
“To, tolong ambilkan timah pemberat di kotak pancingku itu!” perintah seorang kakek dengan suara pelan sambil tersenyum.
Pria yang dipanggil ‘To’ dengan cepat berjalan di atas perahu yang berada di tengah laut itu dan mengambil kotak peralatan memancing yang disebutkan oleh orang tua tadi. Setelah itu dia berjalan kembali dan menyerahkan timah pemberat kepada si Kakek dan kembali duduk di belakang si Kakek.
Di sebelah Kakek itu, ada seorang kakek lagi yang sedang asyik memegangi joran pancingnya sambil sesekali menghisap rokok di tangannya. Dia sama sekali tak memperhatikan percakapan atau kesibukan antara kakek di sebelahnya dan si ‘To’.
Hanya ada tiga orang itu diatas geladak depan kapal yang terbuat dari fiberglass ini. Sebuah kapal pancing yang modern dan berfasilitas lengkap. Sedangkan di bagian dalam kabin ruang kemudi, beberapa orang laki-laki berseragam militer memperhatikan mereka bertiga dengan khidmat dan bersiap-siap untuk melayani permintaan apa saja yang dibutuhkan oleh ketiga orang itu.
Kalau Munding berada disini, tentu dia akan kaget sekali. Pak Broto alias Jenderal Broto, yang memiliki kewenangan tertinggi di Kodam IV Diponegoro, hanya menjadi seorang bocah pesuruh atau caddy bagi dua orang kakek-kakek yang sedang asyik memancing diatas perahu ini.
“To, minta anak-anak itu bikinkan kopi!” sebuah perintah kembali datang dari Kakek yang duduk di sebelah kiri.
Perintah yang membuat Broto berdiri dan berjalan ke arah ruang kabin untuk meminta anggotanya membuatkan kopi untuk sang Kakek. Tapi, saat Broto sedang memberikan instruksinya, sebuah suara terdengar dari sang Kakek yang duduk sebelah kanan. Kakek yang sedari tadi hanya terdiam saja sambil menikmati rokoknya.
“Tambah satu To!!” teriaknya menggelegar.
“Siap Pak,” jawab Broto.
Tak lama kemudian, Broto datang membawa dua cangkir kopi dan meletakkannya didekat kedua orang kakek itu.
__ADS_1
“To, kudengar kamu mulai dekat sama militan?” tanya si Kakek pertama yang suaranya pelan dan santai.
“Kau mau mengkhianati angkatan ha?” gertak si Kakek kedua dengan suara menggelegar, kali ini terdengar jelas logat Medannya.
“Biar aku saja yang ngomong sama si Broto, Lae,” kata si Kakek yang pertama kepada Kakek yang kedua.
Kakek yang kedua kembali asyik dan fokus ke joran pancing dan rokok di jemarinya. Dia tak lagi terlihat memperdulikan si Broto yang duduk di belakang mereka berdua.
“To, katakan apa alasanmu memilih mengirimkan petarung didikan militan sebagai perwakilan dari Angkatan? Bukankah kita punya banyak kandidat yang layak?” tanya si Kakek pertama.
Broto menarik napas dalam, dia harus memilih kalimatnya dengan cermat dan tepat, karena saat ini dia sedang berhadapan dengan dua orang monster yang menjadi tameng dan soko guru bagi militer dan seluruh angkatan yang bernaung di bawahnya.
Dan mereka telah melakukannya selama bertahun-tahun. Tanpa pernah diekspos sekalipun. Masyarakat awam pada umumnya tak pernah mendengar sepak terjang mereka. Hanya para petinggi militer dan pejabat pemerintahan yang memiliki konsen terhadap kedaulatan negara saja yang mengetahui seberapa penting peran mereka berdua selama ini.
Kakek pertama dikenal dengan nama ‘Dirman’ tanpa embel-embel lain. Kakek kedua bernama ‘Nasution’ yang sudah jelas merupakan sebuah nama marga dari Sumatra Utara. Mereka diketahui ikut memperjuangkan kemerdekaan dan aktif menjaga kedaulatan negara sejak negara ini didirikan, sampai sekarang.
Setelah berhasil merangkai kata-katanya, Broto menarik napas panjang lalu mulai memberikan penjelasannya.
“Pak Dirman, Pak Nasution, Kepolisian membentuk tim gabungan dengan anggota sepuluh orang serigala petarung tahap inisiasi dari berbagai angkatan dengan kuota, 4 dari mereka dan 6 dari militer,” kata Broto pelan memulai penjelasannya.
__ADS_1
“Saat itu, saya berpikir, sejak dulu, jumlah petarung manifestasi dari faksi pemerintah ada 4 orang dan dari militan ada 4 orang. Kita bisa mempertahanan keseimbangan yang bahkan justru lebih condong ke arah kita, karena mereka tidak pernah sejalan antara satu agama dengan yang lain.”
“Lalu, kita menambah dominasi kita dengan bergabungnya petarung manifestasi dari beladiri dan membuat jumlah kita menjadi 5 orang. Meskipun kita sendiri harus akui bahwa di dalam faksi kita juga ada perpecahan, tapi tidak separah faksi militan. Itulah yang bisa membuat kita tetap memaksa mereka untuk selalu dalam kondisi terkendali.”
“Tapi,” Broto berhenti sebentar untuk menarik napas dalam.
“Saat Chaos datang, semua bertanya-tanya apa tujuan mereka kemari? Kenapa organisasi luar mencoba untuk memancing di air keruh yang ada di dalam negeri kita? Militer pun menggunakan semua upayanya untuk memahami organisasi ini, bahkan sebelum Kepolisian mengusulkan untuk membentuk tim gabungan Merah Putih.”
“Dan apa yang kami temukan membuat kami terhenyak. Selama ini, dominasi kita ternyata semu semata. Kami mendapatkan informasi yang sudah terkonfirmasi bahwa setidaknya ada satu orang yang diketahui dengan pasti berada pada tahap manifestasi dalam organisasi Chaos, dan satu orang lagi dicurigai berada pada posisi yang sama, tapi belum terkonfirmasi.”
“Yang sudah pasti seorang petarung manifestasi adalah seorang pria bernama Sulaiman. Dia asli Indonesia tepatnya dari Sulawesi. Berasal dari faksi militan dan saat ini berusia sekitar 46 tahun.”
“Ditambah satu orang lagi yang menjadi tangan kanannya dan bernama Shadow, sampai saat ini kami belum bisa mengonfirmasikan identitasnya.”
“Yang membuat kami, para pengambil keputusan dari militer ketakutan adalah, disaat kita militer belum berhasil mendidik seorang petarung manifestasi baru selama berpuluh-puluh tahun sejak era Pak Dirman dan Pak Nasution, pihak militan berhasil melakukannya. Bahkan saat itu saya bertanya, adakah yang salah dengan metode kita mendidik serigala petarung? Tapi bukankah kita berhasil mencetak puluhan serigala petarung tahap inisiasi?”
“Kami tak tahu dengan pasti apakah Sulaiman ini kasus spesial atau dia hanya sebuah pucuk dari gunung es yang terbenam di laut. Apakah ada beberapa orang lagi petarung manifestasi yang disembunyikan oleh pihak militan? Pertanyaan seperti itu menghantui kami.”
“Saat itulah saya melihat sebuah kalimat dalam biografi Sulaiman yang saya baca dan langsung terpikirkan untuk melakukan rencana saya. Disana tertulis, Sulaiman adalah yatim piatu dan di akhir masa konflik, mempunyai dua orang saudara angkat, Ahmad ‘Izrail’ Hambali dan Aisah.”
__ADS_1
“Kebetulan saya kenal akrab dan dekat dengan murid sekaligus menantu dari Ahmad Hambali yang bernama Munding. Jadi dialah yang saya ajukan untuk menjadi kandidat dari Angkatan Darat,” kata Broto mengakhiri penjelasannya.