Munding - Legenda Serigala Petarung

Munding - Legenda Serigala Petarung
Chapter 116 - Dia Datang


__ADS_3

“Sialan!!!” maki Broto sambil menendang body mobil minivan yang barusan berhasil mereka temukan di sebuah gudang kosong yang ada di sebuah komplek kawasan industri di pinggiran kota Semarang.


Broto, Umar dan Laras, ditambah beberapa puluh personnel prajurit di bawah perintah Broto menyerbu ke tempat minivan ini bersembunyi. Dan tanpa mendapatkan perlawanan yang berarti, mereka berhasil mengamankan dan meringkus semua anggota Tim Kelelawar yang ada di lokasi persembunyian mereka.


Tapi setelah melakukan interogasi terhadap para tawanan itu, Broto dan timnya benar-benar kecewa. Hanya ada 8 orang anggota tim Kelelawar yang gagal melakukan awakening dan seorang sopir pengkhianat di rumah Broto.


Mereka tidak menemukan sang Guru, keempat serigala petarung dari Tim Kelelawar dan yang terpenting mereka tidak menemukan Amel. Setelah menginterogasi lebih lanjut, barulah mereka tahu kalau Amel ternyata masih ada di mobilnya sendiri bersama tiga orang petarung tahap awakening.


Lokasi tujuan mereka juga tidak diketahui oleh semua anggota Tim Kelelawar yang lain dengan alasan agar rahasia misi mereka tidak bocor. Tapi kini Broto tahu kalau selama ini, sebenarnya mereka selalu menari-nari atas telapak tangan sang Guru dan bertindak sesuai dengan semua rencananya.


Dan kalau memang benar Amel berada dalam mobilnya, harapan mereka satu-satunya adalah Munding. Tapi melihat anggota Tim Kelelawar yang tersisa, itu artinya sang Guru pasti bergerak bersama dengan keempat murid petarung awakening-nya.


Broto, Umar dan Laras hanya saling berpandangan mata dan menghela napas.


Dengan cepat, Laras menghubungi Ambar yang ada di pusat komando untuk memperoleh update terbaru dari pengejaran Munding sekaligus mencari tahu dimana posisi terakhir mobil Amel. Apapun ceritanya, mereka tidak akan membiarkan Munding melawan sendiri kelima orang serigala petarung itu seorang diri.


Tapi tak lama kemudian handphone Broto berbunyi, ketika Broto melihat nomor tak dikenal yang sedang menghubunginya, dengan cepat dia memberi isyarat bagi tim IT nya untuk mencoba menghijack panggilan itu dan melacak posisi penelponnya.


Setelah mereka selesai bersiap-siap, Broto mengangkat panggilan telpon itu.


“Hallo,” kata Broto.


Suara seorang wanita terdengar dari seberang sana, “Hallo, Jenderal. Apa yang membuatmu begitu lama? Kau ingin melacak lokasi kami ya?”

__ADS_1


Broto terdiam ketika sang penelepon langsung menebak apa yang sedang dia lakukan.


Wanita itu tertawa kecil ketika Broto tidak menjawab pertanyaannya, itu artinya dugaan Nia benar, “tak perlu repot-repot seperti itu. Aku akan memberitahumu. Aku sekarang berada di rumah Yusuf Budi Setia. Kau pasti tahu dimana itu kan?” tanya Nia ke Broto.


Broto menjawab pelan, “aku tahu,” tangannya memberi isyarat kepada anak buahnya untuk segera bergerak menuju ke rumah Yusuf saat itu juga.


“Kau pasti baru saja memberi kode kepada orangmu untuk bergerak kemari kan?” tanya Nia lagi menebak apa yang dilakukan oleh Broto.


Broto lagi-lagi terdiam, Nia tahu kalau tebakannya benar dan dia tertawa kecil lagi, “Jenderal, namaku Nia, aku tidak ingin berlama-lama berbicara denganmu. Transfer uang tebusan untuk Amel dalam waktu satu jam ke nomor rekening yang setelah ini aku kirimkan lewat pesan chat.”


“Ingat, 1 jam, tidak lebih tidak kurang. Oiya, putrimu ingin berbicara sesuatu,” kata Nia sambil menempelkan handphonenya ke mulut Amel yang duduk disampingnya.


“Siapa yang mau bicara dengan Papa?” jawab Amel garang ketika handphone Nia didekatkan ke mulutnya.


Setelah Nia mematikan telponnya, dengan cepat, Broto menyuruh orang-orang mereka untuk bergerak kerumah Yusuf Budi Setia yang lokasinya masih berada dalam satu kawasan dengan rumah Broto sendiri.


Kini semua orang tahu apa alasan mobil Amel bergerak pulang meskipun si Sopir sudah jelas-jelas menjadi anggota komplotan mereka. Si Sopir yang keliatannya menjadi kambing hitam dan sengaja dikorbankan oleh kelima orang serigala petarung dari Tim Serigala bersama-sama dengan anggota Tim Kelelawar lainnya.


\=\=\=\=\=


Sebuah motor scoopy berwarna pink melaju di jalan raya dan dikendarai oleh seorang pemuda yang mengenakan kaos berwarna putih dan sebuah celana jeans dan sepatu sneakers berwarna hitam.


Munding menggeleng-gelengkan kepalanya ketika teringat dandanannya saat ini, ketika dia tidak sadarkan diri selama lebih dari seminggu setelah kejadian di acara Citra, Amel masuk dan mengobrak-abrik pavillionnya. Baju Munding yang cuma beberapa potong itu langsung diungsikan oleh Amel entah kemana.

__ADS_1


Isi dari lemari Munding berganti dengan baju, celana dan sepatu seperti yang dia kenakan sekarang. Baju yang sebenarnya tidak terlalu nyaman baginya untuk bergerak.


Ketika Munding sudah hampir sampai ke rumah Pak Broto dia berbelok mengikuti arah yang ditunjukkan dari hp yang tadi diberikan oleh staff di markas militer. Dengan cepat dan lihai, Munding mengendari motor matic dengan body menyerupai pendahulunya dari pabrikan Vespa itu untuk bergerak menuju tempat terakhir dimana sinyal mobil Amel terlihat.


Dua menit kemudian, Munding sudah berdiri di depan sebuah gerbang rumah yang besar dan dengan halaman luas. Meskipun tak seluas rumah Broto, tapi rumah ini pasti mengundang decak kagum dari orang yang lewat di depannya.


Munding melirik sebentar ke arah hp yang masih menunjukkan sinyal hijau itu di dalam rumah sana. Munding pun mengendarai motor maticnya ke dalam halaman rumah besar itu.


Dan ternyata benar sesuai dugaannya, mobil hitam milik Amel bermerk Mitsubishi Pajero itu terparkir di depan teras rumah besar ini. Tapi anehnya, suasana di rumah mewah ini terlihat sepi.


Munding kemudian memarkirkan motornya tak jauh dari mobil Amel dan berlari bergerak mendekati mobil tanpa sempat melepas helmnya. Ketika Munding ingin mencoba membuka pintu samping mobil itu, tiba-tiba saja pintu itu terbuka dengan keras, keliatannya sengaja ingin dihantamkan ke tangan Munding yang terulur tadi.


Dengan cepat, empat orang meloncat turun dari mobil. Dua laki-laki yang duduk di depan bagian kiri dan yang menjadi sopir, dua orang yang duduk di kursi deret kedua, Nia dan Yasin.


Mereka melihat kearah pemuda yang tiba-tiba saja datang dan mencoba untuk membuka pintu mobil mereka. Nomer Satu yang tadi duduk di sebelah kiri kursi sopir bergerak dengan cepat untuk memukul kepala Munding yang masih menggunakan helm sepeda motor di kepalanya.


Wuuttttttt.


Angin pukulan itu terdengar keras tapi Munding berhasil menghindari pukulan Nomer Satu dengan mundur ke belakang satu langkah. Nomer Satu yang melayangkan pukulan terlihat tekejut, begitu juga dengan Nomer Tiga yang menjadi supir dan Nia si Nomer Empat. Hanya Yasin sang Guru yang terlihat mengrenyitkan dahinya dengan raut muka serius.


Tak lama kemudian Amel yang sudah terlepas dari apitan Nia dan Yasin berhasil turun dari mobil, tapi ketika dia baru berjalan beberapa langkah, Nomer Dua yang tadi duduk di jok belakang sudah memegangi punggung Amel.


Keadaan menjadi sedikit aneh karena mereka semua terlihat hanya diam dan terlihat sedang memperhitungkan kekuatan lawan masing-masing.

__ADS_1


Amel yang sudah berhasil turun dari mobil, melihat Munding datang tiba-tiba merasakan rasa lega dalam dadanya, “Munding yang tetap akan selalu menjadi penyelamatku, ini bukan yang pertama dan ini juga tidak akan menjadi yang terakhir,” batin Amel dalam hati, senyuman manis pun tersungging di bibirnya.


__ADS_2