Munding - Legenda Serigala Petarung

Munding - Legenda Serigala Petarung
Chapter 16 - Unleash the Beast part 1 


__ADS_3

“Heiiiiii.”


Dua orang kawan Saud berteriak sambil bergerak maju di sebelah kiri dan kanan Saud yang terkapar di lantai. Mereka mengambil posisi menutupi tubuh Saud dari serangan Munding yang akan datang kembali.


Keempat kawan yang lain juga merangsek maju mengelilingi Munding. Munding tetap maju dan tujuannya cuma satu, Saud. Kedua kawan Saud yang berdiri di depan Munding mengambil kuda-kuda bertahan, tapi Munding merasa ada sesuatu yang aneh dari gerakan mereka.


Naluri Munding mengatakan kalau mereka berdua bukan seorang pebeladiri seperti dirinya atau Saud. Gerakan mereka sangat ceroboh dan Munding bisa melihat ada bukaan untuk melancarkan serangan di beberapa tempat.


Munding tiba-tiba bergerak maju dan melayangkan pukuran lingkar dengan tangan kanan ke arah kawan Saud yang berdiri di sebelah kiri Munding.


Laki-laki itu mengangkat kedua tangannya untuk menangkis pukulan Munding. Tapi dengan mudah pukulan Munding menerobos di antara dua lengan musuhnya yang seharusnya berfungsi untuk cover. Pukulan Munding mendarat di muka preman tersebut. Dan dia pun tumbang ke belakang.


Munding kemudian mengganti langkah dan melayangkan tendangan sabit dengan kaki kiri ke arah kawan Saud yang berada di sebelah kanan Munding. Lawan Munding mengangkat kedua tangannya di depan muka dan mengangkat satu kakinya setinggi pinggang.


“????” tanda tanya terlihat di raut muka Munding.


Munding bingung dengan gerakan orang tersebut, “apa yang mau dia tangkis dengan postur seperti itu?” kata Munding dalam hati.


“Ssssssshhhhhhhhhhh”


Disertai desisan napas perut, tendangan sabit kaki kiri Munding menerobos antara siku tangan dan lutut kaki dari orang tersebut dan mendarat telak di perutnya. Dia terlempar ke belakang sejauh 2 meter.


Huaakkkkkkkkk.


Terdengar suara dari kawan Saud sedang memuntahkan sesuatu dari perutnya yang baru saja menjadi sasaran tendangan sabit Munding. Dia mencoba bangkit tapi kembali terjatuh dan memegangi perutnya.


Melihat kedua orang temannya dapat dilumpuhkan hanya dengan satu kali serangan dari Munding, keempat kawan Saud yang mengelilingi Munding menjadi ragu-ragu. Mereka tak lebih jago daripada kedua kawan mereka. Itu artinya mereka juga hanya akan menjadi sansak hidup bagi Munding.


Munding mengedarkan pandangannya kepada empat orang yang masih tersisa dan mereka berempat menundukkan pandangan masing-masing saat tatapan mata Munding mendarat ke arah mereka.


Munding tahu kalau mereka sudah kehilangan semangat bertarung untuk melawannya.

__ADS_1


Munding kemudian berjalan kearah Saud yang masih merintih-rintih dan terbaring di lantai pasar. Mendengar langkah kaki Munding yang mendekatinya, Saud mencoba untuk berdiri dengan susah payah. Kali ini Munding membiarkan saja apa yang coba dilakukan oleh Saud tanpa melakukan serangan.


Munding tahu kondisi tubuh Saud sudah tidak memungkinkan lagi untuk memberikan perlawanan.


“Duel macam apa ini? Kau sama sekali tidak memberiku kesempatan untuk mempersiapkan diri,” kata Saud di sela-sela napasnya yang terengah-engah dan dengan bibirnya yang masih meneteskan darah.


Munding menjawab dengan dingin sambil tersenyum menyeringai, “siapa bilang ini duel? Aku datang kesini untuk menghajarmu. Kapan aku pernah bilang kalau kita akan berduel?”


Munding berhenti di depan Saud yang terduduk di lantai, kemudian Munding berjongkok di depan Saud dan menatap Saud dengan tatapan yang membuat Saud bergidik ngeri.


Tangan kiri Munding maju dan menjambak rambut Saud yang ada di depannya, sedangkan tangan kanannya ditarik ke belakang. Munding bersiap-siap melayangkan pukulan ke arah muka Saud yang sudah lebam di beberapa tempat sebelumnya.


Saud bisa melihat kalau lawan yang dianggapnya bocah itu tersenyum ke arahnya sambil bersiap melayangkan pukulannya. Untuk pertama kali, Saud merasakan takut yang luar biasa. Rasa takut yang tiba-tiba muncul dari dalam tubuhnya. Dia tahu kalau dia sedang berhadapan dengan seseorang yang ‘berbeda’.


Lutut Saud gemetar tanpa dia sadari. Kedua tangannya terangkat untuk mencoba menutupi mukanya dari pukulan yang akan diayunkan oleh lawannya.


“Tu ... Tunggu .. Tunggu dulu..,” Saud tergagap-gagap mencoba untuk mencegah Munding, “kita bisa selesaikan masalah ini baik-ba ...” sebelum kalimat Saud selesai diucapkan, pukulan Munding sudah mendarat di muka Saud.


Bakkkk. Bukkkkkk. Buakkkkk. Bakkkkkk.


Hanya suara pukulan Munding yang berkali-kali mendarat di muka Saud dan teriakan Saud terdengar. Tujuh orang yang berada di kios jamu, 6 orang-orang kawan Saud dan 1 wanita penjaga kios, merasakan lututnya gemetar karena ketakutan. Mereka memang preman dan sering melakukan kekerasan, tapi mereka tidak pernah melihat sesuatu sebrutal ini.


Munding berhenti memukul kepala Saud yang masih dijambaknya. Dia melepas tangan kirinya yang menjambak rambut Saud dan Saud langsung terjatuh ke lantai paving. Munding melihat tangan kanannya yang baru saja dia gunakan untuk memukul Saud telah berlumuran darah tetapi tangan kirinya masih bersih.


Munding tersenyum kecil, kemudian dia menjambak rambut Saud dengan tangan kanan dan menggunakan tangan kirinya untuk memukuli Saud.


Bakkkk.. Bukkkk. Baaakkkkk. Bukkkkkkk.


Suara itu kembali terdengar, tapi kali ini tidak ada erangan dari Saud yang menyahutinya. Saud sudah tak sadarkan diri. Setelah beberapa saat puas melayangkan pukulannya, Munding melepas tangan kanannya dan Saud kembali terjatuh di lantai.


Munding berdiri dan melihat kedua tangannya yang berlumuran darah, kemudian dia berteriak kencang ke arah langit malam.

__ADS_1


“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa.”


Entah sejak kapan, sesak napas yang Munding rasakan sebelumnya telah hilang. Tubuh Munding terasa ringan. Munding juga tiba-tiba merasa terbebas dari belenggu yang menahan tubuhnya.


Munding merasa kalau saat ini dia bisa melakukan apa saja.


Munding juga merasa berhalusinasi kalau langit malam terlihat lebih terang dari biasanya. Dia bisa melihat lebih jauh dalam kegelapan malam. Dia bisa melihat dengan jelas lutut-lutut gemetaran dari keempat kawan Saud yang berdiri tak jauh dari dirinya.


Dia bisa melihat dengan jelas ** payudara si gadis penjaga kios jamu yang tidak tertutupi BH dan tercetak di kaos ketatnya.


Gerimis hujan terlihat turun lebih lambat dari biasanya, seolah-olah sebuah adegan slow motion dalam sebuah film action.


‘Apa yang terjadi padaku? Halusinasi?’ tanya Munding dalam hati, kebingungan.


Tapi saat ini, dia benar-benar bisa merasakan dan melihat dengan jelas semua detail yang ada di sekelilingnya. Bahkan Munding juga merasa, kalau dia mau, dia bisa memukul butiran air hujan yang turun dengan lambat itu dengan kedua tangannya.


Munding juga merasakan kalau tubuhnya terasa lebih ringan dan lebih kuat, jauh melebihi dirinya yang sebelumnya. Ketika dia mengepalkan tangannya, Munding percaya, kalau dia mau, dia bisa mematahkan es balok seperti para ahli beladiri di tivi itu.


Munding menjadi penasaran dengan kondisi dirinya, dia ingin memastikan kalau ini cuma halusinasi atau bukan. Dia berjalan cepat ke arah 4 orang kawan Saud yang berdiri diam dengan lutut gemetar karena ketakutan.


Munding tahu mereka tidak akan memberikan perlawanan yang berarti. Tapi Munding cuma ingin menguji apakah dia sedang berhalusinasi.


Bagi Munding sendiri, dia memang sedang berjalan biasa dengan cepat, tapi di mata keempat preman yang tersisa dan si gadis penjaga kios jamu, Munding bergerak dengan sangat cepat dan hanya kelebat bayangan yang terlihat oleh mereka.


Munding merangsek maju ke salah satu preman yang berdiri paling dekat dengan dirinya. Dia mengukur jarak serang yang tepat dan kemudian melancarkan tendangan T kearah kepala musuhnya.


Munding melakukan tendangannya dengan santai dan tenaga yang secukupnya. Dia cuma ingin memastikan apakah yang dialaminya cuma halusinasi atau nyata.


Tapi Munding tiba-tiba merasa aneh, si preman naas tersebut, berusaha menangkis tendangannya dengan melakukan cover ala petinju dengan dua tangan menutupi kepalanya. Tapi di mata Munding, gerakan itu sangat lambat dan pisau kaki Munding mendarat tepat di muka lawannya sebelum dia berhasil mengcover kepalanya dengan sempurna.


Buuuuuuaaakkkkkkkkkkkkkkk

__ADS_1


Suara tendangan yang sangat keras terdengar dan preman naas itu terlempar 3 meter kebelakang. Dia terjatuh menabrak ke pintu ‘rolling door’ yang ditutupi oleh teralis lipat milik sebuah kios yang terletak di sebelah kios jamu.


Tubuh si preman naas merosot ke teras kios pelan-pelan. Dia tak sadarkan diri.


__ADS_2