Dia tahu dimana ini, Rumah Sakit Umum Daerah Sukolilo, atau orang sering menyebutnya RSUD Sukolilo. Seluruh tubuh Munding dibalut perban. Rasa gatal dan sakit juga memenuhi seluruh bagian tubuhnya. Terutama di bagian perut, dada dan punggung.


Nurul tertidur sambil duduk di sebelah ranjang Munding. Setelah melihat berkeliling sebentar, Munding tidak menemukan Pak Yai dan Bu Nyai di dalam ruangan ini. Tangan Munding mengelus-elus kepala Nurul yang tertutupi jilbab pelan.


Nurul pun terbangun ketika dia merasakan ada yang memegang kepalanya, “Mas? Mas Munding dah sadar?”


“Kan Nurul sudah lihat sendiri kalau Mas sudah sadar, kok masih pakai nanya sih?” jawab Munding sambil tersenyum.


“Bapak sama Ibu mana?” lanjut Munding.


“Mereka sedang mengurus administrasi RS sebentar ke bawah,” jawab Nurul, “Nurul ambilin minum ya?” kata Nurul sambil beranjak berdiri dan mengambil air mineral yang ada di meja.


“Mas berapa hari nggak sadarkan diri?” tanya Munding.


“Ini hari yang ketiga, kata Dokter sih selain luka luar karena senjata tajam, tidak ada masalah apa-apa. Dokter cuma bilang kalau Mas itu kelelahan banget. Butuh waktu lebih untuk beristirahat,” jawab Nurul setelah menerima kembali botol air mineral dari tangan Munding.


Nurul kemudian tiba-tiba berdiri dan mencium bibir Munding. Mereka berciuman dengan mesra kemudian setelah beberapa menit Nurul melepaskan ciumannya dengan muka memerah.


“Mas tu sudah bikin Nurul kuatir banget. Banyak banget luka di tubuh Mas. Itu kena apa sih? Pedang ya? Untung aja nggak pa-pa,” cerocos Nurul yang disambut Munding dengan senyuman.


Nyaring, merdu dan menenangkan hati.


“Mas ndengerin nggak sih?” tanya Nurul dengan muka agak kesal, mungkin nyadar kalau ocehannya nggak didengerin Munding.


“Ndengerin lah. Mana jeruknya tadi, keliatannya kamu ngupas jeruk tadi,” jawab Munding mengalihkan pembicaraan.


Dan Munding pun menghabiskan beberapa hari berikutnya dirawat di RSUD Sukolilo dengan ditemani Nurul, Pak Yai dan Bu Nyai.


\=\=\=\=\=


Setengah bulan kemudian.


Munding sudah diijinkan untuk pulang ke rumah dan tetap melanjutkan rawat jalan untuk bekas luka-lukanya. Bekas luka yang sebenarnya sudah tidak membutuhkan perawatan intensif lagi. Munding juga tahu kalau luka di tubuhnya tinggal tahap akhir untuk penggantian sel kulit baru saja.


Sesampainya di rumah, Munding dan keluarga Pak Yai makan siang di ruang keluarga mereka. Meskipun ada televisi di dalam ruangan ini, tapi Munding sama sekali tidak pernah melihat keluarga Pak Yai menyalakannya. Di sini juga tidak ada sofa atau perabotan mahal lainnya. Cuma ada karpet yang agak tebal digelar di lantai.

__ADS_1


Jadi kalau mereka makan bersama tentu saja semua masakan dan nasi akan diletakkan ke lantai. Setelah dua minggu berbaring terus dan dirawat di rumah sakit. Munding mulai kangen dengan suasana makan ala keluarga Pak Yai.


Seperti biasa Munding dan Pak Yai duduk sambil menunggu Bu Nyai dan Nurul menyiapkan makanannya. Biasanya Munding membantu mengangkat barang-barang yang agak berat, tapi karena dia baru saja keluar dari rumah sakit, Munding cuma disuruh duduk saja di sebelah Pak Yai.


Mereka pun berdoa bersama dan kemudian mengambil makanan yang ada di depannya. Biasanya selama ini, Bu Nyai akan mengambilkan Pak Yai, Munding dan Nurul akan mengambil makanan mereka sendiri-sendiri.


Tapi kali ini, Nurul dengan percaya diri mengambilkan makanan untuk Munding dan melayani Munding. Munding yang kali pertama ini dilayani Nurul di depan Pak Yai dan Bu Nyai tentu saja malu dan menundukkan kepalanya.


Nurul sendiri sama sekali tidak merasa bersalah dengan apa yang dia lakukan.


“Munding..” panggil Pak Yai pelan.


“Ya Pak Yai?” jawab Munding.


“Kamu sama Nurul nikah aja. Besok Bapak carikan penghulu,” kata Pak Yai pendek.


Munding yang mendengar kata-kata Pak Yai kaget sekali. Dia sayang Nurul, tapi mereka kan masih anak kecil. Munding kelas 1 SMA, Nurul masih kelas 3 SMP.


Menikah? Munding nggak bisa bayangin.


Melihat raut muka Munding yang sepertinya nggak percaya, Pak Yai mengrenyitkan dahinya, “kenapa?”


“Munding kan masih kecil Pak Yai, apalagi Dek Nurul,” jawab Munding.


“Kalian berdua sudah akil baligh,” potong Pak Yai.


“Tapi menurut undang-undang, minimal usia nikah untuk perempuan kan 18 tahun Pak Yai,” Munding masih tetap memprotes.


“Kalian sekarang nikah sesuai agama dulu. Nanti kalau usia kalian sudah memenuhi UU, baru daftarin di KUA. Bapak nggak mau nanti kalian kebablasan. Mau dicambuk 100x terus diasingkan setahun?” bentak Pak Yai.


“Iya, Pak Yai.” jawab Munding sambil menganggukkan kepalanya, pasrah.


Nurul yang mendengar percakapan Bapak dan kekasihnya akhirnya menangis bahagia setelah mendengar kata-kata terakhir Munding. Dia kemudian memeluk Ibunya.


“Tapi, usahakan jangan sampai Nurul hamil dulu. Kalau bisa nanti saja kalau sudah lulus SMA atau nunggu udah daftar di KUA,” lanjut Pak Yai.

__ADS_1


Dan akhirnya setelah itu mereka berempat melanjutkan makan siang mereka di dalam ruang keluarga rumah Pak Yai dalam keceriaan.


__ADS_2