
Munding sudah menduga dari awal kalau untuk mengalahkan gerombolan Joko dan kawan-kawannya bukanlah sesuatu hal yang sulit, tapi dia tidak menyangka akan semudah ini.
Hanya Edi dan Abdul yang memberikan serangan yang berarti, sedangkan keempat orang lainnya termasuk Joko, mereka sebenarnya sudah kalah sebelum bertarung.
Mereka bahkan sama sekali tidak mencoba untuk menangkis atau membalas serangan Munding.
Munding berjalan ke arah Joko yang masih merintih-rintih di tanah. Dia tahu kalau si Joko sebenarnya cuma berpura-pura. Bukankah dia cuma terjatuh karena sapuan kaki Munding? Dibandingkan kawan-kawannya yang lain, cuma Joko yang belum cidera.
Seharusnya kalau Joko mau, dia bisa segera meloncat berdiri dan melawan Munding. Tetapi Munding hanya tersenyum, dia tahu kalau sifat pengecut Joko yang sesungguhnya sudah keluar menampakkan dirinya.
“Heiiiii. Berhenti berpura-pura. Aku sengaja tidak menyerangmu di area yang terlalu vital. Aku masih butuh mulutmu untuk memberitahuku beberapa hal,” kata Munding ke arah Joko.
Rintihan Joko berhenti. Dari posisinya yang meringkuk ditanah dan berguling-guling, Joko mencoba duduk di atas tanah. Dari mukanya, terlihat Joko masih menahan sedikit nyeri di kakinya yang terkena sapuan kaki Munding tadi.
Joko melihat ke arah Munding yang berdiri di sampingnya, “kau pikir kau sudah hebat ha? Silahkan saja kau hajar aku. Pukul aku. Kupastikan kalau aku akan membalasnya,” kata Joko penuh dengan nada ancaman.
Buakkkkkkkkk.
Munding menendang kepala Joko tepat di bagian depan mukanya. Joko terpelanting ke belakang dan dia rebah dengan tubuh terlentang di atas tanah. Munding berjongkok dan menjambak rambut Joko yang terbaring di tanah.
“Jangan pernah mencoba untuk mengancamku!!” kata Munding dengan nada dingin.
Uhukkkkk. Uhukkkk.
Joko memuntahkan darah yang ada didalam mulutnya. Bibirnya pecah karena terkena tendangan barusan. Dia menggunakan tangannya untuk mengelap darah yang tersisa di bibirnya.
Ketika Joko melirik ke arah Munding. Dia merasakan seluruh bulu kuduknya berdiri. Dia melihat pandangan penuh kebencian yang sama, yang dia terima dari Munding saat SD dulu. Pandangan mata paling menakutkan yang pernah dia lihat sekali saja seumur hidupnya.
“Dimana orang suruhan Bapakmu menahan Jumali?” kata Munding sambil tetap menjambak rambut Joko dengan tangan kirinya.
Joko diam dan mengalihkan pandangannya ke arah lain, dia tidak mau menatap mata Munding. Dan tentu saja Joko tidak mau menjawab pertanyaan Munding.
Buakkkkkkk. Uhukkkkk. Uhukkkkkkk.
Joko terbatuk-batuk dan terkejut dengan wajah ketakutan ketika dia memuntahkan dua buah gigi yang tanggal setelah dia menerima pukulan kanan Munding barusan. Darah mengalir lebih deras dari sela-sela bibirnya. Joko bisa merasakan cairan yang terasa sedikit asin dan anyir itu di lidahnya.
__ADS_1
Munding menahan kepala Joko dengan tangan kirinya dan menatap ke arah Joko. Joko yang masih terdiam karena kaget dengan giginya yang tanggal barusan, tidak menyangka kalau Munding tidak memberinya kesempatan untuk menjawab pertanyaannya tadi.
Buakkkkkkkk. Buakkkkkkkkk.
Kali ini Munding memukul Joko dua kali. Lebih pelan dari yang tadi tapi kini sasarannya adalah mata Joko. Kiri dan kanan. Joko kembali mengaduh dan merintih kesakitan. Kepalanya berkunang-kunang dan dia merasakan matanya pedih sekali dan tidak mau membuka dengan sempurna.
Munding kembali mengangkat tangan kanannya dan siap mengayunkannya kembali ke muka Joko. Joko yang melihat hal itu dengan cepat langsung memegangi tangan kanan Munding.
“Tungguuu. Tunggu. Aku akan beritahu. Tunggu. Berhenti. Jangan pukul lagi. Kumohon!!” kata Joko dengan nada yang memelas.
Munding menurunkan tangannya dan melihat ke arah Joko. Siap mendengarkan kata-katanya.
“Bapak menyuruh orang-orangnya untuk menyekap Pak Carik sejak tiga hari yang lalu,” kata Joko pelan, “tapi jangan tanya aku alasannya. Aku juga tidak tahu,” lanjutnya.
“Dimana?” tanya Munding.
Wajah Joko terlihat agak aneh tapi kemudian dia memutuskan untuk mengatakannya, “di rumah istrinya yang ketiga.”
Munding agak kebingungan. Kemudian dia mengangkat tangan kanannya lagi dan bersiap memukul Joko kembali. Munding tidak puas dengan jawaban Joko.
“Tunggu. Tunggu. Berhenti. Jangan pukul aku,” potong Joko dengan cepat setelah melihat Munding yang akan kembali menghajarnya.
Munding terkejut ketika mengetahui apa yang dikatakan oleh Joko barusan. Ayu adalah istri ketiga Karto? Kalau Sutinah, Ibu Munding, yang menjadi istri ketiga Karto, mungkin Munding masih bisa pecaya. Tapi ini adalah kakak kandungnya, Ayu.
Dan tiba-tiba Munding merasakan sesuatu yang sangat salah tentang semua hal ini. Wage, Jumali, Sutinah, Karto dan kini Ayu masuk ke dalam lingkaran itu.
Munding membuang semua kebingungan dan keraguan yang tiba-tiba muncul dalam hatinya kemudian melepaskan kepala Joko dari jambakan tangannya. Kemudian dia berdiri dan mendekat ke arah Asma yang masih tertegun dalam posisi berdirinya.
Melihat Munding berhasil mengalahkan gerombolan Joko, Asma terlihat bahagia. Bukankah itu artinya, dia terlepas dari nasib buruknya yang hampir terjadi malam ini? Asma tanpa sadar berjalan mendekati Munding dan memegang tangannya. Tangan kanan Munding yang masih berlumuran sedikit darah disana.
Munding membiarkan saja Asma melakukan itu. Kemudian dia melihat ke arah kaos Asma yang sudah tidak layak disebut kaos lagi. Munding melirik ke arah Puji yang sudah terduduk di tanah dengan tubuh gemetaran karena takut.
“Lepas jaketmu dan berikan ke Asma,” kata Munding ke Puji.
Dengan cepat Puji melepas dan memberikan jaketnya ke Munding. Kemudian Munding memakaikannya ke tubuh Asma yang memang sudah sangat terbuka di sana-sini. Asma cuma terdiam saat Munding melakukannya.
__ADS_1
“Hehehehehehehe, mesra sekali kalian..”
Terdengar suara tawa sinis Joko yang masih terkapar dan terengah-engah di atas tanah. Hati Joko dipenuhi oleh rasa benci dan iri. Sebenarnya, dari semua gadis cantik di Sukorejo, cuma Asma lah satu-satunya yang mampu menggetarkan hati Joko.
Gadis-gadis lain bertekuk lutut di depan Joko tanpa dia melakukan apapun dan hanya Asma yang membuatnya melakukan semuanya sampai senekat ini.
Dia sudah berusaha untuk melakukan semua cara untuk membuat Asma menyukainya, tapi semuanya tidak berhasil. Dan jalan terakhir yang terpikir olehnya adalah memaksa Asma menerima Joko dengan jalan memperkosanya.
Dari dulu Joko selalu bertanya-tanya apa yang membuat Asma menyukai si anak *****? Dan sampai saat ini pun, dia belum menemukan jawabannya. Karena itu dia tidak ingin Munding dan Asma meninggalkan tempat ini dengan bahagia.
Joko berniat mempertaruhkan segalanya untuk usahanya yang terakhir. Meskipun dia tahu kalau Munding bakal menghajarnya lagi. Tapi Joko merasa harus melakukannya, kalau tidak, Joko tahu dia tidak akan pernah punya kesempatan lagi untuk mendapatkan hati Asma.
Munding dan Asma berhenti berjalan ketika mendengar kata-kata Joko.
“Munding, kudengar kau sudah punya seorang kekasih ya di Sumber Rejo? Siapa namanya? Nurul, ya betul namanya Nurul, kalau aku tak salah ingat. Hahahhahahahahaha,” lanjut Joko dengan suara terpatah-patah dan seperti orang meracau sambil melihat ke arah langit malam.
Deg.
Munding merasakan ada sesuatu seperti berusaha menggeliat bangun dari dadanya mendengar nama Nurul keluar dari mulut Joko. Bagi Munding, Nurul adalah titik lemahnya, tali penyelamat terakhirnya, garis pembatas yang melindungi Munding dari jiwa buas dalam dirinya.
Seperti ‘reverse scale’ bagi seekor naga.
“Malam ini kau ambil Asma dariku, kau lihat saja, nanti aku akan memperkosa Nurul sebagai gantinya,” kata Joko penuh dengan rasa benci.
Munding bergerak tanpa berpikir. Dengan cepat dia langsung meloncat ke arah Joko yang terkapar di atas tanah. Munding mengangkat kaki kanannya dan menghunjamkannya ke bawah, ke arah Joko.
Buaakkkkkkkkkkkkkkkkk.
Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
Terdengar jeritan panjang penuh rasa kesakitan luar biasa dari pojokan tanah lapang di Sukorejo malam itu.
Candra dan Puji yang menyaksikan kejadian barusan terkencing-kencing di celana mereka. Asma menutup mulutnya dengan pandangan penuh rasa takut dan kaget yang luar biasa.
“Kalian,” kata Munding sambil menoleh ke arah Candra dan Puji, “katakan pada semua orang yang kalian kenal, baik di Sukorejo ataupun seluruh Sukolilo, siapapun laki-laki yang berani menyentuh Nurul dan Asma akan bernasib sama seperti Joko.”
__ADS_1
Munding berjalan ke arah motor-motor yang diparkir di dekat tempat itu. Asma berlari mengikutinya dari belakang. Candra dan Puji masih gemetar ketakutan dan melihat ke arah Joko.
Lebih tepatnya kearah **** Joko yang barusan diinjak oleh Munding sekuat tenaga. Mungkin mereka bertanya-tanya, masih bisakah Joko disebut lelaki setelah malam ini?