Munding - Legenda Serigala Petarung

Munding - Legenda Serigala Petarung
Chapter 189 - Jembatan


__ADS_3

Seorang lelaki paruh baya yang berbadan tegap sedang berada dalam sebuah ruangan yang terlihat seperti sebuah tempat latihan bela diri. Tetapi dia hanya memperhatikan saja orang-orang yang ada di tengah ruangan itu saling menyerang satu sama lain dengan pasangannya masing-masing.


Sesosok lelaki yang sudah berumur terlihat sedang berteriak berulang-ulang memberikan instruksi kepada orang-orang yang sedang bersemangat melakukan aktifitasnya itu. Sesekali sebuah tendangan ataupun pukulan akan dilayangkan oleh lelaki tua yang senantiasa bergerak kesana kemari diantara orang-orang yang sedang berlatih itu ketika melihat apa yang tidak dia sukai dan dia pernah mengajarkan itu kepada anak didiknya.


Tiba-tiba sebuah panggilan masuk mengagetkan lelaki paruh baya yang sedari tadi memperhatikan anggota pasukan elitenya sedang dididik oleh Umar itu. Broto melihat ke arah Caller ID dan sedikit mengrenyitkan dahinya ketika melihat ternyata panggilan masuk berasal dari Afza, prajurit elite terbaik yang pernah dia miliki, sekaligus murid kesayangan Umar.


“Ya?” kata Broto sambil mengangkat panggilan masuk tersebut.


“Selamat Siang Pak, ini Afza. Ada urusan penting yang ingin saya laporkan, mohon ijin untuk melapor,” jawab Afza.


“Silahkan,” jawab Broto.


“Beberapa hari lalu, saat melakukan misi pertama kami, Munding ...”


Afza lalu menceritakan kronologis semua kejadian yang mereka alami saat penggerebekan Nia di rumah mungilnya yang berada di desa kecil daerah pegunungan. Broto mendengarkan dengan penuh perhatian sambil sesekali bertanya ketika ada details yang dia rasa kurang begitu dia pahami.


Setelah menjelaskan selama kurang lebih 15 menit, Broto secara garis besar bisa mengetahui apa yang telah terjadi kepada Munding dan sikap yang diberikan oleh Penanggung Jawab tim Merah Putih terhadap keberadaan Munding dalam timnya.


“Jadi apa maunya si Jae sekarang?” tanya Broto ke Afza.


“Itu .. Begini Pak ...” Afza terlihat ragu ketika menjawab pertanyaan Broto.


Broto segera paham kalau sekarang Jaelani sedang berada di dekat Afza, tentu saja dia tidak akan membuat anak buahnya sendiri berada dalam posisi tidak mengenakkan.


Dengan cepat Broto memotong kata-kata Afza, “Berikan handphone-nya ke Jaelani!!”


Afza yang berada di sebelah Jaelani dan Arya memberikan handphonenya ke Jaelani dengan sedikit ragu-ragu. Muka Jaelani pun sedikit terlihat aneh. Dia memang garang saat meminta Afza menelepon Broto, tapi ketika sekarang Broto benar-benar berada di sambungan telepon yang kini dia pegang, entah kenapa, nyalinya terbang dihembus angin.


Setelah lama tak mendengar suara dari handphone yang dipegangnya, Broto sedikit gusar dan membentak ke arah bagian mic handphonenya sendiri, “Jae!!!!”


Jaelani terperanjat kaget dan hampir menjatuhkan handphone Afza dari tangannya.


Afza dan Arya yang melihat kejadian itu spontan langsung tertawa tetapi sesaat kemudian, mereka berdua berusaha keras menahan tawa mereka sekuat-kuatnya sampai tubuh mereka berguncang-guncang.

__ADS_1


Jaelani melihat kedua prajurit itu dengan tatapan mata marah bercampur malu dengan muka yang memerah. Ini benar-benar sesuatu yang memalukan bagi seorang komandan sekaligus perwira tinggi sepertinya.


Jaelani lalu menghirup udara sebanyak-banyaknya lalu berusaha meredam rasa keterkejutan sekaligus groginya. Sesaat kemudian dia berhasil mengendalikan emosinya dan dengan suara tenang menjawab panggilan di handphonenya.


“Selamat siang Jenderal,” kata Jaelani dengan suara yang perlahan dan terdengar tenang.


“Selamat Siang, Komisaris Jenderal,” jawab Broto sambil memberikan penekanan kepada pangkat yang memang dimiliki oleh Jaelani.


“Jangan begitu Jenderal, panggil saja aku Komandan, tak usah bawa-bawa pangkat segala,” protes Jaelani, meskipun semua orang bisa merasakan kebanggaan yang terpancar dari nada bicaranya.


“Lebih baik aku memanggilmu Jae saja, aku hanya menggunakan panggilan ‘komandan’ kepada atasanku,” jawab Broto.


Jlebbbbb. Tusukan pertama datang menghujam ke dada Jae dan membuatnya muntah darah.


“Oke. Itu hanya sekedar panggilan Jenderal. Buat aku, terserah Jenderal mau memanggilku apa,” jawab Jaelani mengalah.


“Bukankah tadi aku sudah memutuskan untuk memanggilmu Jae? Aku tak peduli kau suka atau tidak,” jawab Broto sengit.


Jaelani menggeram dalam hati, “kau lihat nanti dasar para Jenderal tua dari Angkatan, ini sudah bukan lagi jamannya ABRI dulu, dimana TNI lebih tinggi kedudukannya dari Polisi. Ini era millenial. Kepolisian melapor langsung kepada Presiden, sedangkan kalian melapor ke Menko Polhukam. Kalian dibawah kami,” gerutunya dalam hati penuh kebencian.


Tapi, Broto tak peduli sama sekali dengan isi kepala Jaelani, “Jadi, kenapa kamu meminta Afza meneleponku?” tanya Broto.


Jaelani juga kembali tersadar dan dengan cepat segera menyusun taktiknya yang sudah dia rencanakan dari tadi. Rencana untuk membuat Munding tersingkir dari tim Merah Putih. Padahal, Munding tak pernah melakukan satu hal apapun kepada Jaelani.


“Begini Jenderal,” kata Jaelani dengan suara yang sudah kembali teratur dan tenang.


“Munding itu orang sipil. Metode latihan dia sebagai serigala petarung sama sekali tidak terstruktur dengan baik.”


“Berbeda dengan petarung elit yang kita didik. Munding ini sama sekali tidak bisa ditebak.”


“Kejadian terakhir saat Munding mengalami berserk dalam misi pertamanya bisa jadi sebuah contoh yang sangat baik.”


“Dia berpotensi menjadi sebuah variabel tak terduga yang bukannya justru membangun tetapi malah mengancam keberlangsungan tim.”

__ADS_1


“Intinya, aku menganggap kalau Munding lebih banyak membahayakan daripada memberikan kontribusi positif kepada tim Merah Putih yang kita bangun,” kata Jaelani mengakhiri orasinya.


Broto yang mendengarkan ocehan Jaelani hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.


“Jadi menurutmu, sesuatu yang berbeda itu tidak bagus?” tanya Broto.


“Bukan semua yang berbeda Jenderal, tapi yang tidak punya standar yang sama dengan pasukan elite kita. Disiplin, mengikuti perintah, dan banyak atribut lain yang harusnya dimiliki oleh seorang prajurit,” kata Jaelani.


Broto terdiam dan terlihat berpikir sejenak. Lalu dia berjalan menuju ke tengah lapangan dan ketika sampai di tengah-tengah prajurit elitenya, Broto berteriak, “Semangat!!!”


Huuuuhhhaaaaaaaaaaaaaaaa.


Suara yang menggelegar terdengar memekakkan telinga dari puluhan anggota prajurit elite yang sedang dilatih oleh Umar itu. Teriakan yang tentu saja membuat Jaelani yang mendengarnya melalui handphone sangat terkejut sekali.


“Jae, kau tahu suara apa itu tadi?” tanya Broto sambil kembali berjalan ke tepi lapangan.


“Aku tidak tahu Jenderal,” jawab Jaelani.


“Itu suara teriakan pasukan elite-ku. Kau tak perlu tahu nama kesatuannya khususnya,” kata Broto sambil mendekatkan handphone yang dipegangnya ke bibir.


“Angkatan Darat sejak dulu dianggap memiliki serigala petarung terbanyak, dan kami akui kalau itu adalah fakta. Tadi, adalah prajurit terelit-ku, aku punya lebih dari lima puluh serigala petarung terinisiasi yang sekarang sedang berlatih disini bersamaku,” kata Broto, “dan ini hanya sebagian kecil saja dari total keseluruhan kekuatan kami,” lanjutnya.


“Bagi kami, militer secara keseluruhan, Chaos bukanlah ancaman. Itulah selama ini mereka selalu bergerak kesana kemari dan melakukan aksinya secara sembunyi-sembunyi seperti tikus. Jika mereka secara nyata merongrong kedaulatan negara kita, kami akan bertindak, dengan kekuatan penuh.”


“Tim Merah Putih-mu, hanyalah alat bagi kami untuk mengasah prajurit elite kami yang memiliki potensi paling bagus. Ingat, memiliki potensi paling bagus, bukan petarung elite terkuat yang kami miliki. Karena kami mengharapkan mereka akan bisa berkembang dan mendapatkan pengalaman dari hal ini.”


“Dan Munding, adalah jembatan yang sedang aku bangun untuk menggaet kawanan Militan yang ada di belakangnya. Nilainya jauh lebih penting dari pada Afza, Merah Putih, atau Chaos.”


“Jika kamu berani menyentuh Munding, ini jadi urusan pribadi antara aku denganmu.”


“Ngerti!!!” kata Broto.


Jaelani hanya terdiam tanpa menjawab. Sesaat kemudian, sambungan telepon itu terputus meninggalkan Jaelani yang sekarang terlihat sedikit kebingungan.

__ADS_1


__ADS_2