
Munding kembali ke rumahnya dengan luka-luka ringan di sekujur tubuhnya. Bukan malam yang berat baginya, karena semuanya berakhir lebih baik dari yang dia perkirakan.
Cuma ada satu ganjalan dalam hatinya, apa yang Amel bilang ke Papanya sampai dia mengakui Munding menjadi menantunya.
Munding adalah pria sederhana dan tidak punya impian yang luar biasa. Dia ingin menghabiskan waktunya dengan kesederhanaan bersama keluarganya tercinta. Tak pernah terpikirkan sekalipun untuk menjadi seorang Don Juan atau Sheikh yang beristri lebih dari satu.
Dia juga tak ingin hidup mewah seperti keluarga Broto dan tinggal di kota besar dengan segala polemiknya. Dia bahagia dengan kehidupan yang dijalaninya sekarang. Karena itu, Munding tak pernah mengerti kenapa seorang gadis cantik seperti Puji rela melakukan segalanya demi apa yang dia miliki sekarang.
Munding juga tak pernah paham apa motivasi Sutinah dan kakaknya dulu saat memilih keputusan yang mereka ambil.
Apakah makanan enak yang hanya terasa di lidah sedemikian menggoda?
Apakah kasur springbed yang mahal lebih nikmat untuk dipakai dibandingkan lantai berlapis karpet musala saat seluruh badan terasa kelelahan dan sekedar butuh tempat untuk merebahkan diri?
Apakah sebuah handphone mahal terasa berbeda dibandingkan handphone biasa asalkan berfungsi sebagaimana peruntukkannya?
Atau mungkin sebuah mobil mewah seharga miliaran lebih enak dikendarai daripada mobil alakadarnya asalkan bisa mengantarkan seseorang ke tempat tujuannya?
Munding juga berpikir, mungkinkah ini semua hasil didikan Bapaknya yang tak pernah mengajarkan atau memberinya kesempatan menikmati kemewahan sehingga membuatnya tak pernah menginginkan hal-hal itu.
Saat pikiran Munding masih melayang entah kemana, dia sampai ke rumah sederhana miliknya yang ada di samping musala.
Seorang wanita berjilbab terlihat berdiri di depan rumah dengan raut muka penuh rasa kuatir dan cemas. Ketika wanita itu melihat bayangan Munding mendekat dari kejauhan, senyuman lega tersungging di bibirnya.
Wanita tersebut mengusap air mata yang menitik di pelupuk matanya.
"Nggak pa-pa kan Mas?" bisik Nurul pelan saat Munding sudah sampai di depannya.
__ADS_1
Munding tersenyum dan menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
Mereka berdua lalu masuk ke dalam rumah dan menutup pintunya.
\=\=\=\=\=
Puji terdiam. Kejadian yang barusan dialaminya tadi benar-benar membuka matanya. Pria yang dianggapnya cuma sekelas preman kampung dan dari dulu membuat geng Joko kocar-kacir ternyata lebih dari itu.
Kusnandar, Sang Komandan yang dirinya anggap sebagai langit diatas langit, bahkan harus tersenyum ramah dan mengantar pemuda itu keluar dari Kafe ini tanpa mengeluh dan seakan-akan takut kalau membuat pemuda itu marah.
Bahkan saat Munding meminta kalau Kafe ini untuk ditutup saja, Kusnandar langsung mengiyakan tanpa membantah. Kini, Puji dan Sucipto hanya tertunduk diam dan sedang menghitung asset mereka untuk dijual. Tak ada lagi Kafe Aditya setelah malam ini di Desa Sukorejo.
Sucipto hanya bisa menelan ludah dan kini sadar kalau di kampungnya, tempat dia menganggap dirinya sendiri sebagai Raja, ada seseorang yang mampu menggulung semuanya kalau dia mau.
Sucipto sempat terpikir untuk menggunakan koneksi keluarganya untuk mengangkat kasus ini ke jenjang lebih tinggi. Kusnandar hanyalah seorang Danramil dengan wilayah setingkat kecamatan, Sucipto ingin menaikkan kasus ini ke tingkat Kodim bahkan Korem sekalipun kalau perlu. Tapi, kata-kata Kusnandar langsung menusuknya telak.
Karena itulah, Sucipto hanya bisa terdiam sekarang. Amarahnya terhadap Puji juga hilang entah kemana. Bayang-bayang keberadaan Munding yang akan bercokol di Sukorejo seumur hidupnya membuat Sucipto gamang.
Mungkin Sucipto masih bisa menepuk dada dan berkata kalau dia adalah 'raja' di Sukorejo, tapi dia tahu, asalkan Munding mengeluarkan titahnya, semuanya bisa hilang dalam sekejap.
\=\=\=\=\=
"Sudah selesai kan urusannya?" tanya Amel ke Munding.
Seminggu setelah kejadian di Kafe Aditya, Amel kembali berkunjung ke rumah Munding. Asma dan Ibunya sudah kembali ke rumah mereka. Pak Yai juga sudah kembali ke Sumber Rejo.
Amel datang sendirian ke Sukorejo seperti biasanya. Dan seperti yang sudah-sudah, dia datang tanpa memberitahu dulu Munding maupun Nurul, karena Amel tahu kedua orang itu tak pernah berpergian kemana-mana dan asyik dengan dunia kecil mereka sendiri setiap hari. Jadi hampir bisa dipastikan kalau mereka berdua pasti selalu ada di rumah mereka.
__ADS_1
"Sudah. Makasih ya Mel," jawab Munding dengan tatapan mata agak aneh.
"Kamu kok ngeliatin Amel segitunya sih?" protes Amel.
Munding menggelengkan kepalanya. Tentunya dia tak akan memprotes ulah si Amel yang membuat Pak Broto menganggap Munding sebagai 'calon menantu'. Toh dia sendiri sama sekali tak berpikiran ke arah sana.
"Papa titip salam, terus Papa juga nanyain, Munding sudah berubah pikiran belum?" tanya Amel sambil sibuk membersihkan sayuran, mereka bertiga memang lagi masak sekarang.
Nurul yang masih asyik mengiris tempe melirik ke arah Munding. Suaminya sudah cerita soal Chaos dan permintaan Pak Broto. Tapi, Munding menolaknya.
Munding hanya terdiam. Dia tahu dan yakin kalau militer punya banyak prajurit tangguh seperti Afza, Munding tak tahu kenapa namanya masih saja dipilih oleh Pak Broto.
Munding bukan dari militer dan Pak Broto juga harusnya tahu kalau prioritas Munding berbeda dengan para prajuritnya.
"Kata Papa, korban terus berjatuhan," kata Amel pelan sambil meneruskan kesibukannya membantu Nurul.
Nurul sama sekali tak ingin mempengaruhi keputusan Munding. Dia ingin menyerahkan semua kepada suaminya. Jadi dia hanya terdiam dan tak ingin berkomentar apa-apa.
Tak lama kemudian, masakan sudah siap dan mereka bersantap siang bersama. Rutinitas sederhana mereka pun dimulai. Asma datang setelah Dzuhur. Sesekali dia akan beradu argumen dengan Amel. Ketiga wanita itu lalu akan dengan bersemangat mengajar anak-anak mengaji. Munding seperti biasa akan mengisi bak air Musala.
Yang berbeda, sejak kejadian seminggu lalu ketika Munding salah sasaran saat menendang, Munding sekarang akan latihan silat setelah shalat Ashar di saat istrinya mengajar mengaji.
Munding menggunakan kebun belakang musala, tempat dia mengajak Muhktar 'berdiskusi' dulu, sebagai tempat latihannya. Dia hanya melakukan latihan teknik ringan untuk menjaga akurasi serangan dan koordinasi tubuhnya. Dia tak ingin kejadian 'memalukan' salah sasaran saat menendang seperti tempo hari terulang lagi.
"Mas, mandi dulu. Bentar lagi maghrib," panggil Nurul.
Munding menghentikan latihannya dan berjalan ke arah rumahnya. Sama seperti biasanya, dia akan memimpin sholat di musala, bercengkerama dengan para tetangganya selepas Isya dan menghabiskan malam dengan istrinya.
__ADS_1
Kali ini, karena sudah terlalu malam, Amel memutuskan untuk menginap di rumah Munding dan Asma menemaninya. Meskipun keduanya terlihat sering beradu argumen, tapi semua tahu kalau mereka tak benar-benar bermusuhan.