Munding - Legenda Serigala Petarung

Munding - Legenda Serigala Petarung
Chapter 142 - Sampah


__ADS_3

"Maaf. Tidak menunggu lama kan?" tanya Suprapto yang kembali masuk ke dalam ruangan meeting sambil tersenyum ramah.


"Aku barusan menghubungi informanku. Kalian beruntung sekaligus sial ... "


Suprapto sengaja menggantung kata-katanya untuk membuat Pak Yai dan Munding penasaran, tapi mereka berdua terlihat tenang sambil menikmati minuman mereka.


Suprapto menghela napas, "dasar orang-orang aneh," gerutunya dalam hati.


Tapi, Suprapto akhirnya menyerah juga. Dia harus sukses melakukan rencananya kalau ingin mendapatkan pasokan dana melimpah tiap bulannya dari Kafe Aditya.


"Mmmmm. Yang pertama, aku akan memberitahukan kabar baiknya dulu," kata Suprapto.


"Preman berambut gondrong yang menyerang Dek Asma tadi malam sudah kami ketahui identitasnya," lanjut sang polisi.


Pak Yai tersenyum sedangkan ketiga anaknya terlihat kaget. Secepat itu?


Cuma dalam waktu sebuah minuman dibuat dan disuguhkan, identitas pelaku sudah diketahui? Kinerja luar biasa. Coba kalau para pelaku penyerangan Novel Baswedan bisa dilacak dengan cara yang sama.


Suprapto tersenyum lebar melihat ekspresi kaget Munding dan dua wanita di sebelahnya. Kalau Pak Yai, Suprapto tak peduli dengan orang tua itu. Mereka hidup di dunia yang berbeda, bisik Suprapto dalam hati.


"Pelaku penyerangan tadi malam adalah karyawan Kafe yang ada di desa kalian, Sukorejo. Mereka memang bertampang sangar, tapi secara tertulis mereka adalah bagian keamanan Kafe itu," jelas Suprapto, "jadi, kemungkinan terbesar, mereka menyerang Dek Asma atas instruksi atasannya," lanjutnya.


"Aditya?" tanya Asma secara tak sadar.


Tak seperti Munding, Nurul, atau Pak Yai, Asma tumbuh dan besar di Sukorejo sampai sekarang. Tentu sedikit banyak dia tahu tentang Aditya dan hal-hal lain yang terjadi di kampungnya.


"Bukan," jawab Suprapto.


Asma menunjukkan wajah keheranan, "Apa maksud Bapak? Kafe itu milik preman dari kota yang bernama Aditya kan?" tanya Asma.


"Memang betul yang Dek Asma bilang. Tapi sejak sebulan lalu, tempat itu bukan lagi milik Aditya," kata Suprapto.


"Pemiliknya sekarang adalah warga asli Sukorejo yang bernama Puji Astuti," lanjutnya lagi.


Asma dan Munding langsung kaget ketika mendengar nama itu. Nama yang membuat Asma mengingat kembali kejadian terkelam dalam hidupnya tetapi sekaligus yang terindah juga. Kejadian dimana seorang ksatria berbaju zirah dan menunggang kuda putih, menyelamatkan seorang putri yang sedang berada dalam sekapan penjahat dan membuat sang Putri makin cinta pada sang Ksatria.

__ADS_1


Klise, terdengar seperti dongeng pengantar tidur yang dibacakan untuk anak-anak oleh orang tuanya. Tapi itu semua terjadi pada Asma, dan lagi, ini kan juga cerita fiksi, jadi harap maklum lah.


"Puji?" desis Asma.


"Dek Asma kenal dia?" tanya Suprapto dengan mata yang bersinar, karena umpan yang dia pasang mulai diendus-endus oleh sang ikan.


Asma menundukkan kepalanya dan tak menjawab. Munding yang ada di sebelahnya menghela napas. Ternyata, penyerangan semalam adalah buntut dari masalah masa lalu mereka semua.


"Itu berita bagusnya, sekarang berita buruknya. Kami dari kepolisian mungkin tidak bisa membantu apa-apa untuk menangkap para pelaku penyerangan," kata Suprapto.


"Apa? Kalian sudah tahu identitas pelakunya tapi tak bisa menangkap mereka? Lelucon apa ini?" sungut Nurul dengan raut muka berapi-api.


Suprapto jelas emosi saat mendengar gadis muda berjilbab ini berani mengkritiknya seperti itu. Tapi saat dia melihat ke arah Pak Yai yang tersenyum simpul dan Munding yang menatap tajam ke arahnya, Suprapto bisa menebak siapa gadis ini.


Anak Pak Yai sekaligus istri Munding.


Beranikah Suprapto menghardiknya? Mungkin dia berani, tapi nanti, saat dia sudah siap mati. Sekarang, Suprapto masih ingin menikmati hidup.


Suprapto menghela napas panjang kemudian menghembuskannya perlahan-lahan, dia melakukan itu sebanyak 3 kali. Terapi ala Suprapto untuk meredakan emosinya.


Terpaksa karena dia harus bersikap seperti tadi terhadap gadis yang umurnya jauh di bawahnya. Suprapto tak pernah melakukan itu sebelumnya.


Nurul?


Ketika mendengar Polisi di depannya memanggil dia dengan sebutan 'Bu Munding' Nurul langsung berbunga-bunga. Ini kali pertama dia dipanggil dengan sebutan itu. Hmmmm, manis juga ngedengernya, gumam Nurul dalam hati.


"To the point saja," kata Pak Yai pelan.


"Iya Pak," jawab Suprapto.


"Puji sebelumnya hanya pramuria biasa. Dia lalu dekat dengan Aditya dan menjadi kekasihnya. Setelah itu, Kepala Desa Sukorejo membeli Kafe Aditya. Kebetulan Kades Sukorejo juga suka dengan Puji dan memberikan Kafe yang dibelinya itu ke Puji," kata Suprapto.


"Seorang Kapolsek sepertimu tapi takut kepada seorang kepala desa kecil seperti kekasih Puji?" tanya Asma.


Suprapto tersenyum, "Bukan Puji atau Kades itu yang kutakuti, tapi siapa dibalik mereka. Meskipun dari luar Kafe itu seolah-olah milik Puji, tapi setiap bulan, separuh dari laba bersihnya selalu ditransfer ke rekening seseorang. Orang itu yang membuat aku tak berdaya untuk menangkap para pelaku penyerangan Dek Asma," kata Suprapto dengan raut muka seolah-olah tanpa daya dan terlihat kecewa.

__ADS_1


"Siapa orang itu?" tanya Munding penasaran.


"Danramil Sukokilo," jawab Suprapto.


Semua orang terdiam ketika Suprapto menyebut sebuah jabatan yang membekingi Sucipto sang Kades.


"Jadi, kalian tak bisa melakukan apa-apa untuk para pelaku penyerangan anakku?" tanya Pak Yai setelah mereka semua terdiam tadi.


Suprapto tak menjawab.


"Kalau begitu, berpura-puralah tak tahu dengan apa yang akan terjadi. Jika polisi ikut serta dalam urusan ini, kami takut kalau nanti ada korban juga dari kalian," kata Pak Yai sambil tertawa.


Asma terkejut mendengar kata-kata Bapak Mertua Munding yang terdengar seperti sebuah ancaman meskipun dilakukan dengan bercanda dan diselingi tawa.


"Iya. Saya tahu Pak," jawab Suprapto sambil menganggukkan kepala.


"Kalau begitu, kami permisi dulu. Terima kasih atas bantuannya," kata Pak Yai dan beranjak berpamitan.


Dalam perjalanan pulang, Asma masih terus memikirkan percakapan aneh antara Mertua Munding dan Polisi yang keliatannya berpangkat tak sembarangan tadi. Asma juga teringat perlakuan yang mereka terima selama di kantor polisi tadi, sama sekali tak seperti bayangannya ketika di rumah tadi pagi.


Asma sudah bersiap-siap diinterogasi oleh seorang polisi berpenampilan preman yang sangar dan duduk di belakang mesin ketiknya. Lalu dia akan menanyai dengan detail tentang penyerangan yang Asma alami malam tadi.


Realnya, mereka datang, disambut ramah, dibawa masuk ke ruangan yang tenang dan ber-AC, ditawari minuman oleh seorang polwan yang masih muda, dan identitas penyerangnya langsung diketahui saat itu juga. Bahkan tak seorangpun dari polisi itu menanyakan kartu identitas Asma sekedar untuk formalitas.


Apalagi percakapan terakhir yang membuat Asma sampai sekarang bertanya-tanya, siapakah sebenarnya Bapak Mertua Munding?


"Le, kamu nanti yang bereskan sendiri. Jangan kasih ampun. Sampah masyarakat seperti mereka, cuma menghabiskan jatah oksigen di udara saja," kata Pak Yai pelan dan tegas.


"Iya Pak," jawab Munding.


Nurul menarik napas panjang, dia paling nggak suka kalau suaminya harus menyelesaikan masalah dengan kekerasan. Setelah semua yang Munding alami dulu diketahui oleh Nurul, Nurul juga terkadang merasa sedih saat membayangkannya.


"Dek, Bapak tu?" bisik Asma ke telinga Nurul yang ada disebelahnya, mengagetkan lamunan Nurul.


"Hush. Itu urusan laki-laki. Kita perempuan nggak usah ikut-ikutan Mbak," jawab Nurul sambil tersenyum ke arah Asma.

__ADS_1


__ADS_2