Munding - Legenda Serigala Petarung

Munding - Legenda Serigala Petarung
Chapter 147 - Solusi (part 1)


__ADS_3

Setelah semua musuhnya tumbang, para pengunjung terdiam.


Munding tak memperdulikan para manusia bejat itu dan masuk ke dalam pintu yang bertuliskan VIP di depannya. Dia membuka pintu dan masuk ke dalamnya.


Munding terkejut dengan apa yang dia lihat di balik pintu itu.


Sebuah koridor panjang dengan banyak pintu di sepanjang koridor itu. Di ujungnya ada sebuah pintu yang tertutup rapat, Munding tahu kalau pintu itulah tempat Puji berada.


Tapi, bukan koridor atau pintu-pintu itu yang membuat Munding terkejut tapi segerombolan pria yang berdiri di sepanjang koridor itu yang membuatnya terkejut.


Ada 12 orang yang berdiri di sepanjang koridor itu dan memasang tampang garang. Munding menarik napas dalam.


Ini Kafe atau benteng sih? Banyak bener bodyguardnya, kayak film-film action hollywood saja, keluh Munding dalam hati.


"Thorcang," gumam Munding.


Setelah menunggu selama beberapa saat karena tak ada jawaban, Munding berkata lebih keras, "Thorcang!!"


"Apaan sih?" terdengar suara saya langsung di kepala Munding dengan nada jengkel.


Siapa yang nggak jengkel coba dia manggil seenaknya dengan sebutan 'Thorcang', saya tahu maksudnya, dia pasti nganggep saya author kacangan. Beneran mulai durhaka ni anak.


"Tadi lawan lima orang butuh satu chapter, sekarang ada 13 orang kroco. Gimana kalau langsung di skip aja, musuh ecek-ecek juga," kata Munding dalam hati.


"Nanti saya dikomplain reader lagi. Situ mah enak, asal tahu beres aja. Lha saya?"


"Ya udah, kalau gitu masuk mode tarung aja, biar cepet kelarnya," jawab Munding.


"Situ nggak malu? Ngelawan musuh ecek-ecek pake mode tarung. Itu mah kaya ngebantai nyamuk pake bazooka. Mikir!!"


Munding terdiam.


Tapi saya tahu kalau otaknya nggak bakalan nyampe mikir plot cerita ini. Makanya nggak usah sok-sokan ngatur author. Baru juga level inisiasi, udah ngerasa paling hebat sendiri, minta ditampol ni anak.


"Makanya jangan ngelunjak, next time, jangan manggil-manggil lagi. Situ terlalu cepat sepuluh tahun kalau mau ngajari saya."

__ADS_1


"Ngikut aja apa kata saya."


Munding akhirnya terdiam dan dengan muka pasrah memasang kuda-kuda favoritnya. Dia mengumpulkan semangat bertarungnya dan menatap ke 13 musuhnya dan bersiap untuk melawan mereka.


Dia melangkah maju perlahan dan meningkatkan kewaspadaannya.


"Dah, skip aja. Saya mau beli karambol sama Totok buat nongkrong ntar malam."


Gedubrakkk.


Munding langsung terjengkang di tempatnya.


"Bed***h!!" maki Munding dengan suara pelan.


\=\=\=\=\=


Munding berdiri dengan susah payah. Darah terlihat sedikit menetes di mulutnya. Jumper hitamnya juga terlihat sobek di beberapa tempat.


Di belakangnya, pemandangan mengerikan terlihat, 13 orang terkapar dalam berbagai posisi.


Munding teringat kembali pengalaman yang dialami saat di penjara dulu. Saat dia dititipkan ke penjara umum oleh militer.


Selama bertarung tadi, beberapa kali naluri predatornya sempat hampir terbangun tanpa sengaja. Rasa yang lama tak dia alami.


Ssesuatu yang membuatnya merasa 'hidup' dan sadar kalau dirinya bukan lagi seorang suami biasa yang hidup dari bercocok tanam di sawah untuk kesehariannya.


Betapa dia ingin sekali melepaskan binatang buas dalam dirinya dan membiarkan sisi lain dirinya yang mengambil alih.


Tapi, dia kembali ingat batasan-batasan dan janji yang dia berikan kepada Nurul sebelum berangkat kesini. Munding tak mau kembali merasakan dinginnya lantai penjara.


Munding menarik napas dalam dan membuka pintu yang ada di depannya.


Ketika dia masuk ke ruangan itu dan melihat ke dalam, Munding menarik napas dalam sekali lagi.


Ada 9 orang laki-laki dan seorang wanita di dalam ruangan. Dan yang membuat Munding menarik napas dalam adalah 6 orang laki-laki yang ada di dalam ruangan berpenampilan rapi dan berambut cepak. Munding tahu siapa mereka.

__ADS_1


Militer.


Munding memilih untuk melawan 10 orang preman daripada 6 orang personil militer di depannya. Alasannya sederhana, mereka dididik dan dilatih untuk membunuh dan mempertahankan diri. Itu tugas utama mereka. Mereka juga lebih disiplin dan memiliki pembinaan mental sebagai bagian dari latihan mereka. Hasilnya, mereka tidak mudah menyerah dan patah semangat. Musuh seperti itu yang susah untuk dilawan, bukan seseorang yang sekali gertak langsung ciut nyalinya atau jiper saat melihat kawannya tumbang.


Munding lalu melihat ke arah satu-satunya wanita di dalam ruangan, seorang gadis yang raut wajahnya sangat dia kenal. Tapi dengan penampilan yang jauh berbeda dengan gadis dalam ingatan Munding.


Puji Astuti.


"Jadi, kau yang menyerang Kafe ini seorang diri?" teriak Sucipto dari sebelah Puji.


Kusnandar memperhatikan Munding sekilas dan kembali menikmati minuman yang ada di depannya. Dia duduk santai di sofa yang agak jauh dari meja dan kursi kantor yang dipakai oleh Puji dan tempat Sucipto berdiri.


Muhktar menundukkan kepalanya. Dia pernah bertemu dengan Munding sebelumnya dan dia tahu kalau dirinya bukan lawan Munding. Apalagi setelah membayangkan kalau pria di depannya ini berhasil menginjakkan kaki di ruangan ini. Itu artinya dia sudah berhasil menumbangkan semua anak buahnya yang berjaga di ruang utama dan koridor. Anak buah Muhktar yang berjumlah 18 orang.


Muhktar bergidik ngeri saat membayangkannya. Dia bisa mengalahkan semua preman yang berada di luar ruangan ini. Tapi, satu lawan satu. Melakukannya seperti apa yang Munding baru saja lakukan? Hanya dalam mimpi saja atau berkhayal saat dia sedang teler minuman.


"Kamu berhasil mengalahkan semua orang yang ada di luar ruangan. Kemampuanmu pasti jauh di atas Muhktar," sebuah suara yang tenang dan tidak terpengaruh emosi terdengar.


Husein berjalan dari sebelah Sucipto dan mendekat ke arah Munding. Sebagai otak dari Tim Sucipto, tentu dia bisa mengambil kesimpulan seperti itu dengan mudah.


"Sayang kalau kemampuanmu disia-siakan. Bagaimana jika kamu bekerja untuk kami? Buat apa menanam padi di sawah atau mengajar ngaji di musala kecilmu itu?" lanjut Husein sambil tersenyum.


Munding hanya terdiam dan melirik ke arah pria yang sedang berbicara di depannya itu. Satu kata yang langsung terlintas di kepalanya.


Culas.


Munding paling benci dengan manusia seperti ini. Dia adalah type manusia yang sanggup menusukkan pisau ke perutmu sambil tersenyum ramah. Munding tak akan pernah berteman dengan manusia seperti ini. Type manusia yang hanya melihat semuanya dari sisi untung-rugi dan tak punya harga diri.


"Dan kamu?" tanya Munding.


Husein tertawa, "namaku Husein, ini Sucipto dan aku yakin kamu sudah bertemu Muhktar," kata Husein sambil memperkenalkan rekan-rekannya.


"Dengan kemampuanmu, aku yakin kamu berpikir kalau bagimu adalah suatu hal yang mudah untuk menghajar kami bertiga. Tapi kamu harus tahu, pria yang duduk itu bernama Kusnandar. Dia Danramil, kali ini dia hanya membawa 5 orang anggotanya ke sini," lanjut Husein.


"Oke, mungkin kamu berpikir kalau kamu masih bisa menghajar kami semua. Terus? Di belakang Kusnandar ada militer, kalau 5 orang tak bisa menghajarmu, dia bisa mengirim 10 orang. 10 orang tak cukup? Dia akan mengirim 20 orang. Pada akhirnya, kamu bukan siapa-siapa di depan sebuah institusi seperti mereka," Husein mulai berceramah dan semuanya sesuai dengan logika, Munding harus mengakui kalau pria ini memang cerdas dalam menggunakan otaknya.

__ADS_1


__ADS_2