Munding - Legenda Serigala Petarung

Munding - Legenda Serigala Petarung
Chapter 141 - Rencana Jahat


__ADS_3

"Buahahahahaha."


"Ente nggak lihat sih ekspresi cewek itu waktu ane gedor kacanya. Dia ketakutan banget cuy, ane yakin tu cewek pasti ngompol di celana," kata si Gondrong kepada kawannya, padahal mereka berempat gondrong semua.


Keempat orang yang mencegat Asma tadi sedang berpesta minuman keras di sebuah ruangan. Ruangan ini adalah salah satu ruang karaoke yang ada di warung remang-remang milik Aditya yang sekarang menjadi milik Puji.


Tak lama kemudian empat pramuria berpakaian seksi masuk ke ruangan dan langsung menempel ke masing-masing pria gondrong itu. Mereka dengan ganas langsung menggerayangi tubuh pramuria yang menjadi pasangannya.


Saat sedang asyik berbuat mesum, pintu ruangan terbuka dan seorang gadis cantik berpakaian modis masuk ke dalam ruangan.


"Gimana?" tanya Puji.


"Sukses Boss, kita mencegat gadis itu sesuai perintah Boss. Lalu kita serang dia," jawab Si Gondrong yang kelihatannya menjadi pemimpin grup ini.


Tak lama kemudian cerita lengkap dari kejahatan yang mereka lakukan tadi telah selesai dilaporkan ke Puji.


"Adakah seorang pemuda yang menolongnya atau melawan kalian?" tanya Puji.


"Nggak ada Boss, tapi memang dia kembali ke rumah yang ada musalanya itu," jawab si Gondrong.


Puji sedikit bergidik ngeri, tapi dia lalu menarik napas panjang dan berusaha menekan rasa takutnya. Dia sudah berubah, dia tak perlu lagi takut kepada ancaman Munding. Dia bukan lagi seorang gadis miskin yang cuma mengandalkan kemolekkan tubuhnya dan kecantikan wajahnya, kata-kata itu terus berulang di dalam kepala Puji.


"Kalian teruskan, malam ini aku yang traktir untuk semua minuman yang kalian habiskan," kata Puji.


"Siap Boss," jawab keempat orang gondrong itu sambil tertawa senang.


Puji keluar ruangan dan menutup pintunya. Dia kembali berdiri di koridor yang tenang. Sekalipun di balik masing-masing pintu yang ada di koridor ini, entah sekeras apa dentuman musik-musik dangdut diiringi suara parau meracau laki-laki yang mencari kebahagiaan semunya, tapi dari koridor tempat Puji sekarang berdiri, tak sedikitpun terdengar suara-suara itu.


Puji berjalan cepat ke arah kantornya, sesekali dia akan tersenyum ketika berpapasan dengan karyawannya yang sedang berjalan di koridor itu. Tak lama kemudian, Puji sampai di ruangan kantornya. Dia menutup pintu itu dan menguncinya dari dalam.


Munding.


Bayangan pemuda itu yang sedang marah dan mengancam Joko dan semua laki-laki di Sukolilo kalau berani menyentuh gadisnya kembali terulang di kepala Puji.


"Tidak!!!"

__ADS_1


"Aku tak takut lagi!"


"Aku seorang Boss. Aku punya banyak karyawan. Aku punya Sucipto. Aku juga punya Danramil di belakang tempat ini," kata Puji di sela-sela napasnya yang terengah-engah.


"Munding, aku tak lagi takut ancamanmu!!" desis Puji sambil mengambil sebuah minuman alkohol impor dan menuangnya di gelas milik Puji.


Puji menghabiskan malam itu dengan duduk sendirian di ruangan kantornya.


\=\=\=\=\=


"Mas. Mas Munding nggak boleh main hakim sendiri!! Ini negara hukum. Serahkan kepada polisi. Biar mereka yang mengusutnya," bisik Nurul pagi itu kepada Suaminya saat mereka berempat datang ke Polsek Sukolilo.


Di dalam kantor Kapolsek, Suprapto meradang dan marah habis-habisan, "Dasar Aditya ba****t, aku sudah bilang agar tak menyentuhnya. Tapi dia tetap melakukannya juga. Go**ok!!!"


"Sekarang kedua orang itu datang ke kantorku. Ban**at!! Lihat saja nanti Aditya, kucabut j***utmu satu persatu!!" teriak Suprapto di dalam ruangannya sendiri.


Pak Yai, Munding, Asma, dan Nurul datang ke kantor polisi itu pagi ini. Pak Yai yang dikabari anaknya tentang kejadian yang menimpa Asma langsung berangkat ke desa Sukorejo selepas subuh.


Setelah itu, mereka berempat datang ke kantor polsek ini untuk membuat laporan.


Pak Yai tersenyum lalu memberikan isyarat ke Munding dan dua wanita di sampingnya untuk mengikuti Pak Yai.


Tak lama kemudian, Suprapto yang tersenyum lebar sudah menunggu mereka di dalam sebuah ruangan yang sedikit luas dan ada meja panjang di tengahnya. Beberapa kursi terlihat mengelilingi meja itu.


"Pak Ahmad, ada angin apa kok tiba-tiba sampeyan datang ke sini bersama anak dan menantu?" tegur Suprapto sambil mengulurkan tangannya untuk menyalami Pak Yai dan Munding.


Suprapto melirik ke arah Munding, bocah yang sering dia dengar namanya tapi baru kali ini Suprapto bisa melihat dia dari dekat. Tak ada yang istimewa dari wajahnya. Lumayan ganteng tapi dengan fitur wajah pedesaan. Sawo matang dan tak seputih kulit Suprapto.


"Gini. Anak angkatku, Asma, gadis ini," kata Pak Yai sambil menunjuk ke arah Asma yang berdiri di sebelah Nurul, "dicegat dan diserang orang semalam. Mereka empat orang pria yang berambut gondrong semua dan wajahnya serem. Mereka juga bukan orang asli Sukorejo. Kalau tidak, anakku pasti sudah mengenalinya," kata Pak Yai.


"Kamu bisa bantu atau harus nunggu diproses dulu?" tanya Pak Yai.


"Tentu bisa Pak. Ini tindak kriminal. Melakukan pembegalan terhadap seorang wanita. Nggak bisa dibiarin ini," jawab Suprapto berapi-api.


"Tunggu bentar ya Pak, saya minta tolong anggota untuk buatin minum dulu," kata Suprapto sambil berdiri dan berjalan keluar ruangan.

__ADS_1


Suprapto lalu melambaikan tangan dan meminta polwan muda yang menjemput rombongan Pak Yai tadi untuk membuatkan minuman untuk mereka.


Si Polwan muda yang baru saja lulus pendidikan ini tentu saja kaget dengan instruksi atasannya. Beliau sendiri yang menjumpai mereka, lalu kini, dia bahkan diminta untuk membuatkan minuman untuk mereka.


Helloo? Aku ikut pendidikan polisi bukan untuk jadi office lady ya!! sungut si polwan muda, tapi tetep aja dia kerjakan instruksi komandannya itu.


Suprapto berjalan cepat ke ruangannya dan langsung menghubungi nomor Aditya. Suprapto tahu siapa keempat orang itu. Kawan-kawan Aditya yang ikut ke kampung Sukorejo dan jadi tangan kanannya.


"Kupikir kamu itu cerdas, ternyata sama juga. Dasar otak bekicot!!" gumam Suprapto sambil menunggu panggilannya masuk.


Ketika panggilan telponnya masuk, Suprapto langsung menyemburkan nafas naganya dan Aditya mendapatkan cerita nabi-nabi dari Suprapto pagi itu.


Aditya terdiam dan membiarkan emosi Suprapto reda dulu sebelum dia menyela.


"Aku dah ngomong berapa kali samamu. Jangan sentuh Munding!! Kau ini, aku tak tahu lagi mau ngomong apa," keluh Suprapto setelah melampiaskan marahnya selama semenitan lebih berapa detik.


"Bukan aku tu Ndan," jawab Aditya.


"Ha?" Suprapto kaget, "maksudmu apaan?" tanya Suprapto.


Aditya lalu menceritakan kejadian 'jual-beli' antara dia dan Sucipto dengan backingan dari Danramil. Suprapto mendengarkan dengan seksama dan kini dia tahu kalau Kafe Aditya, sekarang menjadi milik seorang gadis bernama Puji Astuti, kekasih Sucipto.


Suprapto langsung tertawa, "kau beruntung si Puji itu gadis yang bodoh. Dia menyuruh si gondrong bekas anak buahmu menyerang gadis Munding. Humph," dengus si Suprapto dan kepalanya memutar siasat dengan cepat.


Tak lama kemudian, Suprapto tersenyum lebar, "aku bisa membantumu mendapatkan lagi kafe itu, tapi sama seperti Kusnandar, aku mau separuh laba bersih tiap bulan. Deal?" tanya Suprapto.


Tak ada jawaban dari seberang telpon sana, ketika tiba-tiba suara pelan terdengar lirih menjawab penawaran Suprapto, "deal."


"Hahahahaha. Kau tenang saja duduk manis disitu dan tunggu kabar berita hancurnya di Sucipto dan gengnya," kata Suprapto penuh percaya diri.


Suprapto tersenyum cerah saat menutup panggilan telponnya, jika dia bisa membuat kasus ini selesai seperti rencananya, uang bukan masalah lagi bagi seorang Suprapto.


Sedangkan Aditya cuma garuk-garuk kepala. Bagaimana mungkin dia tetap menunggu dan duduk manis ditempatnya? Saat Suprapto telpon tadi, Aditya sedang buang hajat di toilet. Kan jorok banget kalau dia tetap menuruti perintah Suprapto.


Sedangkan jauh di Kantor Polsek sana, dengan langkah mantap dan percaya diri, Suprapto kembali ke ruangan meeting tempat Pak Yai dan keluarganya menunggu. Sebuah rencana jahat untuk memanfaatkan kedua Serigala Petarung itu untuk merebut Kafe Aditya berputar di kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2