
“Namanya Santi Lofiani. Kamu kenal dia?” tanya Munding dengan wajah sedih.
Nia terlihat kaget dan tubuhnya bergetar ketika mendengar nama Santi disebut. Dia bukan hanya kenal, itu adalah kakak kandungnya. Satu-satunya keluarga yang dimilikinya di dunia ini. Nia bahagia dengan pilihannya untuk hidup bersama Yasin, kekasihnya. Tapi, jika Nia boleh berkata dengan jujur, satu-satunya penyesalan yang dia miliki adalah rasa bersalah untuk kakak kandungnya sendiri, Santi.
Munding tentu tahu akan hubungan Nia dan Santi. Bukankah, Santilah yang memberikan informasi tentang si Perlente dan rencana mereka kepada Ambar. Informasi yang mengantarkan semuanya kepada pertarungan terakhir di rumah Yusuf.
Tentu saja, pihak yang paling sedih dan merasakan dampak dari rentetan peristiwa saat itu adalah Santi. Dia begitu kecewa dan sedih ketika menyadari bahwa adik kandungnya telah memilih untuk menjadi pengikut sang Guru dan bahkan menjadi kekasihnya. Sebuah kenyataan yang menghempaskan mimpi indah Santi ke dasar jurang berbatu yang sunyi.
Santi tak pernah bisa kembali bangkit dari keterpurukan itu. Adek kandungnya, satu-satunya orang yang mempunyai hubungan darah dengannya. Satu-satunya orang yang bisa dia sebut keluarga, memilih untuk mengambil jalan yang berseberangan dengan jalan yang Santi pilih sebagai penegak hukum yang sebenarnya.
Munding tak pernah lagi mendengar kabar tentang Santi sejak itu. Bayangan wali kelasnya itu, meskipun hanya kedok sementara, seperti menghilang ditelan bumi. Dan salah satu alasan kenapa Munding menyarankan untuk menghindari kekerasan dalam penangkapan Nia adalah karena dia tak ingin saudara kandung wali kelasnya itu mengalami cidera atau bahkan kehilangan nyawa saat melawan.
Nia mungkin dididik dengan metode militan oleh Yasin, nalurinya mungkin sangat tajam. Tapi nalurinya tidak akan setajam Munding saat ditangkap oleh Satgultor dan sudah melewati tahap inisiasi. Munding tahu, kalau Nia bahkan mungkin tak sadar kalau dia sudah dikepung sejak pagi tadi. Mungkin Nia hanya akan merasakan perasaan tak enak dan gelisah sedari pagi tanpa tahu apa penyebabnya.
Tanpa sadar, pertanyaan Munding tadi membuat dua buah butir air mata mengalir di pipi Nia. “Mbak Santi,” gumam Nia pelan sambil mengusap air mata dari pipinya.
“Bu. Aku datang karena ingin menolongmu. Supaya tidak terjadi apa-apa. Aku harap, Ibu bisa bekerja sama dengan sebaik mungkin dan tidak melawan. Ada seseorang di luar sana yang selalu menunggu kepulangan Ibu,” bujuk Munding.
Nia terlihat bimbang. Di satu sisi, dia punya Yasin dan di sisi lainnya ada kakak kandungnya, Santi. Mia, Rony, dan Afza melihat semuanya dengan seksama. Apalagi Afza, dia sama sekali tak menyangka kalau si Munding bisa bertingkah seperti barusan. Hilang sudah bayangan serigala petarung yang sudah berkali-kali membantai musuhnya dengan garang dari kepala Afza.
Setelah beberapa menit, Nia kemudian menarik napas panjang dan melihat kearah Munding, “aku bersedia ikut dengan kalian,” katanya pelan.
__ADS_1
Munding tak menjawab kata-kata Nia, dia hanya tetap memandangi wajah Nia dengan ekspresi datar. Seolah-olah Nia sama sekali tidak mengatakan apa-apa.
Ketiga rekan-rekan Munding lainnya terlihat rileks dan melepas kondisi siaga mereka yang membuat mereka tegang sejak tadi. Ternyata, usulan Munding berjalan dengan lancar, target bisa dibawa tanpa kekerasan, seperti itulah isi kepala Mia, Rony, dan Afza.
“Kalau begitu, Munding biar nanti Nia duduk di belakang dan kami apit,” kata Afza dengan nada penuh kelegaan.
Munding terdiam dan tak menjawab kata-kata Afza. Afza merasa sedikit aneh dengan reaksi Munding, “Munding!!” teriak Afza sambil maju melangkah mendekati Munding.
Munding tetap diam tak bergeming dan makin lama, tatapan matanya makin tajam ke arah Nia, “Kamu yakin?” tanya Munding pelan dan dalam.
Munding tak lagi menggunakan panggilan sopan ‘Ibu’ tapi berganti menjadi ‘kamu’. Raut muka bingung terlihat di muka ketiga rekan Munding.
“Munding, kamu seharusnya tahu, kita ini sama, kita selalu akan bertarung sampai titik darah penghabisan. Jangan pernah patah semangat, tak ada kata menyerah, selalu maju dengan gagah berani, ikutilah nalurimu!” kata Nia sambil melihat kearah Munding, “bukankah itu ajaran kawanan kita? Bukankah itu juga yang diajarkan Izrail kepadamu?”
Mia, Rony, dan Afza terdiam. Mereka tidak menyangka kalau kata-kata Nia tadi hanya olok-olok saja. Dan dengan polosnya, mereka bertiga percaya kalau Nia akan ikut mereka tanpa perlawanan.
Mereka bertiga lalu dengan cepat mengambil posisi siaga dengan muka yang memerah karena merasa malu dengan kepolosan mereka. Mereka bukan pemula dalam tugas lapangan, tapi dalam menghadapi serigala petarung, pengalaman mereka masih sangat minim. Apalagi di era tanpa konflik seperti sekarang. Keberadaan serigala petarung militan murni seperti Munding atau separuh militan seperti Nia, hanyalah mitos bagi mereka.
"Kamu tak punya kesempatan. Kami juga tak ingin menyakiti kamu," kata Munding.
"Kamu sudah menyakiti kami!! Kamu lupa apa yang kamu perbuat kepada kekasihku?" kata Nia ke arah Munding dengan nada sinis.
__ADS_1
Ketiga rekan Munding terdiam dan mendengarkan dengan seksama sambil tetap waspada sepenuhnya. Mereka sudah memegang identitas sebagian anggota Chaos, apalagi yang sudah teridentifikasi seperti Nia dan Yasin. Mereka juga tahu kalau Munding sudah pernah bertemu dan terlibat pertarungan dengan pasangam ini, tapi detailnya terlihat ditutup-tutupi oleh pihak kepolisian.
"Kita bertarung. Dan di setiap pertarungan ada yang kalah dan menang. Itu sudah lumrah. Kita juga masing-masing punya prinsip. Kamu harusnya tahu itu," jawab Munding.
"Tapi, kamu sudah menjadi benih dendam dalam tubuh kekasihku!" bantah Nia dengan cepat.
"Saat ini, dia harusnya disini menemaniku. Tapi karena dendamnya kepadamu, dia memilih bertahan dengan Chaos," lanjut Wanita itu dengan suara pelan, "demi membalas dendam kepadamu."
Deg.
Munding sedikit kaget. Jangan-jangan Yasin saat ini menyerang rumahnya di Sukorejo? Bayangan mengerikan yang dia lihat saat mendapatkan insight waktu itu kembali terlintas dalam kepala Munding.
Tunggu!!
Bukankah seharusnya Nia ikut menyerang keluarganya di Sukorejo bersama tim Chaos?
Bukankah mereka akan menyerang keluarga Munding setelah anaknya lahir? Sekarang, kehamilan Nurul masih berusia berapa bulan saja.
Apakah anakku akan meninggal bahkan sebelum dia sempat melihat dunia?
Apakah keputusanku untuk bergabung dengan tim Merah Putih telah merubah masa depan menjadi seperti sekarang ini?
__ADS_1
Bukankah kalau begitu, keputusan apapun yang kuambil, pada akhirnya aku akan kehilangan keluargaku? Kehilangan istri dan calon anakku?
Apakah manusia memang tidak mempunyai kesempatan untuk merubah takdirnya?