Munding - Legenda Serigala Petarung

Munding - Legenda Serigala Petarung
Chapter 97 - Saya bukan Raja


__ADS_3

“Ini serius kan?” tanya Ambar ke arah Munding yang duduk di depannya.


Munding menganggukkan kepalanya. Di tangan Ambar terdapat dua buah handphone yang dulu disimpan dalam saku jumpernya. Karena jumper itu dikenakan Munding dan saat dia tak sadarkan diri, Munding langsung dibawa ke UGD dengan menggunakan ambulance, maka tidak ada yang menyadari sama sekali kalau ada dua hp asing yang tersimpan dalam jumper yang dipakai Munding.


Sampai ketika Munding tersadar setelah dirawat selama seminggu lebih, baru lah informasi ini dapat disampaikan ke Ambar. Setelah mendapatkan informasi lengkap dari Munding, Ambar terlihat sibuk menelpon beberapa orang sambil berjalan mondar-mandir di depan Munding dan Amel.


Amel yang sedari tadi hanya mendengarkan percakapan antara Munding dan Ambar kini menjadi sedikit mempunyai gambaran kalau ternyata, selain menjadi bodyguard-nya, Papa juga meminta Munding melakukan sesuatu untuk militer.


Amel kemudian menarik ujung kaos Munding pelan dan membuat pemuda itu menoleh ke arahnya dengan pandangan tanya, “Mbak Ambar pasti sibuk ni. Kita tinggal aja dulu yuk?” ajak Amel.


“Sekarang jam berapa?” tanya Munding.


Amel melirik sebentar ke arah pergelangan tangannya. Kemudian setelah itu, Amel menunjukkan jam tangannya ke Munding dengan posisi yang membuat Munding bisa membacanya. Padahal kan lebih enak kalau Amel tinggal menjawab pertanyaan Munding.


Munding kemudian menganggukkan kepalanya, “aku sholat Ashar dulu ya.”


Munding memutar badannya dan bersiap menuju ke pavilion belakangnya lagi ketika tiba-tiba Amel memanggilnya, “Munding..”


Munding menoleh ke arah Amel, “ya?”


“Amel ikut sholat sama Munding ya?” kata Amel pelan dan terlihat ragu-ragu.


Munding sedikit terkejut, ini kali pertama Amel meminta untuk sholat bareng dengannya, selain itu, Munding juga tidak pernah melihat Amel sholat sebelumnya. Munding juga tidak pernah melihat Pak Broto dan istrinya menjalankan perintah agama itu. Tapi, bagi Munding yang semasa kecilnya hidup dalam nuansa Islam abangan tentu maklum dengan hal itu.


Munding menganggukkan kepalanya dan tersenyum kepada Amel. Senyum manis yang pernah Amel terima saat melihat Munding pertama kali latihan silat di pagi hari itu.


Amel kemudian membalas senyuman Munding dan mengikuti pemuda itu. Mereka berdua kemudian berjalan ke arah pavilion belakang tempat Munding tinggal.


“Kita mau sholat di kamar Munding ya?” tanya Amel lirih dengan muka memerah, keliatannya mulai mikir mesum ni cewek.

__ADS_1


“Nggak. Kita sholat di mushola rumah utama aja. Tempatnya lebih luas,” jawab Munding, “aku cuma mau ambil sarung dan ganti baju yang bersih aja kok. Kamu tunggu disini ya?” lanjutnya.


Munding kemudian masuk ke dalam kamarnya.


Amel menghentakkan kakinya dengan kesal ke lantai. Dia tadi sempat kegeeran bakalan berduaan sama Munding di kamarnya. Mana tahu nanti Munding bakalan khilaf, kan nanti Amel bisa nuntut Munding untuk bertanggung jawab kalau semuanya sudah terjadi.


Kalau seperti itu, nanti ceritanya, Amel bukan ngerebut Munding dari tangan istrinya, tapi Munding yang kegatelan nyosor Amel, itulah skenario yang sempat muncul di dalam kepala Amel tadi.


Tapi kenyataan berkata lain, Amel yang seharusnya si empunya rumah, justru dikacangin dan disuruh nunggu di depan kamar si Munding.


\=\=\=\=\=


Munding masuk ke ruang kelas dengan tenang. Seisi kelas yang tadinya ramai dan berisik berubah menjadi hening saat teman-teman sekelas Munding melihat dia masuk ke kelas. Mereka sesekali akan berbisik dan melirik ke arah Munding, tapi tak ada satupun yang berani menatap matanya.


Tak lama kemudian, seorang guru cantik dengan pakaian sedikit seksi masuk ke dalam kelas. Dia adalah wali kelas 2J. Santi Lofiani.


“Munding, nanti jam istirahat pertama, kamu ke kantor saya. Ada yang mau saya bicarakan. Penting,” kata wali kelas 2-J itu dengan nadanya yang lembut dan menggoda seperti biasa.


Amel yang duduk di sebelah Munding melotot ke arah Bu Santi kemudian mencubit lengan Munding, “kamu tahu nggak kalau wali kelas kita tu suka gatel. Dulu aja dia jalan sama Bram. Banyak anak-anak yang lihat. Tapi sekarang dia ngegodain kamu!!” kata Amel ketus.


Munding cuma tersenyum. Dari awal, dia sudah curiga dengan tingkah laku wanita itu. Mulai dari saat mengumumkan jumlah harta kekayaan Munding sampai ke ‘perawatan kejiwaan’ yang dilakukan oleh Munding. Tapi kalau ternyata Bu Santi adalah kekasih Bram, semua itu menjadi wajar dan masuk akal.


Yang sekarang menjadi pertanyaan dalam kepala Munding, “kenapa dia meminta aku menemuinya?”


Amel masih tetap bersungut-sungut di tempat duduknya. Dia aja yang jelas-jelas suka sama Munding mencoba menjaga jarak karena merasa nggak enak hati sama istri Munding yang bahkan Amel nggak tahu namanya.


Lha ini? Tahu-tahu mau nyosor aja wanita murahan satu itu, rutuk Amel dalam hati.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


“Silahkan duduk!” kata Bu Santi kepada Munding yang sudah berada dalam ruangannya.


Munding duduk dengan santai di kursi yang ada di depan meja Bu Santi. Wanita itu terlihat sedikit gugup dan bingung dengan apa yang akan dia sampaikan kepada Munding. Dia terlihat mondar-mandir kesana kemari dalam ruangannya.


Jauh berbeda dengan Santi yang pertama kali Munding lihat penuh dengan percaya diri dan terlihat angkuh.


“Oke. Begini,” kata Bu Santi sambil menarik napas panjang dan menghembuskannya.


“Kamu sudah mengalahkan Bram. Saya juga sudah mendengar tentang kejadian seminggu lalu di rumah Citra. Intinya sekarang adalah Bram sudah tidak ada lagi di sekolah ini. Titik,” kata Bu Santi pelan dan sejelas mungkin.


“Lalu, apa rencanamu selanjutnya?” tanya Bu Santi.


Munding terlihat bingung untuk sesaat kemudian dia menjawab dengan pasti, “apa maksud Ibu? Saya datang kesini untuk bersekolah, tentu saja saya berencana untuk tetap sekolah dan mendapatkan ijasah saya,” jawab Munding tegas.


Santi yang berdiri dengan gugup di tempatnya seperti mendapatkan siraman air dingin di kepalanya ketika mendengar kata-kata Munding. Dia sama sekali tidak menyangka Munding akan menjawab seperti itu.


Pada awalnya, tujuan Santi memanggil Munding ke sini adalah untuk merekrut Munding menjadi mata-mata tim Santi dengan jalan menjebak para pemasok dan pembeli narkoba yang sebelumnya menggunakan jaringan Bram.


Dengan posisi Munding sebagai Raja di Harsa dan rumor tentang kedekatannya dengan 4 grup remaja lain termasuk SMK Sriwijaya, nama dan posisi yang sekarang di miliki Munding jauh lebih prestis bahkan jika dibandingkan dengan Bram dan MinMaksnya pada masa jayanya dulu.


Bram dulu terlalu angkuh untuk menundukkan kepalanya dan merangkul A Long, Fariz dan Rin dari sekolah yang sama, apalagi bekerja sama dengan Hernowo dari sekolah lain. Tapi Munding beda. Mereka berlima sekarang menjadi aliansi paling ditakuti di sekitar kawasan Harsa dan Sriwijaya.


Dengan latar belakang seperti itu, tim Santi akhirnya memutuskan untuk mengajak Munding bekerja sama demi kepentingan mereka. Yang membuat Santi gugup sekali adalah atasan langsungnya bahkan meminta dia melakukan ‘semua’nya asalkan dia bisa merekrut Munding.


Sebuah perintah yang bahkan tidak pernah diterima Santi saat dia harus mendekati Bram MinMaks. Karena itu, sampai detik terakhir sebelum Bram kalah saat duel melawan Munding, pengorbanan terparah Santi adalah dengan memuaskan Bram dengan menggunakan mulutnya. Santi masih bisa mempertahankan mahkotanya dari renggutan si Bram.


“Maksud saya bukan seperti itu Munding. Kamu kan sekarang Raja di Harsa. Kamu juga punya ally yang kuat dan memiliki pasukan sendiri-sendiri. Kamu bisa dikatakan telah mengalahkan Bram bahkan pada saat dia berada di puncaknya,” kata Santi berapi-api.


Munding cuma menggelengkan kepalanya, “saya ini cuma seorang murid, bukan seorang raja. Mereka juga sahabat saya, bukan sekedar ally. Terus terang saya tidak mengerti arah pembicaraan ini,” kata Munding datar.

__ADS_1


__ADS_2