
Mia merasakan luka yang terasa panas di bagian dadanya. Luka vertikal yang berasal dari tangan Munding dan merobek baju serta menggores kulitnya. Luka itu mirip dengan luka yang dimiliki oleh Nia. Bedanya, luka di dada Nia melintang dari samping kiri ke kanan badan, sedangkan luka Mia melintang ke atas dari bawah perut sampai ke atas dada. Salah satu tangan Mia yang dia silangkan di depan dada juga mendapatkan luka goresan yang sama dengan dadanya.
Mia sama sekali tak mengerti dengan apa yang baru saja terjadi. Munding berada di depannya dan tiba-tiba saja dia sudah melayang di udara dan ada bekas luka di tubuhnya. Sebelum dia menyadari itu, kini leher Mia sudah dicengkeram oleh tangan kiri Munding yang berlumuran darah dan tubuhnya diangkat ke udara.
Mia tahu kalau saat ini, nyawanya bisa melayang kapan saja. Dia menggunakan kedua tangannya untuk memegangi lengan kiri Munding tanpa mempedulikan bagian dada dan perutnya yang kini terbuka lebar karena bajunya yang sudah robek oleh serangan terakhir Munding. Siapa yang masih peduli dengan rasa malu jika nyawanya terancam?
“Mun..Nding..” suara Mia yang sedikit tercekat dan tertahan karena cekikan Munding terdengar keluar dari mulut Mia.
Munding melihat dengan sinis kearah Mia yang sekarang tak berdaya di tangannya. Dia menyeret tubuh Mia yang mulai lemas itu mendekat ke arahnya dan melihatnya dengan seksama. Mirip tingkah seekor pemangsa sesaat sebelum menghabisi buruannya.
“Muunnn.. Ndiiinnggggg...” rintih Mia ketika wajahnya sudah berdekatan dengan wajah Munding yang memiringkan kepalanya sambil melihat lekat-lekat ke arah Mia.
Mia kini dapat dengan seksama memperhatikan tatapan mata Munding dari dekat. Dan tubuhnya merinding seketika. Dia tak lagi melihat sosok manusia disana. Mia benar-benar merasa sedang menatap mata seekor serigala yang tidak memiliki akal atau timbang rasa. Dan saat itulah Mia merasa kalau ajalnya hampir tiba.
“Tuhan, kenapa Kau biarkan hambaMu meninggal dalam keadaan perawan?” bisik Mia dalam hati.
Aneh memang, di saat seperti ini, justru kalimat itu yang terlintas di kepala Mia. Mungkin memang karakter aslinya seperti itu. Mia lalu merintih tertahan setelah merasakan cengkeraman jemari Munding yang meremas makin kuat di lehernya. Mia juga mulai kehilangan kesadaran diri karena pasokan oksigen ke otaknya semakin lama semakin menipis.
“Munding!!!”
Sebuah teriakan mengembalikan sebagian kesadaran Mia yang sempat menghilang tadi. Dia menggunakan matanya untuk melirik siapakah ksatria berbaju zirah yang menyelamatkan nyawanya di saat genting ini? Mia melihat seorang gadis manis yang kini berdiri tak jauh dari Munding dengan raut muka ketakutan tetapi penuh dengan determinasi.
Afza.
“Lepaskan dia!! Dia itu kawanmu!!” kata Afza.
__ADS_1
Munding mengendurkan sedikit cengkeraman jarinya di leher Mia dan membuat gadis itu kembali bisa bernafas dengan bebas. Munding menatap penasaran ke arah Afza. Ada sesuatu dalam dirinya yang membuatnya merasa mengenal dekat gadis ini. Setidaknya, dia tidak seasing gadis yang sekarang sedang dia cekik ini.
“Kamu?” tanya Munding dengan suara geraman yang dalam.
“Aku Afza, Kita kawan,” kata Afza pelan sambil membiarkan Munding mencerna kata-katanya.
“Kawan? Kamu.. Lemah..” jawab Munding sambil menyeringai dan melepaskan tubuh Mia dari tangannya.
Mia terjatuh ke tanah dan langsung terbatuk-batuk dengan keras. Dia juga berusaha untuk menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk mengisi paru-parunya yang tadi dipaksa beroperasi dengan pasokan oksigen yang minim akibat cekikan Munding di lehernya.
Munding kini tak tertarik lagi dengan Mia. Dia memutar badannya dan mendekati Afza yang masih berdiri tanpa memasang posisi siaga ataupun kuda-kuda. Munding merasa sedikit heran karena Afza yang bersikap normal saja.
Munding mendekatkan dirinya ke arah Afza, dan gadis itu membiarkannya. Dan bahkan saat Munding dengan rasa ingin tahunya mendekatkan wajahnya ke arah wajah Afza dan hampir menyentuh wajah Afza, gadis itu sama sekali tidak mundur atau menghindar.
“Kamu.. Tidak.. Takut??” tanya Munding.
Afza hanya terdiam dan menggelengkan kepalanya.
Afza sedari tadi berpikir tentang kondisi berserk Munding. Kondisi berserk Munding lain daripada biasanya. Serigala petarung biasanya mengalami berserk saat melakukan awakening. Tapi pada saat itu, ke-aku-an atau jatidiri seorang serigala petarung belum terbentuk. Dia belum menjadi serigala petarung. Naluri predator dan jatidirinya masih merupakan dua entitas yang terpisah.
Ada tiga pilihan yang akan terjadi saat itu, opsi pertama, jatidiri dan naluri predator tak akan pernah saling berjumpa, itu artinya, dia akan tetap menjadi manusia biasa dan gagal melakukan awakening. Opsi kedua, jatidiri dan naluri predator akan bertemu dan berasimilasi, dimana naluri predator berada di posisi yang tidak dominan, kategori inilah yang nantinya akan menjadi serigala petarung.
Opsi ketiga, jatidiri dan naluri predator akan bertemu dan berasimilasi, dimana naluri predator berada pada posisi yang dominan, sehingga dia akan menelan jatidiri manusianya. Inilah kondisi berserk. Pada kondisi ini, kesadaran diri benar-benar hilang karena sudah berasimilasi dengan naluri binatang buasnya dan tertelan. Satu-satunya cara adalah mengeksekusi mereka.
Kasus berserk Munding ini lain. Dia adalah seorang serigala petarung tahap inisiasi. Dia punya kesadaran dan jatidiri yang dominan terhadap naluri predatornya. Pada kondisi normal, naluri predator tidak akan bisa dan punya kemampuan untuk mengambil alih kontrol untuk tubuh Munding. Tapi ketika Munding mengalami puncak dari emosi negatif dan membiarkan kesadaran dirinya melemah dengan sengaja, naluri predatornya mengambil alih.
__ADS_1
Afza tahu kalau dalam tubuh Munding yang ada di depannya ini, kesadaran dan jati diri Munding masih ada disana. Dan entah dengan alasan apa dia membiarkan naluri predatornya mengambil alih untuk mengendalikan badannya.
Munding tersenyum sinis ketika melihat gelengan kepala Afza sebagai jawaban atas pertanyaannya tadi. Dia tiba-tiba mengayunkan tangannya ke arah kepala Afza dengan cepat. Mia yang memperhatikan interaksi keduanya kaget seketika saat melihat Munding menyerang Afza tiba-tiba.
Sasaran Munding adalah kepala Afza, dan jika serangan itu mengenai Afza, Mia tahu kalau tim Merah Putih akan kehilangan salah satu anggotanya sebentar lagi.
Wusshhhhhhhh.
Afza tersenyum manis dan bibirnya terlihat ingin mengucapkan sesuatu, “Nurul..”
Tangan Munding tiba-tiba berhenti ketika mendengar nama itu keluar dari mulut Afza. Jaraknya hanya satu jengkal dari kepala Afza. Jemari tangan Munding juga sudah membentuk cakar yang siap untuk mencabik dan merobek wajah dan kepala Afza. Tapi, sebuah nama yang mungkin terkesan biasa itu menjadi sebuah mantra yang sangat ampuh dan seolah-olah membuat Munding kaku membatu di hadapan Afza.
“Nurul baik-baik saja. Semuanya belum terlambat,” kata Afza pelan, “tapi, kamu harus sadar. Kamu tidak ingin kan Nurul melihatmu seperti ini?” bisik Afza ke telinga Munding.
“Nurul? Nurul baik-baik saja?” desis Munding dan tiba-tiba saja dia jatuh tersungkur tak sadarkan diri.
Dengan sigap Afza menangkap tubuh laki-laki itu dan menarik napas lega. Afza berpikir keras dari tadi, dia tahu apa penyebab Munding berserk, dia juga tahu dari Ambar apa yang menjadi hal terpenting bagi Munding. Dan hal terpenting itu adalah keluarganya.
Afza sejak tadi bertanya kepada dirinya sendiri, siapakah orang terpenting dalam hidup Munding? Ada tiga orang dalam keluarga terdekat Munding, Pak Yai, Bu Nyai dan Nurul. Afza tahu hanya dengan itulah dia punya harapan untuk mengembalikan kesadaran Munding.
Setelah mengingat kembali kejadian saat mereka meminta Munding bergabung tempo hari dan obrolan antara Nia dan Munding tadi, Afza mempunyai dugaan kalau orang terpenting dalam hidup Munding adalah istrinya. Nurul.
Setelah itu, Afza memutuskan untuk melakukan perjudian terbesar dalam hidupnya dengan taruhannya adalah nyawanya sendiri. Dia sengaja mendekati Munding dan membiarkan Munding melakukan apapun yang dia mau dengan tujuan untuk menyadarkan Munding dengan menggunakan nama istrinya.
Sebuah pertaruhan yang ternyata membuat Afza menjadi seorang pemenang tanpa mendapatkan hadiah apapun. Di saat nanti Munding kembali sadar dari pingsannya, dia tak akan pernah tahu kalau demi dirinya, Afza rela mempertaruhkan nyawanya.
__ADS_1