Munding - Legenda Serigala Petarung

Munding - Legenda Serigala Petarung
Chapter 143 - 'Real' Amel


__ADS_3

Sesampainya di rumah, mereka beraktifitas seperti biasa. Tidak terlihat kalau ada sesuatu yang istimewa. Munding juga membawa mobil Asma ke bengkel untuk diperbaiki lalu pulang lagi ke rumah siang harinya.


Saat makan siang, juga sama seperti biasa, tapi sekarang lebih rame. Selain Munding dan Nurul, ada tambahan beberapa orang lagi, Asma dan Ibunya, serta Pak Yai dan Bu Nyai.


Untungnya lebih banyak wanita daripada prianya, jadi urusan masak memasak dan persiapan lainnya bisa dilakukan dengan cepat. Mereka juga sesekali bercanda sambil menyiapkan makan siang mereka.


"Dek, Mas telpon Amel ya?" kata Munding ke istrinya yang masih di belakang.


"Iya," jawab Nurul sambil tersenyum, dia tahu telepon itu pasti untuk urusan Mbak Asma karena tadi pak Polisi menyebut-nyebut oknum militer di belakang pak Kades.


Munding berjalan ke teras depan dan melakukan panggilan telpon ke nomor Amel.


\=\=\=\=\=


Amel sedang berdiskusi dengan teman-teman kuliahnya saat sebuah panggilan telepon masuk ke smartphone-nya.


Sebuah nada dering yang terdengar kekanak-kanakan memecah suasana serius di tempat itu.


Muka Amel langsung memerah dan dengan panik dia mengeluarkan handphonenya dari saku baju panjangnya.


"Maaf," kata Amel sambil memegangi hp di tangannya setelah memelankan nada dering yang keluar dari hp itu.


"Santai aja Mel, nggak usah panik gitu. Cuman telpon doang kan?" goda salah satu temen kuliah Amel yang disambut tawa oleh kawan-kawan yang lain.


Amel tersenyum, "Amel harus angkat telpon ini, bentar ya," kata Amel sambil meninggalkan tempat itu dan berjalan menjauh.


Kawan-kawan Amel agak kaget melihat tingkah teman mereka. Amel itu sosok mahasiswi pintar, kaya, cerdas dan mandiri. Dia selalu bersikap dewasa dan bisa diandalkan. Karena itu, Amel terpilih menjadi wakil ketua BEM Fakultas di kampus tempat dia kuliah, tentu saja dia juga menjadi salah satu cewek idola yang jadi incaran temen-temen kuliahnya.


Amel pandai membawa diri sesuai keyakinannya, dia sudah menggunakan hijab saat semester pertama masuk kuliah. Sesuatu yang langsung mengeliminasi cowok-cowok iseng yang berniat have fun saja.


Tapi bukan berarti penggemar Amel berkurang, yang serius mengajak Amel menikah juga banyak, tapi semua Amel tolak. Karena di hati Amel cuma ada satu nama yang belum juga bisa hilang. Nama yang dia simpan sebagai 'Calon Suamiku' di kontak hpnya, dan Amel berikan nada dering favoritnya semasa SMA untuk kontak itu, satu-satunya nada dering yang berbeda dari kontak lainnya.


Amel memang tak perlu panik untuk sebuah panggilan telpon. Entah berapa kali dia menerima dan melakukan panggilan telpon setiap harinya. Tapi panggilan yang ini lain, ini panggilan telpon yang selalu dia nantikan tapi tak pernah kunjung datang. Dan sekarang dia justru datang di saat yang tak disangka Amel.


"Munding?" tanya Amel dengan suara sedikit bergetar.


"Assalamualaikum," Munding mengucapkan salam dari seberang telepon.


"Eh, Waalaikumussalam," jawab Amel dengan muka memerah, Ya Allah, saking groginya, lupa salam dulu, keluh Amel dengan muka memerah.


"Amel lagi sibuk?" tanya Munding.


"Nggak, nggak sibuk kok," jawab Amel cepat sambil melirik ke kawan-kawan kuliahnya yang terlihat ngepoin Amel.

__ADS_1


Amel memutar badannya dan berjalan menjauh dari tatapan mata kawan-kawannya.


"Napa?" tanya Amel.


"Aku mau minta tolong," kata Munding.


"Iya. Ngomong aja," jawab Amel cepet.


"Eh? Kan aku belum ngomong minta tolongnya apaan?" kata Munding, "langsung main diiyain," lanjutnya.


"Apaan aja pasti Amel bantu. Amel tahu kalau Munding nggak akan minta tolong sesuatu yang diluar kemampuan Amel," bisik Amel pelan.


Munding terdiam. Ini yang bikin dia nggak enak ati mau ngomong atau nelpon ke Amel. Pasti kek gini jadinya.


"Makasih Mel," kata Munding.


"Iya sama-sama," jawab Amel.


"Assalamualaikum," kata Munding.


Tak terdengar suara jawaban dari Amel selama beberapa saat.


"Mel?" panggil Munding.


"Kok nggak jawab salam?" tanya Munding.


"Emang Munding dah ngomong mau minta tolong apaan?" kata Amel sambil menahan tawa.


"Eh? Iya ya?" dan suara tawa terdengar dari seberang telpon.


Amel juga tertawa sendiri di tempatnya berdiri.


Setelah itu mereka berdua saling mengobrol melalui telpon dan Munding memberitahukan soal kasus Asma dan keterlibatan kantor Koramil. Si Cerdas Amel tentu paham maksud pujaan hatinya itu. Amel berjanji akan membantu Munding dari sini, tentunya dengan menggunakan pengaruh Papanya.


"Amel perlu kesana nggak?" tanya Amel.


"Kayanya nggak usah deh Mel. Lagian ini cuma masalah kecil kok," jawab Munding.


"Tapi ... " kata-kata Amel menghilang.


Munding diam dan dia tahu alasan Amel. Mereka sama-sama dewasa dan bukan anak kecil lagi.


"Amel kangen Munding," bisik Amel lirih.

__ADS_1


Munding terdiam. Dia tahu seberapa besar rasa Amel untuk dirinya, dan juga Asma. Tapi ini bukan cerita poligami si mesum Abi, tentu dia harus setia kepada istri tercintanya.


"Mel, udahan dulu ya, ini mau makan siang," kata Munding pelan.


"Iya," jawab Amel.


"Amel sayang Munding," bisik Amel, tak peduli apakah akan dijawab atau tidak, yang terpenting rasa itu tersampaikan.


"Assalamualaikum," kata Munding pelan, berpura-pura kalau tak ada kalimat Amel yang terucap barusan.


"Waalaikumussalam," jawab Amel sambil tersenyum manis.


"Semangat Mel!!!!!" teriak Amel sambil mengepalkan tangan kanannya dan mengacungkan kepalan itu keatas setelah panggilan dari si 'Calon Suamiku' berakhir.


Sesaat kemudian, Amel tersadar dia ada dimana, Sekretariat BEM Fakultas dan sedang membahas agenda salah satu acara rutin tahunan mereka.


Semua kawan-kawan kuliah Amel melihat Amel dengan tatapan kaget dan terpana.


"Itu beneran Amel kan?"


"Oke, cukup intermezzonya. Ayo kita lanjut ke diskusi yang tadi," kata Amel ke arah rekan-rekannya.


Amel sudah kembali ke mode dewasa, mandiri dan terpelajarnya. Seolah-olah si gadis yang tertawa lepas, tersipu malu dan terlihat gugup saat menerima panggilan telepon tadi adalah halusinasi saja.


Mereka saling melirik dan menatap Amel tak percaya.


Amel mengedarkan pandangannya dengan tenang, "kita mau terusin pembahasannya atau bubar saja diskusinya? Semua orang disini punya acara dan agenda yang padat juga. Jadi tolong hargai waktu orang lain!"


"Ya. Ini the 'real' Amel, tadi pasti cuma halusinasi," kalimat itu yang terngiang-ngiang di kepala kawan-kawan Amel sambil mengangguk-anggukkan kepala mereka.


Setelah itu mereka kembali membahas apa yang sedang mereka diskusikan, seolah-olah tak terjadi apa-apa.


Di tempat lain.


"Gimana Mas?" tanya Bu Munding.


"Mas sudah ngomong sama Amel. Dia mau bantu katanya. InsyaAllah nggak ada masalah untuk yang satu itu," jawab Munding.


"Alhamdulillah. Mas mau ke tempat itu kapan?" tanya Nurul pelan.


"Nanti malam selepas Isya. Dek Nurul nggak usah kuatir. Mas tahu kok batasan-batasannya. Semoga saja tak terjadi apa-apa," jawab Munding.


Nurul hanya terdiam saja, "kita makan dulu Mas, sudah ditunggu sama yang lain," kata Nurul pelan setelah itu.

__ADS_1


Munding lalu berjalan kembali ke dalam rumah bersama istrinya.


__ADS_2