
Ketika Ambar dan Fariz sampai ke dalam rumah, mereka melihat dua orang gadis dengan pakaian yang terlihat acak-acakan dan sedang panik berusaha merawat seorang pemuda yang terbaring tak sadarkan diri di pangkuan Amel.
Munding yang terbaring dengan kepala di kaki Amel terlihat bersimbah darah terutama di bagian perut dan punggungnya. Mukanya terlihat pucat dan seperti orang yang kehabisan tenaga setelah dipaksa untuk melakukan sesuatu yang melebihi kemampuannya.
“Munding kenapa Mel?” tanya Fariz yang langsung berlari ke arah Amel.
“Udah dek, kamu panggilin tim medis yang datang bareng kita, biar Ibu aja yang ngurusin mereka disini,” kata Ambar ke Fariz.
Fariz pun berlari keluar dan mencari tim medis dari militer. Amel terlihat mulai menangis ketakutan. Semua usahanya untuk membangunkan Munding sudah dia coba bersama Citra tadi dan usaha itu gagal. Apalagi setelah dia melihat luka di perut dan punggung Munding yang masih mengeluarkan darah, Amel semakin panik dan cemas.
“Mbak Ambar, tolongin Munding ya?” kata Amel disela-sela tangisnya kepada Ambar yang baru saja datang dan kini duduk di sebelahnya.
“Nanti biar tim medis yang ngurusin dia. Amel nggak pa-pa kan?” tanya Ambar.
Amel menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Tak lama kemudian, Citra keluar dari kamar tamu setelah berhasil melepaskan kedua orang tuanya dari ikatan tali si Ardy yang berhasil kabur tadi.
Papa Citra dibantu dengan Ambar kemudian mencari tali dan berusaha mengikat tangan dan tubuh Rey yang masih tak sadarkan diri. Tapi saat mereka bergerak mendekati Bram, mereka mengurungkan niatnya, kepala Bram terlihat terluka parah dan mengeluarkan darah yang sangat banyak.
Mereka berdua tidak yakin kalau nyawa pemuda itu akan terselamatkan malam ini. Mereka memutuskan menunggu tenaga medis ahli melakukan tugasnya untuk si Bram.
Tak lama kemudian, beberapa orang dengan membawa kotak obat-obatan datang dan melakukan perawatan pertama untuk Munding dan juga beberapa orang lainnya. Personil prajurit juga masuk ke dalam rumah dan mengamankan area di sana.
Pihak kepolisian datang setengah jam setelah tim dari militer datang dan kedua pihak melakukan handover antara mereka.
\=\=\=\=\=
Seorang gadis terlihat sedang duduk di samping sebuah ranjang. Di atas ranjang tersebut terbaring seorang pemuda yang terlihat bertelanjang dada dan tidak mengenakan apa-apa di tubuhnya. Justru ada beberapa balutan perban di badannya yang terbuka itu.
Si gadis memasang wajah sedih sambil tak berhenti melihat ke arah si pemuda yang sudah tak sadarkan diri selama hampir 3 hari ini. Sesekali si gadis akan mendekat dan mengusap kening si pemuda. Jemari si gadis juga terkadang akan berhenti ke bekas luka kecil yang ada di pelipis kiri si Pemuda.
__ADS_1
Mereka adalah Munding dan Amel.
Sambil menarik napas, tatapan mata Amel beralih ke arah tubuh Munding. Sejak pertama kali Amel melihat tubuh Munding, Amel selalu bermimpi buruk. Selama ini, Munding selalu menutup rapat tubuhnya dan tidak pernah sekalipun membukanya di depan Amel.
Amel tak pernah sekalipun melihat Munding bertelanjang dada. Ketika Munding tak sadarkan diri setelah perkelahian tiga hari yang lalu dengan tubuh yang terluka, Amel akhirnya mempunyai kesempatan pertamanya untuk melihat tubuh Munding.
Amel sangat terkejut ketika melihat tubuh Munding untuk yang pertama kali. Selain luka baru yang diterima Munding malam itu, ternyata, tubuh Munding sudah menyimpan bekas luka yang jauh mengerikan daripada yang dialaminya saat perkelahian di rumah Citra.
Sebuah bekas luka tusukan di perut yang sepertinya terlihat dalam sekali. Sebuah bekas luka lain yang melintang di punggung dan terlihat tidak terlalu dalam. Amel menduga kalau kedua bekas luka tersebut pasti berasal dari tusukan dan sabetan senjata tajam.
Selain bekas luka akibat senjata tajam, terdapat bekas luka berupa balur-balur halus yang memenuhi seluruh tubuh Munding. Bekas luka seperti terkena deraan atau pukulan benda tumpul secara terus menerus.
Ini kali pertama Amel melihat tubuh penuh bekas luka seperti itu dalam kehidupan nyata.
Tapi, sesekali wajah Amel akan bersemu merah, karena tubuh Munding yang rajin berlatih beladiri itu ternyata tubuh yang sangat seksi dengan six packnya di bagian perut dan otot lain yang terlihat simetris dan proposional.
Amel masih tetap duduk di sebelah Munding yang berbaring tak sadarkan diri. Jari Amel bergerak mengikuti alur bekas luka di badan Munding. Satu persatu. Seolah-olah Amel ingin tahu semua kisah dibalik mereka.
“Siapa yang menusukmu Munding?” kata Amel pelan saat menggunakan jarinya untuk meraba bekas luka itu, “apa sih yang telah kamu lalui selama ini?” lanjutnya dengan suara yang lirih.
\=\=\=\=\=
“Mbak Ambar, Mbak pasti tahu kan latar belakang Munding? Kenapa dia bisa punya bekas luka sebanyak itu? Dia itu sebenarnya siapa sih Mbak?” tanya Amel ke Ambar siang itu di ruang tamu rumah Amel.
Ambar terlihat kebingungan untuk menjawabnya, tapi tak lama kemudian dia diselamatkan oleh kedatangan atasannya, Pak Broto bersama Reni.
“Amel, kamu kenapa menginterogasi Ambar seperti itu?” tegur Pak Broto ke arah putrinya.
“Amel cuma ingin tahu siapa Munding yang sebenarnya,” kata Amel tegas ke arah Papanya.
__ADS_1
Pak Broto menarik napas dalam, “kalau kamu sudah tahu, terus apa yang akan kamu lakukan?”
Amel terdiam dan tidak bisa menjawab pertanyaan Papanya, tapi dia tidak ingin menyerah. Sejak kejadian seminggu lalu di rumah Citra, Amel semakin hari semakin menyadari seperti apa perasaannya ke Munding.
Rasa senang dan bahagia ketika melihat bayangan Munding tiba-tiba datang menyelamatkannya. Rasa takut dan sedih ketika Munding tak sadarkan diri dan roboh ke pelukannya. Rasa kuatir setelah berhari-hari Munding tak sadarkan diri sampai hari ini.
Dan semakin Amel memikirkannya, Amel merasakan dadanya terasa ingin pecah oleh perasaannya ke Munding. Rasa yang ingin dia keluarkan dari dadanya agar semua orang tahu. Rasa yang ingin dia sampaikan kepada Munding dan mendapatkan balasan dari si bocah kampung itu.
Amel ingin mengetahui tentang jatidiri Munding. Amel juga ingin mengenal Munding lebih dekat. Laki-laki yang sama sekali tidak dia ketahui asal-usulnya tapi membuatnya jatuh cinta.
“Amel suka sama Munding,” kata Amel pelan ke Papanya dengan suara yang bergetar.
Ini kali pertama Amel mengutarakan perasaannya, apalagi kali ini dia mengatakannya di depan Papanya sendiri. Reni yang sedari tadi berdiri saja di samping Broto tertawa kecil sambl melirik ke arah suaminya yang masih bermuka datar.
“Anakmu udah gede sekarang, Mas,” bisik Reni ke telinga Broto.
Broto tetap berwajah datar dan melirik ke arah Ambar. Ambar mengerti dan meninggalkan ruangan ini. Memberikan mereka bertiga waktu untuk menyelesaikan urusan keluarga mereka.
Broto menarik napas panjang, “kamu nggak boleh suka sama si Munding,” kata Broto pelan tapi tegas.
Muka Amel memerah mendengar kata-kata Papanya, “Papa kok gitu? Kenapa Papa ngatur-ngatur Amel segitunya? Ini kan perasaan Amel, kenapa Papa ngelarang?” teriak Amel yang makin lama makin meninggi.
“Amel, Papa tu sayang kamu. Seburuk apa pun laki-laki itu, kalau kamu memang memilihnya, Papa tidak akan melarangmu,” kata Pak Broto pelan, “tapi kamu tetep nggak boleh suka sama Munding,” lanjut Broto lagi mengulangi kalimatnya yang pertama.
Amel yang tadi terlihat berapi-api mulai menangis terisak-isak, karena dia tahu kalau apa yang dikatakan Papanya benar, Papa memang selalu sayang Amel. Dan Amel yakin, seandainya dulu dia nggak setuju Papa nikah sama Reni, Papa pasti ngikut.
Tapi kali ini, Papa terlihat bersikeras dengan pendapatnya dan Amel yakin pasti ada alasan untuk itu, “kenapa Pa?”
Broto menarik napas panjang, dia cuma punya Amel anak satu-satunya. Untuk Amel, dia akan melakukan segalanya asalkan dia bahagia. Tapi untuk kasus ini, Amel memang nggak boleh suka sama Munding.
__ADS_1
“Karena Munding sudah menikah dan punya istri,” jawab Broto pelan.
Amel tertegun selama beberapa saat dan mencoba untuk mencerna kata-kata Papanya sebelum akhirnya dia mengerti ucapan Papanya yang sama sekali tidak diduganya. Tak lama kemudian Amel pun tak sadarkan diri.