Munding - Legenda Serigala Petarung

Munding - Legenda Serigala Petarung
Chapter 17 - Unleash the Beast part 2


__ADS_3

Ketiga preman kawan Saud yang tersisa, tak kuasa lagi menahan rasa takutnya. Dua diantara mereka jatuh terduduk di lantai yang basah oleh air hujan.


Satu orang lagi berhasil untuk tetap berdiri dengan lutut yang gemetaran, tapi ada cairan kuning bening yang mengalir turun dari selangkangannya, bercampur dengan air hujan yang membasahi tubuhnya.


Munding masih menikmati sensasi kekuatan yang dia dapat dari tendangan yang baru saja dia layangkan. Kakinya masih terangkat di posisi menendang dan tubuhnya condong ke belakang untuk keseimbangan. Posturnya terlihat seolah-olah menyerupai huruf ‘T’, sama seperti nama tendangan yang barusan dia lakukan.


“Ini nyata,” kata Munding dalam hati, “aku bisa merasakannya, aku lebih cepat dan lebih kuat.”


Munding menurunkan kakinya dan melihat ke sekelilingnya. Munding tiba-tiba merasa kalau dirinya adalah ‘sesuatu’ yang lain dibandingkan orang-orang yang ada di depannya.


Dia merasa kalau dirinya dan mereka bukan spesies yang sama.


“Mereka lemah, lemah sekali. Kalau aku mau, mungkin aku bisa meretakkan kepala mereka dengan pukulan tanganku,” gumam Munding dalam hati.


Suara rintihan dari beberapa preman yang terkapar di lantai terdengar lirih di tengah suara gerimis hujan. Munding kemudian berjalan ke arah kios jamu. Munding duduk di kursi kayu panjang yang ada disana.


“Ambilkan jaket Saud untukku. Aku suka jaketnya,” kata Munding ke arah dua preman yang terduduk di lantai paving.

__ADS_1


Seperti mendengarkan suara setan di tengah malam, mereka berdua berdiri dengan cepat dan berlari ke arah Saud dan dengan gugup melepas jumper hitam yang masih di pakai Saud. Dalam hitungan menit, mereka sudah berdiri di belakang Munding sambil menundukkan kepalanya dan menyerahkan jumper hitam Saud ke Munding.


“Kalian bawa Saud dan teman kalian untuk berobat, kalau Saud sudah sadar kasih tahu dia, musuhku memanggilku Kebo, lain kali kalau kalian lihat aku di jalan, sebaiknya kalian menghindar, kalau tidak, kuhajar lagi kalian sama seperti malam ini, ngerti kalian?” kata Munding.


“Kami ngerti ..” kata dua orang itu serempak.


Dan bagaikan seorang tahanan mati yang mendapat amnesti, mereka berdua segera membangunkan kawan-kawannya yang masih merintih-rintih dan mengajak mereka untuk mengangkat Saud dan preman naas yang terkapar di depan kios sebelah.


Cuma tinggal Munding dan gadis si penjaga kios jamu sekarang.


Dari tadi si gadis berdiri mematung ditempatnya dilanda ketakutan dengan lutut yang gemetaran. Tangannya yang memegang botol minuman juga terlihat bergetar.


Si Mbak meloncat dari tempatnya berdiri karena saking kagetnya. Hampir saja botol minuman yang ada ditangannya terjatuh ke lantai. Dia melirik ke arah Munding dengan raut wajah ketakutan, tapi dia tetap mengambil kain lap yang ada di meja kiosnya dan mendekat ke arah Munding.


Si Mbak memberikan kain lap itu ke Munding tanpa berani melihat ke arah Munding. Munding mengambil kain lap dari tangan si Mbak dan menggunakannya untuk mengelap darah yang melumuri kedua kepalan tangannya.


“Makasih.. Ini lapnya, maaf kotor,” kata Munding sambil menjulurkan lap dengan tangan kanannya.

__ADS_1


Si Mbak yang menggunakan kaos ketat dan rok pendek itu, meraih kain lap yang diulurkan oleh Munding, tapi begitu tangannya terulur, dia merasakan tangannya ditangkap oleh cowok menakutkan itu. Munding memegang tangan si Mbak dan menariknya ke pelukannya.


*scene deleted


“Saya ambil dulu tissue yang bersih ya Mas, untuk bersihin Mas,” katanya dengan genit dan lembut.


Tapi tiba-tiba saja Munding seperti tersadar dan terlihat agak kaget dengan apa yang barusan terjadi.


Munding dengan cepat menarik celananya keatas dan berlari ke luar dari kios jamu itu. Tangannya reflek menyambar jumper hitam Saud yang diletakkan dimeja dan kemudian Munding berlari ke arah motornya.


Munding segera menyalakan motornya dan menghilang dalam gelapnya malam disertai gerimis hujan. Si Mbak penjaga kios jamu masih tertegun dengan tissue yang dipegang di tangannya.


Dia sempat melihat ekspresi terkejut dan kaget Munding sesaat sebelum dia lari. Dan dia yakin kalau itu tidak dibuat-buat.


“Ternyata dia masih seorang bocah. Dan dia bahkan tidak menanyakan namaku sekalipun,” batin Si Mbak sembari tersenyum kecut.


Si Mbak penjaga kios jamu kemudian berjalan ke depan untuk menutup kios jamunya. Cuma satu informasi yang dia tahu tentang sosok pemuda misterius tadi.

__ADS_1


Pemuda itu mengaku bernama Kebo, dan dia yakin kalau nama itu adalah nama samaran. Mana mungkin ada orang tua yang tega menamakan anaknya dengan nama seperti itu.


__ADS_2