
Seorang gadis berwajah cantik dengan baju yang modis tapi tidak terlalu terbuka terlihat sedang menunggu seseorang di pinggir jalan. Sesekali dia akan membalas chat di smartphonenya. Banyak laki-laki yang menggoda gadis cantik ini tapi tidak ada yang digubris sama sekali oleh si cantik.
Tak lama kemudian seorang wanita yang juga cantik dan memiliki kemiripan wajah dengan si gadis cantik yang sedang menunggu itu datang dan setengah berlari dari kejauhan. Ketika mereka berdua bertemu, tanpa sungkan, keduanya berpelukan.
“Kakak. Adek kangen banget,” kata si Gadis yang tadi menunggu sendirian itu.
“Iya. Memangnya tim khusus apaan sih kok bisa setahun gitu trainingnya? Dah gitu nggak boleh pulang atau ngabarin rumah lagi,” protes si wanita cantik yang barusan datang, Santi Lofiani.
Gadis yang menunggu sendirian tadi hanya tersenyum simpul dan memberikan senyuman menggoda tanpa memberikan jawaban, “rahasia Kak.”
Nama gadis itu adalah Virginia Lofiani. Dia adalah adik kandung Santi Lofiani. Mereka berselisih umur 2 tahun. Tapi secara fisik, mereka berdua mirip sekali. Mungkin kalau mereka mengatakan kalau mereka adalah saudara kembar, banyak orang akan percaya.
Tapi yang mungkin tidak diketahui oleh orang lain, bahkan kakak kandungnya sendiri. Virginia Lofiani yang biasa dipanggil Nia, sekarang punya nama sebutan lain setelah menyelesaikan pelatihan yang diikutinya selama satu tahun terakhir ini.
Dia mempunyai code name ‘Empat’, Si nomer Empat dari Tim Kelelawar. Satu-satunya wanita yang berhasil menjadi serigala petarung fase awakening dari tim mereka.
Nia sangat mengidolakan kakak kandungnya, Santi. Dulu saat kakak kandungnya berhasil bergabung dengan kepolisian, Nia pun langsung berniat untuk menyusul kakaknya dan mendaftar ke kepolisian juga.
Tapi ternyata potensi Nia jauh diatas rata-rata. Setelah melalui proses seleksi yang ketat, akhirnya Nia terpilih menjadi salah satu dari lima belas orang yang berhak untuk mengikuti pelatihan khusus yang dilakukan oleh lembaga mereka.
Dan saat Nia pertama kali mengetahui tentang eksistensi serigala petarung, semua pengetahuan dan pandangan hidupnya selama ini seperti hancur berantakan. Betapa terkejutnya Nia ketika dia mengetahui bahwa di luar sana, ada segerombolan manusia yang sudah tidak bisa dikatakan lagi sebagai manusia karena kemampuan yang mereka miliki.
Bukan kemampuan untuk menciptakan kedamaian atau membuat kemajuan teknologi. Tapi kemampuan untuk menghilangkan nyawa orang lain dengan sangat mudah, semudah seekor harimau menghabisi seekor kelinci.
Saat itu Nia berjanji kepada dirinya sendiri kalau dia akan berusaha sekuat tenaga dan mempertaruhkan nyawanya untuk menjadi serigala petarung, menjadi pemangsa, menjadi predator hanya dengan satu tujuan. Melindungi kakak kandungnya, satu-satunya orang yang dimilikinya di dunia saat ini.
Dan Nia berhasil melakukannya.
“Kakak sekarang bertugas dimana?” tanya Nia kepada Santi saat mereka berdua berjalan menuju parkiran tempat Santi memarkir mobilnya.
Santi terlihat menoleh ke kiri dan ke kanan dengan pandangan mata curiga. Dengan cepat dia mengajak Nia masuk ke dalam mobil dan menyalakan mobilnya.
“Kakak sekarang sedang tugas penyamaran. Menjadi guru di sebuah SMA. Sudah hampir setahun ini Kakak menjalankan tugas ini,” bisik Santi, “tapi ini rahasia lho ya. Jangan kasih tahu siapa-siapa,” lanjut Santi sambil tersenyum.
__ADS_1
“Katanya rahasia, kok Kakak malah kasih tahu Adek sih?” jawab Nia sambil menatap orang yang lalu lalang di luar mobil mereka yang mulai berjalan pelan, meskipun dalam hatinya Nia tahu kenapa Kakaknya memberitahu dirinya.
“Maafin Adek ya Kak? Adek nggak bakalan bisa ngasih tahu rahasia yang Adek tahu. Karena Adek nggak ingin Kakak mengalami ketakutan yang Adek rasakan. Biarkan Adek yang melindungi Kakak mulai sekarang,” janji Nia dalam hati.
Mereka berdua sama-sama tidak tahu kalau takdir sedang berjalan sesuai dengan garisnya yang telah ditentukan. Sang Dalang yang selama ini dikejar oleh Santi dan tim Reskrimnya ternyata adalah atasan Nia. Dan itu artinya mereka semua adalah personel yang berasal dari lembaga yang sama.
\=\=\=\=\=
“Kamu harus undang si Amel ke ultahmu!” kata Rey dengan nada tegas ke seorang gadis berwajah cantik tapi sudah tidak menampakkan lagi keluguan seorang remaja yang sedang berdiri di depannya.
Gadis itu bernama Citra, lengkapnya Valeria Lyla Citra. Dia adalah anak seorang kepala dinas pemerintahan yang merupakan teman sekelas Rey dan Amel.
“Tapi Rey, kamu kan tahu kalau Amel itu dekat dengan si Bocah Gila? Kalau aku ngundang Amel, itu artinya si Bocah Gila bakalan datang juga ke ultahku kan?” jawab Citra dengan wajah sedikit ketakutan.
“Udah, kamu cukup undang dia aja, nanti si Bocah Gila itu menjadi urusanku,” potong si Rey.
Citra, gadis cantik yang sebenarnya tidak kekurangan sesuatu apapun itu, cuma bisa mengganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Dia sama sekali tidak bisa menolak permintaan Rey, cowok yang disukainya sejak dulu.
Rey tahu perasaan Citra kepada dirinya, sebagai cowok terganteng di Harsa, dia sudah hapal sekali dengan tatapan mata gadis-gadis yang memuja dirinya. Dan dia memanfaatkan itu. Si Citra yang ada di depannya ini bahkan, mungkin karena dibutakan oleh perasaannya, telah memberikan segalanya untuk si Rey.
Semua itu karena harga diri Rey yang terinjak-injak oleh Munding dan Rey harus membalas itu. Karena Rey terlalu mencintai dirinya sendiri dan tidak akan bisa membiarkan orang lain merendahkan harga dirinya.
\=\=\=\=\=\=
“Amel,” seorang gadis berdiri di sebelah kiri Amel yang sedang duduk di bangkunya.
Munding cuma melirik sekilas dan mengrenyitkan dahinya, sesuatu yang terasa tidak mengenakkan tiba-tiba muncul dalam dadanya. Munding tahu nalurinya sedang mengirimkan sinyalnya.
Munding kemudian pura-pura memejamkan matanya.
Melihat Munding yang seolah tertidur, Citra memberanikan diri untuk mendekati Amel. Amel yang tadi sudah menolehkan kepalanya ke arah Citra karena panggilan yang pertama sedikit terkejut ketika melihat Citra.
Amel dan Citra tidak begitu akrab. Satu-satunya teman akrab Amel di SMA ini hanyalah si Chloe. Chloe yang diusir dari sebelahnya oleh si Bocah Kampung. Amel menoleh ke arah Munding dan mencibirkan bibirnya ke arah Munding yang terlelap.
__ADS_1
“Ya?” tanya Amel.
“Malam minggu nanti aku ada acara ulang tahun di rumahku. Kamu bisa datang kan?” kata Citra sambil sesekali melirik ke Munding yang masih terlelap di sebelah Amel.
Amel kemudian memutar tubuhnya dan menarik telinga Munding.
Munding pura-pura terperanjat kaget dan kesakitan karena jeweran Amel, “apaan sih Mel?”
“Malam minggu, Citra mau ngundang aku ke ultahnya. Boleh nggak?” tanya Amel.
Citra yang mendengarkan pertanyaan Amel terkejut, “kenapa Amel musti minta ijin ke Munding untuk datang ke acara di rumahku?” batin Citra dalam hati.
“Kok tanya aku sih?” protes Munding.
“Papa dulu bilang apa?” jawab Amel sambil melotot, “kalau Amel keluar dari gerbang rumah, Amel jadi tanggung jawab Munding kan?” lanjutnya sambil tersenyum penuh kemenangan.
“Iya deh iya,” jawab Munding pelan.
Munding sebenarnya sangat penasaran dengan trik yang sedang dilakukan oleh Citra. Amel dan Citra tidak akrab, kenapa tiba-tiba Citra mengundang Amel? Pasti ada sesuatu. Dan Munding ingin tahu soal itu.
Mendengar jawaban Munding, Amel kemudian, dengan tersenyum lebar, menjawab undangan Citra, “oke deh, nanti kami datang.”
“Kami? Aku kan cuma ngundang Amel,” keluh Citra dalam hati tapi diluarnya, “makasih banyak ya. Sampai ketemu besok lagi.”
“Citra,” panggil Munding sebelum Citra sempat melarikan diri dari tempat ini.
Citra dengan gemetaran dan ragu-ragu memutar kembali tubuhnya. Bukan Amel yang barusan memanggilnya, tapi si Bocah Gila yang mengalahkan Bram MinMaks dan menyerang SMK Sriwijaya seorang diri.
Citra, sama seperti hampir semua siswa Harsa, sudah melihat video perkelahian Munding melawan Wowo and the Gang.
Dan mereka semua kini tahu betapa ‘gila’nya si Bocah Gila ini.
“I, Iya?” jawab Citra terbata-bata.
__ADS_1
“Aku boleh ngajak temen kan?” tanya Munding pelan.
Citra dengan cepat menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, “terserah meskipun kamu mau bawa satu RT. Aku udah pasrah kalau ini bakalan jadi ultah-ku yang paling kelabu,” teriak Citra dalam hati.