Munding - Legenda Serigala Petarung

Munding - Legenda Serigala Petarung
Chapter 28 - 'Dia' ada disana


__ADS_3

Munding membuka matanya yang terpejam. Dia merasakan sensasi yang sama seperti ketika dia berkelahi dengan kelompok Saud waktu itu.


Munding bisa melihat lebih jauh dalam kegelapan malam. Dia bisa melihat barisan semut yang berjalan di tembok sambil membawa gula yang entah mereka dapat darimana. Suara gemericik air dari sungai kecil yang mengalir di sebelah mushola ke sawah yang ada di belakang sana.


Munding merasakan kalau semua inderanya bertambah jauh lebih peka.


Munding juga merasakan sensasi kekuatan yang mengalir dalam tubuhnya. Sensasi yang dulu pernah membuatnya percaya kalau dia tidak terkalahkan dan membuatnya yakin kalau dia bisa menghancurkan balok es dengan pukulan tangannya.


Pak Yai tersenyum di depan Munding. Keringat terlihat menetes dari wajah Pak Yai. Menunjukkan betapa sebenarnya dia sangat kuatir dengan apa yang baru saja mereka lakukan.


“Bagaimana perasaanmu Le?” tanya Pak Yai.


“Rasanya aneh Pak Yai. Sama seperti yang Munding alami saat ...” Munding menghentikan kalimatnya dan melihat ragu ke arah Pak Yai.


“Saat kamu menghajar preman-preman pasar Sukolilo itu?” sambung Pak Yai sambil terkekeh.


Munding menundukkan kepalanya, dia tidak menduga kalau Pak Yai mengetahui apa yang sudah dia lakukan malam itu.


“Bapak memaksamu untuk berlatih lebih keras setelah pulang dari RSUD gara-gara itu. Kapolsek Sukolilo mendatangi Bapak beberapa hari setelah kamu menghajar preman-preman itu,” kata Pak Yai.


“Beraninya mereka melapor ke polisi ...” amarah Munding tiba-tiba meluap dan dia bisa merasakan tubuhnya juga seolah-olah mengikuti perubahan emosi Munding, ada sesuatu yang meledak-ledak dan ingin dilepaskan dari sana.


“Cukup!!” potong Pak Yai sebelum kalimat Munding selesai diucapkan.


“Mereka tidak akan berani melakukan apa-apa ke Bapak. Jadi urusanmu sama preman-preman itu maupun kepolisian berhenti disini. Ngerti??” kata Pak Yai tegas.


Munding menganggukkan kepalanya dan seiring redanya amarah di dadanya, tubuhnya juga berangsur-angsur menjadi seperti sebelumnya. Munding melihat kearah kedua telapak tangannya. Kemudian dia mencoba mengepalkan dan membukanya berulang-ulang. Berusaha untuk lebih familiar dengan apa yang dia rasakan dengan tubuhnya.


“Le, kamu berlatih silat terlalu singkat. Seharusnya, seseorang butuh waktu belasan tahun melatih tubuh dan jiwanya sebelum dia mencoba memiliki apa yang kamu rasakan sekarang. Tapi mungkin kamu memang seorang serigala petarung alami. Bapak sempat kuatir kalau tadi kamu gagal ditengah-tengah jalan,” kata Pak Yai pelan.


Munding cuma terdiam dalam kebingungan. Dia tidak tahu apa yang Pak Yai katakan. Melihat raut muka bingung Munding, Pak Yai cuma tersenyum.


“Yang terpenting sekarang, kamu sudah berhasil melewatinya. Ingat Le, karena waktu berlatihmu terlalu singkat, tubuhmu belum maksimal untuk masuk ke ‘mode tarung’ seperti sekarang ini.”

__ADS_1


“Jangan pernah mencoba melakukan yang sekarang kamu lakukan kecuali memang tidak ada pilihan lain dan nyawamu dalam keadaan terancam. Dan itupun kamu cuma boleh masuk ke ‘mode tarung’ tak lebih dari lima menit,” kata Pak Yai.


Munding menganggukkan kepalanya, paling tidak dia mengerti pesan Pak Yai barusan.


“Sekarang, lepaskan ‘mode tarung’-mu. Kalau tadi saat kamu memasuki ‘mode tarung’ dengan menggunakan emosi negatif seperti kemarahan, kesedihan, ketakutan. Untuk melepaskan ‘mode tarung’ gunakan emosi positif. Coba kamu ingat-ingat hal apa yang membuatmu bahagia atau memori terindah yang kamu miliki,” kata Pak Yai.


Munding memejamkan matanya dan mencoba mengingat-ingat kenangan apa yang paling indah bagi dirinya. Tak lama kemudian, Munding melihat dirinya sedang menemani Bapaknya yang sedang mencangkul di sawah. Sesekali Bapak melihat ke arah Munding dan tersenyum yang akan dibalas lambaian tangan Munding kecil.


Munding merasakan naluri predatornya mulai melemah dan seperti akan tertidur lagi dalam tubuhnya. Ingatan Munding kemudian terus mengalir, kenangan-kenangan indah Munding waktu kecil bersama Bapaknya kembali muncul satu persatu.


Seperti film yang diputar kembali dan Munding menyaksikannya dengan tersenyum bahagia. Kemudian Munding melihat satu adegan dimana bapaknya memegang sabit dan tersenyum ke arahnya, ‘Bapak mau cari rumput dulu Le, kamu nanti pulang sendiri ya?’ dan Munding menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


Tapi Munding kecil merasa ada yang aneh, kemana keranjang rumput Bapak?


Munding berteriak dan mengejar Bapaknya, dia ingin memberitahu kalau Bapak lupa membawa keranjang rumputnya. Tapi Bapak tetap berjalan, seolah-olah suara Munding tidak terdengar olehnya. Dan Munding hanya bisa melihat punggung Bapaknya yang semakin jauh menghilang di temaramnya langit senja.


Munding tiba-tiba teringat, saat itu adalah saat terakhir dia melihat Bapaknya.


Naluri predator Munding yang hampir tertidur tiba-tiba menggeliat bangun kembali. Dia merasakan kesedihan dan kemarahan Munding. Tubuh Munding bergetar. Darahnya menggelegak. Kedua tangannya mengepal keras. Munding ingin meraung sekuat tenaga untuk melepaskan amarah di dadanya.


Munding mencoba berontak melawan naluri predator yang berusaha menguasai tubuhnya. Dengan cepat dia memaksa otaknya untuk mencoba menggali kembali lagi kenangan-kenangan indah yang dia miliki.


Dan tiba-tiba wajah Nurul muncul di kepala Munding.


Gadis kecil berjilbab yang dengan sabar mengajarinya mengaji. Yang akan menungguinya latihan silat setiap hari. Yang akan tertawa-tawa kecil saat Pak Yai menyabetkan rotannya ke tubuh Munding. Yang dengan sabar mengoleskan obat ke luka di tubuh Munding. Yang selalu menepukkan kedua tangannya untuk memberi semangat kepada Munding.


Gadis kecil yang tersenyum bahagia sambil menahan rasa sakit setelah memberikan kegadisannya kepada Munding.


Kali ini, Munding berhasil membuat naluri predatornya tertidur kembali. Tapi, ‘dia’ tidak kembali ke dalam tempatnya bersembunyi yang ada di sudut terjauh dalam jiwa Munding. ‘Dia’ berbaring diam dalam dada Munding. Munding bisa merasakannya dengan jelas disana.


‘Dia’ ada dan siap kapanpun dibangunkan oleh Munding.


Munding membuka matanya.

__ADS_1


Buettttttt. Ctakkk. “Aduuuuuuuuhhhh.”


Munding mengelus-elus kepalanya yang baru saja terkena sabetan rotan Pak Yai. Dia bisa melihat kalau wajah Pak Yai dipenuhi oleh keringat. Raut muka cemas jelas tergambar di muka Pak Yai.


“Bagian mana omonganku yang tidak kamu pahami Le?” tanya Pak Yai dengan muka penuh amarah.


“Emosi positif kataku!!! Emosi positif!!!” lanjut Pak Yai.


Buettttttt. Ctakkk. Buettttttt. Ctakkk. Buettttttt. Ctakkk.


“Aduuuuuuuuuuuuhhhh.”


Munding merintih panjang dan Pak Yai menarik napas panjang setelah dia mengayunkan rotannya tiga kali berturut-turut. Dia terlihat agak rileks setelah melampiaskan amarahnya dengan memukulkan rotannya ke Munding barusan.


“Kamu tahu kalau barusan itu sangat berbahaya?” tanya Pak Yai yang disambut diam oleh Munding yang masih mengelus-elus kepalanya.


“Masalah terbesar yang dihadapi oleh serigala petarung saat sepertimu tadi ada dua. Yang pertama, dia tidak bisa menemukan naluri predatornya. Ini tidak punya efek samping apa-apa. Tapi itu artinya dia gagal menjadi seorang serigala petarung,” kata Pak Yai.


“Masalah yang kedua, jauh lebih berbahaya. Kesadaran dirimu ‘ditelan’ oleh naluri predatormu. Kamu tahu apa efeknya? Kamu akan menjadi seperti binatang buas tanpa kesadaran diri. Kamu jadi seperti binatang seutuhnya.”


“Solusinya cuma satu, kamu dieksekusi. Karena ‘kamu’ sudah tidak ada lagi. Yang tersisa cuma binatang buas yang menguasai tubuhmu. Itulah alasan terbesar kenapa serigala petarung hanya dapat dilatih oleh serigala petarung yang lain. Untuk mengeksekusi jika terjadi kegagalan saat awakening,” kata Pak Yai.


Munding cuma terdiam dan dengan malu-malu dia melihat ke arah Pak Yai, “Pak Yai, dari tadi Munding tu nggak ngerti apa yang Pak Yai omongin. Serigala petarung, awakening atau apapun namanya itu.”


Pak Yai reflek mengangkat rotan di tangannya, tetapi kemudian terdiam. Bukankah apa yang dibilang Munding itu benar. Dia sendiri yang memaksa Munding melakukan awakening sebelum waktunya. Dia bahkan belum memberi tahu Munding soal eksistensi serigala petarung kepada anak angkatnya itu.


\=\=\=\=\=


Author Note:


Sebenarnya rahasia terbesar Munding jadi psikopat itu karena dia terlalu sering dipukuli Pak Yai dengan rotan.


Coba kalian hitung dari kelas 6 SD sampe kelas 1 SMA. Kalau misalnya rata2 dia kena pukul 10x sehari sudah berapa kali dia menerima pukulan rotan selama ini?

__ADS_1


Kalau sempat ketahuan Kak Seto, Pak Yai pasti digelandang ke KOMNAS Perlindungan Anak.


Buahahahahahahahaha.


__ADS_2