Munding - Legenda Serigala Petarung

Munding - Legenda Serigala Petarung
Chapter 73 - Sang Raja pun Tumbang


__ADS_3

Tak lama kemudian, Bram merasakan kalau Munding, lapangan bola dan semua yang ada disekelilingnya terasa berputar cepat dan berubah menjadi gelap.


“Aku kalah?” gumam Bram tak percaya, “how??"


Bram jatuh ke tanah dan tidak sadarkan diri. Munding masih berdiri dengan kaki kanan dalam posisi terangkat dan melakukan posisi tendangan melingkar ke arah samping-belakang kepala Bram barusan.


Munding tahu kalau Bram adalah seorang petinju terlatih dan Bram juga mempunyai disiplin yang tinggi. Ketika Bram melakukan straight kiri dua kali tadi, Munding tahu bahwa kedua pukulan itu cuma pancingan untuk membuatnya membuka pertahanan dan melayangkan serangan balasan.


Setelah Bram melakukan dua kali feint punches, tangan kirinya ditarik cepat dan menutupi kepalanya. Dari awal, Munding tidak berharap pukulan lurus tangan kanannya akan mengenai sasaran. Karena itu dia memutuskan melakukan tendangan melingkar dengan kaki kanan berbarengan dengan  pukulan lurusnya dengan menggunakan kaki kiri sebagai tumpuan.


Efeknya, pukulan lurus Munding sama sekali tidak bertenaga dan cuma menjadi sebuah gerak tipuan tapi serangan yang sesungguhnya datang dari kaki kanannya. Dengan bantuan perputaran badan dan kaki kiri sebagai poros, tendangan melingkar Munding dapat tereksekusi dengan sempurna dan mengantarkan Bram ke alam bawah sadarnya.


Munding menurunkan kakinya perlahan tetapi tidak kembali ke kuda-kudanya. Dia berdiri di sebelah tubuh Bram yang tergeletak pingsan di atas rerumputan lapangan sepak bola. Munding melihat ke arah Bram yang sudah tak sadarkan diri untuk sesaat kemudian mengangkat wajahnya ke sekeliling lapangan.


Tidak ada suara apapun yang terdengar dari ratusan siswa yang menyaksikan duel mereka berdua. Mereka seolah-olah tak percaya kalau Bram MinMaks, sang Raja, akan terkalahkan siang ini. Terkalahkan oleh seorang anak baru tanpa nama dan tanpa pasukan.


Si Bocah Gila, Munding.


Setelah beberapa detik seluruh lapangan dicekam keheningan, entah siapa yang memulainya, tiba-tiba seluruh lapangan bola dipenuhi oleh sorakan dan teriakan.


Wwwwoooooooooaaaaaaaaaaaaaa.


Suara teriakan itu sangat keras terdengar dan menggelegar, seolah-olah pelampiasan dari semua ketegangan yang tadi telah mereka tahan selama duel berlangsung dan kini menemukan jalan pelampiasannya.


Para siswa itu seakan telah menyaksikan sesuatu yang membuat mereka histeris. Teriakan saling bersahut-sahutan ditingkahi oleh ekspresi terkejut dari hampir semua siswa yang ada di sana. Kecuali geng MinMaks yang tetap terdiam melihat ketua mereka terkapar di tengah lapangan.


A Long yang berdiri di tengah lapangan dan memegang megaphone seakan masih tak percaya. Sang Raja telah tumbang? Sesaat kemudian dia melirik ke arah Munding dan tiba-tiba dia merasakan suatu firasat yang aneh.

__ADS_1


Badai akan datang di SMA ini.


Ya, badai akan datang. Bram MinMaks dianggap seorang Raja dan pemimpin dari semua kelompok remaja yang bergerak di SMA Harapan Bangsa ini selain karena kemampuan individunya dalam berkelahi, Bram juga punya pasukan yang kuat, pasukan yang akan selalu siap untuk datang memenuhi panggilannya setiap saat.


Menjadi Raja, seseorang harus selalu siap untuk menghadapi ancaman. Baik dari dalam untuk mempertahankan posisinya ataupun dari luar untuk mempertahankan wilayahnya.


Untuk mempertahankan posisinya, para penantang harus melakukan duel satu lawan satu melawan Bram, siapapun yang mengalahkannya berhak untuk menggeser posisinya. Tapi, untuk serangan dari luar, tidak seperti itu caranya.


Mereka akan menyerang dengan membawa pasukan. Perang pun tak terelakkan. Perang yang dalam pandangan orang awam sering disebut juga dengan tawuran. Banyak SMA dan SMK lain yang mengincar sekolah ini untuk menjadi wilayah jajahan mereka.


Banyak siswa-siswi kaya yang bisa mereka jadikan sapi perahan disini, yang bisa mereka palak dan minta paksa duitnya. SMA Harapan Bangsa ini, di mata mereka, bagaikan sebuah kue yang manis untuk disantap dan terlalu sayang untuk dilewatkan.


Selain sekolah lain, banyak geng lain yang juga berpikiran sama. Bahkan geng yang merupakan bentukan orang-orang dewasa sekalipun. Banyak komplotan pengedar narkoba yang juga ingin masuk ke sini dan menjadikan murid-murid dengan orang tua berpengaruh itu budak mereka.


Siapa yang tidak ingin punya pelanggan dengan orang tua yang mempunyai kekuasaan? Sekalipun anak mereka tertangkap sedang mengonsumsi narkoba, apa yang bisa dilakukan oleh pihak kepolisian?


Selama ini, Bram dan MinMaks telah menjadi penguasa di SMA ini tetapi juga sekaligus bertugas menjadi pelindung dari serangan para anjing-anjing liar yang berkeliaran di luar pagar sekolah.


Memang harus diakui kalau Bram dan gengnya juga melakukan banyak tindakan yang tidak dibenarkan ke siswa-siswi di sini. Mereka terkenal brutal, kejam dan bahkan tak segan melakukan tindakan yang melanggar hukum.


Tapi bukankah semua geng melakukannya? Termasuk punya A Long sendiri. Selain itu, bukankah wajar seorang Raja untuk melakukan apa yang dia mau ke rakyatnya?


Tapi kini, Munding mengubah itu.


Munding adalah seorang Raja tanpa pasukan. Dan A Long yakin, badai akan datang dalam waktu cepat. Gerombolan pemangsa di luar pagar itu pasti akan segera tahu soal duel ini dan kemenangan Munding. Dan entah berapa banyak dari mereka yang akan datang menyerang dan ingin memangsa SMA ini.


A Long bergidik saat membayangkan peperangan yang akan timbul karena kekalahan Bram kali ini.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


“Tolong berikan instruksi selanjutnya,” tanya seorang wanita cantik melalui handphonenya kepada seseorang yang menjadi lawan bicaranya dengan nada marah.


“Kali ini kita melakukan blunder, kita ingin memanfaatkan anak petani itu, tapi justru malah kita yang kehilangan hasil kerja keras kita selama hampir setahun ini,” jawab seseorang dari seberang panggilan handphone wanita tersebut.


Si wanita terdiam, dari semua orang, dia yang paling marah atas kekalahan Bram. Dia menyamar menjadi guru di SMA ini selama hampir setahun demi mengungkap jaringan yang menjadi backing dan mastermind dari geng motor MinMaks yang diketuai Bram.


Tapi kini setelah bersusah payah selama hampir setahun dan dia baru saja berhasil masuk ke dalam lingkaran kepercayaan Bram, Bram tiba-tiba dikalahkan oleh seorang anak baru.


Wanita itu adalah Santi Lofiani.


Dia adalah seorang reserse wanita dari Reskrim Mapolda yang ditugaskan untuk menyamar ke sekolah ini. Tujuannya cuma satu, untuk mengungkap siapa mastermind di balik geng motor MinMaks.


Tim mereka sudah lama menyadari kalau Bram hanyalah sebuah boneka. Mereka ingin dalangnya, bukan wayang yang bisa sewaktu-waktu diganti oleh sang dalang. Mereka ingin menyelidiki siapa sebenarnya yang menggerakkan perputaran roda dunia gelap yang ada di sekolah yang diisi oleh anak-anak pejabat ini.


Santi dengan sabar membangun image sebagai seorang guru yang seksi dan dia membutuhkan waktu lumayan lama untuk menghapus kecurigaan siswa-siswa di sekolah ini sebelum akhirnya berhasil menarik minat Bram.


Akhirnya, mereka berdua sudah menjalin kedekatan selama satu bulan terakhir ini.


Ketika sosok Munding muncul sebagai siswa baru di sekolah ini dan melihat kekayaan yang dimiliki oleh anak petani ini, Santi dan timnya berencana menggunakan Munding sebagai umpan untuk memancing sang Dalang, yang mengendalikan MinMaks dari balik layar, bergerak dan menampakkan keberadaannya.


Tapi yang kemudian terjadi sangat diluar dugaan.


Si Anak Baru, yang dengan sengaja Santi mengumumkan kekayaannya. Dan dengan sengaja Santi memberitahukan bahwa dia pernah mengalami gangguan jiwa berupa trauma, justru mengalahkan Bram dan menjadi Raja baru.


Kini, Santi dan timnya kebingungan dengan perkembangan yang baru saja terjadi dan diluar dugaan mereka itu. Setelah berdiskusi singkat dengan atasan langsungnya tadi, Santi duduk termenung di ruangannya sendiri sambil melihat ke arah pintu.

__ADS_1


Ada satu pertanyaan yang tiba-tiba muncul di kepala Santi, apakah sang Dalang akan membiarkan bonekanya tumbang begitu saja?


__ADS_2