Munding - Legenda Serigala Petarung

Munding - Legenda Serigala Petarung
Chapter 77 - Susu Coklat


__ADS_3

Seminggu setelah Munding masuk ke SMA Harapan Bangsa atau 5 hari setelah duel antara Bram dan Munding.


Munding masih menjalani rutinitasnya seperti biasa. Bangun Subuh di pagi hari, dilanjutkan dengan latihan silat rutin paginya. Tapi ada sesuatu yang sedikit berbeda, sejak 4 hari lalu, tepatnya sehari setelah Munding berduel dengan Bram, ada menu tambahan baru untuk latihan pagi Munding.


Munding memasang seutas tali antara dua pohon mangga di kebun belakang dekat dengan pavilionnya setinggi lehernya sendiri, kemudian dia akan bergerak zig zag menyamping dari kiri ke kanan dengan badan tegak lurus dengan tali. Munding juga akan mempertahankan postur kuda-kudanya dan bergerak maju sesuai dengan gerakan menyampingnya.


Ketika dia melewati tali, Munding akan merundukkan badan dan kepalanya secepat mungkin dan sedekat mungkin dengan tali itu, kemudian setelah dia melewati tali, dia akan menegakkan badannya lagi dalam posisi siaga.


Metode inilah yang terpikirkan oleh Munding untuk meningkatkan kemampuan dia untuk mengelak dari serangan pukulan, terutama ke arah kepalanya. Meskipun awalnya Munding agak kesulitan, tapi lama kelamaan, dia mulai menikmati ritmenya. Tubuh bagian atas Munding juga terasa lebih lentur dan mudah digerakkan.


Setelah dia mencapai pohon yang ada di depannya dan menjadi tempat mengikat ujung tali itu, Munding menarik napas dalam-dalam dan beristirahat sebentar. Munding tahu kalau tubuhnya membutuhkan beberapa hari atau minggu untuk terbiasa dengan gerakan mengelak yang sedang dilatihnya ini.


Tapi, Munding merasa, seberat apapun latihan ini, tetap layak untuk dilakukan. Selama ini, Pak Yai mengajari tubuhnya agar siap menerima pukulan, tentu saja dengan memukuli tubuh Munding dengan batang bambu tiap hari. Latihan yang seperti mimpi buruk bagi Munding kecil dulu.


Dengan metode itu, masih ada 3 area yang tidak tersentuh oleh siksaan Pak Yai. Bagian kepala, leher dan ********. Pak Yai tidak pernah memukul ketiga titik yang dianggap kelemahan oleh Munding ini.


Karena itu, Munding berharap kalau dengan latihan mengelaknya ini. Paling tidak dia bisa menyelamatkan dua area dari ketiga area tadi, yaitu bagian kepala dan leher. Sebisa mungkin Munding ingin mengurangi peluang untuk kepalanya terkena serangan musuh dengan mengelak.


Sedangkan untuk titik kelemahannya yang terakhir, sampai saat ini Munding belum menemukan cara untuk membuat benda itu tahan pukulan, mungkin kalau sekedar tahan jepitan masih memungkinkan.


Munding memutar tubuhnya dan kembali meliuk-liuk menghindari seutas tali itu dan berjalan pelan ke arah pohon yang satunya lagi.


Gadis-gadis penggemar Munding juga semakin banyak. Dari yang awalnya cuma beberapa orang saja, sekarang hampir semua ART berkumpul di teras belakang untuk melihat Munding latihan silat di pagi hari.


Sesekali mereka akan tertawa kecil sambil menunjuk-nunjuk ke arah Munding.


\=\=\=\=\=


Amel tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Keringat dingin mengalir turun membasahi badannya. Dia baru saja mengalami mimpi buruk, bertemu dengan pocong saat pulang sekolah dan berjalan kaki di dekat kuburan.

__ADS_1


Mimpi yang sebenarnya sama sekali tidak logis, kan Amel selalu pulang naek mobil. Tapi kita biarkan saja, namanya juga mimpi. Bebas dong.


Dengan napas masih terengah-engah dan wajah sedikit pucat, Amel turun dari kasurnya dan menuju ke dapur. Dia sempat melirik jam dinding yang ada di kamarnya.


06.00 WIB. Pagi bener, keluh Amel dalam hati.


Sesampainya di dapur, Amel tidak menemukan seorang ART pun yang ada di dalam sana. Amel sedikit kebingungan. Maksud hati, dia mau meminta buatkan susu coklat, biasanya sih kalau lagi panik atau mimpi buruk, Amel selalu minum segelas hangat susu coklat untuk menenangkan diri.


“Kok nggak ada orang sih?” gumam Amel.


Amel yang baru saja bermimpi buruk dan tidak menemukan seorang pun di dapur mulai merasakan kalau emosinya sedikit naek. Tinggal sedikit lagi, Tuan Puteri mode bakalan nyala deh.


“Mbak!!” panggil Amel dengan suara agak keras.


Beberapa saat menunggu dan nggak ada sahutan, Amel makin geram, “MBAKK!!!!” teriak Amel di dalam dapur.


Dan sama seperti sebelumnya, tidak ada sahutan datang, “pada kemana sih, heran deh, lebih 10an orang tapi nggak ada satupun keliatan di dapur,” gumam Amel sambil menuju ke teras belakang.


Amel dengan penasaran melihat kearah mereka semua memandang dan pandangan Amel terpaku kepada sesosok pemuda yang sedang meliuk-liuk menghindari seutas tali dengan merundukkan kepala dan badannya.


Munding.


Keringat terlihat membasahi seluruh tubuhnya, jadi meskipun dia menggunakan kaos dan celana hitam, tapi Amel bisa melihat dengan jelas bentuk tubuh Munding yang tercetak karena kaos yang menempel di badan Munding.


Amel merasakan sesuatu yang lain ketika melihat sosok Munding yang seperti ini. Bocah kampungan itu terlihat sedikit berbeda. Tidak ada rasa benci ataupun merendahkan seperti saat pertama kali Amel bertemu Munding dulu.


Tapi, Amel tiba-tiba ingat kenapa dia ada di teras belakang ini.


“Kalian ngapain sih!!!” bentak Amel tiba-tiba mengagetkan semua ART yang sedang asyik dalam lamunan masing-masing sambil melihat Munding latihan.

__ADS_1


“Mbak Amel, maaf Mbak, maaf Mbak,” kata beberapa dari mereka sebelum akhirnya mereka kabur meninggalkan teras belakang.


“Eh, kok pada kabur semua? Terus siapa yang bikinin Amel susu coklat ni?” teriak Amel yang tidak digubris oleh pekerja rumah tangga yang kabur meninggalkan Amel di teras belakang.


Kini tinggal Amel sendirian di teras belakang kemudian dia melirik ke arah Munding yang sedang asyik latihan silat di kebun buah itu, “pagi bener, jam berapa sih dia bangun?” gumam Amel.


Entah kenapa, tiba-tiba Amel kepikiran untuk membawakan minuman hangat untuk Munding. Amel pun segera berlari ke arah dapur. Ketika dia sampai ke dapur, gadis-gadis tadi yang melarikan diri dari Amel pun langsung pucat ketakutan.


Tuan Puteri masih mengejar mereka sampai ke dapur, begitu mungkin isi hati mereka.


Tapi, bukannya marah, Amel justru tersenyum senang ketika menemukan ada orang di dalam dapur, “bikinin Amel dua gelas susu coklat hangat, cepetan,” kata Amel.


Tak lama kemudian, seorang gadis menyerahkan dua gelas susu coklat menggunakan cangkir dengan gagang di tepinya. Amel tersenyum menerimanya dan kembali teras belakang. Sesampainya di teras belakang, Amel berjalan menuju ke kebun belakang tempat Munding berlatih silat.


“Munding,” panggil Amel pelan, ke arah pemuda yang kelihatannya tidak menyadari kedatangan Amel itu.


Munding yang sedang berkonsentrasi penuh dengan latihannya itu tiba-tiba mendengar suara lembut seorang gadis yang memanggilnya. Dan cuma seorang gadis saja yang selalu menemani latihan silat Munding selama ini.


Nurul.


Munding dengan reflek menolehkan kepalanya ke arah suara yang memanggilnya itu dan memberikan senyuman manisnya. Hal yang sudah dia lakukan entah untuk yang keberapa kali. Suatu hal yang mungkin sudah menjadi gerakan naluriah selain gerakan silat yang dia latih.


Amel yang menerima senyuman Munding merasakan sesuatu tiba-tiba bergetar dalam dadanya. Dia belum pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya. Ini juga kali pertama dia melihat senyuman bocah kampung itu.


“Munding manis juga kalau tersenyum,” sebaris kalimat tanpa sadar muncul di dalam kepala Amel menemani debaran rasa aneh yang tadi tiba-tiba muncul dalam dadanya.


Munding melihat sesosok gadis sedang berdiri dengan dua buah gelas di tangannya. Tapi dia bukan Nurul, gadis yang memanggilnya barusan adalah Amel. Senyuman Munding kembali menghilang. Dia memasang muka datarnya lagi.


Munding menarik napas dalam dan melepaskannya perlahan-lahan, mencoba menekan perasaan rindu yang tiba-tiba menyeruak kembali dalam dadanya. Rasa rindu untuk istrinya, Nurul.

__ADS_1


“Ngapain ke sini?” tegurnya ke arah Amel.


\=\=\=\=\=


__ADS_2